Archive for Desember, 2006

Barack Obama

Desember 30, 2006

Tadi malam, acara talkshow Late Night with Conan O’Brien di saluran NBC menghadirkan tamu istimewa, Barack Obama. Barack Obama adalah senator partai Demokrat dari negara bagian Illinois yang saat ini sangat populer di Amerika. Orang ramai memperbincangkan akankah dia bertarung untuk pemilihan presiden yang akan datang. Kalau ya, dia harus bertarung dulu melawan Senator Hillary Clinton dan Senator Kucinich untuk memenangkan nominasi dari Partai Demokrat.

Seperti pernah saya tulis sebelumnya (klik di sini), Barack Obama mungkin akan friendly dengan Indonesia karena dia pernah tinggal di Indonesia semasa kecil. Detik.com pernah menurunkan laporan berseri mengenai masa-masa Barack Obama tinggal di Jakarta (bisa klik di sini). Barack Obama juga menceritakan masa-masa tinggal di Indonesia dalam biografinya. Ibunya orang kulit putih Amerika, ayah kandungnya kulit hitam dari Kenya. Ibunya pernah menikah lagi dengan seorang Indonesia di awal tahun 1970-an itu.

Acara talkshow Conan O’Brien (yang populer juga) tadi malam adalah acara terakhir untuk tahun 2006. Sambutan penonton di studio meriah sekali. Semalam memang kelihatan jelas mengapa Barack Obama menjadi the darling of the media di Amerika Serikat saat ini. Orangnya santun, tegas, dan sense of humor nya tinggi sekali. Saya pernah nonton juga Barack Obama menjadi tamu di acara Daily Show with Jon Stewart di saluran Comedy Central. Jon Stewart saat ini adalah satirist/komentator politik terpopuler di Amerika. Malam itu Jon Stewart pun ‘tak berkutik’ menghadapi Obama yang memberi jawaban-jawaban segar dan cerdas. Rekaman acara Daily Show itu bisa diklik disini.

Barack Obama melesat setelah konvensi Partai Demokrat di Boston tahun 2004, saat tampil memberi pidato dukungan untuk John Kerry yang akan bertarung melawan George W. Bush. Sambutan atas pidatonya ketika itu gegap gempita, karena memang sangat inspiring (rekaman video Barack Obama di Konvensi itu bisa diklik di sini dan di sini). Saya beberapa kali menonton pidato Barack Obama di televisi terutama di saluran C-Span dan memang dia orator ulung dan cerdas.

Kita lihat saja apakah dia akan bertarung. Usianya masih muda sekali, maka banyak yang menyarankan dia untuk mematangkan pengalaman di posisi-posisi eksekutif di negara bagian terlebih dahulu sebelum pada waktunya bertarung untuk pemilihan presiden. Karena memang cukup jarang presiden Amerika yang berasal dari lembaga legislatif, kebanyakan eksekutif seperti mantan gubernur di negara bagian atau yang lainnya.

Iklan

Kembali Ke Bumi Manusia

Desember 25, 2006

Sekedar mengenang Pramoedya Ananta Toer, penulis amat hebat itu.

Sebelumnya saya pernah tulis soal Pram di blog ini. Silahkan klik di sini

salam

pjv

——–

Dari Majalah Tempo, 44/XXXV/25-31 Desember 2006

Kembali ke Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
6 Februari 1925–30 April 2006

”Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Pramoedya Ananta Toer melakukan perlawanan hampir sepanjang hidupnya. Sejak masa kanak-kanak di Blora ikut angkat senjata di era kolonial hingga ketika kemerdekaannya dirampas oleh penguasa Orde Baru. Ia melakukannya persis seperti yang dihayati tokoh Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia. ”Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” ujar Nyai Ontosoroh kepada Minke.

