Archive for November, 2006

Thanksgiving and Black Friday

November 25, 2006

I had a wonderful Thanksgiving dinner at my professor’s house last night (…delicious turkey, fresh salads, and tasty pumpkin pies…) and also had a very successful hunting on sale items at Best Buy electronic shop this morning (the famous Black Friday). I’ll write more on these two occasions may be one or two weeks from now, after I am done with all the final papers and exams…..:-)

pjv

Jakarta oh Jakarta!

November 22, 2006

Lagi nggak sempat nulis sendiri dan lagi nggak mood, ini saya ambil sebuah tulisan dari blog milik teman lama jaman SMA dulu (sudah minta izin ke yang punya). Mengenai kota Jakarta tercinta, yang semrawut. Tulisannya kocak, bikin terngiang-ngiang ke kota Jakarta…:-)

pjv

———-

taken from: Blubugs

November 16, 2006

Jakarta UnderBiKeR’s

Setelah bbrp minggu terkungkung rutinitas lagi, akhirnya disempet2in nulis-nulis di notbuk sambil tidur2an sambil nonton tipi, meskipun udah rada ngantuk dan kepala masih nyut2an karena kemacetan di jakarta yg semakin jadi dan bikin adrenalin gw ikut terpancing sama kegilaan para biker’s senior di belantara jalanan jakarta yg kayak sirkuit balap liar….., sesuatu yg gw pikir gw gak punya nyali lagi utk bersaing dg para biker’s ‘gila’ itu….gara2 trauma ngalamin bokap yg sempet di tahan, nyaris dihakimi massa dan mobilnya nyaris dibakar gara2 nabrak tukang ojek yg ternyata tetangga deket rumah sampe meninggal krn kepalanya nyangkut di roda depan mobil bokap yg lg melaju gt deh…seyyyeeemmm…. ;(

Padahal jaman kuliah dulu gw pernah keliling bandung hbs midnight sampe jam 3 pagi dg lepas tangan, sementara temen gw yg punya motor mbonceng di belakang dg kaki nangkring di setang mainin handle gas…..sambil gw jerit2 nyuruh dia jangan kenceng2….he..he.. ;P

Tp karena harga BBM, tarif parkir di luar kantor (krn space parkir di kantor jg udah overload sm mobil dinas dan mobil2 angkatan muda yg datengnya udah duluan..) dan traffic jam yg udah nggak toleran terhadap pengendara mobil yg umur mobilnya udah lebih senior drpd umur tukang parkirnya…. ;P. Mau gak mau, meskipun rada2 males krn ternyata jumlah biker’s yg beredar dan lahan parkirnya jg udah nglebihin kapasitas yg keliatannya ada di Jakarta, tp krn daya tarik Honda Vario Arctic White – Casting Wheel yg bikin gw kesengsem.., sehingga udah pesen jauh2 hari meski belom ada tanda2 mo launching waktu itu. Jadilah akhirnya gw bergabung dengan komunitas Biker’s Brotherhood Jakarta yg sangat kompak tiap hari rombongan memadati celah2 sempit diantara mobil2 di jalanan
Jakarta..

Sementara angkutan umum, yg lagi di gembar-gemborin sama Bang Yos dengan Transjakarta Bus Way-nya juga ternyata berhasil di promosikan dengan baik…, (atau jg karena terpaksa krn gak ada pilihan yg lebih baik ya…?). Sehingga selama bbrp bulan menikmati bus way, metro mini dan ber-ojek ria…, lama2 gak kuat juga klo tiap sore pulang kerja harus berlama2 ngantri di halte busway yg di design sok metropolis dg alumunium dan ada kisi2nya kayak sarang jangkrik….., apalagi pas bulan puasa kemaren yg panasnya bisa nyampe ke ubun2….sementara hujan gak turun-turun juga….pfffuuiihhh….itu alumunium yg katanya penghantar panas yg gak terlalu baik ternyata tidak terbukti disaat hawa panas dari tubuh manusia yg berjejalan, bercampur dengan hawa panas kendaraan disisi kiri-kanan jalan halte busway yg penuh macet dengan mobil ditambah hawa suhu udara musim kemarau dan hawa kemarahan yg tertahan mau meledak…jadilah suatu senyawa yg bikin dendam kesumat jadi tambah males untuk nyoba naek naek Bus Way lagi.

