Archive for April, 2007

Tukul Arwana, Empat Mata dan Munir.

April 21, 2007

Sudah dua minggu lebih saya tidak sempat menengok Youtube untuk nonton episode acara Empat Matanya si Tukul Arwana. Saya memang hobi nonton Empat Mata yang disiarkan Trans7 ini, setelah dikabarkan seorang teman bahwa acara itu bisa ditonton via Youtube karena ada seseorang yang rajin meng-upload acara itu. Saya cuma tahu nama yang digunakan orang itu di internet adalah barrock81. Semoga kebaikan mas Barrock diganjar pahala berganda…:-) Nama si barrock ini sudah beberapa kali juga disebut si Tukul. Buat orang Indonesia yang sedang di luar negeri, Tukul dan Youtube betul-betul hiburan menyegarkan.

Acara Empat Mata ini, menurut saya, betul-betul lucu dan menghibur. Obat rindu tanah air juga. Saya memang suka acara lucu gaya-gaya Srimulat begini. Dulu tiap Kamis malam saya bela-belain nonton Srimulat, kalau nggak salah di Indosiar.

Istri saya tidak terlalu suka acara Empat Mata ini, tapi toh di salah satu episode yang saya tunjukan di Youtube, dia juga tertawa geli. Yaitu waktu edisi berjudul ‘Cinta Indonesia’, dengan bintang tamunya antara lain Yati Pesek. Sungguh lucu buangett Yati Pesek itu, apa lagi waktu ngomong: ‘bedebah’ dan “oh my god” dengan intonasi yang nggak ada duanya. Menurut saya, edisi itu adalah salah satu edisi paling lucu. Apalagi ada bintang tamu pesinden bule orang Amerika yang bahasa Jawanya halus sekali, membuat si Tukul mati angin.

Anyway, setelah dua minggu, baru sempat nonton lagi. Biasa, menjelang akhir semester begini tugas kuliah dan ujian-ujian menghadang. Minggu-minggu menjelang ujian akhir dan tenggat waktu untuk paper-paper kuliah begini memang penuh tekanan. Perpustakaan kampus selalu penuh hingga lewat tengah malam oleh mahasiswa yang belajar dan mengerjakan tugas.

Tapi justru karena itu mungkin saya butuh hiburan gaya Tukul buat mengurangi stress. Teman saya Coen Pontoh juga keranjingan, dia suka nonton di Youtube hingga jam 2 malam, istrinya selalu protes…ha.ha.ha.

Nah, dua minggu lalu teman saya yang lain, Ahmad Sahal, dalam sebuah obrolan via telpon dengan saya mengabarkan ada episode yang baru diupload oleh barrock di Youtube, judulnya ‘Back To 80s’. Baru sempat saya tonton barusan.

Ini edisi paling bagus, penuh nostalgia. Memang saya generasi 80-an* (menghabiskan SMP-SMA di tahun 1980-an). Jadi ingat jaman-jaman itu, jaman belum ada tv swasta, hanya ada TVRI. Acara hiburan musik cuma Aneka Ria Safari. Hiburan tv yang lain di hari minggu ada Ria Jenaka, lalu jam 12 minggu siang ada film seri Little House on the Prairie…:-) Mungkin ada bagusnya juga, membuat generasi itu tidak terlalu terpaku di depan tv. Aktif kegiatan luar rumah, macam pecinta alam, pramuka atau olahraga (juga tawuran antar sekolah…:-)

Epsiode berjudul “Back to 80s’ ini menghadirkan bintang tamu Nella Regar, Betharia Sonata, Obbie Mesakh. Karena saluran hiburan musik di tv tahun-tahun 80-an itu cuma Aneka Ria Safari di TVRI, ya saya tentu akrab dengan nama-nama itu….:-) Dalam episode Empat Mata ini, Obbie Mesakh nyanyi lagu “Kisah Kasih di Sekolah”….

Penonton yang memenuhi studio ikut bernyanyi sama Obbie Mesakh kompak betul: “sungguh aneh tapi nyataaa, tak’kan terlupaaa…kisah kasih di sekolaaah…dengan si diaa…tiada masa paling indah, kisah kasih di sekolah”…he..he.

Ini link nya back to 80s bagian 5 (lagunya setelah agak ditengah bincang-bincang).

