Archive for Juni, 2007

Harga Blog Ini (dan Soal Kebebasan)

Juni 23, 2007

Barusan saya menemukan website menarik, http://directory.sootle.com/website-worth

Di website ini kita bisa mengkalkulasi berapa nilai jual blog kita (entah siapa yang mau beli..he..he), dihitung berdasar jumlah backlinks ke blog (website) kita.

Blog saya ini dikalkulasi berharga sekitar enam ratus dolar lebih sedikit. Tepatnya:

“Your website at https://pjvermonte.wordpress.com is worth $618.00”

Iseng-iseng saya masukan alamat website CSIS, kantor tempat saya bekerja di Jakarta. Lumayan, dua ribu dolar lebih harganya.

“Your website at http://www.csis.or.id is worth $ 2,379.00″

Blog lain yang dikelola secara bersama oleh beberapa teman saya yang mendalami studi ekonomi, Cafe Salemba, berharga lima ribu dolar lebih:

“Your website http://cafesalemba.blogspot.com is worth $5,187.00″

Majalah The Economist sudah dua kali membuat laporan soal fenomena blogger. Ternyata bagi banyak orang, blog sudah menjadi alternatif sumber penghasilan. Dalam sebuah edisinya, majalah itu pernah menulis mengenai orang-orang yang meninggalkan pekerjaan di perusahaan-perusahaan, keluar, dan menjadi freelance writer dengan membuat blog. Dari blog penghasilan mereka puluhan ribu dolar sebulan. Enak, bisa kerja (menulis) di rumah, di cafe, di restoran, atau menulis sambil liburan .

Memang di blog kita bisa dipasang iklan, jika kita menginginkannya. Salah satu cara adalah mendaftarkan blog kita ke Adsense milik Google. Saya lihat blog milik beberapa teman saya sudah juga terpasang iklan. Kita bisa memilih iklan jenis apa yang ingin dipasang di blog kita oleh Adsense Google. Bisa khusus iklan buku, misalnya. Lalu kita akan dibayar apabila ada pengunjung blog kita yang meng-klik banner iklan itu. Nggak banyak, cuma sekian sen dolar per klik. Tapi, kalau traffic ke blog kita meningkat, tentu kemungkinan banner iklan di blog kita di klik orang juga makin meningkat. Blog milik orang-orang yang ditulis majalah The Economist tadi dikunjungi ribuan orang per minggu, atau bahkan per hari. Tentunya banyak yang meng-klik banner iklan di blog mereka, makanya mereka bisa mendapat puluhan ribu dolar sebulan.

Di WordPress, tempat blog saya ini di-store, ada beberapa fasilitas yang bisa berguna untuk meningkatkan traffic pengunjung. Misalnya, ada data statistik berapa kali sebuah tulisan kita dibaca orang. Dengan demikian kita bisa tahu tulisan mana saja di blog kita yang paling sering dibaca orang. Selain itu, WordPress juga menyediakan data yang disebut search engine term. Dari situ kita bisa tahu bagaimana orang bisa sampai ke blog kita. Keyword apa yang mereka gunakan waktu search di google (atau search engine lain) hingga mereka menemukan tulisan tertentu di blog kita. Saya perhatikan blog saya ini paling banyak di search dengan menggunakan keyword: sistem politik, politik luar negeri, demokrasi, nasionalisme, belajar di Amerika, teori hubungan internasional, dan semacamnya.

Dengan fasilitas di WordPress ini kita bisa menulis sesuai ‘demand’ pembaca, kalau mau. Saya yakin blogger yang ditulis majalah The Economist itu juga memantau demand dari pengunjung ke blog-nya, dan akhirnya mereka menulis dengan menyesuaikan minat pembacanya.

Tapi, saya menulis semau-mau saya saja, nggak demand-oriented. WordPress juga tidak mengizinkan pemasangan iklan di blog ini. Kalau nekad, langsung di suspend dan blog kita di-delete. Ya wajar nggak boleh, namanya juga blog gratisan. Lagian, saya menulis di blog untuk senang-senang, bukan untuk cari uang. (Mungkin kapan-kapan nanti…he..he).

