Archive for April, 2008

Snow at the end of April?

April 28, 2008

This is weird. It’s been snowing the whole morning. Last week we had nice warm days (70s Fahrenheit on average). The week before last week was also nice. Today it drops down to 37 F. I just stored my boot, hat and winter jacket in the closet a while ago, today I have to put them on again. I cannot function in cold weather, but my wife and sons I bet are happy to see what’s happening today…:-)

Iklan

Ikut Lelang di Ebay

April 26, 2008

Masih soal hobi baru mengumpulkan piringan hitam bekas, saya baru menyadari bahwa ebay adalah salah satu tempat yang paling banyak menyediakan vinyl bekas. Ada ribuan penjual vinyl di sana, dengan harga bervariasi. Masalahnya, perdagangan di ebay adalah lelang. Jadi kita harus memberi penawaran harga/bidding dan sabar menunggu beberapa hari untuk mengetahui apakah kita menang lelang atau tidak. Tidak seperti moda cash-and-carry dimana kita langsung bayar barang yang kita inginkan.

Nah, saya coba-coba ikut lelang. Beberapa kali kalah. Ikut lelang piringan hitam legendaris grup Pink Floyd yang berjudul The Wall (1979). Kalah telak, barang itu akhirnya terjual 17 dolar. Sementara saya menawar 2 dolar saja..he..he. Satu lagi, saya ikut bidding album versi piringan hitam the Smashing Pumpkins yang judulnya Mellon Collie and the Infinite Sadness (1995). Lelang album ini berlangsung 7 hari, yang ikut bidding banyak sekali. Saya lempar penawaran di hari pertama waktu harganya masih 2 dolar, saya tawar 3 dolar. Langsung kalah telak lagi…he..he. Bidding akan berakhir hari minggu besok, tapi pagi ini (Sabtu) saya lihat harganya sudah 90 dolar lebih. Gile…

Memang album Mellon Collie ini dahsyat betul, sayangnya rilis piringan hitamnya terbatas. Di Amazon saya lihat ada satu yang menjual piringan hitam album ini (bekas), harga yang ditawarkan 199 dolar. Sudah sebulan lebih masih ada disitu, belum ada yang beli…he..he. Saya ada beberapa lagu dari album Mellon Collie dalam format mp3. Tapi karena banyak lagu di album itu kaya dengan orkestrasi dan suara yang membentuk layer-layer, pasti nikmat mendengarkan format piringan hitamnya (tidak seperti lagu-lagu Smashing Pumpkins lain yang kental warna alternative rock-nya).

Tadinya, saya kira harga vinyl bekas berhubungan dengan list di majalah Rolling Stone yang saya sebut dalam posting sebelumnya. Maksud saya bukan karena ada di list itu maka otomatis harga sebuah album musik jadi mahal. Tetapi, kalau albumnya enak dan digemari (saya percaya judgement para redaktur majalah RS..he.he) maka harganya akan mahal.

Ternyata harga tidak terlalu berhubungan juga dengan popularitas album. Album Pink Floyd dan the Smashing Pumpkins yang saya sebut tadi keduanya memang masuk dalam dalam list itu. Tetapi, ketika akhirnya saya menang lelang album lain, asumsi saya tidak sepenuhnya benar. Harga piringan hitam yang saya menangi amat murah. Saya akhirnya menang lelang, album Bruce Springsteen yang judulnya Born in the USA (1984) dengan harga 1 dolar saja. Lalu saya juga menang lelang album piringan hitam Dire Straits yang judulnya Brothers in Arm (1985). Harganya juga sama. Kedua album ini ada di dalam list majalah itu.

Yang lebih menentukan harga adalah supply. Dulu Album Mellon Collie dalam versi piringan hitam dibikin amat terbatas jumlahnya. Sementara Pink Floyd lumayan banyak, tetapi masih sangat digemari. Artinya, tidak banyak orang yang punya album piringan hitam Pink Floyd mau menjualnya ke pasar barang bekas. Mereka masih mau menyimpan untuk didengarkan sendiri.

Tetapi album Born in the USA-nya Bruce Springsteen dan album Dire Strait itu dulu dibikin abundant dalam format piringan hitam. Karena itu harganya di pasaran vinyl bekas sekarang jadi sangat murah karena over supply.