Saya nggak akan lupa lagu ini. Gara-garanya, waktu saya baru masuk SMA 6 di jalan Mahakam di Jakarta, senior-senior kelas dua dan tiga yang iseng waktu Ospek memerintahkan beberapa siswa yang baru masuk kelas satu, termasuk saya, untuk mencari lirik dan menghapalkan lagu Obbie Mesakh ini. Pulang Ospek hari itu, saya ke toko kaset Aquarius Mahakam beberapa ratus meter dari sekolah cari kaset Obbie Mesakh, mencatat lirik lagu dari sampul kasetnya. Besoknya, saya dan beberapa teman di suruh nyanyi lagu itu, yang nggak hapal kena hukuman. Kata senior-senior saya yang iseng itu, biar bangga dengan SMA 6. Karena di salah satu lagunya Obbie Mesakh shooting di sekolah kami untuk video klipnya. Ada-ada saja senior-senior itu. Jadilah, nonton Empat Mata barusan membuat ingat jaman SMA dulu. Jadi senyam senyum sendiri.

Selain itu, dalam episode ini ada juga Mus Mujiono sebagai bintang tamu. Dia bawain lagu “Tanda-tanda” (inikah, tanda-tandanya, bunga asmara…begitu bunyi sebait liriknya). Eh atau bukan itu judulnya? Yang jelas lagu ini ngetop berat waktu saya SMA.

Ini link ke penampilan Mus Mujiono: back to 80s bagian 3

Tapi waktu lihat Mus Mujiono di acara Empat Mata ini, selain inget masa-masa SMP-SMA, saya juga jadi ingat almarhum Munir, aktifis HAM yang tewas di racun dalam perjalanannya saat akan bersekolah menuju Belanda itu.

Saya pernah tulis kenangan saya dengan Munir dalam posting berjudul “Only the Good Die Young” (klik di sini jika berminat baca lagi). Dalam tulisan itu saya cerita tentang pertemuan saya terakhir dengan almarhum Munir di studio radio Trijaya di kompleks stasiun RCTI tiga minggu sebelum keberpulangannya. Kami berdua diundang untuk bercakap-cakap di radio Trijaya soal RUU mengenai TNI. Ketika acara bincang-bincang selesai, waktu keluar dari studio rekaman, kami berdua berpapasan dengan Mus Mujiono.

Rupanya, cak Munir akrab sekali dengan Mus Mujiono. Kalau nggak salah, waktu saya diperkenalkan Mus Mujiono bilang mereka kawan SMA. Yang jelas, Munir waktu melihat Mus Mujiono kelihatan kaget sekali. “Lho, sampeyan kok kurus banget??”

Mus Mujiono bilang dia sakit, banyak pantangan makanan. Munir langsung bilang, “lah sampeyan artis duitnya banyak, sakit pasti gara-gara kebanyakan makan enak’. Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal. Kelihatan memang mereka kawan karib sejak lama.

Yang jelas, kasus kematian cak Munir belum “terungkap”. Baca majalah Tempo edisi minggu lalu, laporan utamanya kembali soal Munir. Ada perkembangan baru, terbuka sedikit ‘harapan’ untuk mengungkap kasus itu, yang sebetulnya terang benderang. Cuma butuh keberanian polisi dan pastinya SBY. Sayang, kata ‘keberanian’ sepertinya sudah hilang dari kamus mereka.

*update: baru nemu blog lapanpuluhan, cerita-cerita era tahun lapanpuluhan.

Bisa klik Blog Lapanpuluhan di sini (juga bisa dari Friends area).

Berita Sedih

April 21, 2007

Nico, teman yang sedang belajar di sini dan sedang penelitian di Jakarta Jumat siang kemarin (Sabtu lewat tengah malam di Jakarta) kirim sms mengabarkan berita duka bahwa suami dari Mbak Nancy rekan kami berdua (tepatnya bos, karena mbak Nancy adalah salah satu direktur CSIS tempat saya bekerja) meninggal dunia setelah sakit beberapa waktu lamanya.

Tidak berapa lama kemudian juga datang kabar dari beberapa teman lain mengabarkan hal yang sama. Bahkan di milis alumni seminar Millenium juga  segera muncul ucapan duka cita. Kabar duka amat cepat tersebar.

