Record Store Day

Mei 4, 2008 by philips vermonte

Ada yang terlupa ditulis, masih soal piringan hitam. Maklum, newbie. Jadi agak norak, nulis-nulis tentang piringan hitam terus. Biarlah..he..he.

Tanggal 19 April kemarin adalah Record Store Day, hari toko-toko musik independen/vintage. Toko-toko musik kecil di seluruh Amerika merayakannya. Memang mereka sekarang menghadapi persaingan yang mengancam dari jaringan penjualan toko-toko raksasa seperti Walmart, Barnes & Noble, atau Border.

Jadi pada tanggal itu di berbagai tempat di Amerika, toko-toko ini mengadakan macam-macam acara. Uniknya, mereka juga didukung banyak perusahaan rekaman besar dan juga pemusik terkenal. Mereka datang, manggung, atau sekedar hangout di toko-toko ini. Ada banyak nama yang ikut acara di toko-toko vintage di banyak tempat. Misalnya John Mayer, Eddie Vedder dari Pearl Jam, Ozzy Osborne, Bruce Springsteen, Metallica, Foo Fighters dan lain-lain.

Ada satu hal menarik yang saya perhatikan. Komunitas independen, semacam penyuka vintage store ini, ada beragam jenisnya dan banyak jumlahnya. Mereka berkomunikasi, berorganisasi, berkelompok dan menelurkan berbagai inisiatif segar, jauh dari intervensi negara karena pada dasarnya mereka tidak bergantung pada negara. Ada banyak sekali kelompok, dari yang kecil hingga besar. Mungkin ini adalah bentuk modern dari civic association seperti yang dilihat Tocqueville seratus tahun lalu waktu dia mengunjungi Amerika untuk studi mengenai demokrasi. Toqqueville menyimpulkan bahwa semaraknya civic association yang sifatnya bottom-up adalah basis demokrasi Amerika. Oleh filsuf Perancis ini, pengamatannya kemudian dituangkan ke dalam buku yang menjadi klasik.

Kembali ke soal toko-toko vintage independen ini, ketimbang merasa bitter dan frustasi terhadap gempuran komersialisasi perusahaan-perusahaan raksasa, toko-toko ini memilih untuk berusaha kreatif dan mendefinisikan sendiri strateginya untuk bertahan. Ide revolusi nggak laku..he..he. Mungkin karena pada dasarnya masyarakat Amerika adalah enterpreneur, jadi ya tetap memilih ‘bertempur’ lewat moda-moda kapitalisme juga.

Jadi teringat sebuah acara ‘reuni’ aktifis gerakan mahasiswa 98 di Ragunan tahun 2003 - entah kenapa saya diajak hadir acara ‘reunian’ itu, padahal tahun 98 saya sudah lulus S1. Dalam acara itu ada seorang mantan aktifis mahasiswa berpidato berapi-api mengajak revolusi. Audiens-nya dingin-dingin saja, malah ada salah seorang dengan logat Jawa yang kental nyeletuk keras-keras: “boleh mas, revolusi, tapi asal hari Sabtu ya..itu juga kalo ndak hujan lho ya…”. Mendengar celetukan genuine begini, hadirin meledak tertawa. Mahasiswa berapi-api tadi ikut tertawa, mungkin frustasi.

Anyway, dalam rangka Record Store Day, beberapa perusahaan rekaman besar juga berpartisipasi. Ini juga bagian dari strategi mereka melawan perusahaan distribusi raksasa seperti Walmart itu. Diantaranya, Sony BMG Music Entertainment bersama-sama dengan Columbia, Epic, Legacy Recordings, Aware dan INO Records Perusahaan-perusahaan rekaman ini merilis sebuah album kompilasi musikus yang berada di bawah label mereka dalam bentuk piringan hitam. Vinyl ini disebarkan ke toko-toko independen, untuk diberikan secara gratis kepada pelanggan yang berbelanja ke sana. Di inner sleeve-nya ada foto-foto events di berbagai toko indie. Juga ada text: “this is a gift to you, the music lover who supports your local indie record shop, a place where freedom of expression thrives, and the magic of musical discovery lives on”. Nice.

Nah, beberapa hari lalu saya kebagian piringan hitam gratis ini di Revrecord store yang pernah saya tulis tempo hari. Lumayan. Beberapa lagu dari berbagai grup musik lama dan baru dikumpulkan dalam satu album piringan hitam ini.

cover vinyl Cover vinyl-nya seperti di samping ini, hanya logo dari record store day tahun ini.

