Archive for Mei, 2008

Otak Kita

Mei 28, 2008

Saya menemukan artikel menarik dibawah ini dari Kompas Online. Setuju dengan isinya. Kita di Indonesia sepertinya terlalu membebani anak-anak. Dan juga mungkin terlalu kaku soal pendidikan anak-anak.

Saya perhatikan di sini, sekolah anak-anak lebih fun. Pelajaran tidak berat-berat, banyak outdoor activities, dan di sekolah pelajaran olahraga ada setiap hari selama satu jam (sementara SD kita dulu pelajaran olahraga paling banyak hanya satu kali dalam seminggu, mungkin sekarang sudah ditambah).

Di samping itu, community activity berbagai macam olahraga dibentuk sendiri oleh warga untuk anak-anak. Ada sepakbola, baseball, senam, martial arts, renang, dan lain-lain. Selain yang bayar, ada banyak aktifitas komunitas ini yang gratis. Sepanjang penglihatan saya, aktifitas olahraga luar sekolah untuk anak-anak ini selalu dibanjiri peserta. Orang Amerika kelihatannya sangat gemar olahraga, dan menggemari community activity.

Anak-anak mereka dibiarkan bebas, pada saatnya nanti (saat di perguruan tinggi) pelajaran baru menjadi jauh lebih demanding.

Susah juga memang. Kita mungkin khawatir kalau anak kita tidak semaju anak lain. Akhirnya, orangtua membebani anak-anak. Dalam perspektif security studies yang dikenal dalam studi hubungan internasional, ini ibarat security dilemma. Ketika satu negara memodernisasi militernya, negara lain merasa terancam, lalu ikut memordenisasi militernya. Negara lain yang melihatnya, akhirnya ikut juga memodernisasi. Seperti efek spiral. Ujungnya adalah perlombaan senjata yang muncul dari persepsi itu.

Begitu juga kita orang tua di Indonesia. Takut anak kita tertinggal dari anak lain, akhirnya menjejali anak-anak. Dulu waktu anak saya masih TK kecil di Jakarta, saya ikutkan dia les Kumon, karena banyak anak lain ikut Kumon. Seminggu dua atau tiga kali kalau tidak salah. Ketika itu, dari perspektif saya sebagai orangtua, Kumon bagus. Tetapi, kalau dipikir-pikir, mungkin terlalu berlebihan juga anak umur 4 atau 5 tahun dijejali matematika dengan intensitas seperti di Kumon itu.

——————————————-

Otak Bekerja Baik Kalau Manusia Senang
Rabu, 28 Mei 2008 | 18:38 WIB

YOGYAKARTA, RABU – Otak akan bekerja dengan baik ketika manusia merasa senang dan tidak tertekan. Proses itu dimulai pada usia dini, dan berlanjut ke masa anak-anak hingga remaja. Hanya saja, pada usia tersebut, suasana senang dengan bermain sangat kurang porsinya.

Hal itu dikatakan Shifu Yonathan Purnomo, pakar kecerdasan otak yang juga pencipta dan pendiri Shuang Guan Qi Xia International (perguruan kecerdasan otak yang berpusat di Surabaya), Rabu (28/5), dalam Seminar Intrapreneurship di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

“Anak yang sejak di SD hingga SMA dianggap pandai, belum tentu nanti dia cerdas. Itu karena kondisi sekitar membuat otaknya tidak bekerja dengan baik dan maksimal. Ada tahap yang ingin dilompati, biasanya oleh orang tua mereka,” ujar Shifu.

Seorang anak, di masa sekarang, sudah dijejalkan materi pelajaran sejak TK. Bahkan di playgroup, pengenalan tentang huruf-huruf sudah diajarkan. Itu sebenarnya tidak perlu dan belum saatnya. Yang terbaik, anak dibiarkan saja bermain dan bergerak.

“Biarkan saja anak lari-lari. Kalau nggak mau belajar karena lagi malas, ya biarkan saja. Kenalkan dengan olah raga dan hal yang membuat dia banyak bergerak, bukan hanya duduk sambil bermain atau lari-lari bermain di dalam ruang kelas. Dengan banyak bergerak, zat milin sebagai nutrisi otak akan dibuat tubuh,” katanya.