Seminar Milenium adalah seminar tahunan yang diselenggarakan CSIS, dimana tiap tahun CSIS mengundang aktifis  muda usia dari tiap propinsi sebanyak dua orang, dari Sabang sampai Merauke. Jadi tiap tahun kurang lebih 66 orang muda dari seluruh Indonesia berkumpul (biasanya di Puncak), seminar dan diskusi selama seminggu dengan topik beragam hal, mulai masalah politik hingga sosial budaya.

Kabar yang datang dari mana-mana ke saya ini memperlihatkan bahwa mbak Nancy dan suaminya dikenal banyak orang, mungkin terutama karena memang mbak Nancy adalah orang yang penuh perhatian. Di kantor, hampir semua peneliti muda CSIS percaya padanya untuk menceritakan masalah-masalah, baik problem pribadi ataupun urusan pekerjaan. Nggak heran kalau di kantor, mbak Nancy dipanggil “Mami” oleh banyak peneliti rekan saya di sana.

Saya baru sempat kirim sms, telepon takut mengganggu karena Mbak Nancy pasti sedang sibuk dan juga membutuhkan privacy dengan keluarga dekatnya.  Almarhum suami mbak Nancy is no longer in pain. Semoga sudah tenang di sana. Yang terpenting, semoga Mbak Nancy dan anak-anaknya bersabar.

Soal IPDN/STPDN

April 15, 2007

Ramai sekali pembicaraan soal IPDN/STPDN setelah tewasnya Cliff Muntu, seorang siswa di sana, di tangan para seniornya. Kematian Cliff Muntu malah membuka kasus lama, ternyata penganiaya dalam kasus sebelumnya tidak pernah di eksekusi secara hukum alias belum menjalani masa tahanan.

Kasus IPDN/STPDN ini hanya kembali memperlihatkan carut marutnya birokrasi, penegakan hukum, dan dunia pendidikan kita. Di samping itu, budaya kekerasan masih berakar dan ditoleransi. Kalau lagi iseng, silahkan tengok saja friendster page yang dimiliki mahasiswa IPDN/STPDN. Di friendster page-nya, para praja IPDN/STPDN membela diri bahwa tindak kekerasan hanya dilakukan ‘segelintir’ orang alias oknum. Memang khas orang kita, ‘oknum’ adalah pelarian terbaik untuk menutupi kelemahan. Kalau kejadian berulang, korbannya pun maksimal (alias kematian), tentu bukan oknum lagi penyebabnya.

Apalagi melihat cuplikan rekaman yang disiarkan Metro TV (saya lihat di youtube), acara ‘pembinaan’ dengan kekerasan dalam rekaman itu dilakukan tengah hari, terang benderang, di lapangan terbuka di dalam kampus. Artinya, kegiatan itu diketahui, dilihat semua orang, dan dianggap sebagai sesuatu yang biasa di sana.

Ulah para senior di IPDN/STPDN ini sebetulnya adalah cerminan budaya menindas yang ada dalam diri banyak orang kita juga. Sangat umum diantara kita ketika memiliki ‘kekuasaan’ sedikit saja, maka potensi menindas kepada mereka yang lebih lemah posisinya dari kita akan meningkat.

Bukan cuma di IPDN/STPDN, di kampus perguruan tinggi negeri juga begitu. Senior merasa berkuasa di banding junior, banyak dosen ‘menindas/mempersulit’ mahasiswa, petugas imigrasi yang meminta uang pada aplikan pembuat paspor, polisi lalu lintas menilang supir metromini, angkot atau ojek kadang tanpa alasan jelas.

Rumus tentang kekuasaan sederhana, setiap mahasiswa ilmu politik tahu persis. Adagium dari Lord Acton bilang: power tends to corrupt. Dari jaman dulu hingga sekarang, kekuasaan sangat mungkin disalahgunakan.

Wajah kekerasan ada dimana-mana, watak militeristik juga terpelihara. Hampir semua ormas punya sayap ‘kekerasan’ dengan pemuda sebagai tulang punggungnya. Bahkan, dua organisasi Muslim terbesar di tanah air, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, punya Kokam dan Banser. Lalu, cerita tentang organisasi Pemuda Pancasila bukan lagi rahasia. Partai-partai politik juga punya sayap ‘kekerasan’, seperti PDI-P dan lain-lain. Baik berafiliasi formal dan non-formal.

