Archive for Juli, 2007

Teknologi dan Pembelajaran Politik

Juli 29, 2007

Seminggu terakhir, traffic ke blog saya meningkat. Terutama ada dua tulisan yang di klik mereka yang mampir ke blog ini. Yang pertama judulnya Politik Aliran, dan satu lagi adalah Kajian Budaya Politik. Saya periksa data yang disediakan wordpress, dua tulisan ini sudah diklik-dilihat (belum tentu dibaca) ribuan kali sejak pertama kali tulisan itu saya upload.

Kemarin saya chating dengan kawan saya Yus di Jakarta. Saya iseng menanyakan pendapat dia, mengapa dua tulisan itu mengalami peningkatan traffic beberapa minggu terakhir. Ada dua kemungkinan sebabnya.

Kemungkinan pertama, ada peningkatan minat pembaca di Indonesia atas kajian mengenai konsep budaya politik, politik aliran, political cleavages dan semacamnya. Walaupun tulisan saya tidak menjanjikan apa-apa (karena tulisan pendek blog, sama sekali bukan makalah ilmiah), tapi kalau kemungkinan pertama ini benar maka frekuensi search di internet dengan entry kata kunci ‘budaya politik’ mungkin mengindikasikan sesuatu yang berhubungan dengan minat atas kajian budaya politik. Sepertinya tidak cuma di Indonesia, dalam dua jurnal ilmu politik terkemuka di Amerika edisi terakhir yang keluar dua minggu lalu (jurnal American Political Science Review dan American Journal of Political Science) ada juga tulisan panjang mengenai political cleavages yang saya minati sejak lama.

Kemungkinan kedua, ya memang minggu-minggu ini para dosen di Indonesia sedang menugaskan mahasiswanya belajar budaya politik. Maka tidak heran, mahasiswa sekedar mencari dengan search engine di internet untuk mendapatkan quick reading atas konsep itu. Maka banyak yang tidak sengaja terdampar di blog saya ini.

Apapun, saya dan Yus kemudian mendiskusikan betapa menyenangkan menjadi mahasiswa di Indonesia saat ini. Ada internet dan warnet yang bertebaran dimana-mana. Mencari data, atau bacaan tambahan kuliah jauh lebih mudah. Sepuluh tahun lalu, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional yang kuliah di Bandung seperti saya, harus ke Jakarta untuk sekedar menemukan bahan-bahan bacaan dari jurnal atau buku-buku di perpustakaan CSIS. Ongkos perjalanannya mahal, tambah lagi biaya fotokopi yang bisa menguras kantong. Untuk mencari bacaan, sebagai mahasiswa jurusan HI di Bandung I had to move my ass 200 kilometres away. Sekarang, tinggal ke warnet terdekat, google. Sekarang, informasi jauh lebih mudah diperoleh di bandingkan 10 atau 15 tahun lalu. Semua berkat teknologi. Warnet pun relatif murah. Saya sering sampaikan pada mahasiswa saya, kalau mereka berhenti merokok dua hari saja, harga satu pak rokok bisa dipakai untuk akses internet satu jam di warnet.

Omong-omong soal teknologi, pasti banyak yang menonton acara debat kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat di CNN. Kalau belum menonton, acara itu masih di re-run oleh CNN. Acara itu sendiri diselenggarakan bersama CNN dan Youtube.

Kandidat presiden berdiri di panggung, menghadapi pertanyaan bukan dari audiens di studio tapi dari warga negara Amerika dari berbagai tempat yang meng-upload video rekaman pertanyaannya melalui Youtube. Video Youtube itu kemudian ditayangkan di layar besar di studio CNN tempat debat berlangsung.

Debat model begini sungguh sehat, entertaining, dan memaksa para kandidat berpikir keras menjawab pertanyaan tidak terduga-duga dari masyarakat. Entah kapan kita bisa memilik debat kandidat (entah presiden, gubernur, bupati dan lainnya) yang mencerahkan seperti ini. Yang terpenting, dengan debat presiden yang memanfaatkan teknologi seperti ini, penonton segera bisa tahu mana calon yang hanya bisa beretorika dan mana yang betul-betul memiliki konsep untuk policy yang akan dia jalankan kalau terpilih menjadi presiden. Kemungkinan memilih presiden kucing dalam karung sedikit berkurang. Minimal, presidennya nggak mungkin pendiam seperti yang pernah kita punya…he..he.