Cara terhormat yang ia yakini itu adalah dengan menulis, menulis, dan menulis. Tentu saja ia pernah menyingkirkan pena dan menggantinya de–ngan bedil. Itulah ketika lelaki kelahiran Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, ini bertugas sebagai perwira perhubungan di Divisi Siliwangi pada Perang Kemerdekaan. Episode ini kelak menjadi sumber inspirasinya bagi novel Krandji-Bekasi Jatuh (1947).

Selama hayatnya Pram menulis 50-an buku yang diterjemahkan ke le–bih dari 41 bahasa. Di lembaran kitab-kitab itu ia mempertahankan keyakin–annya, memperjuangkan pikirannya, meski akhirnya menanggung seluruh risiko karenanya. Pram dibuang ke pengasingan selama 14 tahun (10 tahun di antaranya di Pulau Buru), juga diteror lawan-lawan politiknya. Ia tergulung prahara politik 1965.

Namun, pengasingan tak pernah melumpuhkan Pram. Karya-karyanya deras mengalir, melintasi waktu. Ia lalu menjadi ikon sastra, ikon politik, sekaligus ikon perlawanan (komunitas punk mendaulatnya sebagai datuk). Maka muncullah istilah Pramis yang dilekatkan pada para pemujanya.

Hari itu, 30 April 2006, Pram sampai kepada titik. Anak sulung sembilan bersaudara dari pasangan Mastoer-Oemi Saedah ini mengakhiri perlawanannya. Gula darah, penyakit jantung, dan, belakangan, penyakit ginjal telah menggempur tubuhnya.

Pram pergi meninggalkan beragam tafsir atas sosoknya. Ia dikecam sekaligus dipuja. Ia pernah dikurung, tapi karyanya terbang bebas. Ia memetik banyak penghargaan internasional, tapi miskin penghargaan di negeri sen–diri. Ia pembenci yang santun. Ia menghardik, tapi juga menyapa.

Pram disemayamkan di pemakaman Karet, Jakarta. Dalam Rumah Kaca, ia pernah berucap: Semua akan bertemu dalam alam mati, tidak peduli raja tidak peduli budak. Betapa sederhananya mati.

Soal Ilmu Politik di Indonesia

Desember 19, 2006

Satu semester sudah berlalu lagi, sekarang winter break. Santai sedikit tiga minggu ke depan. Tiga minggu terakhir brutal, ujian-ujian dan juga paper-paper masuk due date semua. Sekarang bisa baca-baca artikel yang saya mau, bukan yang ‘dipaksa’ baca oleh dosen-dosen…☺

Pucuk dicinta ulam tiba. Jurnal American Political Science Review (APSR) edisi terbaru datang tadi sore. APSR adalah jurnal bidang political science paling utama di Amerika Serikat. Jurnal ini diterbitkan oleh American Political Science Association (APSA). Untuk jadi anggota APSA mudah saja, student seperti saya membayar iuran 39 dolar per tahun. Dengan iuran itu, anggota mendapat tiga jurnal gratis termasuk APSR, juga akses dan kemudahaan untuk ikut berbagai konferensi.

Edisi kali ini adalah edisi khusus merayakan 100 tahun terbitnya APSR. Artikelnya bagus-bagus, topik keseluruhannya adalah mengenai evolusi political science di Amerika Serikat, termasuk evolusi pendirian APSA. Juga state-of-the-art dari berbagai pendekatan dalam ilmu politik di Amerika.

Saya rasa kemajuan ilmu politik di Amerika bukan melulu persoalan ada banyak uang. Tetapi memang tradisi intelektualnya kukuh dan panjang. Juga diperkuat oleh komitmen meneliti dan berorganisasi yang seimbang. Lalu ada juga semangat kolegialisme untuk memikirkan kemajuan ilmu politik bersama-sama. Tradisi penghormatan pada political scientists terdahulu juga kuat, maka kajian lama tidak pernah usang karena dia diinterpretasi ulang dan di uji kembali. Sehingga ilmu politik Amerika Serikat saat ini betul-betul berfondasi pada temuan sebelumnya, sehingga ia tidak ahistoris.