Saya sendiri pernah diundang menjadi pembicara seminar yang diselenggarakan oleh siswa IPDN/STPDN di kampusnya di Jatinangor. Lupa, kalau tidak salah tahun 2003 atau 2004. Yang jelas acara itu diselenggarakan tidak lama setelah kasus tewasnya praja STPDN bernama Wahyu Hidayat. Topik seminarnya soal hubungan sipil militer. Sebagai panelis, waktu itu saya dipasangkan dengan Wakil Komandan Sesko TNI Angkatan Darat (Seskoad), yang saya lupa namanya. Penyelenggara acara ini, ya mahasiswa IPDN/STPDN. Bukan pihak rektoratnya.

Saya senang hari itu datang ke sana. Saya ingin tahu juga, bagaimana kehidupan di dalamnya. Seminarnya sih masih bergaya mobilisasi, semua praja wajib hadir di aula besar IPDN/STPDN. Jadi mungkin hari itu saya bicara di depan lebih dari 1000 siswa, rasanya seperti sedang kampanye partai politik..he..he.

Sepanjang interaksi saya hari itu, saya merasa bahwa mereka adalah praja/mahasiswa yang pandai. Dari cara mereka mengemukakan pertanyaan dan menanggapi kami sebagai pembicara, saya bisa meraba bahwa mereka serius belajar dan banyak membaca. Juga kritis pada TNI. Walhasil, saya tidak perlu kerja keras meyakinkan para siswa IPDN/STPDN yang notabene adalah calon birokrat sipil ini bahwa TNI itu harus dikontrol oleh pihak sipil sebagai prasyarat demokrasi yang sehat.

Saya ingat moderator hari itu adalah seorang dosen muda perempuan mereka. Dari caranya menjadi moderator, mengulas dan ikut serta dalam diskusi, saya yakin dia adalah dosen yang luas bacaannya.

Hingga beberapa waktu lalu, saya masih sering menerima email dari para siswa IPDN/STPDN ini. Mereka sering bertanya banyak hal, mulai kajian sosial politik hingga berkonsultasi tentang bagaimana caranya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Saya baru sadar, bahwa email-email itu sudah berhenti, mungkin mereka-mereka itu sudah lulus sekarang dan ditempatkan di daerah masing-masing.

Sederhananya, saya mau bilang bahwa pendidikan di IPDN/STPDN saya rasa diperlukan. Yang harus dilakukan adalah menghilangkan elemen kekerasan. Memang kalau dibayangkan, negara seluas Indonesia membutuhkan aparat birokrasi yang cakap dan memang dididik untuk itu. Yang perlu dilakukan adalah menanamkan doktrin baru, bahwa mereka adalah birokrat pelayan masyarakat, bukan pemimpin.

Birokrasi kita menakutkan, karena malah mempersulit, bukan melayani. Malah, masyakarat yang lebih sering terpaksa melayani para birokrat ini. Ada tiga tempat yang saya suka keringat dingin kalau harus datang. Pertama, kantor semacam kelurahan atau kecamatan untuk bikin kartu keluarga, KTP atau semacamnya. Kedua, tempat bikin SIM. Ketiga, kantor imigrasi. Menyebalkan. Setiap ke tempat-tempat itu, belum sampai ke sana pun yang ada dibenak saya adalah bahwa saya akan dikerjai dan dipersulit. Kalau IPDN/STPDN terutama diarahkan pada pendidikan birokrat yang kompeten dan bermental melayani, tentu baik sekali.

Sepengamatan saya, ada yang salah dalam mentalitas para siswa dan lulusan IPDN/STPDN. Mereka merasa sebagai orang-orang terpilih dan calon pemimpin. Kalau terpilih, ya memang iyalah. Kan memang diseleksi, sama seperti mahasiswa di kampus negeri yang harus melalui UMPTN.

Tetapi, kalau calon pemimpin, ya jelas bukan. Yang betul, mereka adalah calon birokrat, pelayan masyarakat. Saya rasa perasaan sebagai calon pemimpin ini adalah sisa jiwa Orde Baru, dimana birokrasi dulu adalah mesin politik kekuasaan. Maka tidak heran bila birokrat dianggap sebagai pemimpin.

Mungkin harus kita pahami, bahwa dalam konteks demokrasi pemimpin harus mendapat legitimasi lewat pemilihan (umum). Sementara mereka dari IPDN/STPDN ini disuplai, dijamin pekerjaannya setelah lulus di birokrasi hingga struktur pemerintahan di bawah. Salah besar kalau lalu mereka menganggap dan dianggap sebagai pemimpin, wong untuk mendapat jabatannya itu mereka tidak melalui pemilihan untuk meyakinkan apakah masyarakat menghendaki mereka jadi pemimpinnya kok.