Urusannya gak berhenti sampe situ…, sopir metro mini yg cara nyupirnya susah ditebak juga bikin kepala berasep untuk nahan diri dan rada ngelus dada….lha wong mbayar 2 rebu koq njaluk selamet…..gt kira2 pepatah jawanya. Belom lagi tukang ojek, yg cara bawa motornya sak enak udele dhewe…kadang2 polisi tidur diembat juga…, kadang2 malah lambat kayak keong, klo gak motornya tua ya tukang ojeknya yg udah ketuaan…padahal kitanya mo buru2. Pernah suatu kali karena saking jengkelnya sama tukang ojek yg ternyata baru bisa naek motor sementara gw lagi buru2 berangkat ke kantor, gw suruh aja dia yg mbonceng di belakang dan gw ajak dia ngebut di sela2 mobil yg macet…gak tau deh dia bisa pulang atau nggak ke pangkalannya setelah itu. J

Wah panjang nih klo diceritain semua. Yg jelas gw ngerasa jalanan jakarta dah tambah macet, krn trotoar dan jalur hijau di sepanjang sudirman lagi dibongkarin minggu2 ini….belokan dr arteri pondok indah ke arah pakubuwono jg lagi ditutup karena ada pembangunan under-pass (atau subway…?). Saluran air deket kedubes AS dan taman sepanjang kebon sirih lagi di bongkar pasang.Sementara di lokasi lain jalur busway entah koridor yg keberapa juga masih on-going project, monorail udah gak ada kabarnya lagi, kereta double track (hmm kayaknya udah bisa dicoba tahun ini…..) sementara motor makin laku sebagai solusi murah meriah….(ngisi bensin premix ceban udah full tank utk 2-3 hari ke kantor meennn…). Dan pengendaranya makin agresif karena jalanan udah berasa jadi jalur trek2an. Yaaahhh, welcome back to jakarta lah…..the city that never sleep….sekarang gw mo bobo ;)

Para Profesor

November 16, 2006

Kemarin malam sepulang kuliah, saya dan dua teman pergi berbelanja ke Wal-Mart. Tidak sengaja di sana bertemu dengan seorang professor ilmu politik kampus kami, padahal sudah hampir jam 10 malam. Rupanya dia sedang berbelanja kebutuhan untuk pergi keesokan harinya. Dia akan pergi ke Nikaragua, bicara pada sebuah konferensi. Memang dia dikenal karena keahliannya dalam dua bidang: politik Amerika Latin dan kajian mengenai perbandingan berbagai sistem pemilu.

Saya belum pernah ambil mata kuliah yang dia ajar. Di Spring semester 2007 (mulai akhir Januari) rencananya saya akan ambil mata kuliah Amerika Latin. Sepertinya akan menarik, terutama untuk kajian mengenai demokratisasi yang menjadi ketertarikan saya sejak lama. Amerika Latin banyak menyediakan contoh kasus kegagalan dan keberhasilan demokratisasi di berbagai negara.

Saya juga sangat ingin belajar perbandingan sistem pemilu itu. Beberapa bulan lalu, saya papasan sama profesor ini juga di kampus. Saya bertanya kapan mata kuliah perbandingan sistem pemilu itu akan ada lagi, sudah dua tahun mata kuliah itu tidak dia tawarkan.