Ini dia list lagu-lagu dalam vinyl gratis ini:

Side One

1. Girls in their summer clothes - Bruce Springsteen (2007).

2. Waiting on the world to change - John Mayer (2006).

3. Feathers - Coheed and Cambria (2007).

4. Addicted - P.O.D (2008)

5. Dream Catch Me - Newton Faulkner (2007).

6. Dirty City - Steve Winwood featuring Eric Clapton (2008).

Side Two

1. Perfect Day - Lou Reed (1972)

2. It’s Tricky - Run D.M.C (1986)

3. Bombtrack - Rage Against the Machine (1992)

4. Kimberly - Patti Smith (1975)

5. Black - Pearl Jam (1991)

6. Eternal Life - Jeff Buckley (1994).

Perburuan ke Kota Sebelah

Mei 1, 2008 by philips vermonte

Karena satu keperluan, saya harus ke Geneva. Ini nama sebuah kota kecil bersebelahan dengan kota tempat saya belajar. Entah kenapa dinamakan sama dengan Geneva yang di Eropa sana. Mungkin dulu didirikan oleh para imigran dari kota di Eropa itu. Saya pernah lihat papan informasi di kota ini, menyebutkan bahwa kota Geneva yang ini didirikan tahun 1835. Kota ini cantik.

Saya ingat pernah lihat papan reklame sebuah toko vinyl di dekat stasiun kereta api di Geneva. Jadi iseng-iseng saya niat mau mampir ke toko itu setelah urusan selesai. Saya ajak Taufiq, rekan ’senasib seperburuan’.

Toko itu bernama Kiss the Sky, pasti diambil dari sebuah judul lagu milik Jimmy Hendrix. Urusan saya cepat selesai, jadi kami langsung meluncur ke situ. Ternyata tokonya belum buka. Jadilah menunggu di depan toko sebentar, ada seorang lain juga sudah menunggu toko itu dibuka. Waktu dibuka, alamaaak…asoy betul. Jualan piringan hitamnya banyak sekali, hampir kami mata gelap. Untung masih bisa menahan diri, karena dompet sedang tipis di akhir bulan…he..he.

Begitu lihat section piringan hitam bekas di toko itu, kami senang hati. Ada banyak sekali album piringan hitam bekas yang ada dalam list 500 album terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone yang tersedia di toko itu. Dan harganya murah. Walaupun kelihatannya sistem pemberian harga di toko ini agak aneh, tidak sama dengan harga-harga di toko lain atau di toko online yang sempat saya lihat sebelumnya. Saya lihat ada beberapa album yang di tempat lain masih berharga diatas 10 dolar, di sini di jual dibawah 5 dolar. Atau sebaliknya, di sini di atas 10 dolar, sementara di tempat lain harganya di bawah itu. Si pemilik toko ini kayaknya memberi harga semau-maunya saja.

Jadi ingat belanja komputer jaman dulu ke Glodok. Harus keluar masuk semua toko di situ, supaya tahu perbandingan harga. Ujung-ujungnya beli motherboard di satu toko, soundcard di toko lain, memory RAM di toko lain lagi, dan hard drive serta CD-writer di toko yang lain lagi. Dengan begitu baru bisa meng-upgrade komputer jangkrik dengan budget pas-pasan.

Album nomor satu di majalah RS, Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band milik the Beatles ada di situ. Juga album the Beatles lain, Rubber Soul, yang juga masuk list (nomor 5). Beberapa album lain dalam list majalah RS yang sempat saya lihat ada di toko itu antara lain: Exile on the Main Street (Rolling Stones), A Night at the Opera (Queen), Slow Hand (Eric Clapton), Toys at the Attic (Aerosmith), Rocks (Aerosmith), Born in the USA (Bruce Springsteen), Nevermind the Bollocks (Sex Pistol), In the Court of the Crimson King (King Crimson), Joshua Tree (U2), Music from Big Pink (the Band), Beggars Banquet (the Rolling Stone), Sandinista (the Clash), Greenriver (Credence Clearwater Revival), Marquee Moon (Television), album-album Fleetwood Mac, dan masih banyak lagi. Pusying melihatnya…he..he.

