Archive for Oktober, 2006

Muhammad Yunus versus Pierre Omidyar

Oktober 30, 2006

Hari Minggu kemarin kami ke toko buku Borders. Istri saya membeli sebuah novel, dua bocah juga dapat buku masing-masing satu. Saya sendiri beli majalah The New Yorker edisi terbaru baru. Saya sempat bingung, mau ambil The New Yorker, atau Harper’s (bukan Harper’s Bazaar itu..he..he) edisi terbaru. Di Harper’s itu ada tulisan panjang tentang Barack Obama, senator muda partai Demokrat asal Chicago (Illinois) yang cemerlang. Saat ini Barack Obama amat populer di Amerika. Banyak yang memperkirakan dia adalah salah satu calon kuat Presiden Amerika Serikat di masa yang akan datang.

Majalah The Economist edisi minggu ini memuat sebuah tulisan bertajuk “Obamamania”. Laporan utama Majalah Time edisi minggu lalu juga tentang Barack Obama. Menurut Time, Barack Obama harus maju bertanding dalam pemilihan presiden tahun depan. Saingannya sesama partai Demokrat tentu saja adalah Hillary Clinton yang sudah mengumumkan pencalonan dirinya. Minggu lalu Barack Obama membuat pernyataan pers bahwa dia ‘sedang menimbang untuk maju dalam pemilihan presiden yang akan datang”. Kalau dia maju, akan ramai. Walaupun banyak juga yang berpendapat bahwa waktu untuk Obama masih panjang, sebaiknya dia mematangkan pengalamannya di Kongres atau jabatan eksekutif.

Yang jelas, Barack Obama mungkin akan friendly dengan Indonesia. Barack Obama menghabiskan sebagian masa kecilnya di Indonesia, bersekolah SD di Jakarta. Juga masih bisa berbahasa Indonesia. Ayah kandungnya seorang ekonom asal Kenya, ibunya wanita Amerika. Orang tuanya bercerai, lalu ibunya menikah lagi dengan seorang Indonesia dan mereka tinggal di Jakarta beberapa tahun lamanya. Detik.com pernah memuat tulisan berseri online, hasil investigasi wartawannya tentang masa-masa Obama kecil tinggal di Jakarta. Mereka mewawancarai teman-teman sekolah SD dia di Jakarta, juga guru-gurunya.

Anyway, saya putuskan beli The New Yorker. Saya kena peraturan “each got one” alias satu orang cuma dapat jatah beli satu. Kalau saya beli dua items, dua bocah kecil saya itu masing-masing harus dapat dua items juga. Lagian bulan ini saya sudah cukup banyak juga beli buku. Bocah-bocah itu juga sudah belanja beberapa buku bulan ini. Namanya juga mahasiswa, kebijakan uang ketat…he..he.

The New Yorker adalah salah satu bacaan favorit saya. Dulu ada majalah Pantau yang berusaha menjadi seperti The New Yorker. Sayang Pantau tidak panjang umurnya. Padahal, menurut saya majalah Pantau bagus, saya suka beli dan baca di Jakarta.

Saya beli The New Yorker karena ada tulisan panjang tentang Muhammad Yunus, pemenang Nobel Perdamaian tahun ini. Muhammad Yunus, seorang ekonom Bangladesh yang sukses dengan Grameen Bank-nya, penyalur modal usaha untuk orang-orang miskin. Yunus dan Grameen Bank mematahkan banyak hal yang menjadi ‘pakem’ dalam dunia perbankan, terutama di negara berkembang. Grameen Bank dalam satu dekade terakhir telah menyalurkan 5,3 milyar dolar kredit usaha kepada orang-orang miskin, yang sering disebut sebagai micro finance. Kurang lebih 96 persen kredit usaha Grameen Bank itu disalurkan kepada perempuan. Menurut Muhammad Yunus, pemberian kredit usaha kepada perempuan adalah hal yang sengaja dilakukan karena kata dia ‘not only because they were more responsible about repaying the loans, but [also] because families benefited more when woman controlled the money’.