Dia semangat sekali waktu ngobrol di lorong sebuah gedung di kampus itu. Katanya: “kalau ada waktu, datang saja ke ruangan saya . Kita ngobrol lagi, ekspektasi kamu dari mata kuliah itu apa, topik-topik apa yang ingin dipelajari” Saya bilang saya akan datang, tapi belum sempat juga, sampai berpapasan lagi di Wal-Mart tadi malam.

Dia masih ingat rupanya. Ngobrol lagi lah. Dia tanya apa saya masih tertarik kuliah sistem pemilu itu. Kalau masih, saya diminta mencari minimal tujuh mahasiswa lain yang mau, barulah mata kuliah itu akan ditawarkan. Dia minta nama-nama mahasiswa yang berminat dan alamat emailnya sekalian, supaya dia bisa mengkontak mereka dan mencari tahu mengenai ketertarikan mereka masing-masing. Kalau bisa dalam minggu-minggu ini saya sudah menemukan tujuh orang itu. Karena bulan Januari biasanya ada rapat departemen politik di kampus untuk memutuskan mata kuliah apa saja yang akan ditawarkan pada Fall semester yang akan dimulai Agustus tahun depan. Kalau jadi, dia mulai bisa mempersiapkan mata kuliah itu dari sekarang. Katanya, “ I have to read too, both new and classical stuff on election system. So I can be well prepared when I teach the course next year”. Kalau memang ada tujuh orang dan kelas itu jadi dia tawarkan, maka dia mulai mendesain kuliahnya agar sesuai dengan minat masing-masing pesertanya. Kalau nggak dapat tujuh orang, wah sayang sekali…he..he. Semoga dapat.

Tapi saya jadi terkesima juga ngobrol dengan profesor ini. Kalau jadi, kuliah itu kan masih Agustus tahun depan. Tapi dia dengan serius akan mempersiapkannya sejak sekarang. Saya jadi malu pada pengalaman diri sendiri, karena saya juga dosen di Jakarta. Dalam mempersiapkan mata kuliah, saya rasanya tidak pernah sampai seserius itu dulu, mempersiapkan lebih dari enam bulan sebelumnya (kalau mahasiswa saya ada yang baca ini, sorry deh…..he..he). Apalagi menyempatkan menanyakan minat masing-masing mahasiswa yang akan ambil kelas itu supaya course-nya bisa di design untuk memenuhi minat individual mahasiswa. Tambah lagi waktu dia bilang dia perlu baca serius juga dari sekarang untuk mempersiapkan mata kuliah yang baru akan dimulai Agustus tahun depan.

Kawan saya Nico yang menjadi research assistant untuk dosen lain di kampus kami menceritakan hal yang sama. Profesor yang dia bantu juga sudah mulai minta dicarikan bahan ini itu untuk sebuah mata kuliah yang akan dia ajar Fall semester mulai Agustus tahun depan juga. Diantaranya Nico diminta mencari silabus mata kuliah yang sama dari berbagai kampus, agar profesor itu bisa menyesuaikan dengan trend di kampus lain untuk mata kuliah sejenis. Nico juga diminta mencarikan artikel-artikel yang akan mulai dia survey dan baca, supaya bisa dia pilih akan dimasukan ke dalam reading list mata kuliah itu nanti atau tidak. Para profesor ini committed sekali dengan dunianya.

Lagi-lagi saya merasa beruntung bisa sekolah ke sini. Banyak pelajaran di dalam atau di luar ruang kuliah yang bisa saya transfer nanti (semoga bisa lulus, entah kapan nanti..he..he). Berpapasan dengan profesor saya di Wal-Mart tadi malam mengingatkan saya pada sebuah artikel yang diforwad teman saya Ulil Abshar ke sebuah milis mengenai universitas di Amerika. Saya bongkar-bongkar inbox email saya, ketemu juga. Untung belum saya delete, padahal sudah berbulan-bulan lalu email itu saya dapat. Di bawah ini saya copy paste artikel itu. Ditulis oleh Ralf Dahrendorf, sosiolog terkemuka yang juga pernah menjadi rektor di London School of Economis and Political Science. Ralf Dahrendorf membandingkan universitas di Eropa (utamanya Inggris) dan Amerika, dan dia berkesimpulan bahwa salah satu kelebihan universitas-universitas di Amerika adalah dedikasi para profesornya terhadap kegiatan belajar mengajar dan hubungan interpersonal antar dosen, dan antara dosen dengan mahasiswa. Sepanjang mengenai kampus di Amerika, saya rasa pendapat Ralf Dahrendorf betul.
—————–