Memang teknologi semakin mengasyikkan. Transaksi ekonomi melalui internet semakin meluas. E-bay dan Amazondotcom adalah dua contohnya. Transaksi online juga merambah segala macam jenis barang, bahkan jasa, yang lain. Buku baru dan bekas, tiket konser, tiket pertandingan olahraga, beli baju, CD, barang elektronik, jaket, pokoknya segala macam. Bahkan menulis hal remeh temeh seperti blog bisa menghasilkan uang juga.

Selain memudahkan konsumen, internet juga memungkinkan semua orang menjadi penjual/produsen. Menjual barang, baru atau bekas, via internet juga bisa menguntungkan. Ada banyak teman saya yang sering mengumpulkan buku-buku yang digeletakkan para profesor di luar ruang kerjanya. Para profesor ini memang sering membereskan ruang kerjanya, lalu meletakkan buku yang tidak dipakai di luar, untuk diambil mahasiswa atau siapapun yang tertarik. Kalau rajin, berkunjunglah ke jurusan/departemen lain, banyak buku di sana yang tergeletak. Buku filsafat, sosiologi, marketing, komputer, macam-macam. Kumpulkan, lalu jual online buku yang tidak tertarik untuk kita simpan sendiri. Lumayan tuh, ada teman yang sering melakukan ini. Kalau lagi panen, untung besar…he..he.

Saya bukan ekonom atau filosof. Tapi, fenomena blog, internet dan jual beli di internet, saya rasa dekat dengan sebuah filosofi, yaitu filosofi libertarian. Jual beli di internet mungkin bisa menjadi prototipe mekanisme pasar yang sempurna (para pengkritik mekanisme pasar dengan telak menunjukan bahwa tidak pernah ada pasar yang sempurna seperti yang diandaikan para ‘market fundamentalist’…he..he). Lewat internet, setiap orang bisa menjadi enterpreneur dan individual seller. Setiap orang bisa menjual apa saja.

Jual beli di internet ini juga bisa menjadi contoh equality dalam hal opportunity. Bukan seperti pandangan banyak orang yang berpikir mengenai equality dalam hal output, misalnya mengimpikan persamaan penghasilan — sesuatu yang jelas tidak mungkin dan melanggar hukum alam, dan hukum Tuhan juga. Kalau semua orang miskin, ya susah semua. Kalau semua orang kaya, lalu dimana fungsi sosial relijius yang namanya ‘kedermawanan’? Jadi bukan equality dalam output yang penting, tapi equality dalam opportunity.

Jual beli di internet memungkinkan individual seller dan corporate seller bertemu dan berkompetisi. Level of entry tidak menjadi masalah. Semua memiliki kesempatan yang sama. Saya yang akan menjual buku (bekas) eceran misalnya, bisa bersaing langsung dengan toko buku raksasa seperti Borders yang juga bisa diakses online. Buku yang saya jual pasti ada yang beli, demikian juga buku yang dijual toko buku Borders. Alias, saya dan toko buku Borders memiliki opportunity yang sama dalam menjual buku. Masing-masing punya ‘marketnya’ sendiri-sendiri. Kalau dipikir-pikir, dari perspektif agama (Islam) ajaran bahwa ‘setiap orang pasti sudah dijamin rejekinya’ ya paling bisa dilihat buktinya di internet ini.