Konon kabarnya, siswa IPDN/STPDN terutama dipersiapkan menjadi camat. Camat di Indonesia adalah sayap birokrasi, tidak melalui mekanisme pemilihan umum. Dibanding Camat, para kepala desa justru lebih pantas dianggap pemimpin, karena sebagian besar mereka sekarang dipilih langsung oleh masyarakat desa.

Jadi, hancurkan doktrin yang ditanamkan pada siswa IPDN/STPDN soal pemimpin ini. Juga hancurkan doktrin soal eksklusifitas. Eksklusifisme dimana-mana akan mengorbankan transparansi, dan membuat orang merasa lebih baik daripada yang di luar lingkaran mereka. Baju seragam, potongan cepak, sepatu hitam mengkilat hapuskan saja, dari sini juga mungkin rasa eksklusifisme dipelihara (walaupun ini juga susah, pasti ada kepentingan bisnis dari penyedia segala atribut baju seragam, sepatu, tas dan semacamnya untuk ribuan siswa IPDN/STPDN setiap tahunnya..he..he). Kalau masih mau pakai seragam, yah kasih celana kain hitam dan kemeja putih saja yang lebih netral. Atau pakai seragam merah putih sekalian?

Karena merasa eksklusif, ada potensi siswa IPDN/STPD terlalu tinggi menilai diri mereka sendiri (yang membuncah dalam diri senior-senior brutal itu). Merasa bahwa mereka adalah ‘trah’ terbaik, siap jadi pemimpin. Pinjem kata-kata si Tukul lagi: gundul mu!…he..he.

Kalau perlu bubarkan juga mekanisme asrama itu. Calon birokrat ya sebaiknya tinggal berbaur saja dengan masyarakat di sekitar. Beasiswa mereka toh bisa jalan terus. Sekalian, buka juga pendaftaran bagi pihak umum yang ingin belajar di IPDN/STPDN. Kajian soal pemerintahan, otonomi daerah, dan pemerintahan daerah adalah kajian umum. Program otonomi daerah yang berjalan di Indonesia adalah salah satu yang paling masif di seluruh dunia. Karena itu, lulusan perguruan tinggi yang paham soal pemerintahan daerah dan otonomi juga diperlukan oleh pihak swasta. Juga oleh pihak luar negeri yang akan berhubungan dengan pemerintah daerah.

Dengan demikian, kajian IPDN/STPDN akan lebih kaya dan bisa ditujukan untuk kepentingan yang lebih luas untuk memajukan daerah, bukan hanya untuk birokrasinya. Jadi saya bersetuju bahwa IPDN/STPDN layaknya diatur oleh Depdiknas, bukan oleh Depdagri. Walaupun, untuk calon siswa IPDN/STPDN yang masuk melalui jalur seleksi Pemda, tetap bisa diberi ikatan dinas dengan Depdagri dan dipersiapkan memasuki birokrasi.

Conversation With My Son

April 13, 2007

We had a very good discussion in the ‘Globalization and European Identity’ class today. For today’s class, we read the classic stuff on history, identity, and nationalism from Eric Hobsbawm, Michael Mann, Ben Anderson and many others, and related them to the current process of European integration that seems to be halted.

Many scholars pointed their fingers at the top-down approach applied by the relatively small circle of elites in Europe (politicians, diplomats) to explain the slow progress of the European Union. The notion of ‘invented tradition’ coined by the great historian Eric Hobsbawm seems to be useful in explaining the relative failure of the elites of Europe in creating the desperately needed European identity.

History tells us that elites, according to Eric Hobsbawm, always try to deliberately create certain traditions or symbols, try to impose them on the common people in order to preserve their priviledges. But, whether these invented traditions will hold on is a different story. People react differently, they may accept or reject the invented traditions imposed by the elites. The French and the Dutch have recently decided to reject the proposed European Constitution in the referenda, which surely created a major blow to the dream of a fully-integrated Europe.

Coincidentally, I had a very interesting conversation with my oldest son this afternoon on our way home from a visit to our dentist. My two sons just had their routine dental examination.