Universities: Renaissance or Decay?
Ralf Dahrendorf

“Europe’s universities, taken as a group, are failingto provide the intellectual and creative energy that is required to improve the continent’s poor economic performance.” This dramatic statement introduces a new pamphlet whose subtitle, “Renaissance or Decay,” I have borrowed for this reflection.

The pamphlet’s two authors, Richard Lambert, a former editor of the Financial Times and future Director General of the Confederation of British Industry, and Nick Butler, the Group Vice President for Strategy and Policy Development at British Petroleum do not
represent vested academic interests. What they say about Europe probably applies to most other parts of the world as well, though not to the United States.

Lambert and Butler identify four main weaknesses of European universities that must be addressed. They call for: greater diversity in place of today’s conformity; incentives for universities to succeed, which implies the need to set their ambitions higher; less bureaucracy and more freedom and accountability; above all, more adequate funding to bring European universities close to the US level of 2.6% of GDP, from less than half on average.

Not everyone will consider the underlying assumption of this analysis compelling. Why is this attention to universities necessary? Because, it is said, we now live in a “knowledge society.” Perhaps. It is also a fact that a university education is the best guarantee for young people to find jobs in a globalized environment in which information is a key to success.

Yet it is by no means certain that education systems in which 50% or more of each generation strive to attain a university degree are best suited to cope with the exigencies of the twenty-first century. Many jobs are, in fact, not “high tech,” but, in the words
of Britain’s Adair Turner, “high touch” – service-sector jobs that do not require a university education. Even more jobs are somewhere between the two. Thus, a flexible system of varied educational institutions may be preferable to a system that leads
one out of two students to an academic degree.

Were we to settle for, say, 25% of each generation on the academic track, universities in Europe, and indeed in many other parts of the world, would still have to overcome their unfortunate tendency to define their purposes against the business world. This tendency has been detrimental both for the business world, which is deprived of the cultural wealth provided by higher education, and for universities, because it removes them from their proper setting in the real world.

There is a strong case for more adequate funding of higher education, including student fees, which are still unpopular in many countries outside the US. But money is not all that is needed. One of the greatest comparative strengths of American universities lies in
the nature of human relations. Teachers take their job seriously. They engage with students rather than eagerly awaiting breaks and holidays to pursue their own projects. They are true university teachers rather than people who invoke the “unity of teaching and research” in order to concentrate on research subjects and hope that teaching will take care of itself.

Moreover, the research atmosphere of American universities is characterized by a great deal of informal cooperation. People meet in laboratories and seminars, but also in common rooms and cafeterias. They are not obsessed with hierarchical status or surrounded by assistants.

Nor are they tied to narrow projects and the project groups formed around them. Despite fierce competition for academic tenure, for space in journals and in other media, and for advancement in general, people talk to each other as colleagues. This is what doctoral and postdoctoral students like when they go to American – and, to a lesser extent, British – universities. This is also what they miss even as they relapse into the bad old habits at home. As in so many other respects, universities not only in Europe, but also in Japan, South Korea, and developing parts of the world, including China and India, need to loosen rigid structures and habits to avoid decay and nurture a renaissance.

Ralf Dahrendorf, author of numerous books and a former European Commissioner from Germany, is a member of the British House of Lords, a former Rector of the London
School of Economics, and a former Warden of St. Antony’s College, Oxford.

