Archive for Desember, 2007

On My Way

Desember 20, 2007

I had an errand to be done the other day in Geneva, a neighboring city of Dekalb. I love it whenever I have to drive to Geneva, passing the country side with its picturesque view. Especially in winter time when all I can see is a beautiful plain white scenery. I created a playlist that I would listen to during my 40-minutes drive to that city. My ride was even more enjoyable…:-) Here it is:

1. Life is a Highway (Cars Soundtrack – Rascal Flatts)

2. Kids of the Future (Jonas Brothers)

3. Year 3000 (Jonas Brothers)

4. Prisoners in Paradise (Europe)

5. Baba O’Riley (The Who)

6. Hot Love (Twisted Sister)

7. Man Against the World (Survivor)

8. We’re not Gonna Take it (Twisted Sister)

9. 5150 (Van Halen)

10. King of Wishful Thinking (Pretty Woman Soundtrack – Go West)
Iklan

The Damn Exams

Desember 20, 2007

Finally, I will have to sit in the comprehensive exams in Spring 2008. I already submitted the request to sit in the coms yesterday. For a Ph.D student, especially in the U.S, coms are certainly the reservoirs of pressures. If you failed in coms, you could not start writing your dissertation. Luckily, you will be given a second chance. Failed again and you would surely be kicked out of the program. No mercy.

It is like a huge wall standing on your way. So huge it is that you are not sure whether you will even be able to see what it looks like at the other side of the wall. I may overstate it but that’s how I see it now. A good friend of mine told me that more or less it’s like a battle of mind. He reminded me the logic behind the Fear Factor show: it’s about defeating our internal fear, and in fact it should not be that bad. I do hope he’s right on this one…:-)

Well, no other option for me except marching off to the exams!

Para Ilmuwan Asketik

Desember 8, 2007

Berita duka terus mengalir untuk dunia ilmu di tanah air. Belum lama Profesor Parsudi Suparlan, antropolog kenamaan berpulang. Menyusul Fuad Hasan, psikolog yang pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Juga Profesor Sartono, sejarawan terkemuka yang disertasinya mengenai gerakan petani Banten begitu mengguncang. Profesor Sartono menjadikan petani, ‘aktor bukan siapa-siapa’, menjadi pusat perhatiannya dalam ilmu sejarah yang digelutinya. Harian Kompas mendapuk mereka bertiga ini sebagai ilmuwan (sosial) generasi pertama Indonesia. Ilmuwan yang menempuh jalan asketik, hidup bersahaja, tidak silau dengan hiruk pikuk media. Di tengah keringnya dunia ilmu sosial (juga politik) Indonesia saat ini, kepergian mereka menggugah.

Ada seorang figur lain dari ilmuwan generasi pertama yang juga saya kagumi. Pak Thee Kian Wie, ekonom senior di LIPI. Pak Thee sangat bersahaja, tetapi karya akademiknya dihormati di luar negeri. Ia sangat santun dan begitu rendah hati. Saya ingat ketika selama kurun waktu 2001-2003 saya ikut mengelola dan mengkordinir sebuah kelompok diskusi informal dua mingguan di Jakarta. Macam-macam anggotanya. Ada dosen, peneliti, karyawan swasta, wartawan, aktifis LSM dan lain-lain. Kami datang dari beragam latar kelompok ideologi dan juga agama. Persamaan kami waktu itu adalah semua muda usia. Juga umumnya belum lama lulus kuliah S-1.Kelompok itu bertemu dua minggu sekali di sebuah rumah di Jalan Proklamasi di Jakarta, berdiskusi macam-macam hal sepulang kerja mulai jam 7 malam. Forum itu menjadi oasis bagi kami yang menolak terjebak dalam rutinitas pekerjaan di tempat masing-masing.

Sekali waktu kami mengundang Pak Thee Kian Wie untuk berbagi ilmu. Pak Thee sudah cukup berumur, tapi dengan senang hati datang berdiskusi malam-malam. Ia menolak dijemput dan memilih menyetir sendiri datang bersama istrinya yang kemudian ikut menyimak diskusi dengan sepenuh hati. Seingat saya, pak Thee menolak uang (hasil saweran anggota kelompok kami) sebagai honornya yang kami berikan seusai diskusi.

Hari itu saya ingat betul bagaimana pak Thee berdiskusi dengan santun bersama kami yang muda-muda yang terbatas ilmunya. Tapi tidak ada rasa sedikitpun bahwa pak Thee sedang menggurui kami. Ia bicara dengan data, tidak pula mengeluarkan pandangan-pandangan populis untuk menyenangkan pendengarnya.

Saya rasa teladan mereka tidak akan pernah hilang.

Mungkin kata-kata Robert Frost begitu pas menggambarkan para ilmuwan generasi pertama ini, yang menempuh jalan ‘sunyi’ nya dan meninggalkan jejak yang dalam dalam dunia ilmu sosial Indonesia. Saya cuplik dari blog Yus Arianto, sahabat masa kuliah di Bandung dulu (http://blogyusariyanto.wordpress.com).

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I–
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference Robert Frost (1874-1963)