Bukan cuma secara profesional, hubungan antara senior dan junior political scientist amat hangat secara personal. Yang tua tidak gila hormat, yang muda tahu diri. Balance. Waktu badai salju kemarin, ada kisah yang indah. Badai itu luar biasa, orang harus bekerja keras membersihkan salju yang menimbun mobil, jalan, serta halaman. Saya harus menyekop salju yang menimbun mobil hampir satu jam lamanya. Padahal itu cuma salju yang menimbun mobil saya, karena saya tidak punya halaman, apalagi garasi. Parkir di tempat parkir umum.

Bayangkan orang yang memiliki rumah, garasi, dan pekarangan, pasti melelahkan sekali. Seorang professor ahli Thailand di kampus saya menghabiskan waktu berjam-jam membersihkan salju yang menimbun garasi, agar mobilnya bisa keluar masuk. Dia juga membersihkan trotoar di depan rumahnya agar pejalan kaki bisa lewat.

Setelah selesai dengan rumahnya, dia pergi ke rumah seorang professor yang sudah pensiun, yang dianggap sebagai salah satu pendiri Thai studies di Amerika. Profesor yang sudah pensiun ini hampir 80 tahun usianya, dan tinggal sendirian. Si professor muda ingat pada seniornya, lantas dengan sukarela dia ke rumah seniornya itu untuk membersihkan salju di rumahnya. Habis lagi waktunya beberapa jam untuk itu. Di banyak kampus di Indonesia, dosen-dosen kita sibuk berkelahi sendiri, berebut proyek dan jabatan. Kegiatan belajar mengajar terganggu, mahasiswa jadi korban.

Kelemahan kita di Indonesia ada beberapa hal. Pertama, semangat kolegial dan kemampuan berorganisasi sangat lemah. Akibatnya, walaupun kita punya asosiasi keilmuan seperti Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI), ia tidak terlalu berkembang dan tidak ‘dimiliki’ oleh insan ilmu politik, baik dosen ataupun mahasiswa di seluruh Indonesia. Sebelumnya saya pernah tulis soal semangat kolegial dan organisasi ilmu politik di blog ini. Silahkan klik di sini

Kedua, memang tantangan membangun tradisi intelektual di Indonesia besar sekali. Sulit membuat insan ilmu politik untuk komit pada dunia penelitian dan pengajaran. Alasan-alasannya bisa dimaklumi. Pada dasarnya bermuara pada tidak adanya ‘insentif’ yang memadai. Tapi semestinya itu tidak menghalangi tumbuh berkembangnya ilmu politik. Filipina yang relatif sama saja keadaan ekonominya dengan kita, punya Philippine Association of Political Science yang aktif sekali. Saya punya beberapa teman di University of Philippine yang aktif mengelola asosiasi itu dan juga jurnal-nya. Mereka masih muda-muda.

Karena lemahnya semangat kolegial dan organisasi, ilmu politik kita tidak mampu mengembangkan diri menjadi ilmu yang multi-disipliner. Setiap cabang dalam ilmu politik kita (ilmu hubungan internasional, ilmu pemerintahan/politik, administrasi publik) berjalan sendiri-sendiri.

Ketiga, mungkin kita lebih banyak menjadi receiving-end dari perkembangan ilmu politik khususnya, dan ilmu sosial pada umumnya. Lebih banyak menjadi konsumen, karena itu bila trend paradigmatik bergeser, ramai-ramai ilmuwan kita bergeser juga paradigma nya. Tahun 1990-an, post modernisme menjadi trend. Ramai-ramai orang bicara soal dekonstruksi dan semacamnya. Mahasiswa, intelektual, semua demam post modernisme.