Copyright: Project Syndicate/Institute for Human
Sciences, 2006.
http://www.project-syndicate.org

Kalah

November 10, 2006

Pemilu sela di Amerika Serikat baru usai kemarin. Hasilnya sesuai dengan dugaan (dan harapan?) banyak orang: Partai Demokrat mengungguli Partai Republik, baik di House ataupun Senat. Pukulan telak untuk George Bush junior, bahkan memaksa Donald Rumsfeld mundur dari posisinya di Pentagon. Sebelumnya, seruan untuk mengganti Rumsfeld sudah keras dan lama terdengar, tapi membutuhkan suara masyarakat melalui pemilu sela ini untuk meyakinkan Bush bahwa sebagian besar pemilih Amerika tidak menyetujui kebijakannya di Irak. Satu hal lain, pemilu sela kemarin mencatat untuk pertama kalinya tingginya angka youth voters alias pemilih muda. Jumlahnya yang meningkat drastis sedikit banyak menunjukan bahwa anak-anak muda yang cenderung apatis terhadap politik, kali ini beramai-ramai menggunakan hak pilih-nya, mendepak kekuasaan partai Republik di Kongres, terutama karena kebijakan Bush dan Partai Republik di Irak. Saat perang Vietnam dulu, kaum muda juga yang terutama menyuarakan suara keras anti perang betapapun Presiden Lyndon Johnson berusaha meyakinkan rakyat Amerika bahwa perang di Vietnam adalah hal yang perlu dilakukan.

Tapi tulisan ini tidak hendak membahas pemilu Amerika, terlalu banyak aspeknya. Lagipula, snapshots sudah banyak bertebaran di berbagai media dan juga internet. Yang ingin saya catat adalah penglihatan saya terhadap perilaku calon-calon anggota Kongres, baik dari Partai Republik atau Demokrat, yang menang dan yang kalah, dalam pemilu sela kemarin.

Satu tradisi panjang dalam politik di Amerika adalah penyampaian pidato kemenangan dan juga pidato pengakuan kekalahan pada setiap pemilu. Bukan cuma dalam pemilu legislatif, tradisi ini juga dilakukan dalam pemilu eksekutif saat memilih presiden atau gubernur. Di setiap distrik, pidato kemenangan atau pengakuan kalah biasanya segera dilakukan setelah hasil penghitungan suara diketahui. Jadi, kemarin malam itu saya nongkrongin televisi, karena menunggu-nunggu pidato kemenangan dan juga pengakuan kalah oleh berbagai calon, yang selalu menarik karena penuh dignitas dan jiwa besar.

Pemilu untuk memilih gubernur di beberapa negara bagian, termasuk Illinois, juga berlangsung bersamaan dengan pemilu sela legislatif kemarin. Pemenang gubernur di negara bagian Illinois adalah gubernur saat ini dari Partai Demokrat, Rod Blagojevich. Lawannya adalah kandidat Partai Republik Judy Baar-Topinka. Kampanye berlangsung keras dan tajam. Iklan saling memojokan tampil silih berganti sejak bulan lalu. Tapi saya terkejut mendengar pidato kemenangan Blagojevich di depan para pendukungnya yang disiarkan televisi. Dalam bagian yang saya tangkap Blagojevich bilang: ‘One thing I want to tell you about Judy Baar-Topinka, she loves our State, she loves Illinois. She would do anything to make the State of Illinois a better place to live. Judy Baar Topinka, thank you for being such a great competitor’. Di tempat lain, Judy Baar-Topinka lebih dulu menyampaikan pidato pengakuan kekalahannya. Dia mengucapkan selamat pada Blagojevich atas kemenangannya dan ucapan selamat bekerja.

