Archive for Januari, 2007

Kabar CSIS

Januari 28, 2007

Sedikit berita tentang lembaga tempat saya bekerja (CSIS) di Jakarta. Diambil dari Kompas Cyber Media, 26 Januari 2007.

—–
J Kristiadi: CSIS Tak Akan Jadi “Think Tank” Pemerintah

Laporan Wartawan Kompas Suhartono

JAKARTA, KOMPAS – Sekretaris Dewan Penyantun Yayasan Centre for Srategic & International Studies atau CSIS, Dr J Kristiadi, menyatakan lembaganya tidak akan menjadi sumber pemikir (think tank) pemerintah. Dari dulu, CSIS tidak pernah menjadi sumber pemikir pemerintah.

Demikian disampaikan Kristiadi menjawab pers, seusai bersama pengurus Yayasan CSIS diterima Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jumat (26/1). Pers sebelumnya menanyakan apakah kedatangan CSIS terkait dengan keinginan CSIS menjadi think tank pemerintah seperti di awal-awal pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, yang didukung oleh mesin kekaryaan (Partai Golkar) dan militer (ABRI).

“Saya kira CSIS tidak pernah dan tidak akan menjadi think tank pemerintah atau siapapun. CSIS hanya akan menjadi think tank-nya masyarakat,” ujar Kristiadi.

Menurut Kristiadi, kedatangan CSIS hanya menyampaikan pandangan beberapa masalah untuk diketahui oleh pemerintah sebagai jalan keluar. Selain masalah Aceh, Kristiadi mengaku juga menyampaikan masalah Papua. “Terserah pemerintah mau menerima pendapat kami atau tidak,” tambah Kristiadi.

Menurut catatan Kompas, inilah kedatangan pertama Yayasan CSIS ke Istana Wapres dan bertemu dengan Wapres Kalla, yang juga Ketua Umum DPP Partai Golkar. Kalla sendiri tercatat sudah dua kali mendatangi CSIS, yaitu ketika CSIS berulang tahun 2006 dan 2005.

Ranking Negara-negara di Dunia

Januari 21, 2007

Sore tadi saya dapat kiriman dari majalah The Economist. Karena saya berlangganan majalah ini, saya mendapat hadiah awal tahun sebuah buku kecil berjudul World in Figures 2007 edition. Isinya data-data berdasarkan beragam kategori mengenai negara-negara di dunia, dikemas menjadi handy dan accessible sebesar buku saku, tebalnya 254 halaman.

Saya melakukan quick reading, dan menemukan hal-hal menarik yang bisa dibagi di sini.

Beberapa dari data itu saya kutip di bawah, juga saya sertakan data mengenai negara tetangga seperti Thailand, Filipina, Malaysia atau Singapura.

Ini dia:

A. Largest Population: (1) Cina 1,31 milyar penduduk, (2) India 1,08 milyar, (3) Amerika Serikat 297 juta, (4) Indonesia 222 juta, (5) Brazil 180 juta, (6) Pakistan 157 juta…(9) Jepang 128 juta, (13) Vietnam 82 juta, (14) Filipina 81 juta, (19) Thailand 63,5 juta.

Bandingkan dengan data tahun 1950: (1) Cina 555 juta penduduk, (2) India 358 juta, (3) Amerika Serikat 158 juta, (4) Rusia 103 juta, (5) Jepang 84 juta, (6) Indonesia 80 juta.

Estimasi majalah Economist untuk tahun 2050 (dengan tingkat pertumbuhan penduduk seperti saat ini): (1) India akan memiliki 1,5 milyar penduduk, (2) Cina 1,32 milyar (3) Amerika Serikat 395 juta (4) Pakistan 304 juta (5) Indonesia 284 juta.

B. Most Male Population (negara dengan jumlah pria per 100 wanita terbanyak): (1) Uni Emirat Arab 214 pria per 100 wanita, (2) Qatar 206, (3) Kuwait 150, (4) Bahrain 132, (5) Oman 128, (6) Arab Saudi 117.