Dari sisi warga negara, dengan acara debat yang memanfaatkan Youtube, pertanyaan konkrit dari warga negara sedikit banyak memperlihatkan preferensi dan isu-isu yang dianggap penting oleh para pemilih. Mulai dari pajak, perang Irak, hubungan luar negeri, kebijakan asuransi kesehatan, gun control, kebijakan pendidikan, komitmen calon presiden akan konservasi lingkungan, riset bidang kesehatan dan lain-lain. Isu Irak memang penting, tapi bagi pemilih di Amerika sepertinya isu-isu yang langsung mempengaruhi kesejahteraannya dianggap jauh lebih penting. Ibaratnya bagi pemilih di Amerika: jangan sampai kuman diseberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak nampak. Dalam debat di CNN-Youtube ini para kandidat harus bekerja keras mempersiapkan diri dan menjawab pertanyaan dari berbagai penjuru negara bagian Amerika Serikat ini, bahkan kadang hingga detail.

Durasi acara cukup panjang, dan pertanyaannya amat beragam. Ada beberapa pertanyaan simpel yang menurut saya menarik sekali.

Ada pertanyaan dari audiens di Youtube yang disampaikan begini: “Apakah Anda menyekolahkan anak di sekolah swasta atau sekolah negeri, baik SD/SMP/SMA?”

Sepertinya para kandidat panas dingin menjawab pertanyaan ini…he..he. Karena sebagian besar kandidat telah bicara mengenai kesejahteraan guru dan janji memperbaiki kualitas pendidikan di Amerika pada umumnya. Tentunya yang mereka bicarakan itu adalah pembiayaan sekolah negeri (public school). Mereka harus hati-hati menjawab, karena image Partai Demokrat adalah ‘partai kelas pekerja” alias partainya orang biasa, bukan orang kaya. Jika mereka menjawab bahwa anak-anaknya disekolahkan di sekolah swasta yang sudah pasti mahal, tentu pemilih akan ragu seberapa besar para kandidat ini akan berkomitmen memperbaiki kualitas sekolah-sekolah negeri karena tidak ‘menyelami’ keterbatasan sekolah negeri karena anak-anak mereka sendiri tidak pernah bersekolah di situ.

Hillary Clinton menjawab bahwa anaknya, Chelsea, disekolahkan di sekolah negeri, dari TK hingga kelas 7. Mulai kelas 8 masuk private school di Washington katanya untuk menghindari kejaran pers, karena waktu itu Bill Clinton sudah jadi presiden. Barack Obama menyekolahkan anaknya semua di SD swasta, alasannya adalah karena sekolah itu paling dekat rumahnya di Chicago. Clinton dan Obama pandai sekali nge-les dari pertanyaan ini…he..he.

Soal konservasi energi, seorang penanya di Youtube memaksa para kandidat menyampaikan konsep penghematan energi kalau mereka terpilih jadi presiden. Semua kandidat bersemangat sekali memaparkan konsep konservasi energi yang mereka siapkan.

Anderson Cooper, moderator acara ini, mengajukan pertanyaan menggelitik ketika para kandidat selesai menjawab pertanyaan soal konservasi energi di Youtube itu. Pertanyaan Anderson: “siapa diantara Anda sekalian yang terbang ke sini untuk hadir di studio CNN dengan pesawat jet pribadi/sewaan?”

Hampir semua, malu-malu sambil nyengir angkat tangan. Tentunya segelintir orang yang terbang dengan jet pribadi/sewaan bukanlah bentuk penghematan energi. Adegan itu membuat audiens di studio tertawa gemuruh dan saya yang menonton di depan TV di rumah tertawa keras-keras…he..he. Mereka were caught red-handed, tertangkap basah, di depan audiens di studio dan jutaan penonton di rumah. Hanya satu kandidat yang tidak naik jet, Senator Mike Gravel. Dia datang dengan bus umum (atau kereta api, saya lupa-lupa ingat). Well-done, Mike! (at least mungkin dia sudah antisipasi ada pertanyaan semacam itu…he..he).

Dalam menghadapi pertanyaan mengenai hubungan luar negeri, harus diakui Hillary Clinton yang paling baik. Ya maklum, pengalaman jadi first lady di masa pemerintahan Bill Clinton dua periode itu.

