Hubungan Vinyl dan Guitar Hero

Juni 12, 2008

Teman saya Taufiq pergi ‘naik haji’. Ini joke kami berdua saja ketika beberapa hari lalu dia pergi jalan-jalan ke Rock n’ Roll Hall of Fame Museum di Cleveland, Ohio. Buat penggemar musik seperti dia, mengunjungi musim terkenal itu ya seperti naik haji. “Semoga mabrur bung”, begitu saya bilang sambil bercanda waktu dia hendak berangkat menumpang bis malam dari sini ke Ohio, menempuh perjalanan hampir 10 jam lamanya.

Esok siangnya, saya mendapat telepon dari Taufiq yang sudah berada di Ohio. Rupanya dia sedang berada di sebuah toko piringan hitam di sana. Dan ada banyak ‘harta karun’ piringan hitam bekas yang murah-murah disitu. Dia tanya, saya mau dibelikan yang mana. Jadilah, saya mendapat oleh-oleh 4 album piringan hitam yang semuanya masuk list 500 album musik terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone itu. Memang majalah RS edisi 500 album ini sekarang seperti menjadi primbon buat saya. Yang ada di list itu sudah pasti album musik bagus yang bisa dinikmati. Untuk penggemar musik dengan budget terbatas seperti saya, majalah RS itu menjadi panduan menyusun prioritas. Dengan budget terbatas, mendapat musik terbaik..he.he.

Keempat album klasik itu adalah Avalon (Roxy Music, 1973); Who’s Next (The Who, 1971); Destroyer (Kiss, 1976); Pronounced Leh-Nerd Skin-Nerd (Lynyrd Skynyrd, 1973). Di album Who’s Next ada lagu Baba O’Riley yang legendaris itu. Di album ini juga ada lagu Behind Blue Eyes, yang belakangan dipopulerkan kembali oleh grup Limp Bizkit dalam album mereka Results May Vary (2003). Sementara, dalam album Destroyer milik grup bertopeng Kiss ada lagu Beth yang dikenal luas pencinta classic rock.

Tadi pagi saya pasang piringan hitam grup Lynyrd Skynyrd, sementara anak-anak asyik bermain di kamar mereka. Album ini mantap nian. Tidak menyesal dapat album ini. Lagu paling akhir adalah lagu balada Free Bird, yang menjadi anthem grup Lynyrd Skynyrd. Karena habis, piringan hitam berhenti berputar sementara saya tidak sadar karena sedang membaca sebuah artikel. Tiba-tiba anak saya yang paling besar teriak dari kamarnya: ” hey, play that Free Bird song again!”

“How do you know the title is Free Bird?”, saya tanya sambil menuruti permintaannya memutar lagi lagu Free Bird itu. Dia jawab, “It’s in Guitar Hero”. Nah, ini dia.

Saya agak kaget karena dua hal. Pertama, di rumah tidak ada Guitar Hero..he..he. Saya tahu dia suka main Guitar Hero di rumah seorang teman saya kalau kami berkunjung ke sana. Kedua, ternyata game bisa juga menjadi alat edukasi, paling tidak untuk musik. Mainan seperti Guitar Hero potensial melestarikan karya musik rock klasik dari talenta-talenta musik terbaik dan mengenalkannya kepada anak-anak. Mungkin lebih jauh bisa menumbuhkan apresiasi terhadap musik. Jelas lebih baik daripada main game tembak-tembakan atau pukul-pukulan yang boleh jadi menghasilkan preman-preman baru yang cuma mengenal bahasa kekerasan seperti di Monas tempo hari.

Lalu saya tanya ada lagu apa saja yang dia sukai di Guitar Hero. Selain Free Bird, dia menyebut lagu-lagu lain. Diantaranya, lagu Sweet Child O’ Mine dari album Appetite for Destruction milik grup Guns N’ Roses (1989) yang dahsyat itu. Beruntung beberapa hari lalu saya menang bidding di ebay piringan hitam album Appetite for Destruction itu dengan harga super murah. Barangnya belum datang. Mestinya anak saya itu akan suka.