C. Most Female Population (negara dengan jumlah pria per 100 wanita tersedikit): (1) Latvia 84 pria per 100 wanita, (2) Estonia 85 (3) Ukraine 85 (4) Armenia 87 (5) Lesotho 87 (6) Lithuania 87 (7) Rusia 87.

D. Biggest Cities (berdasarkan jumlah penduduk tahun 2005): (1) Tokyo 35 juta penduduk, (2) Mexico City 19 juta (3) New York 18,5 juta (4) Mumbai – India 18,3 juta (5) Sao Paolo-Brazil 18,3 juta (6) New Delhi 15,3 juta (7) Kolkata – India 14 juta (8) Buenos Aires-Argentina 13,3 juta (9) Jakarta 13,2 juta (10) Shanghai 12,7 juta…(19) Manila 10,7 juta.

E. Kota dengan Highest Quality of Life (index New York = 100, November 2005): (1) Zurich – Switzerland 108 (2) Geneva-Switzerland 108 (3) Vancouver – Canada 107,7 (4) Vienna – Austria 107,5 (5) Auckland – New Zealand 107,3.

F. Kota dengan Lowest Quality of Life (index New York =100, November 2005): (1) Baghdad 14,5 (2) Brazzavile – Congo-Braz 30,3 (3) Bangui – Republik Afrika Tengah 30,6 (4) Khartoum – Sudan 31,7…(31) Yangon – Myanmar (39) Tehran – Iran

Untuk E dan F, indeks didasarkan pada 39 faktor mulai dari fasilitas rekreasi hingga stabilitas politik.

G. Biggest Economies* (berdasarkan Gross Domestik Produk – GDP): (1) Amerika Serikat 11,7 trilyun dolar (2) Jepang 4,6 trilyun dolar (3) Jerman 2,7 trilyun dolar (4) Inggris 2,1 trilyun dolar (5) Perancis 2 trilyun dolar (6) Cina 1,9 trilyun dolar…(11) Korea Selatan 679 milyar dolar (13) Australia 637 milyar dolar (20) Taiwan 305 milyar dolar (23) Indonesia 257 milyar dolar (24) Arab Saudi 250 milyar dolar (41) Singapura 106,8 milyar dolar

• jangan lupa dibagi jumlah penduduk nantinya…he..he

Majalah Economist juga mempunyai cara penghitungan menarik untuk mengukur exchange rate mata uang sebuah negara terhadap dolar, untuk menilai apakah mata uang yang bersangkutan bisa dikategorikan sebagai under-valued currency atau over-valued currency. Indeks yang digunakan adalah harga sebuah hamburger Big Mac punya McDonald di negara bersangkutan lalu dikonversi ke dolar Amerika. Ini dia hasilnya:

H. Countries with the most under valued currencies (as of May 2006):
(1) Cina, dengan harga Bic Mac 1,3 dolar (2) Macau 1,39 dolar (3) Malaysia 1,52 dolar (4) Argentina 1,55 dolar (5) Hong Kong 1,55 dolar (6) Thailand 60 baht=1,56 dolar (7) Indonesia 14,600 rupiah = 1,57 dolar (8) Filipina 85 peso=1,62 dolar

I. Countries with the most over-valued currencies (as of May 2006): (1) Norwegia dengan harga sebuah Bic Mac 7,05 dolar (2) Eslandia 6,37 dolar (3) Oman (!) 6,39 dolar (4) Switzerland 5,21 dolar (5) Denmark 4,77 dolar.

J. Largest Bilateral and Multilateral Donor: (1) Amerika Serikat telah memberi bantuan luar negeri sebesar 19 trilyun dolar (2) Jepang 8,9 trilyun dolar (3) Perancis 8,4 trilyun (4) Inggris 7,8 trilyun dolar (5) Jerman 7,5 trilyun dolar (6) Belanda 4,2 trilyun