Menjawab sebuah pertanyaan: “Apakah kalau terpilih menjadi Presiden, Anda akan berdialog langsung dengan pemimpin Iran, Syria, Kuba dan Korea Utara?”, Barack Obama menjawab tegas: “Ya, dulu Kennedy bicara langsung dengan Castro, Ronald Reagan juga bicara langsung dengan pemimpin Uni Soviet walaupun Reagan terus-menerus bilang bahwa Uni Soviet sebagai evil empire.”. Kandidat lain memberi jawaban senada. Dan semua mendapat applaus meriah dari audiens di studio.

Hillary Clinton yang paham betul dunia diplomasi, memberi jawaban lebih cerdas menurut saya. Dia bilang: “Dalam diplomasi, signal adalah penting. Sebagai presiden, saya tidak akan memulai komunikasi bila saya tidak yakin ada signal dari seberang sana bahwa kita bisa mencapai common ground. Saya akan utus banyak special envoys sebelum saya sebagai Presiden bicara langsung dengan pemimpin di negara-negara itu”. Untuk jawaban ini Hillary Clinton mendapat applaus jauh lebih meriah.

Pertanyaan langsung dari netters di Youtube juga sering membuat para kandidat tidak berkutik. Kadang penanya di Youtube mengajukan pertanyaan spesifik pada kandidat tertentu, menanyakan track record mereka dalam policy bidang tertentu. Seorang kandidat, Senator Joe Biden, dibuat tak berkutik ketika seorang penanya di Youtube mengecamnya karena sekarang Biden gencar mengecam sebuah kebijakan mengenai welfare (ada program kesejahteraan namanya No Child Left Behind), padahal dulu sekali dia yang paling awal mendukung program itu di Kongres. Joe Biden dengan gugup mengaku bahwa dulu ia salah.

Tetapi, menurut saya Joe Biden memberi jawaban paling realistis soal penarikan pasukan Amerika dari Irak (tentunya dari perspektif Amerika). Kandidat yang lain menyatakan akan segera menarik seluruh pasukan begitu terpilih jadi Presiden. Joe Bidden menyatakan ada 3000 warga sipil Amerika di Irak (wartawan, LSM, pekerja rekonstruksi, dokter, perawat, atau mereka yang bekerja di berbagai lembaga internasional di Irak). Paling tidak untuk melindungi 3000 orang itu, diperlukan 5 ribu hingga 10 ribu tentara yang stationed di sana.

Pertanyaan paling akhir dari video Youtube itu justru paling menarik. Pertanyaannya simpel tapi mencairkan debat yang panas. Begini: “Hal-hal baik apa yang Anda sukai dari kandidat yang lain, dan hal-hal buruk apa yang Anda benci dari mereka”.

Namanya politisi, tentu mereka tidak terjebak dengan pertanyaan ini. Mengatakan hal buruk mengenai kandidat lain akan mengundang ketidaksukaan audiens. Audiens tentu lebih menyukai kandidat yang terlihat sportif. John Edwards bilang dia menganggap kandidat lain sebagai kolega, dan terutama dia menghormati keluarga Clinton (Bill dan Hillary) yang sudah memperlihatkan great service untuk Amerika.

Hillary bilang dia mengagumi Barack Obama dan keluarganya yang hangat. Barack Obama bilang dia menghormati semua kandidat, dan terutama mengapresiasi kandidat Bill Richardson yang juga adalah gubernur negara bagian New Mexico. Menurut Obama, gubernur adalah pekerjaan yang menuntut dedikasi dan a lot of public works. Maka kalau dia terpilih jadi Presiden, Obama berjanji akan melakukan public works sebanyak yang dia mampu. Kandidat lain Senator Denis Kuchinich juga memuji kandidat lain.

Jawaban kandidat Bill Richardson paling menyegarkan. Dia bilang: “Malam ini kita sudah menyaksikan betapa hebatnya para kandidat rekan-rekan saya ini. Karena itu, saya tidak ragu lagi bahwa mereka adalah orang-orang yang tepat untuk menjadi……Wakil Presiden saya!”….hua..ha..ha.

Tanggal 17 September nanti, CNN-Youtube akan menyelenggarakan acara debat serupa untuk kandidat Presiden dari Partai Republik. Pasti ramai juga.

Reuni Alumni SMA 6 Jakarta

Juli 27, 2007

Di bawah ini ada berita dari sebuah milis alumni SMA 6 Jakarta, berita reuni akbar. Siapa tahu ada yang mampir ke blog ini, please consider that you are invited.