The Silent Return of Vinyl Records

Mei 26, 2008

Taufiq, wartawan the Jakarta Post yang sedang kuliah juga di NIU, menulis artikel mengenai piringan hitam alias vinyl di Jakarta Post edisi hari minggu kemarin.

pjv
——-

The silent return of vinyl records

M. Taufiqurrahman , The Jakarta Post , Chicago, Illinois | Sun, 05/25/2008 12:01 PM | Entertainment

There is one good reason why the movie High Fidelity, based on Nick Hornby’s best-selling novel set in London, was shot in Chicago.

The largest city in the Midwest has been long known as a Mecca for indie rock and the place where a countless number of bands built their credibility. In the days of yore, little-known bands like Slint, Silver Jews, Tortoise or big arena rocker Smashing Pumpkins built their fan base in Chicago while laboring in obscurity under the tutelage of labels like Touch and Go, Drag City and Thrill Jockey Records.

Recently big acts the likes of Wilco and the Breeders repatriated to Chicago to work on their new albums.

But the ultimate reason for the movie being shot in Chicago is the fact that the windy city is home to a large population of independent music stores manned by people who are as devoted as the characters of Rob Gordon and his cranky clerk Barry.

In fact, on a fine day of spring, hungry vinyl fetishists will likely find one of those High Fidelity moments in one of Chicago’s record stores.

Earlier this month, in Kiss the Sky Record store in Geneva, just outside Chicago, I got into a tense argument about the best five rock records of all time with the store manager, Steve.

Steve Warrenfeltz, the 50-something record store owner, could not reconcile his choice of The Beatles’ Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band and Rubber Soul, The Kinks’ Village Green Preservation Society, Jimi Hendrix’s Are You Experienced? and Pink Floyd’s Dark Side of the Moon with my top three picks: Television’s Marquee Moon, Gang of Four’s Entertainment and the Smiths’ The Queen is Dead.

But the upside to having an argument with a bohemian record store manager is that you end up getting a vinyl of the Byrds’ Sweetheart of the Rodeo for just US $3.

“The good thing about running a record store is that we will always bump into crazy people like you guys,” Warrenfeltz told me before I left the store.

Yes, it is this kind of record store that can be found in the Chicago-land area: stores run by dedicated vinyl junkies like Steve, a guy who once worked as a roadie for the Kinks in the mid 1960s and who was more than happy to leave his well-paid job for corporate America only to pursue his labor of love.

For a totally different experience, I recently checked out Dave’s Record in downtown Chicago.

This store takes rock snobbism (or using the popular election jargon elitism) to a new level. The sign on the door to Dave’s Records says it all. “No CD’s!! Never had ’em!! Never Will!!”

Located in the upmarket Chicago District of Clark Street, Dave’s Record caters to the need of hipster college kids who scavenge rare copies of Marquee Moon or the Minutemen’s Double Nickels On the Dime.

A trendy-looking clerk sat up on his platform watching over me salivating over thousands of rare vinyl records.

And when I paid for my purchase, the clerk gave me a disapproving look. He was also probably baffled by my purchase of Marquee Moon, Pixies’ Doolittle and Young Marble Giants’ Colossal Youth.

Or it might have been that I was the first Southeast Asian to visit his store.

Even deep in a Midwestern county like DeKalb, music addicts can still find a decent store that keeps a steady supply of both new and used vinyl records at low prices.

Located in the midst of Northern Illinois University (NIU)’s dorms and lecture halls is DeKalb’s oldest record store Record Revolution, or Record Rev for short.

“Record Rev started up in September 1973, back when Dark Side Of The Moon was at the top of the charts. We started out selling LPs at $4 including tax! Now 34 years later, we are still selling LPs at $4 (in our used department),” store owner Mark Cerny said in the record store website.

The last time I went to the record store, an Indonesian friend got a free LP for buying records worth more than $15.

But the greatest compliment came from one of the store’s clerks, who praised my pal for purchasing the Arcade Fire debut album Funeral on vinyl. I think they became friends after that.