K. Largest Recipients of bilateral and multilateral aid: (1) Irak 4,6 trilyun dolar (2) Afghanistan 2,1 trilyun (3) Vietnam 1,8 trilyun (4) Etiopia 1,8 trilyun…(7) Cina 1,6 trilyun (11) Bangladesh 1,4 trilyun (13) Rusia 1,3 trilyun (29) Bosnia 671 milyar dolar (44) Israel 479 milyar (45) Kamboja 478 milyar dolar (48) Filipina 463 milyar dolar (60) Malaysia 290 milyar dolar (68) Mongolia 262 milyar dolar

Ternyata, Indonesia tidak masuk dalam list 68 besar negara penerima bantuan asing, tidak seperti negara tetangga Vietnam, Filipina atau Malaysia misalnya. Artinya, mereka yang berteriak-teriak atas nama nasionalisme bahwa Indonesia terlalu bergantung pada bantuan asing mungkin sekarang harus mulai tutup mulut karena teriakan itu sama sekali tidak berdasar.

L. Ranking Negara berdasarkan Total Pengeluaran untuk Research & Design (R&D) (perhitungan berdasarkan persentase terhadap GDP): (1) Israel 4,3% (2) Swedia 4,2% (3) Finlandia 3,4% (4) Jepang 3,12% (5) Eslandia 3,10% (6) Korea Selatan 2,6% (7) Amerika Serikat 2,59% (8) Switzerland 2,57% …(15) Singapura 2.13% (23) Cina 1,31% (33) India 0,84% (37) Malaysia 0.69% (43) Venezuela 0,46% (44) Kolumbia 0,40% (45) Mexico 0,40%.

Dalam hal alokasi anggaran untuk riset, Indonesia sama sekali tidak muncul dalam list. Maka tidak perlu heran kalau kita banyak tertinggal di segala bidang. Karena tidak ada riset memadai, kita lebih banyak bekerja berdasarkan insting, daripada berdasarkan riset yang mengakumulasi dan memanfaatkan pengetahuan.

Berikutnya, soal bisnis, birokrasi dan korupsi mungkin bisa digambarkan dengan kategori berikut:

M.Number of days taken to register a new company: (1) Haiti 203 hari (2) Laos 198 hari (3) Congo 155 hari (4) Mozambique 153 hari (5) Brazil 152 hari (6) Indonesia 151 hari (7) Angola 146 hari

sementara negara dengan birokrasi termudah untuk membuka perusahaan: (1) Australia 2 hari (2) Canada 2 hari (3) Denmark 5 hari (4) Amerika Serikat 5 hari (6) Singapura 6 hari…(12) Hong Kong 11 hari.

Tentu saja, lamanya proses birokrasi untuk mendaftarkan perusahaan adalah salah satu faktor penyebab tidak kompetitifnya sebuah negara dan enggannya investor menanamkan modal.

N. Business software piracy (persentase software yang dibajak, data tahun 2004): (1) Vietnam 92% (2) Ukraina 91% (3) Cina 90% (4) Zimbabwe 90% (5) Indonesia 87% (6) Rusia 87%.

O. Ranking berdasar jumlah pemenang Hadiah Nobel periode 1901-2005

Nobel Perdamaian: (1) Amerika Serikat 17 orang (2) Inggris 11 orang (3) Perancis 9 orang (4) Swedia 5 orang (5) Belgia 4 orang.

Nobel Ekonomi: (1) Amerika Serikat 29 orang (2) Inggris 8 (3) Norwegia 2 orang (4) Swedia 2 orang (5) Perancis 1 orang

Nobel Sastra: (1) Perancis 14 orang (2) Amerika Serikat 12 orang (3) Inggris 10 orang (4) Jerman 7 orang (5) Swedia 6 orang

Nobel Kedokteran: (1) Amerika Serikat 49 orang (2) Inggris 21 orang (3) Jerman 14 orang (4) Swedia 7 orang (5) Perancis 6 orang

Nobel Fisika: (1) Amerika Serikat 47 orang (2) Inggris 19 orang (3) Jerman 18 orang (4) Perancis 8 (5) Belanda 6 orang (6) Rusia 6 orang…(15) India 1 orang

Nobel Kimia: (1) Amerika Serikat 41 orang (2) Inggris 22 orang (3) Jerman 14 orang (4) Perancis 7 orang (5) Switzerland 6 orang.