Yang paling fenomenal, jual beli barang/buku bekas di Ebay atau di Amazon memberi pemahaman baru tentang ‘trust’. Di Ebay atau Amazon, yang menjual dan yang membeli tidak saling mengenal karena tidak bertemu muka secara fisik. Tapi mereka saling percaya, alias trust-nya tinggi. Yang menjual harus mendeskripsikan barang yang dijual selengkap mungkin. Kalau buku bekas, harus dicantumkan misalnya apakah cover-nya kusam, atau ada halaman-halaman yang di stabillo atau digaris bawah dan banyak coretan. Kalau pembeli tidak puas karena tidak sesuai deskripsi, barang bisa dikembalikan dan tanpa banyak protes yang jual akan segera mengembalikan uang kita sepenuhnya. Tidak ada istilah ‘barang yang sudah dibeli, tidak dapat dikembalikan” yang pada dasarnya menyiratkan ketidakpercayaan penjual kepada pembeli itu. Sementara banyak studi menunjukkan bahwa trust adalah salah satu prasyarat bagi demokrasi yang sehat.
Di internet juga bisa kita temukan bagaimana pihak swasta bisa menjadi arbitrer, bukan negara yang menjalankan fungsi itu (oh iya, jual beli online juga bebas pajak). Penjual online di Ebay atau Amazon harus patuh pada term of reference, bahwa mereka harus jujur dan bersedia mengembalikan uang tanpa ba-bi-bu jika pembeli tidak puas. Jika mereka tidak patuh dan ada komplain dari pembeli, nama mereka di banned dan selanjutnya tidak bisa lagi menjual di situ. Selain itu, pembeli juga secara rutin bisa me-rating para penjual ini. Penjual yang tidak jujur, rating-nya akan buruk dan tidak akan ada yang mau membeli dari yang bersangkutan.

Nah, sepertinya makin lama saya makin liberal…:-). Institusi negara sepertinya lebih banyak menimbulkan masalah (misalnya rent-seeking activities dari para birokrat korup itu; belum lagi negara yang gemar melarang warganya melakukan ini itu, misalnya negara Orde Baru menentukan apa yang boleh dan tidak boleh kita baca, banyak buku yang dilarang beredar). Lebih baik individu berjuang sendiri memaksimalkan segala potensi dan kemampuannya, tidak perlu menunggu negara. Dan saya pikir teknologi di masa depan akan menjadi venue dimana individu dapat seluas mungkin mengembangkan potensi dirinya untuk menjadi individu berdaulat, lepas dari negara yang mengekang horison kebebasannya.

Iklan

Politik Simpanse

Juni 17, 2007

Kemarin kami sekeluarga pergi belanja rutin ke Asian grocery di Chicago. Beli bumbu Indonesia, mulai dari bumbu pecel, sambal ABC, kecap, kerupuk udang, hingga Indomie. Betul kata seorang teman dulu, Indomie telah berjasa menghasilkan ribuan sarjana, master dan doktor. Pergi kuliah jauh-jauh begini, yang dicari ya tetap Indomie. Memang nggak ada duanya. Sampai sekarang, kalau harus begadang belajar atau bikin tugas kuliah, Indomie lah yang mengganjal perut yang kelaparan menunggu pagi datang.

Pulang dari Asian grocery, pas rush hour. Jam orang pulang kerja di Chicago, jalanan macet. Sama seperti jalan Sudirman di Jakarta pukul 5 sore hari. Kami putuskan belok ke kebun binatang, menunggu macet reda. Karena sedang musim panas, matahari terbenam agak terlambat sehingga hari masih terang benderang.

Sudah lama juga sejak terakhir kali kami mengunjungi Lincoln Park Zoo yang terletak di tengah kota Chicago ini. Jika pernah nonton film kartun Madagascar nan lucu yang ber-setting kebun binatang New York itu, begitulah juga rupa Lincoln Park Zoo yang berlatar belakang gedung menjulang.

Kami baru sadar, dalam kunjungan sebelumnya kebetulan selalu awal musim dingin atau awal musim semi, jadi udara masih dingin sehingga kurang leluasa dan kurang nyaman. Baru kali ini kami datang saat musim panas, ternyata lebih menarik.