Setiap publikasi baru selalu dianggap sesuatu yang harus di imani, yang lama lalu di anggap kuno dan ketinggalan jaman. Padahal di tempat asalnya, di Barat, karya lama terus diolah dan dikaji oleh para ilmuwan. Plato, Socrates, dan Aristoteles yang hidup ribuan tahun lalu saja tidak habis-habis dibahas. Tiap tahun selalu ada buku baru mengkaji pemikiran mereka. Juga Max Weber, Durkheim, Geertz, Huntington, Almond, Parsons dan lain-lain. Karya baru selalu dibangun di atas karya lama.

Mahasiswa dan sebagian dosen kita ‘genit’. Seorang teman saya, sosiolog kakap dan penulis buku yang hebat, sekali waktu pernah meradang. Dia diminta memberi ceramah pemikiran sosial dasar. Maka dia paparkan karya-karya klasik. Mahasiswa peserta nyeletuk, “itu mah kuno mas…..” Padahal, ketika dia tanya betul pemahaman mahasiswa itu soal karya klasik yang disebut kuno itu, nol besar. Dia tanya lagi tentang pemikiran sosial yang ‘modern’, nol besar juga.

Kita sering merasa kalau sudah baca sekilas, berarti sudah paham. Lebih parah lagi, banyak yang merasa kalau sudah tahu judulnya dan pernah lihat bukunya, berarti tahu keseluruhan isi bukunya…he..he.

Begitulah. Memang jalannya panjang sekali untuk memperkuat tradisi intelektual kita. Mungkin masalah ini tidak cuma dihadapi oleh ilmu politik, tapi juga bidang-bidang ilmu sosial lain di Indonesia.

Badai Salju

Desember 2, 2006

Barusan snow storm selesai. Lumayan heboh juga. Hasilnya, salju tebal. Di beberapa tempat, tingginya selutut. Padahal seminggu terakhir udara nyaman sekali, walaupun itu adalah keanehan juga. Saya ingat betul tahun lalu tanggal 24 November salju sudah turun. Saya ingat karena hari itu keluarga kecil saya datang dari Jakarta. Anak-anak waktu itu gembira sekali pertama kali melihat salju. Taruh koper, lalu langsung main-main di luar. No jetlag

Tahun ini aneh. Bulan lalu, di suatu hari di awal November, salju memang turun. Tebal juga. Lalu ramalan menyebutkan kita bakal punya severe winter kali ini, karena hari itu belum waktunya salju turun.. Tapi udara lalu menghangat lagi. Karena udara hangat dan nyaman, ramalan bilang bahwa kita akan menghadapi mild winter. Ternyata, hanya berselang beberapa hari, kota kami dihajar snow storm.

Wind chill. Temperatur udara sih 20 derajat, tapi Fahrenheit, bukan Celcius…he..he. Baru hari pertama, dinginnya sudah segitu, jadi mungkin yang akan kita hadapi adalah severe winter. Badai kemarin terkonsentrasi di kota tempat saya belajar ini. Menurut catatan badan meteorologi, snow storm di hari pertama Desember seperti yang terjadi kemarin terakhir kalinya terjadi di tahun 1840 (kalau tidak salah ingat, yang jelas tahun 1800-an).

Kamis malam kemarin sepulang kuliah, udara masih nyaman. Tapi rupanya di TV sudah ramai berita akan ada snow storm. Saat saya sampai di rumah sekitar jam 9.30 malam, berita menyebutkan bahwa snow storm akan terjadi jam 2 malam hingga jam 12 siang. Yang menarik, update berlangsung terus menerus. Konferensi pers digelar oleh otoritas berwenang. Mengumumkan beberapa hal yang perlu dilakukan warga. Dari Chicago diberitakan bahwa seluruh penerbangan dari bandara O’Hare ditunda malam itu. Calon penumpang bermalam di bandara, disediakan fasilitas tidur seperti yang sering kita lihat di tenda-tenda darurat itu.