Such is the joy of being a vinyl addict these days, the warmth of human interaction absent from the aisles of Wal-Mart, Target or Best Buy or when one presses the “buy song” button on iTunes.

The proliferation of MP3s, both legal and illegal, has cheapened music, giving true music fans the strong conviction to distance themselves from the crowd and embrace vinyl records.

In recent years, in the midst of slumping CD sales, the sale of vinyl records has soared through the roof.

Time magazine reported last year that 990,000 albums were sold on vinyl, up 15.4 percent from 2006. Music rag Spin also reported that the Chicago-based Music Direct, a purveyor of turntables and new and reissued vinyl has seen the format’s sale surge by more than 300 percent in the last three years.

The rise in the sale of vinyl has driven record companies, indie labels in particular, to issue the work of their artists on vinyl with a price lower than that of the CD format. The price tag for the Shins’ debut album Oh, Inverted World on vinyl is $8, while the CD format is available for $13.

Vinyl has also become the weapon for musicians to lure fans to buy more of their work. After releasing their new album In Rainbows on MP3 format late last year, British avant-garde rockers Radiohead in January released the album in a box set containing two vinyl discs and extended liner notes.

Last month, Warner Bros dusted off its vault and reissued Metallica’s back catalog only on the vinyl format. As of now, only Ride the Lightning and Kill ‘Em All are available on the market. Metallica’s thrash metal masterpiece Master of Puppets will only come out on vinyl on June 10. Next in line will be reissues of early releases from Green Day and the Red Hot Chili Peppers.

On May 20, San Francisco-based record label 4 Men with Beards released Velvet Underground debut album Velvet Underground & Nico for the American market. In the past, 4 Men with Beards has bought the rights to classic records like Aretha Franklin’s Lady Soul, Dusty Springfield’s Dusty in Memphis and Buzzcock’s Singles Going Steady and has started pressing them for the American market.

There is no time like the present to become a vinyl junkie.

http://www.thejakartapost.com/news/2008/05/25/the-silent-return-vinyl-records.html

Taman Jepang dan Duran Duran

Mei 26, 2008

Akhir pekan ini adalah libur panjang. Hari Senin adalah Memorial Day, semacam hari Pahlawan, yang ditetapkan sebagai hari libur nasional di Amerika. Karena itu, anak-anak dan istri saya libur sekolah dan kerja. Jadi kami memutuskan jalan-jalan lagi, kali ini ke kota Rockford. Rockford adalah kota terbesar kedua di negara bagian Illinois, setelah Chicago.

Rockford terletak tidak jauh dari tempat kami tinggal, kurang dari satu jam nyetir. Kami sering ke kota ini. Ada Asian grocery di situ, yang sekarang jadi alternatif utama buat kami setelah toko Thailand di Chicago tutup, seperti pernah saya tulis sebelumnya.

Nyetir mobil hari-hari ini selalu membuat kami berhitung. Kita tahu semua, harga bensin sedang gila-gilaan, bukan cuma di Indonesia. Kemarin, di sini harganya sudah $4 per galon. 1 galon kira-kira sama dengan 3 liter lebih sedikit. Di Indonesia, harga bensin premium baru naik menjadi 6500 rupiah per liter, berarti kira-kira sekitar 20 ribu rupiah per gallon (alias sekitar $2 dollar/per gallon). Dibanding dengan harga pasaran (harga bensin di Amerika kurang lebih sama dengan harga di pasar internasional karena tidak ada subsidi), berarti harga bensin di Indonesia masih lebih murah $2 dolar tiap liternya. Padahal bensin itu diimpor dengan harga pasar internasional (karena sejak tahun 2004 Indonesia bukan lagi eksportir minyak). Artinya pemerintah Indonesia mensubsidi selisih $2 dolar setiap galon bensin yang dibeli warganya. Jumlah ini sangat luar biasa besarnya, dan sudah pasti jauh melebihi kemampuan keuangan sebuah negara, dengan penduduk lebih dari 200 juta orang seperti Indonesia.