Adiknya lain lagi, suka heboh kalau saya putar piringan hitam lagu berjudul London Calling, milik grup punk The Clash. Kalau ibunya memutar lagu Paint It Black-nya Rolling Stones, mereka juga senang. Dari obrolan dengan anak saya tadi, saya merasa lebih terpacu untuk terus mencari dan mengkoleksi piringan hitam. Yah, justifikasi memang bisa ditemukan dimana-mana..he..he.

Fenomena Obama dan Internet

Juni 12, 2008
Tulisan di harian Kompas.
salam
pjv
————–

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/12/00235024/fenomena.obama.dan.internet

Fenomena Obama dan Internet
Kamis, 12 Juni 2008

Philips J Vermonte

Berakhirnya pemilihan pendahuluan untuk memilih calon presiden dari Partai Demokrat, posisi Barack Obama sebagai figur penting dalam politik di AS kian kokoh.

Banyak tulisan menggambarkan karisma Obama yang ditandai dengan kepiawaiannya berpidato sebagai sebab utama mengapa Obama tampil begitu fenomenal dalam kampanye pemilihan presiden AS kali ini.

Figur baru

Obama yang berkulit hitam dinilai sebagai figur inspirasional, menjadi ajang pembuktian American dream di mana tidak ada yang bisa membatasi mimpi seseorang. Obama menjadi orang kulit hitam pertama yang menjadi calon presiden AS.

Namun, diskusi yang dibatasi karisma atau kepiawaian berpidato akan mengaburkan pesan mendasar Obama, yaitu tentang munculnya sebuah ”politik baru” dalam lanskap politik di AS.

Obama adalah figur baru dalam politik AS. Namun, idealisme dan pengalamannya selama beberapa tahun menjadi community organizer di sudut miskin Chicago selepas lulus Universitas Harvard meyakinkan Obama bahwa politik harus bersifat bottom-up, bukan top-down. Keyakinan untuk mewujudkan politik bottom-up ini mewarnai cara Obama mengelola kampanyenya.

Majalah The Atlantic Monthly (Juni 2008) menurunkan laporan tentang mesin politik Obama. Kunci kesuksesan Obama adalah kemampuannya mengintegrasikan teknologi informasi ke dalam seluruh kampanyenya.

”Kampanye” paling awal Oba- ma adalah sebuah malam pengumpulan dana di Silicon Valley. Pengumpulan dana yang berlangsung sebelum Obama resmi mendeklarasikan diri menjadi calon presiden ini terbukti menjadi basis bagi mesin kampanyenya. Para entrepreneur teknologi di Silicon Valey, dari perusahaan kecil dan besar, bergabung dengan Obama dan membantu merancang kampanye pengumpulan dana melalui internet. Chris Hughes, pendiri situs Facebook—sebuah jaringan sosial berbasis internet paling populer di kalangan mahasiswa dan pelajar di AS— memutuskan cuti dari perusahaannya itu agar bisa bekerja full-time di markas besar tim kampanye Obama di Chicago.

Jaringan sosial berbasis internet itu selanjutnya menjadi tulang punggung penggalangan dana dan media bagi para relawan dalam tim kampanye Obama.

Berkat kecanggihan memanfaatkan jaringan internet, tim kampanye Obama menuai hasil spektakuler. Data terakhir menunjukkan, tim kampanye Obama memiliki 750.000 relawan aktif, 8.000 kelompok pendukung, dan tim ini mengorganisasi 30.000 events dalam 15 bulan kampanye pemilihan pendahuluan. Video-video rekaman pidato dan event-event yang dihadiri Obama bisa diakses gratis melalui podcast di iTunes store. Hasilnya, ratusan ribu orang bisa merasakan gemuruh pendukung Obama di tempat kampanye dan menangkap pesan kampanye melalui layar iPod masing-masing. Youtube, Facebook, iPod-podcast, dan My-space. Secara cerdas, internet dimanfaatkan Obama dengan efektivitas yang tak dapat ditandingi kandidat lain.