Yang lebih menarik sebetulnya adalah angle yang dipilih penulis tulisan ini. Penulisnya bukan membahas Muhammad Yunus an sich, tetapi dia memaparkan debat tentang micro financing yang melibatkan dua kutub pemikiran: pure do-gooders dan profit-minded do-gooders.

Muhammad Yunus masuk dalam kategori pertama, sangat dipengaruhi filantropisme alias semangat kedermawanan yang tinggi. Di masa-masa awalnya, Grameen Bank menerima donasi sebesar kurang lebih 150 juta dolar dalam bentuk soft loan dan grant. Uang itulah yang dipakai oleh Muhammad Yunus untuk memutar Grameen Bank. Sekarang, Grameen Bank membiayai dirinya sendiri, berkat keberhasilannya menyalurkan kredit produktif bagi nasabahnya, kelompok masyarakat paling miskin. Yunus ‘berteori’ bahwa, berbeda dengan kebanyakan pemikiran orang, orang-orang miskin justru adalah entrepreneur ekonomi sejati. Karena, apabila diberi modal, persoalannya bagi mereka adalah survival, karena itu mereka bersungguh-sungguh berusaha. Dan itu dibuktikan oleh Grameen Bank, tingkat kegagalan pembayaran kembali pinjaman oleh nasabahnya amat kecil.

Kelompok kedua, profit-minded do-gooders, juga menarik. Mereka juga filantropis, Salah satunya adalah Pierre Omidyar, yang pada tahun 1995 menciptakan mekanisme transaksi jual beli di internet, yang kemudian dikenal dengan nama e-Bay itu. Dalam tiga tahun, dia menjadi kaya raya, share-nya di e-Bay bernilai 10 milyar dolar (menurut The New Yorker tahun 1998 itu Omidyar adalah pria berumur 32 tahun terkaya di dunia…he..he).

The New Yorker menceritakan bahwa pada suatu sore di bulan November 2004, beberapa orang kaya filantropis ini berkumpul di sebuah rumah di California. Hanya ada beberapa orang yang hadir, plus satu tamu. Tuan rumahnya adalah John Doerr, seorang filantropis; lalu Pierre Omidyar, Sergey Brin dan Larry Page – duo pendiri Google. Tamunya adalah Muhammad Yunus. Mereka ini ingin minta pendapat Yunus mengenai microfinancing. Mereka ingin membantu dan menyalurkan uangnya.

Setelah Muhammad Yunus memaparkan pemikirannya, terjadi debat panjang antara Pierre Omidyar dan Muhammad Yunus. Omidyar berpendapat, pemikiran Yunus terlalu dilandaskan pada ‘kebaikan budi’. Omidyar ingin penerima kredit yang disalurkan melalui micro-finance betul-betul diperlakukan seperti client bisnis secara tough. Sementara, pemberi kredit juga sah saja mengkomersialisasikan micro-financing ini. Kira-kira intinya: berbisnis dengan orang miskin sah-sah saja. Pasti bisa, kata Omidyar. Semakin komersial, akan semakin sustainable dan justru lebih bermanfaat bagi orang-orang miskin dan ekonomi secara keseluruhan.

Pertemuan di California itu sebetulnya dimaksudkan untuk penggalangan dana bagi Grameen Bank yang dikelola Muhammad Yunus itu. Sembilan orang yang hadir setuju memberi dana untuk Muhammad Yunus. Terkumpul 31 juta dolar sore itu. Tetapi, Pierre Omidyar tidak ikut setuju.

Pierre Omidyar memilih jalannya sendiri. Dia kemudian memutuskan untuk menyumbang uang sebesar 100 juta dolar kepada almamaternya, Tufts University di Boston. Tufts University tentu gembira dengan endowment sangat besar ini, sekaligus pusing. Karena, Pierre Omidyar memberi syarat bahwa Tufts University harus menggunakan sebagian sumbangan ini untuk membentuk sebuah lembaga micro-finance untuk orang miskin dengan visi ala Omidyar, bukan ala Muhammad Yunus.