Di Amerika pernah ada masa dimana ‘negara’ lah yang mengatur harga bensin, bukan pasar. Hasilnya justru muncul antrean panjang di pompa-pompa bensin dan harga justru melonjak. Masyarakat justru protes keras, meminta ‘negara’ berhenti mengatur harga bensin, biarkan pasar yang mengatur. Hasilnya, antrian menghilang dan harga menjadi normal.

Kali ini, harga minyak dunia memang menggila. Sama seperti bantuan tunai langsung di Indonesia, pemerintah Bush juga memberi BLT kepada warga Amerika, setiap keluarga mendapat bantuan minimal 300 dolar, bergantung pada jumlah anak per keluarga. Tetapi ini hanya diberikan sekali. Bush menyebutnya sebagai stimulus package.

Begitulah, kami memutuskan jalan-jalan. Kalau tempo hari kami pergi ke “Holland” di Michigan, kali ini kami ke sebuah tempat di Rockford yang namannya adalah Anderson Japanese Garden. Ada sebuah taman luas ala taman-taman di Jepang. Tamannya cantik sekali, seperti taman Jepang ala film Oshin..he..he. Ya biasalah, foto-foto lagi. Memang musim semi adalah waktu yang baik untuk foto-foto. Sialnya, bunga teratai di kolam-kolam di taman ini belum mekar.

Kalau ingin berhening-hening dan refleksi diri, taman Jepang ini tempat yang pas sekali. Mungkin itu justru tujuan utama banyak orang berkunjung ke Japanese garden ini.

Dari situ, kami pergi ke Asian grocery. Stok Indomie di rumah sudah habis, juga kecap dan sambal botol. Terakhir kali kami ke toko ini, mereka tidak menjual kecap Indonesia. Yang punya toko bilang, bawa saja botol kosong kecapnya, nanti dia cari dan mungkin akan dia mulai jual. Jadi kemarin istri saya membawa satu botol kecap kosong. Semoga waktu belanja berikutnya, mereka sudah berjualan kecap.

Saat ke Asian grocery ini, kami memotong sebuah jalan bernama South Alpine Road. Saya ingat seseorang pernah memberi kartu nama pada saya sebulan lalu. Saat itu saya sedang berada di sebuah toko piringan hitam bekas. Orang itu tiba-tiba memberi kartu namanya. Rupanya dia punya booth tempat dia berjualan piringan hitam bekas di flea market (pasar loak) di Rockford. Flea market ini letaknya di South Alpine Road itu.

Jadilah kami belok ke flea market itu. Besar sekali. Begitu masuk ke dalam, suasanya persis seperti pasar loak Taman Puring di Kebayoran Jakarta. Istri dan anak-anak jalan sendiri, sementara saya berkeliaran sendiri mencari booth penjual piringan hitam itu. Saya tidak beruntung, booth milik orang itu sedang tutup.

Akhirnya saya kembali ke parkiran, dan ternyata istri saya sudah di situ. Tangannya menjinjing sebuah kantong plastik. Rupa-rupanya, dia mendapat tiga piringan hitam bekas Duran Duran. Ini band yang populer sekali waktu saya SMP dulu, seangkatan dengan band seperti Spandau Ballet.

Lady Diana dulu sering secara terbuka mengakui bahwa dia adalah fans berat Duran Duran..he..he. Andy Warhol, seorang musisi yang dihormati dari grup musik Velvet Underground yang sangat berpengaruh dalam perkembangan musik sejak akhir 1960-an hingga 1980-an, juga adalah salah satu penggemar Duran Duran.

Yang didapat istri saya adalah tiga album terbaik Duran Duran. Ada album debut mereka pertama yang berjudul Duran Duran, dengan lagu seperti Girls on Film dan juga Planet Earth. Lalu ada album Rio, dengan lagu hits seperti Rio, Hungry Like the Wolf, Save a Prayer, My On Way, dan juga New Religion. Tapi lagu berjudul the Chauffeur adalah yang paling saya sukai dari album ini. Album ketiga yang dibeli istri saya itu adalah Seven and the Ragged Tiger. Ada lagu The Reflex dan New Moon on Monday di dalamnya. Saya tanya berapa harga yang dia bayar untuk ketiga vinyl ini, ternyata cukup 5 dolar sudah bisa dibungkus semuanya. Sweet…he..he.

