Archive for Maret, 2008

Piringan Hitam

Maret 16, 2008

Saya punya teman, Taufiq namanya. Dia wartawan Jakarta Post, sekarang sama-sama studi di NIU sini. Dia baru mulai studi musim panas tahun yang lalu. Dari dia saya sekarang lebih mengenal musik-musik alternatif, yang dulu terdengar aneh di telinga saya. Ada the Shins, the Strokes, Pavement, the Flaming Lips, the Clash, Television, Wilco, macam-macam. Saya lumayan suka musik. Walaupun suka musik, saya bukan termasuk music-monger. Musik alternatif ini mungkin terdengar ajaib karena bukan kategori ‘top 40’ (alias jarang diputar stasiun radio) maka telinga saya tidak familiar. Umumnya musik mereka ini simple, minimalis. Tapi banyak layer-nya. Ibaratnya, musik the Police yang ditambah sedikit keramaiannya atau Nirvana yang dikurangi sedikit dosisnya.

Banyak diantara band-band ini semula adalah band indie yang tidak atraktif bagi perusahaan rekaman besar. Ada juga di antara band indie ini yang sengaja tidak mau berafiliasi dengan perusahaan rekaman besar karena beragam alasan, bisa ideologi atau idealisme sebagai musisi yang tidak ingin didikte oleh perusahaan rekaman besar. Yang begini biasanya lebih memilih merekam, memproduksi dan mengedarkan sendiri karya ciptanya.

Tidak hanya band indie, band kontemporer banyak yang lebih suka berdiri sendiri. Di Indonesia, ada banyak band semacam ini yang musiknya crisp. Salah satunya bernama Cozy Street Corner. Kabarnya mereka ini mahasiswa jurusan Psikologi UI, manggung dari kampus ke kampus, dan dari kafe ke kafe. Musiknya renyah, akustik dan ada unsur folk seperti Sunda atau daerah lain. CD mereka beredar terbatas. Mungkin sekarang sudah meluas, saya tidak begitu tahu karena saya hanya men-download beberapa lagu mereka dari Multiply. Saya baru ‘kenal’ Cozy Street Corner sekitar tiga bulan lalu, padahal kabarnya Cozy Street Corner ini sudah eksis cukup lama juga. Saya baru kenal band ini ketika membaca tulisan di blog di Multiply milik Andreas “Item”, teman kuliah di Bandung dulu.
Radiohead, salah satu band tersohor, beberapa bulan lalu membuat heboh dunia musik. Mereka meluncurkan sendiri album terbarunya lewat internet. Semua orang dari seluruh dunia boleh mendownload dan membayar dengan harga sesuka mereka sendiri. Ada yang tidak bayar, ada juga yang membayar 1 atau 2 dolar atau lebih. Internet kelihatannya akan menjadi masa depan industri musik. Perusahaan rekaman konvensional pasti kalang kabut atas apa yang dilakukan oleh Radiohead ini.

Tempo hari ada berita unik. Selama ini yang dianggap sebagai sebuah keputusan terbodoh nomor satu dalam industri musik adalah ketika sebuah perusahaan rekaman di Inggris menolak demo tape yang ditawarkan the Beatles di awal tahun 1960-an. Ternyata, the Beatles yang ditolaknya menjadi legenda yang hingga kini tidak habis ditelan zaman. Sekarang, yang dianggap sebagai keputusan paling bodoh yang pernah dibuat oleh perusahaan rekaman bukan lagi soal the Beatles itu. Akan tetapi, keputusan ketika asosiasi perusahaan rekaman besar rama-ramai menyeret Napster, sebuah perusahaan music sharing berbasis internet, ke pengadilan di akhir tahun 1990-an. Napster memang akhirnya dipaksa tutup, akan tetapi industri musik berbasis internet yang dipeloporinya itu tidak tertahankan.