Selain itu piringan hitam baru dari grup musik kontemporer juga ada. Saya lihat ada beberapa album kelompok musik rock alternative the Flaming Lips, sampai album piringan hitam grup hip hop Black Eyed Peas dan Tuppac. Album kontemporer ini masih mahal harganya.Band-band kontemporer memang mulai rajin lagi me-rilis album dalam format piringan hitam. Metallica bulan ini baru saja me-rilis ulang album Ride the Lightning dan Kill’em All dalam format piringan hitam. Beberapa minggu lagi, versi piringan hitam album legendaris mereka, Master of Puppets, juga akan di rilis ulang (Master of Puppets ada juga di dalam list album musik terbaik majalah RS itu).

Akhirnya, saya membeli dua album piringan hitam bekas, Joshua Tree-nya U2 dan Beggar Banquet-nya Rolling Stones. Tadinya sudah pegang satu lagi, The Night at the Opera (Queen). Tapi untung bisa menahan diri. Kapan-kapan saja kembali ke situ. Joshua Tree masuk kategori wajib beli, sementara Rolling Stones disukai istri saya. Ya biar dia suka juga piringan hitam, siapa tahu jadi mau nyumbang dalam perburuan berikutnya…he..he.

Taufiq lebih serius, dia beli 5 atau 6 album kalau nggak salah. Buat Taufiq, musik adalah hobi yang sekaligus menjadi pekerjaan. Dia wartawan desk politik di koran Jakarta Post. Selain desk politik, dia punya kolom musik tetap yang dia tulis rutin di korannya itu edisi hari minggu. Saya rasa dia beruntung karena tidak banyak orang yang punya dream job, yaitu memiliki pekerjaan yang memang disukainya karena hobi.

Omong-omong soal dream job, pemilik sekaligus penjaga toko Kiss the Sky ini menarik sekali. Waktu saya bayar, dia nyeletuk: “good choice, Beggars Banquet is always my favorite album”. Saya bilang bahwa kami sedang berburu album piringan hitam yang ada di list majalah RS. Dia kelihatan senang sekali. Kebetulan ada co-owner toko itu, jadilah kami ngobrol-ngobrol. Dia bilang ke rekannya: “wow, very interesting idea, sepertinya kita harus bikin rak khusus di toko kita untuk album-album yang ada di list majalah RS.” Boleh juga, asal harganya jangan dinaikin…he..he.

Jadilah kita ngobrol-ngobrol dengan mereka. Pemilik toko ini kelihatan menikmati sekali pekerjaan jual beli tokonya. Belakangan saya periksa website mereka (http://www.kissthesky.net/), agaknya membuka toko vinyl sendiri ini adalah dream job mereka. Mereka sebelumnya punya pekerjaan bagus (di website mereka menyebutnya junkyard job at corporate America), tapi sejak masa kuliah mereka sudah bercita-cita membuka toko musik sendiri. Akhirnya, tahun 1996 mereka memutuskan keluar dari pekerjaan kantoran masing-masing, dan membuka toko ini. Waktu ‘muda’, mereka menggilai sebuah grup band terkenal juga, namanya the Kinks. Dia bilang dulu dia menonton konser the Kinks sebanyak 65 kali di berbagai kota. Ada-ada saja…

Ketika kami pamit pulang, mereka bilang: ‘mengelola toko ini rasanya selalu tambah nikmat saat bertemu music fans like you.’ Dan tak disangka-sangka Taufiq dapat ‘bonus’. Pas kita pamitan, mereka sedang siap-siap sedang membuka kiriman stock baru. Ternyata ada piringan hitam album The Byrds. Dia bilang, “hey, you might want this. This is also on that list”. Taufiq ragu-ragu, mengira-ngira harganya. Tapi, pemilik toko itu sambil tertawa langsung bilang: 3 dolar deh, tentu saja langsung disambar oleh Taufiq.

Snow at the end of April?

April 28, 2008 by philips vermonte

This is weird. It’s been snowing the whole morning. Last week we had nice warm days (70s Fahrenheit on average). The week before last week was also nice. Today it drops down to 37 F. I just stored my boot, hat and winter jacket in the closet a while ago, today I have to put them on again. I cannot function in cold weather, but my wife and sons I bet are happy to see what’s happening today…:-)

Ikut Lelang di Ebay

April 26, 2008 by philips vermonte

Masih soal hobi baru mengumpulkan piringan hitam bekas, saya baru menyadari bahwa ebay adalah salah satu tempat yang paling banyak menyediakan vinyl bekas. Ada ribuan penjual vinyl di sana, dengan harga bervariasi. Masalahnya, perdagangan di ebay adalah lelang. Jadi kita harus memberi penawaran harga/bidding dan sabar menunggu beberapa hari untuk mengetahui apakah kita menang lelang atau tidak. Tidak seperti moda cash-and-carry dimana kita langsung bayar barang yang kita inginkan.