Dominasi internet

Donasi melalui internet adalah politik baru yang dibawa tim kampanye Obama. Tercatat, Obama menerima donasi dari 1,3 juta orang melalui internet. Kenyataan ini menghancurkan paradigma lama pengumpulan dana melalui lobbyist dan pebisnis besar. Obama lebih mengandalkan donasi berjumlah kecil dari massa pemilih yang berjumlah jutaan orang. Tim kampanye Obama melaporkan, 94 persen donasi yang mereka terima datang dari individu-individu yang menyumbang kurang dari 200 dollar AS.

Angka ini amat kontras bila dibandingkan dengan 26 persen yang dilaporkan Hillary Clinton dan 13 persen yang dilaporkan John McCain, calon presiden dari Partai Republik. Saat Hillary dan John McCain masih mengandalkan donor-donor besar, Obama mentranslasikan politik bottom- up yang dipelajari sebagai community organizer ke dalam pengumpulan dana kampanye menuju Gedung Putih.

Seperti ditulis The Atlantic Monthly, sejarah AS mencatat, transformasi cara berkomunikasi secara reguler mengubah wajah politik AS. Andrew Jackson membentuk Partai Demokrat saat teknologi printing mengalami kemajuan pesat pada awal tahun 1800-an. Andrew Jackson mengorganisasi editor dan penerbit untuk membentuk partai politik. Abraham Lincoln tampil menjadi tokoh legendaris setelah transkrip debat dalam kampanye presidennya yang terkenal disebarluaskan melalui koran-koran yang saat itu menjamur di AS.

Franklin Roosevelt memimpin AS melalui masa-masa sulit mengampanyekan program New Deal secara efektif melalui pesan regulernya di radio yang saat itu sedang disempurnakan. John Kennedy menjadi amat populer setelah debat antarcalon presiden dan pertama kali disiarkan televisi. Sejak itu, Kennedy cermat memanfaatkan televisi untuk memperkuat citranya.

Gairah baru

Hal terpenting lainnya, kampanye Obama membawa gairah baru bagi pemilih di AS. Bersama Hillary, berlomba untuk mencatat sejarah sebagai calon presiden wanita pertama di AS, tim kampanye Obama berhasil memobilisasi voter turnout dalam jumlah mengejutkan. Pemilihan presiden AS kali ini agaknya akan menjadi counter argument bagi ilmuwan politik Robert Putnam yang dalam bukunya, Bowling Alone (2001), mensinyalir, publik AS kian apatis secara politik, antara lain diindikasikan oleh penurunan secara drastis jumlah pemilih yang memanfaatkan hak pilihnya dari tahun ke tahun.

Philips J Vermonte Peneliti CSIS Jakarta; Kandidat Doktor Ilmu Politik di Northern Illinois University, AS

Surat Untuk Munarman

Juni 3, 2008

Kejadian di Monas beberapa hari lalu begitu mengguncang. Karena saya kehabisan kata-kata, saya copy-paste saja tulisan Yus, seorang kawan lama, di blognya dibawah ini.

Link ke blog Yus: Surat Untuk Munarman

salam
pjv
————

surat untuk munarman

Havel dan Kafka,

Ini kali bukan kisah untuk kalian. Tapi, sepucuk salam untuk seseorang bernama Munarman.

—————-

Assalamualaikum,

Munarman, apa kabar? Saya dengar, polisi sudah mencari Anda. Mudah-mudahan sehat selalu. Jaga fisik senantiasa. Bukankah itu modal utama Anda belakangan ini?! Hal yang Anda sebut “perjuangan” mungkin masih akan panjang.

Nah, soal catatan kiprah Anda di ranah publik, agaknya belum cukup panjang. Saya ingat bahwa Anda pernah menjadi Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras). Anda menggantikan almarhum Munir, yang kemudian juga menjadi korban para durjana. Anda sendiri memasuki lingkungan LSM sejak 1995 saat menjadi relawan di LBH Palembang.

Lepas dari lingkungan LSM hukum, belakangan Anda bergabung dengan Hizbut Tahrir Indonesia–sebuah organisasi massa yang relatif jauh dari praktik kekerasan. Tapi, Ahad lalu, saya lihat Anda memimpin segerombolan orang yang dengan bersemangat menghajar sekelompok orang. Tak ada perlawanan sama sekali dari pihak yang diserang. Darah bercucuran dari kepala. Wajah yang bengap. Tulang hidung yang patah. Seorang perempuan menderita gegar otak. Ya, seorang perempuan–kaum yang melahirkan kita.