In the car, my oldest son asked me: “Do we have to go back to Indonesia when you have finished your study here?”

I was wondering why out of the blue he asked me that question. Somehow I quickly decided that it’s about the right time to get the sense of how he felt about ‘nationalism’.

So, I replied to him: “Why you asked? You’re happy here, aren’t you?

From the rearview mirror I could see he nodded his head. “Well, we have to go back to Indonesia once I am done with my study here,” I continued.

“Will you die for Indonesia, your country?” I asked him.

Frankly, I just didn’t know how that question made its way out of my mouth. He is only a third grader.

Silence.

Then he asked: “Why should I die for my country?

Now, silence on my side, trying hard to think how I could best respond to this.

Finally, I asked him: “Mmm, will you be willing to die in defending your country, let’s say, if we’re attacked by another country?

“Why should we go back if there is a war there? It does not make any sense!”, he harked back. My wife and I laughed so hard upon hearing his response.

Actually, that was the second time he got me squarely on my face. I remember another conversation I had with him a few years back. We just settled back in Jakarta after spending two years in Australia where I pursued my Master degree. After a while in Jakarta, in one occasion at my parent’s house, my son asked me: “When are we going back to Australia?”

Attempting to invoke some kind of religiosity, I calmly responded: “Why don’t you pray to God so we can go back to Australia?” I did not tell him that what I meant was for him to pray that I would win another scholarship. I was not in the mood to explain what a scholarship was all about to a kindergarten kid.

He innocently replied: “What?? If you want to go to Australia, you have to buy airplane ticket, not praying!”

My mom, dad, my wife, and my sisters were there around the table, laughing at me while I was speechless…:-).

Berpulang

April 10, 2007

Tara akhirnya berpulang hari Minggu kemarin. She is now at peace. Selasa besok ada kesempatan melihat jasadnya terakhir kali di sebuah funeral house. Hari Kamis akan ada private burial, jadi sepertinya hanya keluarga dekat yang akan hadir di pemakamannya. Besok sore pasti ramai yang datang untuk melihatnya terakhir kali di funeral house itu.

Sebetulnya, hari Rabu yang akan datang akan ada pesta yang diselenggarakan oleh dekanat library sebagai apresiasi bagi para mahasiswa yang bekerja di library. Mestinya ada games, drinks, pizza dan lainnya. Tapi tadi ada pengumuman bahwa pihak dekanat library memutuskan menunda acara itu, untuk menghargai rekan-rekan Tara, yaitu divisi tempat saya bekerja. Memang sudah sepatutnya acara itu ditunda. Tadi saja suasana kerja terasa aneh sekali. Semua sedang bersedih.

Minggu lalu, seorang kenalan saya juga berpulang, setelah sakit sekian lama. Dia seorang profesor fisika. Saya berkenalan dengannya di rumah seorang rekan Indonesia saat lebaran. Profesor itu dan istrinya memang sahabat dari keluarga rekan saya ini. Profesor ini orangnya sangat rendah hati, humble.

Saya baca di koran yang diterbitkan mahasiswa kampus saya minggu lalu yang menulis kenangan untuk profesor ini. Suatu kali  profesor kenalan saya ini mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan swasta, ia mendapat tawaran gaji berlipat-lipat dari yang diterimanya sebagai profesor di kampus. Di Amerika, adalah biasa apabila seorang profesor mendapat tawaran di tempat lain lalu mendatangi departemen atau fakultasnya untuk meminta kenaikan gaji dengan menunjukan tawaran dari tempat lain itu. Kalau kampus tidak menaikan gajinya, maka yang bersangkutan pindah ke tempat yang memberi tawaran lebih baik. Begitulah umumnya.

Profesor ini datang ke dekannya membawa surat tawaran dari perusahaan itu. Tapi apa yang dimintanya kepada dekan sama sekali bukan untuk dirinya. Dia hanya minta dekan menambah anggaran laboratorium dan menambah stipend bagi para mahasiswa yang bekerja bersama dia di laboratorium itu. Demikian juga yang dia minta ketika dia memenangkan project  bernilai jutaan dolar beberapa waktu lalu, dia tidak pernah meminta untuk dirinya, tapi selalu untuk laboratorium dan untuk mahasiswa-mahasiswanya.

Semoga yang pergi sekarang beristirahat dengan damai. Lagi-lagi saya ingat ungkapan lama: Only the good die young.