Memang fenomena jual beli online ini sangat menarik. Setahun lalu saya pernah bikin posting mengenai hal ini (kalau mau baca lagi, silahkan klik https://pjvermonte.wordpress.com/2007/06/23/harga-blog-ini-dan-soal-kebebasan/

Dalam posting dulu itu saya tulis bahwa saya percaya teknologi menyediakan sangat banyak opportunity, dan juga menjadi medium untuk kebebasan. Orang bisa menulis pendapat tentang apa saja di internet, seperti blog. Lalu juga bisa berjualan apa saja, skala besar ataupun skala kecil di internet. Konsumen juga untung, bisa dapat barang murah karena persaingan antar penjual di internet besar. Terlebih, hampir tidak mungkin ada kartel antar penjual yang merugikan konsumen, karena para penjual itu tidak saling mengenal satu sama lain. Saya sedang pikir-pikir mau juga jualan di ebay. Mendekati summer begini banyak profesor membuang buku-buku sample yang mereka terima dari penerbit-penerbit. Mungkin saya bisa lihat-lihat di ruang departemen lain, misalnya departemen sosiologi atau sejarah. Kalau ada buku bergeletakan di lorong departemen itu, akan saya kumpulkan lalu jual di ebay atau amazon. Ya kalau menemukan buku bagus yang berhubungan dengan ilmu politik yang saya pelajari, ya akan saya simpan sendiri.

Begitulah, ebay mungkin adalah contoh bagaimana mekanisme pasar bisa berjalan efektif. Tidak ada monopoli, tidak ada kartel. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menyediakan akses internet untuk lebih banyak orang, terutama di negara berkembang. Selain itu, ada tantangan lebih besar dalam konteks jual beli online di negara berkembang, khususnya Indonesia.

Transaksi online mengandaikan trust yang tinggi. Saling percaya antara penjual dan pembeli, yang tidak pernah bertatap muka secara langsung. Pembeli percaya pada deskripsi barang yang diberikan penjual secara online. Dalam hal lelang, penjual juga percaya bahwa pemenang lelang tidak akan tiba-tiba menyatakan batal tidak jadi membeli. Lalu, untuk memperlancar itu semua, perusahaan pos dan pengiriman barang harus terpercaya sehingga barang sampai ketempat tujuan tepat waktu dan tidak dalam keadaan rusak, apalagi hilang di jalan.

Trust adalah persoalan besar kita di Indonesia. Padahal, ilmuwan politik seperti Putnam, Fukuyama dan Inglehart telah menunjukan bahwa trust adalah prasyarat tumbuh berkembangnya demokrasi yang sehat. Selama kita di Indonesia tetap menjadi low-trust society, tantangan mengembangkan demokrasi kita menjadi lebih besar.

PSSI Dikuliti

April 26, 2008

Baru baca sebuah kolom bagus di Kompas. PSSI (dan ketuanya Nurdin Halid yang pesakitan) dikuliti habis-habisan. Setuju 100 persen. Ini saya copy-paste kolom itu.

pjv

———–

POLITIKA
PSBN atau Pesakitan
Sabtu, 26 April 2008 | 01:59 WIB

Oleh Budiarto Shambazy

Coba sesekali pahami politik internal PSSI, pasti lebih sukar ketimbang belajar ilmu politik. Belajar tipologi pengurus PSSI lebih sulit daripada belajar paleontologi— ilmu tentang fosil Dinosaurus.

Pembaca dibombardir lagi oleh ingar-bingar munaslub sesuai tuntutan FIFA. Jika tidak, PSSI kena sanksi pembekuan dan timnas tak bisa berlaga di ajang internasional.

FIFA minta munaslub karena Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dibui dan harus digantikan. Namun, akronim PSSI telanjur berubah jadi ”Pengurus Suka Sekali Intrik” karena gemar berdalih menghindari tanggung jawab.

Politicking telah lama jadi hobi di PSSI karena jumlah pengurusnya saja 120-an orang. Federasi di Malaysia atau Inggris dipimpin tak lebih dari 20 orang.

Jumlah 120-an itu lebih besar daripada jumlah pemain timnas yang 20-an orang. Dan, dari 120-an itu yang ngerti sepak bola hanya segelintir.

Jumlah 120-an tak sedikit. Namun, itu memperlihatkan PSSI kaya-raya karena saling berbagi ”rezeki berjemaah” di kala hidup rakyat susah.

Rezeki itulah yang mati-matian dipertahankan PSSI. Ya, maklumlah, namanya juga rezeki.

Akal sehat enggak mampu lagi mencerna aneka dalih PSSI. Ibaratnya skor pertandingan PSSI vs FIFA masih 0-0 selama 2 x 45 menit, ditambah perpanjangan waktu dan adu penalti, dan replay.

Terpaksalah diadakan undian untuk memutuskan hasil akhir pertandingan. Namun, hasilnya tetap 0-0.