Waktu di hall tempat kera, gorila dan simpanse, mata saya tertumbuk pada bagan yang terpampang tepat di sebelah kandang simpanse besar. Tidak ada yang berdiri membaca papan bagan itu, sehingga dari jauh saya bisa melihat judul tulisan yang tertera: Ape Politics, Politik Kera. Baru kali ini saya melihat ada bagan itu, entah baru dibikin atau dalam kunjungan sebelumnya saya luput memperhatikannya. Jadilah saya menghampiri dan membacanya hingga tuntas.

Saya ingat pernah membaca entah dimana, ‘politik’ simpanse tidak berbeda jauh dengan manusia. Juga pernah baca novel Congo, karya Michael Crichton yang berkisah tentang penelitian terhadap simpanse. Selain itu, nonton film Planet of the Apes juga seru. Sekarang bahkan beberapa political scientist mendalami cabang baru yang disebut biopolitik. Mereka mencoba mencari penjelasan nature dari politik dari aspek biologis. Termasuk juga mencari kemiripan perilaku sosial kita dengan makhluk lain.

Tapi bagan di Lincoln Park Zoo betul-betul menarik perhatian saya. Karena, isinya khusus tentang aspek ‘sosial politik’ kehidupan simpanse.

Ini sedikit hasil bacaan saya dari bagan itu kemarin..he..he:

Pertama, simpanse biasa hidup berkelompok, kadang bisa seratus simpanse dalam satu kelompok. Kedua, kelompok ini mengenal batas teritorial, yang mereka jaga begitu rupa agar kelompok lain tidak melanggar ‘kedaulatan’ teritorial mereka. Biasanya, dari tiap kelompok simpanse, ada beberapa simpanse yang khusus ditugaskan untuk berpatroli demi menjaga batas teritorial ini. Simpanse tersinggung kalau wilayah kedaulatan teritorialnya dilanggar, bisa perang berdarah-darah. Persis sejarah nasionalisme dunia yang berkembang biak sejak perjanjian Westphalia tahun 1648 yang sukses menegaskan batas-batas teritorial menjadi salah satu prinsip kedaulatan negara.

Ketiga, simpanse mengenal ‘kasta’. Ada simpanse yang kuat dan berpengaruh, dan ada yang menjadi kelompok tertindas. Yang kuat punya privilege ke akses sumber makanan dan tempat tinggal terbaik, yang lemah ya menderita. Keempat, simpanse betina punya peran penting dalam setiap kelompok. Bahkan simpanse betina biasanya yang menjadi arbitrer kalau ada konflik antar simpanse dalam kelompoknya.

Terakhir, simpanse punya mekanisme rekonsiliasi setelah konflik. Setiap habis konflik, mereka berdamai dengan saling menepuk-nepuk bahu.

Nah, persis kan dengan kita????

Jadi kalau lihat politik manusia yang ruwet, ya memang begitulah kita ini. Kata Darwin, memang kita serupa dengan kera (dengan catatan missing link-nya bisa ditemukan). Kalau pusing menjelaskan akrobat politik di Senayan, mungkin ada baiknya pergi ke Ragunan nontonin kera. Mungkin bisa dapat ilham untuk menjelaskan dari situ…he..he.

Soeharto dan Soe Hok Gie

Juni 8, 2007

Barusan baca detikcom, ada berita Soeharto yang hari ini genap berusia 86 tahun. Panjang umur dia, mungkin immortal. Memang betul kata orang-orang tua: jodoh, maut dan rezeki ada di tangan Tuhan.

Kebetulan saya baru pinjam buku dari perpustakaan kampus. Saya memutuskan untuk membaca ulang buku lama, mengisi libur musim panas yang panjang. Salah satu yang baru saya pinjam adalah buku Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, yang pada dasarnya adalah buku harian yang ditulisnya semasa hidup. Berbeda dari Soeharto, Soe Hok Gie mati muda di puncak Gunung Semeru, 16 Desember 1969.