Menarik juga untuk menantikan kelanjutannya…

30 Oktober 2006.

Berburu Buku

Oktober 15, 2006

Hari ini saya dan rekan saya Nico ada janji ketemu dengan pak Hadi Soesastro, direktur eksekutif CSIS tempat kami berdua bekerja sebagai peneliti di Jakarta. Pak Hadi sedang ada konferensi di Chicago dan hari ini adalah hari terakhirnya, sebelum kembali ke Jakarta hari Minggu siang. Jadi kami tadi janjian untuk makan malam bersama.

Kebetulan Dan Slater, seorang dosen ilmu politik di University of Chicago, akan ikut makan malam. Dan Slater adalah teman lama Nico. Dan Slater pernah menjadi research fellow di CSIS tahun 2004, waktu itu Dan masih dalam proses penelitian penyelesaian disertasi doktoralnya mengenai state-building. Begitu lulus, dia berhasil lolos diterima menjadi pengajar di Department of Political Science di University of Chicago. Sejak tahun lalu dia mulai mengajar di sana. Tidak mengherankan, karena Dan Slater ini produktif sekali menulis. Tulisannya bisa ditemui di berbagai jurnal terkemuka, misalnya di jurnal International Organization, atau juga di jurnal Comparative Politics.

Di mata kuliah Contemporary Indonesian Politics yang saya ambil di semester ini, salah satu tulisannya mengenai “Party Cartels and Presidential Power after Democratic Transition in Indonesia” ada dalam list bacaan yang wajib dibaca. Di mata kuliah Comparative Politics Theory, juga ada satu tulisannya dalam daftar wajib baca, yaitu “Systemic Variation and the Origins of Developmental States”. Dan Slater is a humble person, rendah hati. Memang tipikal umumnya akademisi Amerika yang santai saja penampilannya. Karena wajahnya (juga umurnya) yang masih muda, dia mungkin lebih sering dikira mahasiswa, daripada dikira sebagai professor..he..he.

Anyway, tadi Dan Slater kami jemput di Powell’s Bookstore di Chicago, sebelum berangkat menjemput pak Hadi di hotelnya untuk makan malam. Tempat tinggal Dan tidak jauh dari situ. Powell’s berada dekat sekali dengan kampus University of Chicago. Powell’s bookstore ini adalah toko buku second-hand yang besar sekali. Jadi saya sempat juga membeli beberapa buku. Sukses juga tadi, saya mendapat beberapa buku klasik. Ini dia list-nya:

1. Rose, Mishler and Haerpfer (eds), Democracy and Its Alternatives: Understanding Post-Communist Societies (1998).

2. Diamond and Plattner (eds), Civil-Military Relations and Democracy (1996)

3. Anthony Smith, Theories of Nationalism (1983); buku ini adalah salah satu buku ‘wajib’ bagi para pengkaji nasionalisme.

4. Ronald Rogowski, Commerce and Coalitions: How Trade Affects Domestic Political Alignments (1989); dalam studi hubungan internasional, kajian Rogowski ini sering dikutip untuk mematahkan paradigma neo-realisme yang mengabaikan fakta bahwa struktur sistem international mempengaruhi domestik politik atau sebaliknya. Dalam studi comparative politics, studi Rogowski ini juga banyak dibaca.
5. Diamond and Plattner (eds), Capitalism, Socialism and Democracy Revisited (1993).

6. Kenneth Oye, Cooperation Under Anarchy (1986); topik ini juga menjadi topik yang berusaha mematahkan argumen neo-realisme dalam studi HI yang meyakini bahwa struktur sistem internasional yang anarkis tidak memungkinkan terjadinya kerjasama antar negara.