Apa pasal? Ternyata wasitnya orang PSSI yang mengundi bukan dengan koin dengan dua sisi berbeda—ia pakai kancing seragam dengan dua sisi yang sama.

Perilaku menyimpang PSSI bukan hal baru. Beberapa tahun terakhir terjadi kegagalan pembinaan, kompetisi asal-asalan, pemerkosaan aturan, dan prestasi minim timnas.

Kini, PSSI menyekolahkan tim remaja ke Uruguay. Proyek sia-sia sekolah ke luar negeri sudah dilakukan bolak-balik ke mana-mana, tetapi kok enggak kapok, sih?

Uruguay negeri mungil yang lokasinya sulit ditemukan di peta dunia. Ke sana saja makan waktu lebih dari 24 jam dengan pesawat dan saya yakin tak seorang pengurus pun yang sebelum ini pernah urusan sepak bola ke sana.

Jika tim remaja latihan ke Belanda, misalnya, itu lumayan karena masih terasa Indonesia- nya. Itu pun tahun lalu pemain Papua memecahkan kaca jendela hotel di Belanda karena stres mau pulang.

Kalau soal kompetisi asal- asalan Anda sudah paham. ”Setiap gol di liga pasti ada rupiahnya,” kata eksekutif sebuah perusahaan sponsor liga sambil geleng kepala.

Pemerkosaan terhadap aturan? Apa yang bisa diharapkan jika ada pengurus yang menipu penggemar dengan menjual kaus resmi timnas tanpa celana?

Pembinaan yang gagal, kompetisi asal-asalan, dan pemerkosaan terhadap aturan menghasilkan timnas yang selalu ”menang”. Ya, tetapi di belakang kata ”menang” harap tambahi kata ”is”.

Timnas yang suka ”menang” plus ”is” takkan kedatangan tamu. Di awal 1970-an timnas bersegitiga melawan Ajax serta Manchester United dan publik Senayan rutin dihibur Pele, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, sampai Mario Kempes.

Tahun 1980-an, timnas lolos ke babak akhir penyisihan Piala Dunia sebelum menyerah di tangan Korsel. Di Asian Games 1986 timnas melaju sampai ke semifinal.

Timnas takkan berprestasi selama PSSI masih berlaga melawan FIFA. Pasalnya, PSSI masih menyimpan 1.001 akal bulus untuk menghadapi FIFA.

Perilaku PSSI ibarat ujung tombak timnas yang ”berputar- putar di depan gawang lawan, tetapi selalu gagal mencetak gol”. Dalam perumpamaan bahasa Inggris, PSSI ”going in circles, don’t really know where I have come from and where I will go”.

Perilaku mereka cermin kondisi sosial saat ini. Mereka ingin berkuasa dan menjadi manusia setengah dewa dengan merangkap profesi pejabat, pengusaha, politisi, sekaligus tokoh masyarakat.

Mereka gigih dan terpesona kepada Al Capone yang memimpin dari balik jeruji. Tokoh idola mereka adalah Tan Malaka yang mengarang buku Dari Penjara ke Penjara.

Mereka sejak kecil bercita-cita ingin jadi dalang yang ahli memainkan wayang-wayangnya. Mereka petualang sejati yang ahli mengatur skor, wasit, pemain, pelatih, dan klub—kecuali dirinya sendiri.

Pemerintah dan DPR saja bungkam seribu menghadapi mereka, apalagi Anda dan saya. Lalu bagaimana jalan keluarnya?

Menurut saya mudah, yakni biarkan mereka tetap merajalela. Mereka kayak anak-anak yang ketagihan main sepak bola dan enggak mau pulang meski magrib sudah tiba dan esok harus sekolah.

Biarkanlah mereka menguasai PSSI. Jika Anda setuju, mari kita dirikan organisasi sepak bola nasional tandingan yang menyelenggarakan pembinaan dan kompetisi sendiri.

Enggak apa-apa ada dua pengurus sepak bola. Saya saja masih suka bingung siapa sih yang jadi presiden, SBY atau JK, dan makin bingung PKB versi mana yang sebenarnya sah.

Tetapi, untuk menghindari ”PSSI kembar”, kita bujuk mereka untuk mengubah nama. Sungguh sayang nama harum PSSI sebagai alat perjuangan dicederai oleh ulah mereka.

Saya sarankan mereka pakai nama ”PSBN” (Persatuan Sepak Bola Nasional).

Atau kalau tidak, saya sarankan pakailah akronim ”Pesakitan”. Artinya ”Persatuan Sepak Bola Sakit-sakitan”.

Oh ya, Anda tahu, kan, makna kata pesakitan?