P. Negara dengan pengeluaran bidang kesehatan tertinggi (berdasarkan persentase terhadap GDP): (1) Amerika Serikat 15,2 persen (2) Switzerland 11,5% (3) Jerman 11.1% (4) Kamboja 10,9% (5) Eslandia 10,5%

Q. Negara dengan pengeluaran bidang kesehatan terendah (persentase terhadap GDP): (1) Kongo 2% (2) Pakistan 2,4% (3) Somalia 2,6% (4) Iraq 2,7%…(8) Myanmar 2,8% (11) Indonesia 3,1% (29) Malaysia 3,8%.

Masih banyak data dari kiriman majalah The Economist ini. Misalnya ranking berdasarkan human development index, pemilikan televisi berwarna, jumlah surat kabar, presentase pemilik komputer dan pengguna internet dan sebagainya.

Tapi setelah melihat data-data itu, saya jadi bertanya-tanya: data-data itu kabar baik atau buruk untuk Indonesia?

The Indonesian Army and Islamic Groups

Januari 19, 2007

I just finished a draft paper on the dynamic relationship between the Army and Islamic groups in Indonesia. I compared the nature of the relationship in the period of transition to authoritarian rule in the 1950s and the period of transition to democracy in in the 1990s.

The draft paper (in pdf format) is downloadable at the website of The Interseksi Foundation (click here). I helped the founding of the Interseksi Foundation and am a member of it, aside from my affiliation with CSIS in Jakarta.

I am enthusiastically waiting for comments and criticisms to the paper.

pjv

Statistik Blog Ini

Januari 13, 2007

Iseng-iseng, saya memeriksa statistik tiap posting yang pernah saya buat di blog ini. Fasilitas statistik per posting yang disediakan wordpress membuat saya tertarik untuk memeriksa tiap posting. Berikut judul (kalau ada yang tertarik membaca, judul bisa langsung di klik) dan 15 posting dengan jumlah view terbanyak, sejak saya mulai blog ini di akhir bulan Mei 2006:

1. 595 views: Kajian Budaya Politik
2. 590 views: Edisi Khusus Media Indonesia
3. 412 views: On Our Strategic Position, Natural and Man-made Disaster
4. 354 views: Antara Demokrasi dan Elitisme
5. 301 views: Mengkaji Lagi Paradigma Realisme
6. 282 views: Tiga Agama Satu Tuhan
7. 244 views: Hegemoni Amerika
8. 201 views: Corporate Warriors dan Perdagangan Senjata Ilegal.
9. 192 views: Memori Aktifisme Mahasiswa.
10. 187 views: Selamat Jalan Buat Dichiya (Alumni HI Paramadina 2001)
11. 144 views: Otobiografi Ahmad Syafii Maarif
12. 115 views: Antara Majalah EPPO dan Novel Michael Crichton
13. 110 views: Kajian Multidisipliner
14. 160 views: The Last Words of Saddam Hussein
15. 96 views: Soal Ilmu Politik di Indonesia

Rupanya tulisan yang paling banyak dikunjungi orang adalah tulisan tentang ilmu politik dan hubungan internasional. Padahal ketika memulai blog ini, saya lebih ingin membuat blog mengenai cerita tentang orang-orang atau institusi atau apapun yang mempunyai ide, kreatifitas dan semangat yang inspiratif buat saya.

Nyatanya, saya cuma beberapa kali menulis tentang ide dan kreatifitas ini dan statistiknya juga tidak menggembirakan…:-). Yang agak banyak view-nya, ya cuma posting tentang Majalah EPPO dan Novel Michael Crichton di atas. Yang lain:

1. 64 Tahun Paul McCartney

2. Layar Tancep Kota Jakarta

3. Dari Festival Ide ke Ilmu Politik Kita

4. Kreatifitas Steve Jobs

5. Cak Munir

Mungkin benar apa yang ditulis Stephen Covey dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective People yang saya baca jaman kuliah S-1 di awal tahun 1990-an di Bandung dulu: stay focus. Dengan kata lain, lebih baik mengasah (menulis) sesuatu yang menjadi bidang kajian kita. Atau mungkin Covey juga kurang pas? Karena sepertinya lebih menantang juga untuk menulis sesuatu yang sama sekali bukan bidang kajian kita, no? Dengan begitu, kita tidak berkutat terus menerus di ‘dunia’ kita.

