Hubungan Vinyl dan Guitar Hero

Teman saya Taufiq pergi ‘naik haji’. Ini joke kami berdua saja ketika beberapa hari lalu dia pergi jalan-jalan ke Rock n’ Roll Hall of Fame Museum di Cleveland, Ohio. Buat penggemar musik seperti dia, mengunjungi musim terkenal itu ya seperti naik haji. “Semoga mabrur bung”, begitu saya bilang sambil bercanda waktu dia hendak berangkat menumpang bis malam dari sini ke Ohio, menempuh perjalanan hampir 10 jam lamanya.

Esok siangnya, saya mendapat telepon dari Taufiq yang sudah berada di Ohio. Rupanya dia sedang berada di sebuah toko piringan hitam di sana. Dan ada banyak ‘harta karun’ piringan hitam bekas yang murah-murah disitu. Dia tanya, saya mau dibelikan yang mana. Jadilah, saya mendapat oleh-oleh 4 album piringan hitam yang semuanya masuk list 500 album musik terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone itu. Memang majalah RS edisi 500 album ini sekarang seperti menjadi primbon buat saya. Yang ada di list itu sudah pasti album musik bagus yang bisa dinikmati. Untuk penggemar musik dengan budget terbatas seperti saya, majalah RS itu menjadi panduan menyusun prioritas. Dengan budget terbatas, mendapat musik terbaik..he.he.

Keempat album klasik itu adalah Avalon (Roxy Music, 1973); Who’s Next (The Who, 1971); Destroyer (Kiss, 1976); Pronounced Leh-Nerd Skin-Nerd (Lynyrd Skynyrd, 1973). Di album Who’s Next ada lagu Baba O’Riley yang legendaris itu. Di album ini juga ada lagu Behind Blue Eyes, yang belakangan dipopulerkan kembali oleh grup Limp Bizkit dalam album mereka Results May Vary (2003). Sementara, dalam album Destroyer milik grup bertopeng Kiss ada lagu Beth yang dikenal luas pencinta classic rock.

Tadi pagi saya pasang piringan hitam grup Lynyrd Skynyrd, sementara anak-anak asyik bermain di kamar mereka. Album ini mantap nian. Tidak menyesal dapat album ini. Lagu paling akhir adalah lagu balada Free Bird, yang menjadi anthem grup Lynyrd Skynyrd. Karena habis, piringan hitam berhenti berputar sementara saya tidak sadar karena sedang membaca sebuah artikel. Tiba-tiba anak saya yang paling besar teriak dari kamarnya: ” hey, play that Free Bird song again!”

“How do you know the title is Free Bird?”, saya tanya sambil menuruti permintaannya memutar lagi lagu Free Bird itu. Dia jawab, “It’s in Guitar Hero”. Nah, ini dia.

Saya agak kaget karena dua hal. Pertama, di rumah tidak ada Guitar Hero..he..he. Saya tahu dia suka main Guitar Hero di rumah seorang teman saya kalau kami berkunjung ke sana. Kedua, ternyata game bisa juga menjadi alat edukasi, paling tidak untuk musik. Mainan seperti Guitar Hero potensial melestarikan karya musik rock klasik dari talenta-talenta musik terbaik dan mengenalkannya kepada anak-anak. Mungkin lebih jauh bisa menumbuhkan apresiasi terhadap musik. Jelas lebih baik daripada main game tembak-tembakan atau pukul-pukulan yang boleh jadi menghasilkan preman-preman baru yang cuma mengenal bahasa kekerasan seperti di Monas tempo hari.

Lalu saya tanya ada lagu apa saja yang dia sukai di Guitar Hero. Selain Free Bird, dia menyebut lagu-lagu lain. Diantaranya, lagu Sweet Child O’ Mine dari album Appetite for Destruction milik grup Guns N’ Roses (1989) yang dahsyat itu. Beruntung beberapa hari lalu saya menang bidding di ebay piringan hitam album Appetite for Destruction itu dengan harga super murah. Barangnya belum datang. Mestinya anak saya itu akan suka.

Adiknya lain lagi, suka heboh kalau saya putar piringan hitam lagu berjudul London Calling, milik grup punk The Clash. Kalau ibunya memutar lagu Paint It Black-nya Rolling Stones, mereka juga senang. Dari obrolan dengan anak saya tadi, saya merasa lebih terpacu untuk terus mencari dan mengkoleksi piringan hitam. Yah, justifikasi memang bisa ditemukan dimana-mana..he..he.

3 Tanggapan to “Hubungan Vinyl dan Guitar Hero”

  1. Soegank Says:

    Semuanya,… salam Rock and Rooooooooooll…. !!!!
    (boleh pilih teriak gaya Guns and Roses, Seriues atau Soneta….)

    Sungguh beruntung anak-anak loe bisa dengerin musik-musik keren dari vinyl yang original (biar second tapi berkualitas pastinya).

    Kalau anak-anak “terpaksa” (karena babenya belum tajir) menikmati film-film animasi keren dari USA lewat DVD bajakan yang gue seleksi dengan tekun dari tumpukan DVD di Mangga Dua, Ratu Plaza sampai ITC Fatmawati ….he….he…..he….

    Meskipun tiap kali gue bawa DVD ke rumah, anak gue yang pertama pasti tanya, “Yanda, ini asli atau bajakan?. Gue dengan muke sok polos bilang “Bajakan…” Trus, dengan muka semi protes pasti tanya lagi ” Koq, beli yang bajakan sich?”. Trus dengan muke bulus ala Bijo gue akan jawab “Soalnya buatan Amerika”…….he……he…..he……

    Sekali lagi semuanya, Rock and Rooooooooooll……. !!!
    (kerena penutupan, suaranya harus dalam dan mantab seperti Bang Haji Rhoma Irama – “idola” kita semua)

  2. philips vermonte Says:

    Gank, kalu elu teriak Rock and Rooolll…! gw inget vokalis grup Serieus…mirip elu dah suaranya…he..he

  3. santika Says:

    hidup dvd bajakan. phillip email saya ya. masih ingat kan? pnmhii…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: