Archive for Juli, 2006

Jadi Montir

Juli 17, 2006

Sabtu kemarin udara di sini cerah dan panas. Jauh-jauh hari, kami sekeluarga plus dua teman lain merencanakan akan ke Chicago. Tiap akhir pekan selama musim panas ada konser musik gratis di taman pusat kota Chicago. Konser yang dimulai jam 7.30 malam itu  biasanya disusul dengan pesta kembang api.

Makanan kecil dan  minuman ringan untuk rencana  sore hingga malam di taman Chicago itu sudah siap semua. Juga selimut. Berangkatlah kami menjemput dua teman lain yang akan ikut . Di tengah jalan, mobil tiba-tiba ngadat. Masih bisa jalan, tapi setir mendadak berat, tidak bisa belok. Untung masih bisa mencapai lapangan parkir tempat tinggal Nico, teman yang akan saya jemput itu.

Begitu kap mesin dibuka, kelihatan kalau ada belt putus. Sepertinya timing belt. Di sini,  sparepartnya pasti mahal, lebih-lebih labor costnya. Ongkos untuk montir saja berkisar antara 60-80 dolar per jam. Biasanya minimal dua jam. Belum lagi ada ongkos yang namanya ongkos diagnosa, bisa sekitar 40-an dolar. Nico bilang sepertinya bisa kita perbaiki sendiri. Akhirnya  acara ke Chicago batal, ganti acara stinky steamy oily.

Karena ada  koneksi internet wireless, laptop kami bawa ke mobil. Tiap sebentar, terpaksalah kami search ke Google…. Gayanya persis seperti montir canggih, pake laptop, padahal karena saya nggak mengerti soal perbaikan mobil…hua..ha..ha.

Lewat internet saya tahu harga timing belt itu 120-an dolar. Setelah datang langsung ke tokonya, saya baru tahu rupanya jenis mobil saya itu tidak menggunakan timing belt. Yang ada adalah serpentine belt, harganya lebih murah. 30 dolar . Lumayan.

Sparepart tersedia, bukan berarti persoalan selesai. Ternyata, kami tidak tahu cara memasang belt baru itu…he..he. Tiga jam lebih otak-atik, bongkar sana-sini, tetap nggak bisa. Di google berkali-kali, tidak ketemu juga how to install serpentine belt untuk jenis mobil saya itu. Penasarannya bukan main. Karena sudah mulai gelap, ditundalah pengerjaannya.

Setelah baca-baca buku manual mobil itu, ternyata  mudah saja cara pemasangann serpentine belt itu. Saya beritahu Nico, dan kami yakin akan bisa memasangnya dalam sebentar esok pagi.

Pagi-pagi  saya dan Nico sudah bongkar-bongkar lagi. Menurut buku manual, kami cuma perlu memutar sebuah baut, untuk melonggarkan ketegangan belt, agar bisa terpasang di semua pulley atau roda pemutar. Letak baut itulah, namanya automatic tensioner, yang sejak kemarin kami cari-cari tidak ketemu.

Diputar sedikit tensionernya, terpasanglah serpentine belt itu, pas melewati semua pulley. Ketika mesin dinyalakan, ternyata belt itu bergeser dari alurnya. Setelah diperbaiki letaknya dan mesin dinyalakan lagi, gagal total. Belt tensionernya patah. Sepertinya, itulah penyebab utama putusnya serpentine belt. Belt tensionernya sudah mau rusak, karena itu serpentine belt nya melonggar hingga akhirnya putus.  Ciloko molopetoko…..

Kami pergi lagi mencari  automatic belt tensioner yang baru.  Lagi-lagi, ternyata bingung cara memasangnya. Bukan karena tidak tahu letaknya, akan tetapi karena letaknya sulit, terhimpit mesin yang bertumpuk. Tangan hampir tidak mungkin mencapainya. Namanya juga montir amatir, dongkrak pun model dongkrak antik…he..he. Jadi mobilnya tidak bisa terangkat tinggi-tinggi. Belum lagi keterbatasan peralatan.

Segala cara, sudut, arah yang mungkin, sudah dicoba untuk memasang tensioner yang baru itu, tanpa hasil. Agak putus asa, kami putuskan to give it one last try. Ternyata, di usaha terakhir itu,  tensioner baru itu bisa terpasang. Selesai jam 8 malam…he..he. What a day!

Sekarang mobilnya sudah beres, semoga tahan lama dan tidak ada masalah lagi. Namanya juga baru pertama kali bongkar mobil sendiri, jadi nggak yakin akan hasilnya…he..he. Oh ya, saya baru ingat, istilah-istilah mobil yang kita gunakan di Indonesia lebih banyak berasal dari bahasa Belanda: kopling, persneling dan lain-lain. Jadi agak repot juga kalau berurusan dengan bengkel dan toko onderdil (nah lu, ini juga sepertinya dari bahasa Belanda) di negeri berbahasa Inggris.

Corporate Warriors dan Perdagangan Senjata Ilegal

Juli 15, 2006

Mas Wija, seorang teman yang sedang studi di Georgetown Uni di D.C, bulan lalu mengirim sebuah buku pada saya. Ketika saya tanya berapa lama saya bisa pinjam, dia bilang buku itu memang diberikan pada saya. Baik sekali. Sepertinya Mas Wija tahu buku itu akan menarik hati saya. Judul buku itu Corporate Warriors: the Rise of the Privatized Military Industry (2003), tulisan P.W Singer. Baru seminggu terakhir saya sempat membacanya.

Singer dengan menarik, dan dengan data ekstensif yang dia kumpulkan melalui penelitian lapangan, membahas semakin maraknya bisnis tentara privat, tentara bayaran. Skalanya besar, dalam bentuk korporasi. Private warriors beroperasi dimana-mana, terutama di negara-negara yang kolaps, di kelompok negara weak states atau failed states. Mereka dikontrak oleh aktor negara, dan juga oleh aktor non-negara. Rumit juga.

Sedikit banyak, buku ini mengingatkan pada penelitian saya sendiri. Saya pernah melakukan penelitian singkat bersama peneliti dari Filipina dan Thailand mengenai peredaran senjata gelap di Asia Tenggara. Penelitian ini, (tepatnya preliminary research, karena masih banyak sisi dari isu ini yang tidak kami teliti) sudah diterbitkan oleh CSIS dan The Japan Foundation dengan judul Small (Is) Not Beautiful: the Problem of Small Arms and Light Weapons in Southeast Asia (2004). Saya rasa, perusahaan penyedia jasa private warriors ini pada akhirnya terkait juga dengan peredaran senjata gelap di seluruh dunia. Pedagang senjata dan corporate warriors ini layak kita sebut sebagai merchants of death.

Buku dari Mas Wija saya baca ketika berita penemuan ratusan pucuk senjata api di kediaman almarhum Brigjen Kusmayadi, petinggi TNI Angkatan Darat, muncul menjadi kontroversi hingga hari ini. Ada dua spekulasi mengenai temuan itu. Pertama, bahwa ratusan senjata itu adalah bagian dari bisnis pribadi almarhum. Kedua, ratusan pucuk senjata api itu merupakan bagian dari covert operation yang melibatkan almarhum semasa hidupnya.

Dibandingkan dengan senjata pemusnah massal seperti chemical dan biological weapons misalnya, senjata api organik – jenis yang dikategorikan sebagai Small Arms and Light Weapons – SALW – tidak terlalu banyak menarik perhatian. Padahal, menurut Small Arms Survey 2001, SALW diestimasi sebagai penyebab kematian 500.000 orang di seluruh dunia setiap tahun. 300.000 diantaranya berkaitan dengan konflik bersenjata, sementara 200.000 lainnya berkaitan dengan kriminalitas atau insiden lain. SALW lah sebetulnya weapons of mass destruction.

Berkenaan dengan konflik, studi yang dilakukan Wallensteen dan Sollenberg terhadap 101 konflik internal di seluruh dunia dalam kurun waktu 1989-1996 menemukan bahwa SALW merupakan bagian inheren yang memperparah konflik-konflik tersebut. Hal ini tidak mengejutkan, mengingat SALW sangat mudah diedarkan, dipindah tangankan dan digunakan. Sekedar ilustrasi, UNICEF (1995) melaporkan bahwa senjata jenis AK-47 dapat dengan mudah dibongkar pasang oleh anak-anak berusia 10 tahun. Laporan UNICEF juga menyebutkan bahwa paling tidak ada 300.000 lebih anak-anak dibawah usia 18 tahun yang berperang di garis depan sebagai milisia dalam berbagai konflik berdarah di seluruh dunia.

Keadaan diperburuk oleh kenyataan bahwa akses kepada senjata api tidak hanya dimiliki oleh aktor negara, tetapi juga oleh aktor-aktor non-negara, baik melalui pasar legal maupun ilegal. Persis seperti corporate warriors yang diteliti P.W Singer itu.

Pada dasarnya, SALW diproduksi secara legal oleh perusahaan-perusahaan pembuat senjata atau melalui mekanisme pemberian lisensi. PINDAD di Bandung, misalnya, memegang lisensi senjata jenis FN dari Belgia. Namun, ada banyak celah dari life-cycle sebuah senjata yang diproduksi secara legal tersebut, yang membuatnya berubah sifat menjadi ilegal. Beberapa celah itu diantaranya adalah perdagangan ilegal, dan tidak memadainya stock-pile management dari senjata-senjata milik aktor-aktor negara yang memegang monopoli penggunaan kekerasan, seperti institusi militer dan kepolisian.

Perdagangan senjata illegal didefinisikan oleh Komisi Perlucutan Senjata PBB sebagai “ [trade] which is contrary to the laws of States and/or international law”. Definisi ini memunculkan kemungkinan dua jenis pasar senjata ilegal: grey market dan black market. Grey market merujuk pada situasi dimana perdagangan terjadi dengan sepengetahuan pemerintahan nasional, walaupun mungkin melanggar aturan internasional. Sementara black market merujuk pada perdagangan yang terjadi sepenuhnya di luar kontrol pemerintahan nasional.

Kasus penemuan senjata di kediaman Brigjen Kusmayadi itu menunjukan beberapa persoalan serius. Pertama, persoalan persenjataan TNI. Sejauh ini, mekanisme stock-pile management senjata TNI (dan juga Kepolisian) belum menjadi obyek kontrol dari DPR. Di negara tetangga seperti Kamboja, stock pile management menjadi subyek transparansi publik lewat parlemen, terutama disebabkan oleh trauma yang ditinggalkan oleh kekerasan tentara Khmer Merah dan Pol Pot di tahun 1970-an dulu. Bila penemuan itu belakangan terbukti merupakan ‘permainan’ internal TNI AD untuk mendiskreditkan almarhum atau pihak lain, kekhawatiran terhadap mekanisme stock-pile senjata TNI tentu semakin memuncak. Karena dengan mudahnya ratusan senjata dipindahkan ke kediaman Brigjen Koesmayadi.

Kedua, persoalan manajemen keamanan nasional. Senjata-senjata organik yang ditemukan merupakan jenis-jenis yang biasa digunakan dalam low-intensity conflict, seperti perang internal anti separatisme.. Bila benar, keberadaan senjata tersebut tentu datang dari grey, bukan black market. Karena, ada elemen negara atau elemen di dalam TNI AD, mengetahui proses pengadaan senjata-senjata tersebut dan menggunakannya untuk menghadapi gerakan separatisme atau konflik lain.

Dalam konteks demikian, penemuan senjata itu juga menunjuk pada satu persoalan penting: apakah pengadaan dan penggunaan senjata-senjata itu sejalan dengan kebijakan nasional dalam menghadapi low intensity conflict? Misalnya, ketika pemerintahan Habibie memutuskan pelaksanaan opsi referendum untuk Timor Timor tahun 1999, Megawati mencoba bernegosiasi damai di Aceh, atau pemerintahan SBY-JK memilih jalan damai di Aceh dan Papua: siapa yang memutuskan pengadaan, dan juga penggunakan senjata-senjata yang ditemukan itu, baik dalam overt ataupun covert operation, yang kemungkinan akan bertentangan dengan kebijakan formal damai pemerintah tadi?

Temuan itu juga menunjukan bahwa manajemen perumusan kebijakan keamanan nasional kita belum terkoordinasi. Model terdekat untuk membangun sebuah sistem koordinasi kebijakan keamanan nasional adalah pembentukan dewan keamanan nasional (national security council). Penemuan senjata itu menunjukan bahwa persoalan keamanan nasional kita ditangani oleh institusi-institusi berbeda, dengan policy yang terserak. Ketiadaan sebuah lembaga semacam national security council menjadikan berbagai kebijakan keamanan lebih banyak bersifat reaktif. Hal ini antara lain tercermin dari banyaknya covert operation, dan pengadaan, penyimpanan dan penggunaan senjata yang abnormal, seperti penemuan senjata di kediaman pejabat TNI itu.

Ketiga, apabila kemudian terbukti senjata-senjata tersebut merupakan bisnis pribadi almarhum Brigjen Kusmayadi, itu juga membuktikan kekhawatiran banyak pihak mengenai bisnis ilegal oleh elemen-elemen TNI. Departemen Pertahanan telah menunjukan kemajuan cukup berarti dalam penanganan bisnis-bisnis legal TNI. Akan tetapi, tanpa langkah-langkah konkret untuk menghentikan praktik-praktik bisnis ilegal oleh elemen TNI, keinginan untuk membentuk TNI yang profesional dan tidak terdistorsi loyalitas-nya akan sulit dicapai. Sepertinya tidak ada opsi lain, penemuan senjata tersebut harus diselidiki tuntas, dan hasilnya disampaikan kepada publik.

14 Juli

Juli 14, 2006

Tepat hari ini, lebih dari tiga dekade lalu, saya dilahirkan. Belum lagi menjadi manusia berarti, malah penuh nanah dan luka.

Tadi siang imam shalat jumat melantunkan surah Ar-Rahmaan. “Nikmat Tuhan yang mana yang engkau dustakan?” begitu bunyinya berulang-ulang.

Suatu hari beberapa tahun lalu, seorang paman saya amat sakit, terbaring tak sadarkan diri. Paman saya sempat sadar sebentar, meminta saya membaca surah Ar-Rahmaan untuknya. Terbata-bata saya membaca, tidak mengerti artinya. Saya lihat ada airmata menitik di ujung matanya, lalu ia kembali tidak sadarkan diri. Saya terus membaca.

Saya pulang, lelah bergantian berjaga di rumah sakit. Sebentar di rumah, kabar sedih datang dari rumah sakit. Paman telah tiada. Segera saya buka kitab, mencari tahu terjemahan surah Ar-Rahman. Indahnya. Baru kemudian saya bergegas kembali ke rumah sakit.

Bertahun kemudian, hari ini, saya mengerti bahwa saya ini sungguh manusia pelupa lagi durhaka. “Nikmat Tuhan yang mana yang engkau dustakan?”

Semoga masih tersisa waktu untuk memperbaiki diri, walau sedikit, dari kelam yang menggunung.

Surah Ar-Rahmaan Online

Layar Tancep Kota Jakarta

Juli 12, 2006

Sebetulnya saya ingin menulis entry ini minggu lalu, tapi tidak sempat, lalu lupa. Ini soal kota Jakarta. Rumah orang tua saya terletak dekat pemukiman orang Betawi. Main di situ, waktu kecil dulu, seru. Lebih seru lagi kalau ada yang pesta kawinan. Petasan dar-der-dor, juga layar tancep. Kalau ada layar tancep, kita nonton rame-rame, biasanya di lapangan bola. Layarnya besar, tiang penopangnya ditancapkan ke tanah. Karena itu namanya layar tancep. Biasanya dimulai jam 9 malam, sampai hampir subuh. Ada beberapa film yang diputar semalaman itu. Saya masih ingat satu film yang pernah saya tonton, judulnya Mat Peci. Dia kriminal Betawi, tapi baik hatinya…halah…he..he. Film-film Benyamin S. yang super lucu itu juga langganan diputar kalau ada layar tancep.

Nah, minggu lalu di kota tempat saya belajar ini, ada juga acara semacam itu. Di taman, orang ramai datang. Bawa tikar, bantal, kursi, makanan kecil sendiri, lalu bergeletakan di rumput. Layarnya besar, persis layar tancep itu. Bedanya, film yang diputar cuma satu, film kartun anak-anak Ice Age 2. Memang acaranya untuk keluarga, orang tua ramai datang bersama anak-anaknya. Film mulai diputar jam 9 malam, setelah hari agak gelap. Maklum sedang musim panas, siangnya panjang. Jam 8 malam, taman sudah padat. Biasalah, anak-anak berjoget-joget, diiringi lagu-lagu ‘wajib’ joget anak-anak. Misalnya, Makarena, YMCA, juga chicken dance (lagu chicken dance sering dipakai sebagai theme song-nya Warkop Dono Kasino Indro). Bulan depan ada lagi film yang diputar, Hook. Film anak-anak juga.

Sebulan atau dua bulan lalu, saya menulis di blog ini mengenai kota Adelaide dan Festival of Ideas. Kota Adelaide menyelenggarakan bazaar ide, bazaar seminar, dengan topik macam-macam. Sukses menjadi hiburan murah meriah warga kota. Acara putar film kemarin juga hiburan murah meriah untuk warga kota.

Jakarta kabarnya sedang bersiap memilih gubernur baru. Bang Faisal Basri kabarnya mencalonkan diri, semoga menang…he..he..he. Anyway, siapapun gubernurnya, tantangan terbesar adalah bagaimana membuat kota Jakarta menjadi manusiawi. Festival of Ideas, putar film, mungkin bisa ditiru. Penting untuk menciptakan public sphere alias ruang publik sebanyak-banyaknya.

Kalau kita tengok, kota Jakarta kita itu memang kurang hiburan untuk keluarga dan anak-anak. Mall ada dimana-mana, tempat main beton semua. Main di mall, mahal juga. Timezone, Sega, dan semacamnya itu. Sepertinya, kalau warga Jakarta bisa mengorganisasi diri, bisa juga bikin acara-acara murah meriah, outdoor. Seperti posting saya yang lalu-lalu, kita memang harus membudayakan voluntarisme. Skala-nya kecil saja. Mungkin akan efektif di tingkat kecamatan. Kalau ada warga sebuah kecamatan yang memulai dengan ide-ide kreatif dan murah, sebentar saja kecamatan yang lain pasti akan tertular juga.

Mungkin tugas gubernur untuk menjadi sumber inspirasi kreatifitas warganya. Yang sudah-sudah, gubernur jadi tukang gusur. Sumber ketakutan. Ada juga gubernur yang bikin taman besar, tapi lalu di pagar tinggi. Katanya supaya bersih dan tetap indah. Taman bukan untuk dinikmati, tapi dilihat dari jauh sudah cukup. Gagal menjadi ruang publik. Masih ingat seniman mural yang melukis dinding-dinding beton penyangga jalan layang beberapa tahun lalu di Jakarta? Datang aparat kebersihan Pemda DKI, hasil karya itu di cat putih semua, dikira ada yang iseng mencoret-coret dinding properti Pemda…ha..ha..ha. Konyol betul.

Kembali ke layar tancep, hiburan yang satu ini bisa juga diorientasikan untuk keluarga. Kita bisa mulai putar film setelah maghrib. Toh kita sudah mulai punya banyak film anak-anak, misalnya Petualangan Sherina. Biar anak-anak nonton bersama orang tuanya, kakaknya, adiknya, dan teman-temannya, di luar mall, udara segar.

Kalau saya ingat-ingat, jaman dulu layar tancep itu cuma dinikmati kaum laki-laki. Atau anak-anak muda. Begadang sampai subuh. Ada preman mabuk-mabuk sedikit, minum Anggur cap Orang Tua. Bahaya juga, berlaku hukum sadiba – salah dikit bacok…he..he Jarang sekali perempuan bisa menikmati hiburan layar tancep.

Layar tancep sepertinya potensial untuk diadopsi menjadi hiburan keluarga seperti tadi. Kita juga punya tradisi hiburan lain yang serupa, misalnya nonton wayang semalam suntuk. Tapi lagi-lagi, lebih dinikmati kaum laki-laki. Ada juga perempuan nonton wayang, paling satu dua, jarang juga yang tahan sampai pagi. Anak-anak yang nonton wayang malah jauh lebih jarang lagi.

Begitulah, semoga dengan gubernur baru sebentar lagi Jakarta lebih manusiawi. Walaupun, kita yang warga Jakarta (juga kota lain sebetulnya, ini kan era otonomi daerah) sebetulnya nggak perlu menunggu pemerintah memulai itu semua. Pasti kita bisa, buktinya acara 17 Agustusan-an di mana-mana selalu ramai. Nggak ada urusan dengan pemerintah. Untuk 17 Agustusan, warga bisa cari uang sendiri, kerja sendiri, bergembira sendiri, sesuai kemampuan kampung masing-masing. Yang perlu, mencari cara untuk membuat inisiatif dari bawah itu menjadi sesuatu yang lebih kreatif, sustainable, dan membuat kota Jakarta kita itu jadi lebih manusiawi. Agar semua nyaman tinggal di dalamnya, baik laki-laki, perempuan, ataupun anak-anak.

Banjo Dr. Leong, Biola dan Berenang

Juli 9, 2006

Saya punya kenalan, Dr. Stephen Leong namanya. Dr. Leong adalah seorang ekonom senior di Institute of Strategic and International Studies (ISIS) Malaysia. Usianya sekitar awal 60-an.

Saya beberapa kali bertemu Dr. Leong dalam konferensi yang diadakan oleh ASEAN Institute of Strategic and International Studies (ASEAN-ISIS). ASEAN-ISIS adalah jaringan lembaga think-tank se-Asia Tenggara, dimana CSIS tempat saya bekerja sebagai peneliti dan ISIS Malaysia ikut aktif di dalamnya. CSIS juga merupakan salah satu pendiri jaringan ASEAN-ISIS ini.

Anggota ASEAN-ISIS adalah lembaga think-tank serupa CSIS dari setiap negara anggota ASEAN. Misalnya, di Thailand, ASEAN-ISIS diwakili oleh ISIS Thailand yang berbasis di Chulalongkorn University di Bangkok. Di Manila, ASEAN-ISIS diwakili oleh ISDS (Institute of Strategic and Development Studies) yang dimotori oleh pengajar-pengajar di University of Philippines. Mereka yang mempelajari studi politik luar negeri dan diplomasi tentu familiar dengan istilah second-track diplomacy. ASEAN-ISIS adalah sebuah bentuk second-track diplomacy, melengkapi diplomasi formal yang dilakukan oleh aktor negara.

Dr. Leong adalah orang yang ramah dan baik sekali. Bicaranya pelan. Dalam konferensi, dia senang memilih duduk dengan peneliti-peneliti muda. Di manapun konferensi ASEAN-ISIS diadakan, Dr. Leong selalu membawa banjo-nya, dan memainkannya bilamana ada kesempatan. Mungkin saat dinner atau setelah session terakhir usai.

Sekali waktu saya bertemu Dr. Leong dan banjo-nya itu. Saya ngobrol dengan dia. Saya bilang, “Dr. Leong, I wish I could play a music instrument like you do with your banjo”. Dr. Leong bilang: “Let me tell you, I did not know how to play this banjo 15 years ago. I just wanted to learn something new”. Saya manggut-manggut, merasa sedang dinasihati. Lalu dia tanya: “Memang kamu ingin bisa main alat musik apa?”

Tanpa pikir panjang, saya bilang: “biola.” Memang saya suka mendengar biola dimainkan, saya suka mendengarkan karya klasik Vivaldi, terutama Four Seasons – nya yang indah itu.

Dr. Leong lalu dengan serius bilang: “Would you promise, kalau setahun lagi kita bertemu, kamu akan bilang bahwa kamu sudah bisa main biola?”. Dia bilang, “why not try something new? Believe me, it feels good kalau kita belajar sesuatu yang baru hingga bisa, anything, seperti saya memutuskan belajar main banjo 15 tahun lalu. Umur bukan halangan” Saya mengangguk, ragu-ragu.

Setahun kemudian, saya bertemu Dr. Leong lagi. Pertanyaan pertama yang terlontar: “Young man, bagaimana biolanya?” Saya kaget dia masih ingat, sementara saya lupa sama sekali pernah punya niat belajar main biola. Melihat saya kaget, Dr. Leong bilang:”Ok. I’ll give you another year”. Wah….

Hal lain yang ingin saya pelajari selain main biola adalah berenang. Sejak kecil saya tidak bisa berenang, payah memang. Makanya jadi penasaran juga. Tiga minggu terakhir ini saya sibuk belajar berenang, hampir setiap hari. Kulit jadi hitam legam, karena sedang summer di sini. Saya bertekad harus belajar berenang sampai bisa kali ini.

Saya belajar di kolam renang ukuran kecil, tempat anak-anak kecil berenang…he..he. Saya ingat Dr. Leong bilang umur bukan halangan, jadi saya telan rasa malu belajar di kolam renang anak kecil itu. Setelah tertelan air kolam renang beberapa gallon (he.he), akhirnya bisa juga saya berenang. Lumayan, sekarang sudah cukup lancar dan bisa bolak-balik sekitar 5 atau 6 kali di kolam renang yang besar…he..he. Betul juga kata Dr. Leong dulu, it feels good kalau kita mempelajari sesuatu yang baru hingga menguasainya. Sekarang saya masih berhutang belajar satu hal pada diri sendiri (pada Dr. Leong juga mungkin): main biola. Let’s see, whether next year I can post a new entry in this blog titled: “Me and My Violin” or not.