Otoritas berwenang juga mengumumkan dan ‘mengancam’ para landlord alias pengusaha apartemen yang menggunakan sistem pemanas sentral. Apartemen harus di hangati, suhu pemanas tersentral itu harus di set nyaman bagi para penyewa apartemen. Para penyewa yang menemukan pemilik apartemen tidak meng-adjust pemanas dengan kenyamanan yang ditentukan, dianjurkan untuk melaporkan pemilik apartemennya ke polisi.

Setiap jam update berlangsung. Otoritas sekolah agak tengah malam mengumumkan via TV bahwa hari Jumat semua sekolah, dari first grade sampai high school akan tutup di semua distrik. Lalu di website kampus juga langsung terpampang pengumuman bahwa kampus akan tutup, semua kelas cancelled.

Kalau dipikir-pikir, mungkin ada bagusnya menjadi negara yang memiliki empat musim ekstrim seperti ini. Bangsa dengan empat musim ekstrim mungkin akan menjadi bangsa yang pandai bersiap-siap.. Mau winter, siap-siap membeli baju, sarung tangan, topi, periksa pemanas di rumah dan lain-lain. Menjelang summer juga begitu. Terbiasa bersiap, termasuk menghadapi snow storm seperti kemarin. Semua terasa seperti concerted effort. Sejak beberapa jam sebelumnya, pejabat berwenang menggunakan beragam media untuk konferensi pers demi mengingatkan warga akan terjadinya snow storm. Warga juga hampir otomatis meng-update sendiri perkembangan, entah dari radio, TV, internet dan lain-lain. Sedia payung sebelum hujan.

Waktu badai Katrina dulu, sebetulnya begitu juga. Sekitar 15 belas jam sebelumnya sudah diketahui akan ada badai dahsyat, dan di-update tiap saat di berbagai media. Lembaga meteorologi memantau terus pergerakan awan badai dari lautan luas itu, dan meneruskannya kepada lembaga berwenang. Hanya memang sulit menentukan, badai Katrina itu akan touchdown di Amerika sebelah mana. Beberapa jam sebelum touchdown, baru bisa diperhitungkan bahwa Katrina akan touch down di New Orleans. Pemerintah lokal sempat melakukan tindakan preventif, mengingatkan warga untuk segera mengevakuasi diri. Walaupun agak terlambat, tapi yang jelas korban akan lebih besar lagi jumlahnya kalau tidak ada tindakan preventif itu.

Karena saya juga tertarik pada studi konflik, apa yang terjadi menjelang snow storm kemarin (atau juga Katrina) mengingatkan tentang perlunya mekanisme early warning system. Dalam hal natural disaster, early warning tentunya mengandalkan science. Lalu ia juga mensyaratkan proses institusionalisasi sehingga mekanisme early-warning bisa berjalan dan akhirnya mencapai tiap individu.

Bila kita punya mekanisme early warning system, baik dalam mendeteksi konflik (man-made disaster) atau pun bencana alam (natural disaster), biayanya (baik biaya politik ataupun ekonomi) pasti akan jauh lebih murah daripada biaya rehabilitasi sesudah konflik atau bencana alam terjadi. Saya pernah tulis di blog ini mengenai man-made dan natural disaster sebelumnya. Saya juga pernah posting tulisan mengenai bencana dan akumulasi pengetahuan di blog ini. Kita sudah belajar dari tsunami di Aceh, Nias, dan gempa Jogja yang dahsyat itu. Dalam hal konflik, kita juga sudah mengalami konflik menyedihkan di Ambon, Poso, Sanggau Ledo, Sambas dan Sampit. Prasyarat berjalannya early warning ini menurut saya ada pada dua perilaku: perilaku menghargai science dan perilaku/kebiasaan untuk menjadi bangsa yang selalu bersiap-siap. Bangsa yang memiliki high degree of complacency dan selalu menganggap remeh atau menggampangkan persoalan, saya rasa akan sulit membangun sistem deteksi dini.