Nah, saya coba-coba ikut lelang. Beberapa kali kalah. Ikut lelang piringan hitam legendaris grup Pink Floyd yang berjudul The Wall (1979). Kalah telak, barang itu akhirnya terjual 17 dolar. Sementara saya menawar 2 dolar saja..he..he. Satu lagi, saya ikut bidding album versi piringan hitam the Smashing Pumpkins yang judulnya Mellon Collie and the Infinite Sadness (1995). Lelang album ini berlangsung 7 hari, yang ikut bidding banyak sekali. Saya lempar penawaran di hari pertama waktu harganya masih 2 dolar, saya tawar 3 dolar. Langsung kalah telak lagi…he..he. Bidding akan berakhir hari minggu besok, tapi pagi ini (Sabtu) saya lihat harganya sudah 90 dolar lebih. Gile…

Memang album Mellon Collie ini dahsyat betul, sayangnya rilis piringan hitamnya terbatas. Di Amazon saya lihat ada satu yang menjual piringan hitam album ini (bekas), harga yang ditawarkan 199 dolar. Sudah sebulan lebih masih ada disitu, belum ada yang beli…he..he. Saya ada beberapa lagu dari album Mellon Collie dalam format mp3. Tapi karena banyak lagu di album itu kaya dengan orkestrasi dan suara yang membentuk layer-layer, pasti nikmat mendengarkan format piringan hitamnya (tidak seperti lagu-lagu Smashing Pumpkins lain yang kental warna alternative rock-nya).

Tadinya, saya kira harga vinyl bekas berhubungan dengan list di majalah Rolling Stone yang saya sebut dalam posting sebelumnya. Maksud saya bukan karena ada di list itu maka otomatis harga sebuah album musik jadi mahal. Tetapi, kalau albumnya enak dan digemari (saya percaya judgement para redaktur majalah RS..he.he) maka harganya akan mahal.

Ternyata harga tidak terlalu berhubungan juga dengan popularitas album. Album Pink Floyd dan the Smashing Pumpkins yang saya sebut tadi keduanya memang masuk dalam dalam list itu. Tetapi, ketika akhirnya saya menang lelang album lain, asumsi saya tidak sepenuhnya benar. Harga piringan hitam yang saya menangi amat murah. Saya akhirnya menang lelang, album Bruce Springsteen yang judulnya Born in the USA (1984) dengan harga 1 dolar saja. Lalu saya juga menang lelang album piringan hitam Dire Straits yang judulnya Brothers in Arm (1985). Harganya juga sama. Kedua album ini ada di dalam list majalah itu.

Yang lebih menentukan harga adalah supply. Dulu Album Mellon Collie dalam versi piringan hitam dibikin amat terbatas jumlahnya. Sementara Pink Floyd lumayan banyak, tetapi masih sangat digemari. Artinya, tidak banyak orang yang punya album piringan hitam Pink Floyd mau menjualnya ke pasar barang bekas. Mereka masih mau menyimpan untuk didengarkan sendiri.

Tetapi album Born in the USA-nya Bruce Springsteen dan album Dire Strait itu dulu dibikin abundant dalam format piringan hitam. Karena itu harganya di pasaran vinyl bekas sekarang jadi sangat murah karena over supply.

Memang fenomena jual beli online ini sangat menarik. Setahun lalu saya pernah bikin posting mengenai hal ini (kalau mau baca lagi, silahkan klik http://pjvermonte.wordpress.com/2007/06/23/harga-blog-ini-dan-soal-kebebasan/

Dalam posting dulu itu saya tulis bahwa saya percaya teknologi menyediakan sangat banyak opportunity, dan juga menjadi medium untuk kebebasan. Orang bisa menulis pendapat tentang apa saja di internet, seperti blog. Lalu juga bisa berjualan apa saja, skala besar ataupun skala kecil di internet. Konsumen juga untung, bisa dapat barang murah karena persaingan antar penjual di internet besar. Terlebih, hampir tidak mungkin ada kartel antar penjual yang merugikan konsumen, karena para penjual itu tidak saling mengenal satu sama lain. Saya sedang pikir-pikir mau juga jualan di ebay. Mendekati summer begini banyak profesor membuang buku-buku sample yang mereka terima dari penerbit-penerbit. Mungkin saya bisa lihat-lihat di ruang departemen lain, misalnya departemen sosiologi atau sejarah. Kalau ada buku bergeletakan di lorong departemen itu, akan saya kumpulkan lalu jual di ebay atau amazon. Ya kalau menemukan buku bagus yang berhubungan dengan ilmu politik yang saya pelajari, ya akan saya simpan sendiri.