Keputusan asosiasi perusahaan rekaman itu sekarang dianggap keputusan terbodoh, karena seharusnya saat itu mereka memiliki opsi untuk menginkorporasikan perusahaan semacam Napster ke dalam produksi dan distribusi industri rekaman, daripada memusuhi mereka. Sekarang, banyak perusahaan rekaman besar terancam gulung tikar karena pembelian dan distribusi musik lewat internet justru semakin menjadi pilihan. iTunes store milik Apple adalah contoh suksesnya. Bahkan Amazondotcom pun baru-baru ini meluncurkan divisi penjualan mp3 download. Kalau diperhatikan, music section di toko buku Borders atau Barnes & Noble misalnya, juga semakin sedikit space-nya. Sebabnya sederhana: pembeli CD semakin sedikit, sementara pembeli mp3 atau format digital lain semakin berlipat-lipat jumlahnya yang diikuti melesatnya penjualan beragam jenis mp3 player.

Ngomong-ngomong soal internet dan masa depan, teman saya Taufiq juga membawa saya ke masa lalu. Dia punya pemutar piringan hitam di kamarnya yang dia beli beberapa bulan lalu. Ternyata, asik juga mendengar album musik di piringan hitam. Pelat piringan hitam (yang bekas tentu saja) harganya jauh lebih murah daripada harga CD, 2 atau 3 dolar sudah dapat. Saya beberapa kali menemani dia berburu piringan hitam bekas di kota tempat kami belajar ini, lalu mencobanya di kamar apartemennya.

Memang akhir-akhir ini, minat terhadap pemutar piringan hitam (alias turntable) sedang meningkat. Sebabnya, semakin banyak orang yang merasa jenuh dengan CD atau musik digital yang justru dianggap terlalu bersih suaranya. Manipulasi digital, menurut mereka ini, menghilangkan elemen manusia dalam berkesenian. Dalam piringan hitam, suara lebih bagus (tepatnya ‘kasar’) dan terkadang kesalahan para musisi dalam proses rekaman bisa terdengar. Tetapi justru itu dinilai lebih natural. Di samping itu, lagu-lagu jadul mungkin lebih banyak tersedia dalam format piringan hitam daripada CD. Jadi, ‘market’ untuk penjualan piringan hitam ini tetap ada. Selain itu, band kontemporer pun umumnya tetap rutin mengeluarkan album dalam bentuk piringan hitam, selain dalam format CD.

Harga turntable yang bagus bisa mencapai 200-an dolar. Beberapa hari lalu, tiba-tiba ada diskon sebuah turntable bagus, harganya cuma 30-an dolar. Murah meriah. Saya beli, pucuk dicinta ulam tiba. Yah lumayan, buat hiburan. Berarti siap-siap punya hobi baru: berburu pelat piringan hitam di toko barang bekas…he..he.

Padahal, ayah saya dulu punya pemutar piringan hitam yang besar, lengkap dengan speaker dan radio. Saya masih ingat samar-samar waktu kecil dulu sering mendengar dia memutar pelat musik klasik. Juga ada musik pop seperti Simon & Garfunkel. Entah dimana pemutar dan pelat-pelat piringan hitam itu sekarang.

Jangan-jangan saya mengulangi kesalahan banyak orang yang mencampakkan begitu saja barang-barang lama. Mungkin juga saya ini representasi banyak orang muda yang tidak terlalu peduli masa lalu, hanya peduli masa ini. Padahal barang-barang lama bisa menjadi obyek menarik. Bukan cuma untuk dinikmati seperti pemutar piringan hitam itu, tapi bisa juga untuk bahan edukasi karena barang lama bisa meningkatkan rasa ingin tahu pada sebuah episode sejarah.

Sekali waktu di tahun 2004, saya datang ke seminar yang diselenggarakan sebuah think tank namanya Institut de Relations Internationales Et Strategiques di Paris. Di akhir seminar, saya dan dua teman lain diundang makan malam oleh seorang teman anggota panitia penyelenggara yang kebetulan pernah tinggal di Asia Tenggara. Suaminya yang masak dan menyiapkan segala sesuatunya.

Ada sebuah lukisan tua tergantung di dinding apartemen mereka, katanya lukisan warisan keluarga. Lukisan itu mengenai sebuah episode pertempuran di laut antara armada Perancis dan Inggris di masa lalu. Suami rekan saya ini kemudian dengan penuh semangat menceritakan kisah sejarah sepenggal episode yang direkam oleh lukisan itu. Sampai-sampai dia mengambil sebuah buku sejarah yang menceritakan hal yang sama. Mereka berdua ini senang melakukan riset sederhana untuk mengetahui latar belakang barang-barang yang mereka warisi/miliki. Kelihatannya mereka berdua ini memang tipikal orang Perancis yang gemar akan sejarah. Kalau ingat mereka berdua, ya terasa bahwa saya termasuk orang yang lebih banyak peduli pada masa kini.