Saya kira mampir ke flea market ini adalah kunjungan gagal. Ternyata dapat tiga album piringan hitam Duran-Duran, dengan harga murah. Lalu mengembalikan memori masa SMP pula..he..he.

Album John Lennon

Mei 24, 2008

Baru menemukan piringan hitam (bekas) solo album John Lennon yang judulnya ‘Imagine” di toko vinyl. Judul album diambil dari lagu pertama, yaitu Imagine yang bagus sekali itu. Lagu anti perang dan anti kekerasan ini selalu terdengar indah ketika didengarkan lagi.

Saya ingat mendengarkan album ini dalam bentuk kaset pertama kali saat duduk di kelas 5 SD. Saking terpengaruhnya pada lagu Imagine dan lagu-lagu lain di album itu, saya ingat bahwa saat itu saya bilang kepada ibu saya kalau saya yakin pencipta lagu pasti masuk surga karena menghibur banyak orang….he..he.

Album ini ada di nomor 76 dalam list 500 greatest albums versi majalah Rolling Stone. Ada komentar menarik dari John Lennon sendiri mengenai lagu dan album Imagine:

“it’s anti-religious, anti-nationalistic, anti-conventional, anti-capitalistic, but because it is sugar coated, it is accepted….Now I understand what you have to do. Put your political message across with a little honey.”

Kuliah Terakhir

Mei 24, 2008

Di beberapa kampus Amerika, ada sebuah tradisi menarik yang disebut Last Lecture. Ini adalah last lecture yang biasanya diberikan oleh professor yang akan pensiun. Mereka ini diberi kesempatan memberi kuliah untuk terakhir kalinya, meringkaskan lifelong lessons kepada audiensnya, dari pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi menjadi profesor.

Tadi siang saat kami sekeluarga pergi ke toko buku Barnes & Noble, mata saya tertumbuk pada sebuah buku di rak buku baru, berjudul “Last Lecture”. Buku ini pada dasarnya adalah transkrip kuliah terakhir yang diberikan oleh Randy Pausch, seorang professor di Carnegie Mellon University. Ia terkenal akan karya-karyanya di bidang teknologi dan virtual reality.

Dia bukan hendak pensiun seperti biasanya. Tetapi didiagnosa kanker pankreas. Kuliah terakhirnya jauh dari kesedihan. Di awal kuliahnya dia menekankan bahwa kuliahnya bukan tentang “cancer, spirituality, or religion”. Kuliah ini memberi inspirasi dan justru penuh joke segar dan tawa. Topik besarnya adalah tentang: “pursuing your childhood dreams and enabling others to achieve their childhood dreams”. Betul kata dia, menjadi dosen/profesor memungkinkannya menolong orang lain (murid-muridnya) mewujudkan berbagai mimpi masa kecil.

Di toko buku tadi saya hanya sempat membaca beberapa halaman, kelihatannya buku itu sangat menarik. Sampai dirumah, saya google dan menemukan bahwa ternyata rekaman kuliah itu ada di youtube, di upload oleh Carnegie Mellon University sendiri.

Ruang kuliahnya padat oleh mereka yang ingin mendengarkan kuliah terakhir ini. Diantara beberapa joke segarnya adalah tentang spirituality. Walaupun dia bilang kuliah ini tidak akan menyinggung soal spiritualitas dan agama, tetapi menurutnya dia akhirnya mengalami sebuah pencerahan spiritualitas yaitu: I now believe that there is a deathbead conversion. I just bought myself an Apple Macintosh”….ha..ha.

Saya ingin tahu perasaan istrinya menyaksikan suaminya memberi kuliah terakhir. Tetapi saya yakin istrinya berbahagia memiliki suami yang lives a good life seperti dia. Adegan paling menyentuh menurut saya ada di akhir kuliah, ketika ia bilang kepada audiens bahwa: “this talk is not for you, it’s for my sons.”

Bagi para pendidik, dosen, guru, ataupun mereka yang berminat pada hal-hal motivasional, video rekaman kuliah yang panjangnya 76 menit di youtube ini mungkin pas untuk ditonton:
http://uk.youtube.com/watch?v=ji5_MqicxSo