Begitulah, ebay mungkin adalah contoh bagaimana mekanisme pasar bisa berjalan efektif. Tidak ada monopoli, tidak ada kartel. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menyediakan akses internet untuk lebih banyak orang, terutama di negara berkembang. Selain itu, ada tantangan lebih besar dalam konteks jual beli online di negara berkembang, khususnya Indonesia.

Transaksi online mengandaikan trust yang tinggi. Saling percaya antara penjual dan pembeli, yang tidak pernah bertatap muka secara langsung. Pembeli percaya pada deskripsi barang yang diberikan penjual secara online. Dalam hal lelang, penjual juga percaya bahwa pemenang lelang tidak akan tiba-tiba menyatakan batal tidak jadi membeli. Lalu, untuk memperlancar itu semua, perusahaan pos dan pengiriman barang harus terpercaya sehingga barang sampai ketempat tujuan tepat waktu dan tidak dalam keadaan rusak, apalagi hilang di jalan.

Trust adalah persoalan besar kita di Indonesia. Padahal, ilmuwan politik seperti Putnam, Fukuyama dan Inglehart telah menunjukan bahwa trust adalah prasyarat tumbuh berkembangnya demokrasi yang sehat. Selama kita di Indonesia tetap menjadi low-trust society, tantangan mengembangkan demokrasi kita menjadi lebih besar.

PSSI Dikuliti

April 26, 2008 by philips vermonte

Baru baca sebuah kolom bagus di Kompas. PSSI (dan ketuanya Nurdin Halid yang pesakitan) dikuliti habis-habisan. Setuju 100 persen. Ini saya copy-paste kolom itu.

pjv

———–

POLITIKA
PSBN atau Pesakitan
Sabtu, 26 April 2008 | 01:59 WIB

Oleh Budiarto Shambazy

Coba sesekali pahami politik internal PSSI, pasti lebih sukar ketimbang belajar ilmu politik. Belajar tipologi pengurus PSSI lebih sulit daripada belajar paleontologi— ilmu tentang fosil Dinosaurus.

Pembaca dibombardir lagi oleh ingar-bingar munaslub sesuai tuntutan FIFA. Jika tidak, PSSI kena sanksi pembekuan dan timnas tak bisa berlaga di ajang internasional.

FIFA minta munaslub karena Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dibui dan harus digantikan. Namun, akronim PSSI telanjur berubah jadi ”Pengurus Suka Sekali Intrik” karena gemar berdalih menghindari tanggung jawab.

Politicking telah lama jadi hobi di PSSI karena jumlah pengurusnya saja 120-an orang. Federasi di Malaysia atau Inggris dipimpin tak lebih dari 20 orang.

Jumlah 120-an itu lebih besar daripada jumlah pemain timnas yang 20-an orang. Dan, dari 120-an itu yang ngerti sepak bola hanya segelintir.

Jumlah 120-an tak sedikit. Namun, itu memperlihatkan PSSI kaya-raya karena saling berbagi ”rezeki berjemaah” di kala hidup rakyat susah.

Rezeki itulah yang mati-matian dipertahankan PSSI. Ya, maklumlah, namanya juga rezeki.

Akal sehat enggak mampu lagi mencerna aneka dalih PSSI. Ibaratnya skor pertandingan PSSI vs FIFA masih 0-0 selama 2 x 45 menit, ditambah perpanjangan waktu dan adu penalti, dan replay.

Terpaksalah diadakan undian untuk memutuskan hasil akhir pertandingan. Namun, hasilnya tetap 0-0.

Apa pasal? Ternyata wasitnya orang PSSI yang mengundi bukan dengan koin dengan dua sisi berbeda—ia pakai kancing seragam dengan dua sisi yang sama.