Oh iya, ini juga ada posternya, jadul abis. Nggak tau siapa yang bikin nih?….:-)

salam

pjv

——–

REUNI AKBAR ALUMNI SMA VI SELURUH ANGKATAN, 12-Agustus-2007@SMA VI

Jangan Lupa!! MINGGU, 12 AGUSTUS 2007

Mulai jam 7 PAGI !!!!

Di Sekolah kita dulu,

SMA N 6 Jakarta

JL Mahakam 1, Jakarta Selatan..

Klik aja website resmi nya http://www.mahakamsix.com , disitu ada ‘slot’
khusus untuk setiap angkatan.. sudah ada beberapa rekan kalian yang
menunggu ‘posting’ dan kehadiran anda.

Yang diluar Jakarta gimana nih? Masih sempat set jadwal cuti khan?
Mendarat di Cengkareng? jangan khawatir, ada DAMRI langsung ke SMA 6
(emang mangkalnya di situ..hehe)

Yang pasti nggak bisa hadir atau berada di luar Jakarta, Luar Negri??
tenang.. SMA VI udah Hi-Tech.. Bisa lihat ‘Live Streaming’ nya di
http://www.mahakamsix.com.

Acara nya? seru!!

Mulai FUN WALK, MUSIC semacam SUNDAY MUSIC (tapi bukan SUNDAY DISCO
TIME lho.), Games buat keluarga, Bazar, Lawak, Dance Show, Theatre
room – semacam bioskop kecil gitu lho, ada photo studio buat yang mau
bikin kenang2an..

Kapan lagi bisa ajak anak istri/suami ke sekolahan kita ?, biar
mereka tahu SMA kita tempat menimba ilmu…

Kapan lagi bisa ketemu bekas pacar atau ‘cem-cem’an ?

Kapan lagi bisa ketemu bekas “pengagum” ?

Kapan lagi bisa ketemu artis2 yang dulunya masih celeng di kelas?

Kapan lagi bisa beli es, lumpia Tiga Dara (sambil bayar hutang yang
dulu belum sempat kita lunasi…) ?

Kapan lagi bisa nepukin yang lewat lapangan basket?

Kapan lagi kita kumpul seangkatan?

Kapan lagi bisa ketemu ‘Pak Bakrie’..the living legend!!

OK? Kita tunggu di Sekolah ya

Back To School, Back To… SMA VI

MAHAKAMSIX.COM

The School That Give Our Life Worth Living!!…

need more info?, call: +62 21 70789478 or mahakamsix@mahakamsix.com

Kabar buruk, Kabar baik dan Oleh-oleh

Juli 25, 2007

Ada dua kabar saya hari ini. Kabar baik dan kabar buruk. Saya mulai dari yang buruk saja. Kemarin saya mengutuki diri sendiri. Rencananya akan ke Chicago, menonton konser musik internasional. Memang selama musim panas ini ada banyak konser beragam jenis musik di Chicago, hampir setiap hari. Yang terpenting: gratis!…he..he. Sudah sejak bulan Mei ketika menerima booklet program acara kota Chicago selama musim panas, saya langsung mengagendakan nonton konser world music tanggal 23 Juni ini. Sungguh sial, mobil pagi-pagi rusak. Teman baik saya Jerry yang pandai memperbaiki mobil pulang ke Kanada, maka mau nggak mau saya harus ke bengkel. Namanya bengkel, antri. Rencana nonton konser world music di Chicago gagal total.

Padahal, saya ingin betul nonton dan membawa anak-anak. Dalam konser kemarin sore, pemerintah kota Chicago menghadirkan sebuah grup musik tradisional dari Bandung, namanya Samba Sunda. Pasti seru. Bahkan koran mahasiswa di kampus tempat saya kuliah dalam edisi minggu lalu, meng-highlight kehadiran grup Samba Sunda ini sebagai event yang harus ditonton. Sial sekali nasib saya kemarin. Padahal, pasti fun sekali menonton musik Sunda di taman kota Chicago.