Dalam pemilu presiden, tradisinya juga sama. Ada kebiasaan turun temurun, calon presiden yang kalah menelpon yang menang untuk mengucapkan selamat, baru setelah itu menyampaikan pidato pengakuan kekalahannya. Kalau ini sudah dilakukan, barulah calon yang menang menyampaikan pidato kemenangannya. Yang kalah dan menang sama-sama sportif, rasanya kultur yang perlu ditiru. Coba tengok negeri kita. Megawati kalah pemilu, lalu tidak mau bicara…he..he. Suharto mundur dari jabatan presiden diganti Habibie, lalu tidak mau bicara pada Habibie hingga sekarang (at least itu kata Habibie dalam memoarnya yang baru terbit dan membuat heboh itu). Lebih memalukan lagi, terkadang dalam kampanye berlaku agresif namun kalah pemilu, tetapi sesudahnya banyak parpol dan politisi kita yang kalah itu kasak kusuk dan merayu-rayu untuk tetap ikut berkuasa….

Ngomong-ngomong soal kekalahan, saya juga baru belajar bahwa kekalahan perlu dihadapi dengan jiwa besar, tanpa mengurangi dignitas. Di perpustakaan kampus tempat saya bekerja dalam proyek digitalisasi buku-buku tua, beberapa hari lalu saya menemukan bagian menarik dari sebuah buku yang sedang saya scan. Judul bukunya adalah “History of the Discovery and Settlement of the Valley of the Mississippi, karangan John W. Monette, M.D, diterbitkan lebih dari seratus tahun lalu (tahun 1846 oleh Harper & Brothers Publisher) di New York.

Bagian itu adalah tentang pengakuan kekalahan seorang kepala suku Indian bernama Weatherford. Dia dari suku Alabamons, bagian dari bangsa Indian Creek yang besar. Creek (dan suku lain termasuk Cherokee, Chickasa, dan Chocta) dikalahkan tentara Amerika di Fort Mims (negara bagian Georgia) di awal tahun 1800-an. Weatherford adalah seorang kepala suku Indian gagah berani, yang diakui kehebatannya dan ditakuti oleh tentara kulit putih. Di bawah ini saya kutipkan bagian menarik itu, yang menggambarkan saat-saat Weatherford akhirnya menyerahkan diri karena kalah perang, dan menyampaikan pidato singkat saat menyerahkan diri dihadapan panglima angkatan darat tentara Amerika saat itu, Jenderal Jackson. Bermartabat, sekaligus getir:

Vanguished, but not subdued, the proud warrior and fearless chief disdaining to be led a captive, boldly advanced through the American camp into the presence of his victorious enemy, surrounded by his staff officers, and bearing in his hands the emblem of peace, thus addressed General Jackson:

“ I am in your power, do with me as you please. I am a soldier. I have done the white people all the harm I could; I have fought them, and fought them bravely. If I had an army, I would yet fight, and contend to the last; but I have none; my people are all gone. I can do no more than weep over the misfortune of my nation. Once I could animate my warriors to battle; but I cannot animate the dead. My warriors can no longer hear my voice; their bones are at Talladega, Tallushatches, Emuckfaw, and Tohopeka. I have not surrendered myself thoughtlessly. While there were chances of success, I never left my post nor supplicated peace; but my people are gone, and I now ask it for my nation and for myself. On the miseries and misfortunes brought on my country, I look back with deepest sorrow, and wish to avert still greater calamities. If I had been left to contend with the Georgia army, I would have raised my corn on one bank of the river and fought them on the other; but your people have destroyed my nation. You are a brave man: I rely on your generosity. You will exact no terms of a conquered people but such as they should accede to; whatever they may be, it would be madness and folly to oppose. If they are opposed, you shall find me among the sternest enforcers of obedience. Those who would still hold out can be influenced only by a mean spirit of revenge; and to this they must not, and shall not, sacrifice the last remnant of their country. You have told us where we might go and be safe. This is a good talk and my nation ought to listen to it; they shall listen to it.