7. Dale Eickelman and James Piscatori (eds), Muslim Politics (1996).

Rata-rata harganya lima dolaran. Di Amazon.com kalau sedang beruntung mungkin saya bisa dapat buku-buku ini (second-hand) dengan harga yang sama. Tapi tentu harus bayar extra untuk ongkos kirim. Selain itu harus menunggu sekitar satu minggu atau dua minggu sebelum buku sampai di alamat rumah.

Lumayan, hari ini dapat buku-buku bagus dengan harga murah meriah. Selain itu ketemu pak Hadi Soesastro, dapat update banyak informasi soal Indonesia. Juga dapat suntikan motivasi, karena ketemu Dan Slater yang antusias sekali bercakap-cakap soal Indonesia dan soal ilmu politik pada umumnya.

Kajian Budaya Politik

Oktober 13, 2006

Kuliah comparative politics theory minggu ini menarik. Soal political culture. Dalam bidang comparative politics, kajian budaya politik memang sempat tertinggal. Padahal, di masa jaya bidang studi comparative politics tahun 1950-an dan 1960-an, penekanan kajiannya lebih banyak pada budaya politik. Agaknya karena di masa-masa itu kajian comparative politics amat di dominasi paradigma modernisasi, dimana persoalan budaya politik dianggap merupakan bagian inheren dari proyek modernisasi.

Kajian budaya politik kemudian ditinggalkan karena beberapa sebab. Sebab pertama, konsep budaya politik terlalu abstrak alias vague. Persoalan yang ditimbulkan dari abstraknya konsep budaya politik ini antara lain adalah persoalan menentukan unit analisa. Atribut budaya politik harus diasosiasikan pada level mana: kultur individu, kelompok atau negara? Jika pada level individu, apakah dia bisa digeneralisasi? Kalau pada level negara, apakah dia mencerminkan individu? Bila diletakkan dalam konteks kelompok (etnis atau relijius misalnya), bagaimana menjelaskan variasi kultur kelompok yang satu dengan yang lainnya? Persoalan kedua yang ditimbulkan karena terlalu abstrak adalah variabel budaya sering diperlakukan sebagai variabel residu. Artinya, variabel kultur menjadi the last resort, kalau variabel lain tidak mampu menjelaskan sebuah fenomena. Alias, kalau sudah mentok dan otak sudah malas berpikir, tinggal bilang: “yah emang udah budayanya begitu”…he..he.

Sebab kedua ia ditinggalkan adalah bahwa politik selalu dikaitkan dengan political correctness. Artinya, budaya politik cenderung dijadikan alat untuk menyalahkan keadaan. Misalnya, bila sebuah masyarakat gagal membangun demokrasi, maka budaya dijadikan kambing hitam latar belakang gagalnya demokrasi itu.

Sejak tahun 1990-an, kajian budaya politik kembali mendapat perhatian dari para comparativists. Ada beberapa penyebabnya, diantaranya adalah mulai tersedianya data set global mengenai budaya, seperti data dari World Value Survey. Tersedianya data set ini memungkinkan budaya politik dikaji secara lebih saintifik dengan dukungan data empirik. Sehingga, kajian budaya politik tidak lagi menjadi kajian yang vague dan abstrak.

Sebab lain berkembangnya kajian budaya politik adalah munculnya karya-karya akademis yang solid dan lebih kaya mengenai budaya. Ada dua ilmuwan yang sering disebut dalam hal ini. Pertama adalah Robert Putnam dengan bukunya Making Democracy Work (1993). Selama satu dekade Putnam melakukan penelitian, ia membandingkan Italia bagian utara dan selatan dan dia sampai pada kesimpulan bahwa Italia sebelah utara lebih makmur dan demokratis karena densitas network dan asosiasi kemasyarakatan di sana jauh lebih tinggi daripada Italia wilayah selatan. Penyebabnya adalah trust antara anggota masyarakat di Italia sebelah utara jauh lebih tinggi.

Selanjutnya, trust menjadi social capital yang membentuk basis bagi civil society. Sementara di Italia selatan, berkembang apa yang disebut oleh Banfield sebagai amoral familial , dimana orang hanya mempercayai anggota keluarganya. Keadaan semacam ini menjadi lahan amat subur untuk nepotisme dan terbentuknya masyarakat yang tertutup.

Ilmuwan politik kedua adalah Ronald Inglehart yang melakukan banyak kajian mengenai budaya politik dengan data empirik, antara lain dengan menggunakan dataset dari World Value Survey itu. Ada artikel Ingelhart yang seru, judulnya Trust, Well-being and Democracy. Walaupun ada beberapa kritik untuk tulisan itu, tetapi artikel ini cukup memprovokasi pikiran.

Salah satu temuan Inglehart adalah mengenai tingkat interpersonal trust yang dihubungkan dengan tradisi agama dan budaya serta tingkat pembangunan ekonomi. Ingelhart menggunakan data World Value Survey dan juga data World Bank (Purchasing Power Parity Estimates). Pertanyaan dalam World Value Survey itu kira-kira adalah: “apakah menurut Anda orang lain bisa dipercaya?”

Hasilnya: level interpersonal trust tertinggi ditemukan di negara-negara dengan tradisi Protestan (tertinggi adalah Norwegia, kurang lebih 65 persen responden di sana menyatakan bahwa orang lain bisa dipercaya). Level interpersonal trust yang tinggi juga ditemukan di negara dengan tradisi Confusian (yakni tertinggi Cina dengan 50 persen lebih, Jepang, lalu Taiwan, dan Korea Selatan). India, yang bisa dikategorikan sebagai negara miskin, juga memiliki level of trust yang tinggi, hampir 40 persen, lebih tinggi dari Korea Selatan.

Masyarakat Islam membukukan catatan rendah dalam hal trust kepada orang lain ini. Kurang lebih 20 persen saja dari responden di beberapa negara bertradisi Islam (seperti Bangladesh dan Azerbaijan) yang menyatakan bisa mempercayai orang lain.

Saya jadi ingat sebuah tulisan Reinald Khasali, pakar manajemen UI itu. Dalam sebuah emailnya yang beredar luas di internet dia menceritakan pengamatannya bahwa level personal trust orang Indonesia amat rendah. Contoh sederhana mengenai rendahnya level of trust yang dia berikan adalah bahwa di Indonesia, sejak kecil kita diajarkan untuk membuat tanda tangan yang susah, agar tidak mudah dipalsukan orang lain. Padahal di negara maju seperti Amerika, kata Reinald Khasali, justru tanda tangan itu seharusnya bisa dibaca dan dikenali.

Studi Inglehart juga menemukan bahwa masyarakat bertradisi Katolik juga memiliki level trust yang rendah. Terendah adalah Brazil dengan hanya 3 persen saja responden di sana yang menyatakan bisa mempercayai orang lain. Gap-nya sungguh besar bila dibandingkan dengan Norwegia yang 65 persen itu. Masyarakat Katolik di beberapa negara lain (Perancis, Austria, Portugal, Italia, Belgia misalnya), berada di kisaran 20 hingga 30 persen. Masyarakat Filipina dan Peru yang bertradisi Katolik juga rendah tingkat kepercayaannya pada orang lain: kurang dari 10 persen yang menyatakan percaya pada orang lain.
Mengapa masyarakat Katolik memiliki tingkat kepercayaan pada orang lain yang rendah dibandingkan dengan Protestan? (Inglehart tidak memberi penjelasan apa-apa mengenai masyarakat Islam). Menurutnya, hal itu merefleksikan prinsip bahwa organisasi horizontal dan terdesentralisasi seperti gereja Protestan lebih kondusif dibandingkan dengan organisasi hierarkis yang remote (pusat gereja Katolik di Roma tentu jauh dari Brazil misalnya). Gereja Protestan lebih kecil, terdesentralisasi dan lebih terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat lokal. Karena itu, secara natural, gereja Protestan lebih mendorong partisipasi masyarakat di tempatnya berada. Tampaknya kesimpulan Inglehart ini konsisten dengan pengamatan Max Weber yang klasik mengenai etika Protestant yang mendorong tumbuh berkembangnya kapitalisme.

Banyak sekali hal menarik dari tulisan Inglehart ini. Walaupun ada beberapa substansi ataupun metodologi dari studi Inglehart ini yang bisa diperdebatkan (misalnya, dia tidak menjelaskan peran budaya politik dalam konteks masyarakat yang sedang menjalani proses transisi menuju demokrasi) tapi Inglehart dengan konsisten menunjukan bahwa budaya politik bisa dikaji dengan data-data empirik. Karena itu, studi budaya politik kembali menarik. Mungkin relevan juga untuk kembali dikembangkan dalam studi politik Indonesia. Karena sebelumnya banyak karya besar klasik dunia mengenai budaya atau nasionalisme misalnya, merupakan hasil kajian mengenai Indonesia. Seperti studi yang dibuat oleh antropolog ternama Clifford Geertz, Bennedict Anderson mengenai Imagined Communities, atau ilmuwan politik terkenal Arendt Lijphart yang pernah mengkaji Papua.

Ngabuburit dan Sepakbola Anak-anak

Oktober 6, 2006

Kalau puasa di Jakarta, pasti banyak acara buka puasa bersama, bareng teman-teman kuliah, keluarga, kantor, atau macam-macam lah.

Di sini paling kita ke toko buku, menghabiskan waktu siang. Entah di Borders atau Barnes & Noble. Pulang ke rumah sore menjelang buka.

aaasalman1.jpg
Atau kali ini kebetulan liga sepakbola anak-anak di Dekalb sudah berjalan. Lumayan menghabiskan waktu di tengah musim yang lagi berganti dan semakin dingin dari hari-ke hari. Anak saya yang puasa jadi sibuk dengan aktifitas sepakbola. Baguslah.

Seru juga liga sepakbola ini. Anak-anak yang ikut banyak sekali. Mereka dibagi dalam tim-tim berdasar kelompok umur. Tiap tim punya jadwal latihan masing-masing. Tim-nya Salman berlatih tiap Selasa sore selama satu jam, mulai jam 5.30. Buka puasa jam 6.40 sore. Dia ternyata kuat puasa, padahal ada pelajaran olahraga tiap hari di sekolah. Jam sekolahnya juga panjang, masuk jam 9 pagi pulang jam 4 sore. Sekarang ditambah lagi berlatih sepakbola setiap hari Selasa, plus hari Sabtu pertandingan.

abiru1.jpg

Tim-tim sepakbola ini bertanding tiap hari Sabtu pagi. Menurut jadwalnya, ada 12 pertandingan, karena ada 12 tim untuk kelompok umur dia (7-10 tahun). Yang seru, tim perempuan juga banyak. Anak-anak perempuan itu pintar-pintar main bola, tendangannya keras-keras dan larinya kencang. Memang Amerika Serikat adalah juara dunia sepak bola wanita, kalau tidak salah sudah tiga kali berturut-turut. Saya yakin salah satu sebabnya adalah persamaan gender. Perempuan main sepakbola adalah hal biasa di sini, mulai dari anak-anak sudah dibiasakan. Saya tidak melihat anak-anak perempuan itu canggung bermain bola. Terlihat sama saja seperti anak-anak laki-laki bermain bola.

Tim-nya Salman performance-nya lumayan. Dari 5 kali pertandingan yang sudah dijalani, mereka baru kalah satu kali. Mereka kalah lawan tim berkaos kuning. Tim kaos kuning lawannya itu besar-besar badannya, mungkin rata-rata sudah berumur 10 tahun semua (umur maksimum di kelompok umur ini). Lagipula, dari cara mainnya terlihat bahwa mungkin mereka sudah ikut liga dan latihan juga tahun lalu. Sementara, tim Salman yang berkaos biru, semuanya anak-anak kelas satu atau dua (umur 7 atau 8 tahun). Dan hampir semuanya baru ikut tahun ini, artinya baru pertama kalinya main bola dalam tim. Belajar dari nol.
Untungnya, coach-nya Salman bagus. Dia menekankan teamwork, jadi mereka selalu dituntut untuk mengoper bola dari kaki ke kaki. Jadi bolanya mengalir dari pemain bertahan dibelakang, hingga penyerang di depan. Mereka juga diajar bertahan dengan disiplin menjaga wilayahnya.

Saya perhatikan, anak-anak itu cepat mengerti perintah coach-nya. Mereka jadi akrab sekali satu sama lain, saling mengingatkan untuk saling mengoper. Tidak heran kalau mereka selalu menang dengan skor banyak (kecuali waktu kalah 5-3 lawan tim kuning itu). Tim lain (juga tim kaos kuning itu) saya lihat tidak diajar begitu. Rata-rata hanya mengandalkan anak yang pintar main bola.

anak-anak1.jpg

Hal lain, liga ini juga menyediakan program untuk anak-anak balita. Mulai dari umur 4 tahun sudah bisa ikut. Di kelompok umur ini, anak laki-laki dan perempuan dicampur. Targetnya cuma agar mereka bisa menggiring bola ke arah yang benar, alias ke gawang lawan…he..he..

Kegiatan ini gratis (yang kaya, ya bayar, tapi saya kan mahasiswa…he..he). Semuanya diurus oleh organisasi volunteer yang namanya AYSO (American Youth Soccer Organization). Rasanya bosan mengulang-ulang lagi (sudah ada dua posting tentang ini di blog saya), tapi memang ini yang saya tangkap di sini: voluntarisme adalah basis dari kuatnya masyarakat madani dan demokrasi di Amerika

It’s Monday Again

Oktober 2, 2006

It’s Monday again. I don’t know what Bob Geldoff had in mind when he created the legendary song I don’t like Monday, but I do share his contention. The week is long, the weekend is just too short.

My wife drove me to campus this morning, so I had the luxury to relax in the passenger seat. Well it’s less than 10 minutes drive though from our apartment to the campus. I however seized the opportunity to listen to R.E.M.’s song, Imitation of Life. I have been listening to that song again and again lately. The band considered that song the poppiest among their songs, which I could not agree more. But I like it a lot.

That song is now like a theme song for me. The song is so effective in keeping my spirit for studying high. I remember that during my undergraduate years in Bandung, I also had this kind of theme song. I listened to Swing Out Sister’s Breakout almost every morning before starting my day. Breakout was just so dynamic, it filled me with so much energy. When I was in junior high, it was Judas Priest’s Breaking the Law; while in high school it was Sweet Child O’ Mine of Guns N’ Roses.

I managed to overcome the I-Don’t-Like-Monday syndrome with that R.E.M song. Getting myself ready to face the day and the very tough week ahead. Even my two-year-old son seemed to enjoy the R.E.M. song. I could hear he sang loudly with his cute voice at the backseat of the car: ”Come on….come on….”.

When I came home this afternoon, there he was in front of the door, singing it again…”Come on, come on…”.

Imitation of Life

R.E.M

Ref:

That’s sugarcane, that tasted good
That’s freezing rain, that’s what you could
C’mon c’mon, no one can see you cry

This sugarcane
This lemonade
This hurricane, I’m not afraid.
C’mon c’mon, no one can see me cry

This lightning storm
This tidal wave
This avalanche, I’m not afraid.
C’mon c’mon no one can see me cry

That’s sugarcane that tasted good
That’s who you are, that’s what you could
C’mon c’mon no one can see you cry