Perilaku menyimpang PSSI bukan hal baru. Beberapa tahun terakhir terjadi kegagalan pembinaan, kompetisi asal-asalan, pemerkosaan aturan, dan prestasi minim timnas.

Kini, PSSI menyekolahkan tim remaja ke Uruguay. Proyek sia-sia sekolah ke luar negeri sudah dilakukan bolak-balik ke mana-mana, tetapi kok enggak kapok, sih?

Uruguay negeri mungil yang lokasinya sulit ditemukan di peta dunia. Ke sana saja makan waktu lebih dari 24 jam dengan pesawat dan saya yakin tak seorang pengurus pun yang sebelum ini pernah urusan sepak bola ke sana.

Jika tim remaja latihan ke Belanda, misalnya, itu lumayan karena masih terasa Indonesia- nya. Itu pun tahun lalu pemain Papua memecahkan kaca jendela hotel di Belanda karena stres mau pulang.

Kalau soal kompetisi asal- asalan Anda sudah paham. ”Setiap gol di liga pasti ada rupiahnya,” kata eksekutif sebuah perusahaan sponsor liga sambil geleng kepala.

Pemerkosaan terhadap aturan? Apa yang bisa diharapkan jika ada pengurus yang menipu penggemar dengan menjual kaus resmi timnas tanpa celana?

Pembinaan yang gagal, kompetisi asal-asalan, dan pemerkosaan terhadap aturan menghasilkan timnas yang selalu ”menang”. Ya, tetapi di belakang kata ”menang” harap tambahi kata ”is”.

Timnas yang suka ”menang” plus ”is” takkan kedatangan tamu. Di awal 1970-an timnas bersegitiga melawan Ajax serta Manchester United dan publik Senayan rutin dihibur Pele, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, sampai Mario Kempes.

Tahun 1980-an, timnas lolos ke babak akhir penyisihan Piala Dunia sebelum menyerah di tangan Korsel. Di Asian Games 1986 timnas melaju sampai ke semifinal.

Timnas takkan berprestasi selama PSSI masih berlaga melawan FIFA. Pasalnya, PSSI masih menyimpan 1.001 akal bulus untuk menghadapi FIFA.

Perilaku PSSI ibarat ujung tombak timnas yang ”berputar- putar di depan gawang lawan, tetapi selalu gagal mencetak gol”. Dalam perumpamaan bahasa Inggris, PSSI ”going in circles, don’t really know where I have come from and where I will go”.

Perilaku mereka cermin kondisi sosial saat ini. Mereka ingin berkuasa dan menjadi manusia setengah dewa dengan merangkap profesi pejabat, pengusaha, politisi, sekaligus tokoh masyarakat.

Mereka gigih dan terpesona kepada Al Capone yang memimpin dari balik jeruji. Tokoh idola mereka adalah Tan Malaka yang mengarang buku Dari Penjara ke Penjara.

Mereka sejak kecil bercita-cita ingin jadi dalang yang ahli memainkan wayang-wayangnya. Mereka petualang sejati yang ahli mengatur skor, wasit, pemain, pelatih, dan klub—kecuali dirinya sendiri.

Pemerintah dan DPR saja bungkam seribu menghadapi mereka, apalagi Anda dan saya. Lalu bagaimana jalan keluarnya?

Menurut saya mudah, yakni biarkan mereka tetap merajalela. Mereka kayak anak-anak yang ketagihan main sepak bola dan enggak mau pulang meski magrib sudah tiba dan esok harus sekolah.

Biarkanlah mereka menguasai PSSI. Jika Anda setuju, mari kita dirikan organisasi sepak bola nasional tandingan yang menyelenggarakan pembinaan dan kompetisi sendiri.

Enggak apa-apa ada dua pengurus sepak bola. Saya saja masih suka bingung siapa sih yang jadi presiden, SBY atau JK, dan makin bingung PKB versi mana yang sebenarnya sah.

Tetapi, untuk menghindari ”PSSI kembar”, kita bujuk mereka untuk mengubah nama. Sungguh sayang nama harum PSSI sebagai alat perjuangan dicederai oleh ulah mereka.

Saya sarankan mereka pakai nama ”PSBN” (Persatuan Sepak Bola Nasional).

Atau kalau tidak, saya sarankan pakailah akronim ”Pesakitan”. Artinya ”Persatuan Sepak Bola Sakit-sakitan”.

Oh ya, Anda tahu, kan, makna kata pesakitan?