Munarman, saya masih ingat, Anda pernah menjadi Koordinator Kontras. Kini, Anda menjelma pelaku kekerasan. Sungguh kontras. Sungguh saya dibelit rasa penasaran, “guncangan besar” apa yang membikin Anda bersalin watak?

Tak lama setelah insiden Monas, Anda berujar, “Kenapa mereka mengadakan aksi untuk mendukung organisasi kriminal? AKKBB juga memasang iklan di koran untuk mendukung Ahmadiyah. Itu artinya mereka menantang kami lebih dulu. Jika tidak siap perang, jangan menantang.”

Bung, setahu saya, Anda adalah seorang sarjana hukum. Bahkan, pernah memimpin Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Dengan luncuran kata-kata itu, saya kira Anda telah menaruh hukum sebagai keset, yang setiap saat Anda injak-injak, Anda rendahkan. Jika ada yang bersuara lain, itu Anda anggap sebagai ajakan berperang. Lalu, Anda pun menyerbu dengan pentungan dan tinju. Sejak kapan hukum mengenal modus penyelesaian perkara seperti itu?

Ah, soal penyelesaian perkara, saya jadi ingat satu hal. Pada 2007, Anda terjerat kasus hukum ecek-ecek. Mobil Anda diserempet taksi Blue Bird di kawasan Limo, Depok. Lalu, Anda menempuh cara ini: merampas kunci mobil, SIM pengemudi, dan STNK taksi tersebut. Kabarnya, Kejaksaan Negeri Depok menyatakan kasus ini siap disidangkan. Tapi, saya tak pernah mendengar kelanjutannya.

Di hari-hari ini, Anda agaknya sulit lolos. Aparat hukum sudah mengincar. Banyak kalangan juga mengharapkan Anda diadili. Harapan mereka: hukum ditegakkan sehingga republik ini masih layak huni, ditinggali secara beradab bin manusiawi.

Akhir kata, sejak kemarin, beredar foto Anda sedang mencekik seseorang. Tapi, Anda berkilah justru sedang menghalau seorang anggota Laskar Islam agar tak anarkis. Oke…oke…

Lalu, Anda melanjutkan, akan menyeret sejumlah media yang memajang foto itu ke polisi. TEMPO secara khusus Anda sebut. Yang mengagetkan, termuat di portal-portal berita hari ini, Anda menyeru agar Goenawan Mohamad, jurnalis senior dan pendiri TEMPO, untuk bersujud dan meminta maaf pada Anda. Bersujud?

Munarman, jangan terlalu lama mengistirahatkan akal sehat…

Wassalam.

Otak Kita

Mei 28, 2008

Saya menemukan artikel menarik dibawah ini dari Kompas Online. Setuju dengan isinya. Kita di Indonesia sepertinya terlalu membebani anak-anak. Dan juga mungkin terlalu kaku soal pendidikan anak-anak.

Saya perhatikan di sini, sekolah anak-anak lebih fun. Pelajaran tidak berat-berat, banyak outdoor activities, dan di sekolah pelajaran olahraga ada setiap hari selama satu jam (sementara SD kita dulu pelajaran olahraga paling banyak hanya satu kali dalam seminggu, mungkin sekarang sudah ditambah).

Di samping itu, community activity berbagai macam olahraga dibentuk sendiri oleh warga untuk anak-anak. Ada sepakbola, baseball, senam, martial arts, renang, dan lain-lain. Selain yang bayar, ada banyak aktifitas komunitas ini yang gratis. Sepanjang penglihatan saya, aktifitas olahraga luar sekolah untuk anak-anak ini selalu dibanjiri peserta. Orang Amerika kelihatannya sangat gemar olahraga, dan menggemari community activity.

Anak-anak mereka dibiarkan bebas, pada saatnya nanti (saat di perguruan tinggi) pelajaran baru menjadi jauh lebih demanding.