Sekali waktu, dalam sebuah buku tua yang saya digitalisasi di perpustakaan kampus tempat saya kerja part-time, saya menemukan sebuah berita mengenai World Fair di akhir tahun 1800-an di kota Chicago. Ada foto-foto yang sudah tua sekali. Ada foto rombongan Wayang Orang dari Jawa (ditulis datang dari East Indies). Ada caption di foto itu, yang mengatakan penampilan grup Wayang Orang itu selama World Fair tahun 1890-an itu sangat spektakuler.

Untung ada juga kabar baik. Tadi pagi saya menjemput seorang teman yang baru datang dari Jakarta di bandara O’Hare Chicago. Dia membawa titipan beberapa teman saya yang lain di Jakarta untuk saya.

Yang pertama, ada oleh-oleh martabak manis spesial. Uenaakkk tenan…. Waktu pulang ke Jakarta musim panas tahun lalu, saat kembali ke sini saya membawa banyak empek-empek. Saya tenteng-tenteng, untung lolos verifikasi makanan di bandara. Sekarang, martabak juga lolos. Mungkin kapan-kapan bisa coba bawa duren…he..he.

Kedua, dibawain buku Harry Potter edisi paling baru yang terbitan penerbit Bloomsbury Inggris yang banyak dijual di Jakarta. Ini pesenan istri saya, yang nge-fans betul buku-buku Harry Potter sejak jilid pertama dulu. Sebetulnya, istri saya sudah beli edisi terbaru Harry Potter and the Deathly Hallows terbitan penerbit Amerika. Malah ikut party waktu peluncuran buku itu beberapa hari lalu di toko buku Borders tepat jam 12 tengah malam. Pulangnya, langsung dia habiskan membacanya hingga tengah hari. Bener-bener deh, buku tebal ratusan halaman ditelan beberapa jam saja.

Alasan dia titip buku Harry Potter terbitan penerbit Inggris pada teman yang datang itu adalah cover-nya lebih bagus…he.he. Ada-ada saja. Memang sih, cover buku Harry Potter yang terbitan Amerika terlalu dry. Bagus juga, saya nggak perlu menunggu anak saya menyelesaikan lebih dulu buku itu, karena sekarang punya dua.

Ketiga, ada juga kiriman sepotong baju batik titipan Nico, teman kantor di CSIS. Tengkyu bung!

Keempat, nah ini asoy geboy. Nggak jadi nonton Samba Sunda di Chicago jadi terobati. Beberapa minggu lalu, teman saya Dicky Saelan nge-buzz di yahoomessenger. Dicky teman kuliah saya di Unpad bertahun-tahun lalu. Dia kasih selamat ulangtahun dan bilang mau kasih hadiah buat saya. Katanya, buat obat rindu mahasiswa di negeri orang dia mau kasih CD lagu-lagu Indonesia. Kebetulan ada teman di Jakarta yang akan ke sini, jadi bisa dititipkan. Tadi, titipan Dicky sudah saya terima dari teman saya.

Ada satu CD lagu-lagu kompilasi Benyamin Sueb yang fantastis itu…he..he. Kita semua tahu, Benyamin adalah seniman Betawi serba bisa dengan talenta yang belum ada duanya. Gaya-gaya lucu Benyamin langsung meruap dalam ingatan saya begitu mendengar CD ini barusan. Lagu-lagu macam Ondel-ondel, Superman, Tukang Kridit, Digebukin, sampai Kompor Meleduk terkumpul di CD ini. Malah ada bonus sisipan biografi dan cerita lengkap tentang setiap lagunya. Saya ingat gaya lucu Benyamin menyanyikan lagu Kompor Meleduk bersama Iwa K, penyanyi rap kondang itu, bertahun lalu disebuah acara musik yang ditayangkan RCTI. Menyegarkan.

CD yang lain adalah kumpulan lagu-lagu daerah/nasional berjudul From Indonesia With Love, yang terdiri dari dua CD. Lagu-lagu daerah diaransemen ulang oleh Elfa Secioria dan dinyanyikan dengan dahsyat oleh Elfa’s Singers. Mendengarkan dua CD ini, seperti tamasya musik nusantara. Lagu-lagu daerah dari Sabang sampai Merauke lengkap tersedia. Mulai dari Dago Inang Sarge (Tapanuli), Laruik Sanjo (Minang), Tokecang (Sunda), Jali-Jali (Betawi) hingga Cik Cik Periuk lengkap diaransemen ulang dan dinyanyikan dengan manis sekali. Ada lagu Bengawan Solo juga, dinyanyikan dengan gaya jazzy. Indah nian. Bener kata teman saya Dicky, CD Benyamin dan Elfa- nya dahsyat. Tengkyu bung…