Buku ini pertama kali saya baca bertahun-tahun lalu, semasa baru memasuki dunia kampus sebagai mahasiswa tahun pertama di Bandung yang sedang meluap semangatnya di awal tahun 90-an. Ketika itu, saya begitu tergugah membaca Soe Hok Gie. Saya yang baru lepas SMA terkesima membaca permenungan dan pergulatan pemikiran Soe Hok Gie . Sebagian catatan harian itu bahkan ditulis sejak dia masih SMP, dan juga ketika dia SMA di Jakarta.

Seperti banyak orang lain, saya kagum membaca catatan hariannya semasa SMA. Ia akrab dengan banyak karya sastra yang sama sekali belum pernah saya baca, juga begitu akrab dengan tulisan beragam pemikir, dan lebih lagi Soe Hok Gie paham betul sejarah bangsanya sendiri. Semua diperolehnya dari bacaannya yang luas. Semasa SMA, saya lebih banyak hura-hura. Membaca sedikit sekali.

Saya pikir, akan menyenangkan kalau saya membaca lagi Catatan Seorang Demonstran, setelah sepuluh tahun lebih berlalu sejak pertama kali membacanya. Sekalian saya pinjam juga buku Soe Hok Gie yang lain dari perpustakaan kampus, Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. Buku ini sebetulnya adalah skripsi S-1 yang dibuat Soe Hok Gie di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tentang pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun. Membaca bukunya yang ini, kemarin saya menyesali diri juga. Diingat-ingat lagi, skripsi S-1 saya buat seadanya. Soe Hok Gie membuat skripsi dengan serius sekali (jangan salah paham, tentu saya tidak bermaksud membandingkan diri sendiri dengan Soe Hok Gie yang sangat cerdas itu…he..he). Dia mewawancarai tokoh-tokoh yang berkaitan dengan keseluruhan konteks peristiwa 1948 itu, termasuk Bung Hatta. Padahal, kalau dipikir-pikir, saya membuat skripsi pertengahan 1990-an dimana mestinya akses pada informasi jauh lebih mudah. Ternyata, belajar dari Soe Hok Gie, persoalannya bukanlah pada kemudahan-kemudahan. Akan tetapi, bergantung pada determinasi dan komitmen pada ilmu pengetahuan.

Kembali ke Catatan Seorang Demonstran, saya sempat nonton film Gie yang dibuat sineas muda Riri Riza, di bioskop di Jakarta. Karena sudah membaca bukunya, maka waktu itu saya bela-belain nonton di bioskop. Walau ada kekurangan, menurut saya film itu bagus. Semoga makin banyak buku-buku bagus dibuatkan filmya. Saya sering diskusi santai bersama beberapa rekan sekantor CSIS saat makan siang, berdebat siapa kira-kira aktor dan aktris yang paling pantas memerankan tokoh-tokoh dalam novel tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer. Saya bilang, yang paling pas memainkan tokoh Minke adalah Alex Komang. Sementara Nyai Ontosoroh adalah Christine Hakim. Mungkin Karina Suwandi cocok menjadi Annelies. Tapi, mungkin sekarang sudah nggak pas lagi, Alex Komang dan Christine Hakim semakin menua, sementara novel tetralogi (Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Rumah Kaca dan Jejak Langkah) entah kapan akan di film-kan.

Entah apakah mahasiswa sekarang akan tergugah juga setelah menonton film Gie. Tak perlu membaca bukunya, sudah bisa melihat visualisasinya. Bukankah begitu zaman kita kini, televisi lebih menyihir daripada buku? (Ada penelitian dari Robert Putnam yang membuktikan bahwa televisi adalah faktor penting penyebab menurunnya kualitas demokrasi. Untuk kasus Indonesia, studi terkini Ben Olken kurang lebih menyimpulkan hal yang sama).

Atau mungkin juga film Gie itu justru membangkitkan minat untuk mencari dan membaca bukunya. Bisa jadi.