Soal Blogger Indonesia

Januari 11, 2007

Saya barusan membaca sebuah posting menarik di blog milik seorang dosen ITB bernama Budi Rahardjo, salah satu blogger Indonesia terpopuler di wordpress. Judulnya adalah “Jadi Profesor dan Rektor” (klik di sini). Dari komentar-komentar pengunjung blog atas tulisan itu, ada banyak sinisme juga yang terbaca. Ada yang ‘mencela’: “gimana mau jadi professor, lah wong nge-blog melulu”.

Agak aneh juga. Saya memang sering mendengar komentar sinis mengenai blogger di Indonesia. Sebagian orang bilang blog adalah cerminan narsisme, atau blog adalah milik orang-orang kurang pekerjaan. Saya rasa komentar semacam itu justru merefleksikan kenyataan bahwa orang kita tidak biasa mengekspresikan perasaan dan pemikiran, baik secara lisan ataupun melalui tulisan.

Soal ekspresi perasaan, coba kita ingat betapa sulitnya kita mengungkapkan secara lisan dan langsung ungkapan ‘I love you’ dihadapan anak, ayah-ibu, pasangan, guru, dosen, sahabat dan lain-lain. Pada momen tertentu, ketika ingin mengungkapkan perasaan sayang itu, terasa macet di tenggorokan dan membuat ingin tersedak. Sebab lain yang mungkin adalah keterbatasan kosa kata dan rasa bahasa Indonesia untuk ungkapan perasaan (ini salah satu alasan mengapa saya lebih suka posting bahasa Indonesia, melatih saya berpikir keras untuk memilih kata dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan – syukur kalau bisa ikut mengembangkan bahasa Indonesia).

Mengenai ekspresi pemikiran, keadaan juga sama saja. Cerita para blogger tentang diri sendiri (pemikiran pribadi, penelitian, perenungan dan semacamnya) menurut saya bukan kesalahan. Kenapa harus pusing menilai-nilai itu narsisme atau bukan? It does not do any harm buat saya yang membacanya kan? Yang penting saya bisa belajar dari orang lain. Saya suka membaca blog orang lain yang menceritakan pengalaman pribadi, prestasi dan lain-lain. Itu membuat saya menghargai achievement orang lain. Sense of achievement adalah sesuatu yang penting, yang memberi inspirasi orang untuk berbuat lebih baik lagi dan membuat progress yang lebih jauh lagi. That’s the essence of the history of mankind. Progress.

‘Keajaiban’ blog menurut saya adalah ia merupakan medium professional dan personal sekaligus. Ada banyak blog milik profesor-profesor terkenal. Dari Indonesia misalnya ada blog milik professor Abdul Munir Mulkhan, pengajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang produktif menulis buku itu (klik di sini). Atau dari luar negeri, ada blog milik professor Greg Mankiw (klik di sini), ekonom di Harvard University, yang sangat informatif dari sisi akademis, dan sangat hangat dari sisi personal.

Dua blog milik profesor ini menceritakan pemikiran, ide, juga cerita achievement personal keduanya. Setiap saya membaca blog profesor Mankiw, membaca prestasi dan produktifitasnya, rasanya ada adrenalin yang menyebar dalam diri saya, membikin semangat belajar atau membaca yang kadang-kadang ada di titik nadir kembali naik…he..he.

Bahkan majalah sekaliber The Economist bulan lalu dua kali menulis soal blogger dan blogging sebagai hal yang fenomenal (masih saya cari link-nya, karena saya cuma baca print-edition-nya waktu itu, semoga dapat).

Yah, ini pendapat pribadi, namanya juga blog milik pribadi. Bebas merdeka menulis apa saja…:-)