Susah juga memang. Kita mungkin khawatir kalau anak kita tidak semaju anak lain. Akhirnya, orangtua membebani anak-anak. Dalam perspektif security studies yang dikenal dalam studi hubungan internasional, ini ibarat security dilemma. Ketika satu negara memodernisasi militernya, negara lain merasa terancam, lalu ikut memordenisasi militernya. Negara lain yang melihatnya, akhirnya ikut juga memodernisasi. Seperti efek spiral. Ujungnya adalah perlombaan senjata yang muncul dari persepsi itu.

Begitu juga kita orang tua di Indonesia. Takut anak kita tertinggal dari anak lain, akhirnya menjejali anak-anak. Dulu waktu anak saya masih TK kecil di Jakarta, saya ikutkan dia les Kumon, karena banyak anak lain ikut Kumon. Seminggu dua atau tiga kali kalau tidak salah. Ketika itu, dari perspektif saya sebagai orangtua, Kumon bagus. Tetapi, kalau dipikir-pikir, mungkin terlalu berlebihan juga anak umur 4 atau 5 tahun dijejali matematika dengan intensitas seperti di Kumon itu.

——————————————-

Otak Bekerja Baik Kalau Manusia Senang
Rabu, 28 Mei 2008 | 18:38 WIB

YOGYAKARTA, RABU – Otak akan bekerja dengan baik ketika manusia merasa senang dan tidak tertekan. Proses itu dimulai pada usia dini, dan berlanjut ke masa anak-anak hingga remaja. Hanya saja, pada usia tersebut, suasana senang dengan bermain sangat kurang porsinya.

Hal itu dikatakan Shifu Yonathan Purnomo, pakar kecerdasan otak yang juga pencipta dan pendiri Shuang Guan Qi Xia International (perguruan kecerdasan otak yang berpusat di Surabaya), Rabu (28/5), dalam Seminar Intrapreneurship di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

“Anak yang sejak di SD hingga SMA dianggap pandai, belum tentu nanti dia cerdas. Itu karena kondisi sekitar membuat otaknya tidak bekerja dengan baik dan maksimal. Ada tahap yang ingin dilompati, biasanya oleh orang tua mereka,” ujar Shifu.

Seorang anak, di masa sekarang, sudah dijejalkan materi pelajaran sejak TK. Bahkan di playgroup, pengenalan tentang huruf-huruf sudah diajarkan. Itu sebenarnya tidak perlu dan belum saatnya. Yang terbaik, anak dibiarkan saja bermain dan bergerak.

“Biarkan saja anak lari-lari. Kalau nggak mau belajar karena lagi malas, ya biarkan saja. Kenalkan dengan olah raga dan hal yang membuat dia banyak bergerak, bukan hanya duduk sambil bermain atau lari-lari bermain di dalam ruang kelas. Dengan banyak bergerak, zat milin sebagai nutrisi otak akan dibuat tubuh,” katanya.

The Silent Return of Vinyl Records

Mei 26, 2008

Taufiq, wartawan the Jakarta Post yang sedang kuliah juga di NIU, menulis artikel mengenai piringan hitam alias vinyl di Jakarta Post edisi hari minggu kemarin.

pjv
——-

The silent return of vinyl records

M. Taufiqurrahman , The Jakarta Post , Chicago, Illinois | Sun, 05/25/2008 12:01 PM | Entertainment

There is one good reason why the movie High Fidelity, based on Nick Hornby’s best-selling novel set in London, was shot in Chicago.

The largest city in the Midwest has been long known as a Mecca for indie rock and the place where a countless number of bands built their credibility. In the days of yore, little-known bands like Slint, Silver Jews, Tortoise or big arena rocker Smashing Pumpkins built their fan base in Chicago while laboring in obscurity under the tutelage of labels like Touch and Go, Drag City and Thrill Jockey Records.

Recently big acts the likes of Wilco and the Breeders repatriated to Chicago to work on their new albums.

But the ultimate reason for the movie being shot in Chicago is the fact that the windy city is home to a large population of independent music stores manned by people who are as devoted as the characters of Rob Gordon and his cranky clerk Barry.