Kegilaan membaca, dan menulis, Soe Hok Gie semakin menjadi ketika dia kuliah di UI. Bacaannya luas. Kalau saya ingat-ingat, ketika saya seumur dia, bacaan saya serba sedikit, baik kuantitas maupun kualitas. Padahal, lagi-lagi, saya hidup di zaman yang lebih ‘enak’.

Membaca lagi Catatan Seorang Demonstran, saya menemukan riwayat beberapa nama yang sempat dia tuliskan dalam catatan hariannya itu. Dalam sebuah coretan yang dibuatnya semasa SMA, Soe Hok Gie menyebut nama Jusuf Wanandi (Liem Bian Kie), salah satu pendiri CSIS tempat saya bekerja sekarang, yang ternyata adalah salah seorang gurunya di SMA Kanisius Jakarta di akhir tahun 1950-an. Pak Jusuf tentu masih muda sekali ketika itu, saya malah baru tahu dia pernah jadi guru SMA.
Juga tersebut nama Suripto, tokoh PKS itu. Soe Hok Gie menyebutnya sebagai Ripto, kawan karib dari Bandung, tokoh Dewan Mahasiswa Unpad di tahun 1960-an. Soe Hok Gie dan Suripto tentu saling mengenal, karena mereka dulu sama-sama terlibat dalam Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis) yang anti komunis/anti PKI.

Ada juga nama Kusnaka, salah satu teman diskusi Soe Hok Gie juga. Yang dia maksud tentunya adalah Kusnaka Adimihardja, sekarang profesor Antropologi di Unpad, yang semasa saya kuliah adalah dekan Fisip. Profesor Kusnaka dekat dengan mahasiswa. Saya ingat, ketika mengelola majalah kampus, kami tidak punya uang untuk mencetak walaupun sudah jadi draft. Setengah putus asa, saya dan beberapa teman akhirnya mengetuk pintu rumah profesor Kusnaka malam-malam. Ngobrol ngalor ngidul, malu mau ‘nodong’. Malah kita akhirnya ditembak duluan: “Ngaku aja, lagi butuh duit buat apa?”…he..he. Ketika saya ceritakan, profesor Kusnaka bilang: “Cetak sana, tagihannya kasih ke saya”.

Profesor Kusnaka adalah aktifis semasa mahasiswa, di tahun-tahun genting pertengahan 1960-an itu. Soe Hok Gie menceritakan sebuah episode diskusinya bersama Kusnaka dan Wimar (pasti yang dimaksudnya adalah Wimar Witoelar, yang kuliah di ITB). Saya memang pernah dapat cerita, Kusnaka adalah aktifis Harian KAMI, koran terbitan mahasiswa Bandung di masa itu.

Membaca lagi buku Catatan Seorang Demonstran, makin terang buat saya bahwa network intelektual terlalu penting untuk diabaikan. Atau bahasa terkininya adalah komunitas epistemik, dimana orang-orang dengan minat dan passion yang sama saling berhubungan dengan hangat, bertukar pikiran tentang segala hal.

Saat membaca ulang Catatan Seorang Demonstran, saya tersadar ada beberapa bagian yang masih saya iyakan, seperti saya iyakan dulu ketika pertama kali membacanya. Ada juga bagian yang tidak lagi saya iyakan. Ada juga bagian yang dulu tidak saya pahami, ternyata sekarang lebih mudah dipahami. Ya mungkin karena umur saya juga bertambah, jadi pikiran juga berubah.

Nasionalisme ala Cokelat

Juni 2, 2007

Kurang lebih setahun lalu, saya pernah tulis soal Layar Tancep di kota Betawi (silahkan klik di sini bila ingin baca lagi). Di situ saya cerita juga soal pemutaran film gratis dengan layar lebar di taman kota tempat saya tinggal untuk belajar sekarang, persis tradisi layar tancep Betawi. Taman kota menjadi public space, tempat rekreasi warga dan keluarganya. Rekreasi di tempat terbuka, tidak terkurung di dalam mall-mall.