Toko Vinyl Dekat Kampus

April 19, 2008

Kemarin saya mampir di toko vinyl dekat kampus, tempat saya biasa membeli piringan hitam bekas. Nama toko vinyl itu Record Revolution. Lumayan, dapat lagi satu LP bekas murah. Album Fleetwood Mac, judulnya Fleetwood Mac (1975). Beberapa waktu sebelumnya saya dapat album Fleetwood Mac lain, judulnya Rumours (1977). Saya memang sedang berburu (dengan mode alon-alon waton kelakon) album-album musik yang masuk dalam list 500 album musik terbaik sepanjang masa versi majalah musik Rolling Stone. Ini link ke list itu: the RS 500 greatest album of all time

Jelas saya nggak mungkin sanggup membeli 500 album itu..he..he. Anyway, dua album Fleetwood Mac ini masuk dalam list itu. Sebelumnya saya sudah dapat beberapa album piringan hitam lain yang juga ada dalam list itu (baik di toko ini atau di toko Dave’s Record di Chicago, atau dari amazon kalau ada yang murah): AC/DC “Back in Black (1980), the Strokes “Is This It” (2001), Bob Marley and the Wailers “Legend” (1984), dan Bruce Springsteen “Born to Run” (1975).

Sebetulnya, saya sering berpikir-pikir: kenapa toko vinyl ini bisa bertahan berjualan piringan hitam, kaset dan CD bekas? Barusan saya mendapat sedikit jawabannya. Pemilik toko itu berjualan terus karena hobi dan kecintaan pada musik. Juga keinginannya membuat senang banyak orang, terutama mahasiswa (karena toko ini dekat kampus, pembeli utamanya adalah mahasiswa). Toko ini mulai dibuka pada tahun 1973, berjualan piringan hitam (LP). Saat itu album Pink Floyd yang berjudul Dark Side of the Moon sedang menduduki posisi puncak di tangga lagu-lagu.

Saya barusan menemukan website toko ini dan membaca bahwa yang membuat pemiliknya bertahan membuka toko adalah kedatangan mahasiswa ke tokonya yang silih berganti. Ada yang tamat sekolahnya dan pindah ke tempat lain, ada yang baru mulai studi dan menjadi pelanggan barunya.

Ini copy-paste dari front page website mereka (http://www.recordrev.com):

Record Rev started up in September 1973, back when Dark Side Of The Moon was at the top of the charts. We started out selling LPs at $4.00 including tax! Now 34 years later, we are still selling LPs at $4.00 (in our used department). What goes around comes around. Essentially it has been Mark and Bobbo running the store all these years. We have had the same store hours, same phone number and even the same cash register for decades. What changes are the people and the music coming into the store each year. Being in a college market is great but every year we say goodbye to our loyal customers who graduate and move on.

Thirty-four years later, we’re still here!

You all know how things are in the retail music area. Stores are closing left and right. Recession? Oil Prices? Competition from the internet? Competition from the ‘big box retailers? Well, to sum it up, it’s not easy any more being in retail. If it wasn’t for my love of music and the interaction of great music fans with our store experience, I suppose I’d be retired by now. But NO, you drag me back after I’m ready to toss in the towel. Why do I do it? Or more importantly, why do I continue to do this after 34 years? You coming in our door. That’s it! Thanks for your support!!.

Recently, we’ve expanded our new and used vinyl selection. I’d say we’ve tripled its size in the last year. Records are making a small comeback and we’re happy to accomodate those newly minted vinyl fans. There are hundreds of LPs starting at $1.00, and all our classical LPs are $3.00 each (for single LP copies, $2.00 per disc for multiple LP set copies). In fact, the Rev has added turntables to the mix! We sell new turntables starting at $99 each, complete!

Dilema Etis Perang

April 17, 2008

Tadi siang saya mengalami suasana tidak mengenakkan. Bermula dari kelas pelajaran bahasa Indonesia yang saya asuh di kampus. Sebelum kelas dimulai, seorang peserta (menyebut ‘murid’ sepertinya kurang pas), yang juga teman baik saya di departemen ilmu politik tempat saya belajar, menyampaikan sesuatu yang membuat kami semua tertegun. Dia, seorang wanita Amerika, bilang bahwa dia tiba-tiba mendapat panggilan dari militer Amerika dan diminta bersiap untuk dikirim ke Irak. Bulan September dia sudah harus pergi training di sebuah negara bagian, lalu bulan November dia sudah akan dikirim ke combat zone. Mungkin ada rotasi dan tour of duty.

Kami yang berada di kelas itu tercenung mendengarnya. Dia pun kelihatan gundah, walaupun kelihatan berusaha keras untuk berlaku biasa saja. Dia bilang, yang paling dia pikirkan adalah nasib anak perempuannya yang masih kecil.