Being Lazy

Maret 9, 2008

Finally, I am done with the comprehensive exams. I did the written exam on International Relations last Thursday. I sat in the first round of exam on my major field, which is Comparative Politics, on February 13th. The IR exam was initially scheduled for February 20th. But following the deadly shooting spree that occurred in my campus (NIU) on February 14th, it was rescheduled as my campus was closed for more than a week.

It will take a few weeks for the result of the exams to come out. If I passed, there would be another exam waiting. The oral exam. This is the process that almost all Ph.D. students in U.S. universities have to follow through (or more aptly, to suffer). So, basically I am not really ‘free’ until I am also done with the oral exam. After that, I will be allowed to write my dissertation proposal. Yet, writing a dissertation from what I heard is also pain in the neck.

Here I am, enjoying my ‘free’ time. Last Thursday, after submitting my answers to the questions of the 8-hour straight written exam, I went directly to a restaurant located near campus and had a large plate of delicious fettuccine with marinara sauce. A few days before the exam, I lost my appetite and hardly ate. So, it’s the payback time…:-)

I then took my family out for a casual dinner at a Chinese restaurant. When we got home, I went to bed early at around 8.30 p.m., another payback time for the many sleepless nights I endured before the exams. It was funny that I suddenly woke up at 2.30 a.m. with my heart pumping fast. As I gathered myself, I chuckled. I thought I fell asleep while I was supposed to study. Obviously the exams traumatized me…:-)

We went to Borders the next day. I wanted to buy some books to be read over the weekend and during the Spring break. But the kids wanted to buy some DVDs. For the sake of the balanced budget principle ( sounds like I am a conservative Republican, padahal sih karena mahasiswa miskin…:-), I returned the books I was already holding back to the shelves (that included “The God Delusion” by Richard Dawkins, the paperback edition just came out in January; “Nixon and Kissinger: Partners in Power” by Robert Dallek; “The Witch of Portobello” a novel by Paulo Cuelho; the latest edition of Foreign Policy magazine, and Foreign Affair journal; and the newest edition of the Rolling Stone, the enjoyable music magazine).

I bought the Rolling Stone though. The Rolling Stone run a cover story on Barack Obama. The famous editor of the magazine Jann S. Wenner wrote an endorsement for Barack Obama, calling him a new hope (accessible here: http://www.rollingstone.com

It’s been very interesting for me to witness the U.S presidential election that has been filled with a lot of surprises, inspiring speeches, and smart and also ugly tactical moves by some candidates.

Oh, we also bought the comic of the adventures of Tintin: The Broken Ear (Patung Kuping Belah in the Indonesian edition), The Black Island (Negeri Emas Hitam), and King Ottokar’s Sceptre (Tongkat Raja Otokar). These are for my son, but for sure I don’t mind to read them too. I always love to read Tintin again and again. All in all, the comics kept me pretty busy this weekend..:-)

I also purchased a few songs. My friend Taufiq has intoxicated me with alternative music. I fell in love with bands like Spoon, Pavement, the Shins, the Strokes etc. There is also this band called New Order, which is actually coming from the 80s. I had never heard of this great band until Taufiq sent me one of their songs. One of the New Order’s albums is titled “Power, Lies, and Corruption”. I wonder whether the lead vocalist is Suharto. Perhaps this band was so inspired by the New Order regime in Indonesia, who knows?…:-)

My favorite songs prior to the exams were “Time is Running Out” by Muse and Arkarna’s “So Little Time”. I thought I could never be able to re-read all the readings of my 2.5 years of coursework (Well, it turned out that I was indeed running out of time). That’s why those two songs sounded so true…:-)

Lastly, the lesson from the shooting in my campus that took the lives of six students is this: iPod potentially makes you unaware of your surroundings. I was listening to my iPod as I walked toward Cole Hall, the place where the shooting occurred. When I was about to open the door of Cole Hall, it was kicked open from the inside by students who were rushing out screaming, trying to escape from the gunman. If I did not have my iPod on, I would have heard the gunshots earlier and therefore would not expose myself so close to such a danger.