Karena sudah musim panas lagi, di taman kota kami program Friday Night Movie mulai berjalan lagi. Tadi malam adalah hari pertama untuk musim panas tahun ini. Taman dipenuhi orang yang akan menonton film Night at the Museum, film anak-anak. Sebetulnya, orang banyak sudah nonton film itu di bioskop. Tapi, acara semalam tetap didatangi warga dan keluarganya. Mungkin yang dicari adalah acara nonton bersama, dan menjadi medium interaksi antar warga. Efeknya penting, menimbulkan rasa bahwa kita adalah part of the community. Merayakan kebersamaan.

Ada satu ritual yang selalu dilakukan dalam event publik semacam ini. Dalam acara semacam ini, lagu kebangsaan Amerika tidak pernah lupa diperdengarkan. Seperti sering kita saksikan di tivi kalau ada acara siaran langsung olahraga Amerika, semisal final bola basket Amerika NBA atau juga acara tinju, selalu ada nyanyian lagu kebangsaan ini dengan beragam style dan tidak monoton.

Lagu kebangsaan yang dinyanyikan dengan beragam cara justru memperlihatkan kreatifitas dan apresiasi. Rasa nasionalisme tidak berkurang, walaupun simbol-simbol nasional seperti lagu kebangsaan ‘diolah’ lagi oleh para pekerja seni. Makanya, sepertinya orang Amerika tidak pernah bereaksi marah bila melihat benderanya dibakar dimana-mana..he..he. Bendera toh cuma simbol, benda mati.

Tadi malam lagu kebangsaan Amerika juga diperdengarkan. Tanpa disuruh, semua orang yang hadir di taman bangkit berdiri dari matras tempat mereka tidur-tiduran di rumput atau dari kursi yang mereka bawa masing-masing dari rumah. Begitu usai, semua bertepuk tangan panjang.

Saya sudah lama juga memikirkan makhluk bernama ‘nasionalisme’ ini. Bagaimana kita harus memandangnya, bagaimana kita harus mengapresiasi-nya? Saya tidak pernah cocok dengan beragam retorika soal nasionalisme di negeri kita sendiri. Pengkritik penguasa selalu dituding tidak nasionalis. Mereka yang berpemikiran liberal (baik dalam pemikiran ekonomi atau politik) selalu dianggap ke-barat-baratan. Saya rasa, kita terlalu kaku memandang nasionalisme.

Dalam perdebatan yang lebih ideologis, kelompok kiri dan kelompok yang menganggap diri sebagai nasionalis menuding mereka yang liberal sebagai agen imperialisme. Kadang, kelompok kiri bahkan berpijak pada argumen ‘menyelamatkan aset negeri’. Padahal, salah satu kegagalan atau tepatnya sesuatu yang tidak terlalu diantisipasi oleh Karl Marx adalah tumbuhnya nasionalisme yang menghalangi terbentuknya internasionalisme yang menjadi prasyarat bangkitnya kelompok buruh. Di situlah titik dimana Mao Zedong berpisah dari Stalin, misalnya. Atau di negeri sendiri, berpisahnya Tan Malaka (yang pernah menjadi petinggi organisasi komunis internasional-Comintern) yang amat nasionalis, dari Semaun dan PKI yang mengusung internasionalisme. Belakangan, mereka yang setia pada ide-ide Tan Malaka, seperti almarhum Adam Malik mantan Menlu dan Wapres kita, mendirikan partai sendiri yaitu Partai Murba (Musyarawah Rakyat Banyak), yang jauh berbeda dari PKI.

Lebih jauh, kalau liberalisme adalah ide asing, lalu ideologi kiri apa tidak kurang asingnya buat kita. Karl Marx kan bukan kelahiran Purworejo ?…he..he. Bahkan agama-agama Indonesia semua datang dari luar. Islam, Kristen, Hindu, Budha, semua asing karena datang dari luar. Kalau mau yang orisinil dari bumi Nusantara, ya animisme atau dinamisme itu. Menyembah batu, pohon, mandi kembang tujuh rupa, atau menyembah arwah nenek moyang.