Heran juga, kalau sedang di negeri orang, memang ada juga rasa rindu tanah air yang tidak bisa juga saya definisikan bagaimana rupanya. Waktu baru sampai di sini, berdekatan dengan malam kultural Asia Tenggara. Ada penampilan grup gamelan mahasiswa bule di kampus saya yang waktu itu tampil bagus sekali. Setelah malam itu, saya ikut mereka latihan main gamelan setiap minggu, karena ingin tahu. Sayang, cuma tahan beberapa kali ikut latihan, lalu saya berhenti. Kuliah padat sekali.
Malam itu, saya dan beberapa teman Indonesia sempat tampil juga, main angklung…he..he. Grup kami main angklung, orang Indonesia, sekitar 8 orang. Kami, orang Indonesia, malah baru pertama kali belajar angklung, dilatih oleh seorang profesor musik orang Amerika keturunan Taiwan yang bukan cuma mahir sekali memainkan beragam alat musik Nusantara, tapi juga Asia Tenggara. Mungkin inilah juga satu aspek globalisasi.

Dari Blog Yusariyanto

Juli 20, 2007

Saya punya karib, Yus namanya. Kenal di kampus Jatinangor waktu kuliah dulu. Yang pertama saya kenal bukanlah orangnya. Tetapi tulisannya di majalah Faktum, yang dikelola mahasiswa Fikom. Kala itu, saya bersama banyak kawan lain di Fisip baru belajar menulis dan belajar membangun majalah di kampus sendiri, Fisip. Tulisan Yus yang pertama saya baca indah dan bernas, bahkan saya masih ingat penggalannya hingga kini (enggak enak dikutip disini, elu bisa malu Yus!..he..he). Setelah membaca tulisannya di majalah Faktum itu, saya mencari orangnya dan mengajaknya berkenalan. Tak lama kemudian saya minta dia mengajari kami semua bagaimana cara menulis yang baik. Untung dia bersedia. Sejak itulah kami menjadi karib hingga kini.

Dibawah ini ada satu coretan terbaru di blognya, blog yang ia desain untuk bertutur pada dua putranya, Havel dan Kafka. Tulisan Yus ini saya ‘bajak’ tanpa izin (pasti elu kasih ijin kan Yus?). Tulisan Yus ini, seperti biasa, menggugah.

Blog milik Yus sendiri bisa di klik di http://blogyusariyanto.wordpress.com. Blog-nya highly recommended!

salam
pjv
——–

Suvenir
19Jul07

Havel dan Kafka,

Andy Budiman, teman sejak masa kuliah, menyodorkan buku itu. Tajuknya Kolom-kolom Kawin: Kado Untuk Fathia Syarif dan Hamid Basyaib. Mereka menikah awal April lalu. Antologi tersebut adalah suvenir untuk para tamu.

Lebih dari dua puluh tulisan, dirangkai nama-nama seperti Goenawan Mohamad, Nono Anwar Makarim, Bondan Winarno, Nirwan Dewanto, Ulil Abshar-Abdalla. Sejumlah karya “orang biasa” menghiasi pula. Begitu pula dengan Fathia dan Hamid yang menyerahkan goresan pena masing-masing. Rata-rata ringkas, cukup banyak yang bernas.

Berikut satu paragraf di sana:

“…tidak ada perkawinan yang tanpa ombak dan gejolak, karena variasi dan kakofoni di luar sana seringkali menggoda. Namun demikian, perkawinan adalah juga pentas jazz, di mana sang pasangan dengan keterampilan, wawasan, dan sadar-diri masing-masing, sanggup memainkan improvisasi tak terduga di atas komposisi yang terencana.”

(Di tengah Kakofoni, Nirwan Dewanto)

Hmm, aku mendadak kangen ibu kalian…

Dokumen Medis Homer Simpson

Juli 8, 2007

Baru dapat medical record langka, hasil x-ray tengkorak dan ukuran otak Homer Simpson . Lucu buangett….:-)

Saya jadi teringat tulisan sebuah stiker galak yang tertempel di pintu ruang kerja seorang profesor di kampus saya: “Make sure your brain is in gear before engaging your mouth!”

thanks to rekan blogger Purnama yang kasih info tempat menemukan dokumen medis ini…:-)