Saya seperti dihadapkan pada dilema etis yang membuat saya tidak tahu harus berkata apa. Seperti yang lainnya di ruang itu, untuk beberapa lamanya saya hanya diam.

Saya tidak pernah setuju akan perang Irak itu. Akan tetapi, teman saya ini sedang dihadapkan pada “panggilan tanah air” nya (benar atau salah menjadi tidak terlalu relevan karena ini soal tanah air dia, bukan tanah air saya). Sementara, dia tahu persis bahwa dia harus meninggalkan anaknya.

Jika saya sampaikan ketidaksetujuan saya pada perang Irak tadi, mungkin itu akan menambah kegalauan hatinya. Mungkin dia akan merasa tidak berdaya karena tidak ingin meninggalkan anak dan keluarganya, namun panggilan tugas mengharuskannya. Tetapi, kalau saya membesarkan hatinya dengan mengatakan hal-hal baik tentang perang Irak (kalau ada), sama artinya dengan saya menyetujui perang itu.

Teman saya ini adalah seorang language specialist. Dia memang mendapat beasiswa dari Angkatan Udara Amerika untuk kuliah di departemen ilmu politik di kampus saya. Di Amerika adalah hal yang biasa mendapat beasiswa dari militer. Itu adalah bagian dari rekrutment militer yang ingin merekrut ahli-ahli sipil misalnya language specialist itu, engineer, scientist dan lain-lain. Tidak melulu merekrut otot, tapi juga otak.

Teman saya ini memang menguasai banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Semasa SMA, dia pernah ikut program pertukaran pelajar ke Indonesia dan tinggal di kota Solo selama satu tahun. Saya pernah lihat foto-foto dia bersama teman2 satu kelasnya di sebuah SMA Solo. Tingkah lakunya sudah persis kelihatan seperti pelajar Indonesia.

Akhirnya, saya hanya bilang: mungkin kamu dipanggil karena penguasaan bahasa. Mungkin mereka membutuhkan orang-orang yang memahami bahasa lokal. Artinya, dengan demikian dia akan berada lebih banyak di dalam barak militer Amerika di Irak. Bukan di combat zone yang jauh lebih berbahaya. Jadi mestinya semua akan baik-baik saja. Dia hanya bilang: doakan saja.

Agak ironis bahan pelajaran yang saya siapkan untuk kelas tadi siang. Saya meminta mereka membaca dan mendiskusikan buku catatan harian Soe Hok Gie (Catatan Harian Seorang Demonstran), yaitu bagian ketika Soe Hok Gie ikut dalam sebuah program pertukaran mahasiswa ke Amerika Serikat sekitar tahun 1968. Ketika itu Soe Hok Gie mengunjungi banyak kampus dan bertemu dengan banyak tokoh yang belakangan di kenal sebagai akademisi terkenal mengenai Asia Tenggara. Soe Hok Gie antara lain bertemu John Legge, menginap di rumah Bennedict Anderson, berdiskusi dengan George McTurnan Kahin yang dianggap sebagai pelopor studi Asia Tenggara. Minggu lalu, kelas kami juga menonton film Gie bersama-sama. Saya pikir akan menarik apabila orang Amerika membaca apa pandangan orang yang bukan orang Amerika (Soe Hok Gie) tentang negaranya. Mahasiswa-mahasiswa Amerika di kelas bahasa Indonesia ini tampaknya senang menonton film Gie dan membaca beberapa bagian dari catatan harian Soe Hok Gie itu.

Ironisnya, tahun 1968 adalah tahun-tahun protes massal di Amerika terutama dari kaum muda (mahasiswa) yang menolak perang Vietnam. Jadi ada beberapa bagian dari buku catatan harian Soe Hok Gie yang kami baca tadi siang berisi catatan Soe Hok Gie tentang perang Vietnam.

Soe Hok Gie juga menyinggung tentang Peace Corp, sebuah program yang dibuat oleh Presiden Kennedy. Program Peace corp memungkinkan Kennedy mengirim anak-anak muda Amerika ke seluruh dunia untuk menjadi “duta” Amerika dan mendorong perdamaian. Banyak diantara alumni Peace Corp ini yang belakangan menjadi akademisi-akademisi yang mempelopori tumbuh berkembangnya studi Asia Tenggara di kampus-kampus Amerika.

Begitulah. Tanpa terasa tadi kami membicarakan perdamaian, sementara seorang teman sedang gundah karena akan dikirim untuk pergi berperang. Semoga teman saya itu akan baik-baik saja.