Itu sebabnya saya tidak pernah percaya bila nasionalisme dihadap-hadapkan pada sesuatu yang dianggap ‘datang dari luar’. Inilah, saya rasa, yang membuat retorika soal nasionalisme kita lebih banyak menjadi jargon kosong. Sepertinya membangkitkan semangat, padahal ia terbangun diatas pasir yang mudah tersapu air.

Bung Hatta, bahkan pernah mengkritik pedas retorika nasionalisme Sukarno, bahkan sejak mereka berdua masih mahasiswa sebelum kita merdeka. Sekitar tahun 1930-an, Bung Hatta pernah menulis dan mengomentari Sukarno yang pandai berpidato dan sedang naik daun di kalangan pemuda di Hindia Belanda. Kata Bung Hatta: ‘persatuan’ bukanlah ‘persate-an’, dimana segala sesuatu dipaksa masuk dalam satu tusuk sate.

Kita tahu, kritik itu tidak membuat Bung Hatta menjadi tokoh yang anti-nasionalisme. Justru ia menjadi pemuncak nasionalisme Indonesia, bersama founding fathers yang lain. Juga tidak menyebabkan berkurangnya rasa cintanya pada negeri sendiri, meski ia menulis dari negeri Belanda, tempatnya bersekolah.

Definisi nasionalisme yang kaku dan dimonopoli negara, tidak akan pernah menjadi inspirasi warganya. Celakanya, begitulah tabiat pemimpin populis atau negara otoritarian yang gemar memonopoli tafsir, dari Sukarno hingga Suharto.

Negeri yang bebas justru mendorong kreatifitas dan mungkin akan mengukur nasionalisme dalam perspektif pencapaian (achievement). Kebebasan akan mendorong individu warga negara mencapai dan memberi yang terbaik buat negaranya. Seperti improvisasi lagu kebangsaan yang dinyanyikan dengan beragam cara sesuai tafsiran penyanyinya yang tetap terdengar indah dan menggugah.

Ngomong-ngomong soal nasionalisme, saya barusan dapat album Cokelat, grup musik Indonesia itu. Waktu pulang ke Jakarta tahun lalu, saya memang sempat mendengar sebuah wawancara dengan grup musik ini di radio Prambors pagi-pagi. Cokelat hadir di studio Prambors di acara pagi yang dipandu Arie Dagink dan Desta yang super lucu itu. Mereka diwawancara sehubungan dengan rencana mengeluarkan album berisi lagu-lagu nasional dengan aransemen baru. Malah mereka sempat didaulat menyanyikan sebuah lagu dari album itu, kalau tidak salah lagu ‘Syukur’. Waktu album itu akhirnya keluar, saya sudah kembali ke sini.

Hampir setahun berlalu, baru tadi saya dapat album yang berisi improvisasi lagu-lagu nasional ini, yang diberi sentuhan musik ala Cokelat. Suara Kikan sang vokalis, yang mirip dengan suara vokalis Cranberries, sungguh pas menyanyikan lagu-lagu nasional dengan gaya nge-rock. Lagu-lagu nasional semacam Satu Nusa, Satu Bangsa; Syukur; Halo-Halo Bandung; Tanah Air; dan beberapa lainnya, terdengar ciamik dan menggugah di tangan grup band yang satu ini.

Album berisi lagu-lagu nasional dengan aransemen tidak biasa ini hanya mungkin keluar karena negeri kita sudah bebas. Semua orang bebas berekspresi, seperti grup musik Cokelat. Fenomena sama juga kita lihat dengan kehadiran sineas-sineas muda pembuat film nasional yang bagus-bagus. Hanya negeri yang bebas yang akan melahirkan kreatifitas. Di negeri yang bebas, nasionalisme tidak dilihat dengan wajah muram atau sangar.