In fact, on a fine day of spring, hungry vinyl fetishists will likely find one of those High Fidelity moments in one of Chicago’s record stores.

Earlier this month, in Kiss the Sky Record store in Geneva, just outside Chicago, I got into a tense argument about the best five rock records of all time with the store manager, Steve.

Steve Warrenfeltz, the 50-something record store owner, could not reconcile his choice of The Beatles’ Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band and Rubber Soul, The Kinks’ Village Green Preservation Society, Jimi Hendrix’s Are You Experienced? and Pink Floyd’s Dark Side of the Moon with my top three picks: Television’s Marquee Moon, Gang of Four’s Entertainment and the Smiths’ The Queen is Dead.

But the upside to having an argument with a bohemian record store manager is that you end up getting a vinyl of the Byrds’ Sweetheart of the Rodeo for just US $3.

“The good thing about running a record store is that we will always bump into crazy people like you guys,” Warrenfeltz told me before I left the store.

Yes, it is this kind of record store that can be found in the Chicago-land area: stores run by dedicated vinyl junkies like Steve, a guy who once worked as a roadie for the Kinks in the mid 1960s and who was more than happy to leave his well-paid job for corporate America only to pursue his labor of love.

For a totally different experience, I recently checked out Dave’s Record in downtown Chicago.

This store takes rock snobbism (or using the popular election jargon elitism) to a new level. The sign on the door to Dave’s Records says it all. “No CD’s!! Never had ’em!! Never Will!!”

Located in the upmarket Chicago District of Clark Street, Dave’s Record caters to the need of hipster college kids who scavenge rare copies of Marquee Moon or the Minutemen’s Double Nickels On the Dime.

A trendy-looking clerk sat up on his platform watching over me salivating over thousands of rare vinyl records.

And when I paid for my purchase, the clerk gave me a disapproving look. He was also probably baffled by my purchase of Marquee Moon, Pixies’ Doolittle and Young Marble Giants’ Colossal Youth.

Or it might have been that I was the first Southeast Asian to visit his store.

Even deep in a Midwestern county like DeKalb, music addicts can still find a decent store that keeps a steady supply of both new and used vinyl records at low prices.

Located in the midst of Northern Illinois University (NIU)’s dorms and lecture halls is DeKalb’s oldest record store Record Revolution, or Record Rev for short.

“Record Rev started up in September 1973, back when Dark Side Of The Moon was at the top of the charts. We started out selling LPs at $4 including tax! Now 34 years later, we are still selling LPs at $4 (in our used department),” store owner Mark Cerny said in the record store website.

The last time I went to the record store, an Indonesian friend got a free LP for buying records worth more than $15.

But the greatest compliment came from one of the store’s clerks, who praised my pal for purchasing the Arcade Fire debut album Funeral on vinyl. I think they became friends after that.

Such is the joy of being a vinyl addict these days, the warmth of human interaction absent from the aisles of Wal-Mart, Target or Best Buy or when one presses the “buy song” button on iTunes.

The proliferation of MP3s, both legal and illegal, has cheapened music, giving true music fans the strong conviction to distance themselves from the crowd and embrace vinyl records.

In recent years, in the midst of slumping CD sales, the sale of vinyl records has soared through the roof.

Time magazine reported last year that 990,000 albums were sold on vinyl, up 15.4 percent from 2006. Music rag Spin also reported that the Chicago-based Music Direct, a purveyor of turntables and new and reissued vinyl has seen the format’s sale surge by more than 300 percent in the last three years.

The rise in the sale of vinyl has driven record companies, indie labels in particular, to issue the work of their artists on vinyl with a price lower than that of the CD format. The price tag for the Shins’ debut album Oh, Inverted World on vinyl is $8, while the CD format is available for $13.

Vinyl has also become the weapon for musicians to lure fans to buy more of their work. After releasing their new album In Rainbows on MP3 format late last year, British avant-garde rockers Radiohead in January released the album in a box set containing two vinyl discs and extended liner notes.

Last month, Warner Bros dusted off its vault and reissued Metallica’s back catalog only on the vinyl format. As of now, only Ride the Lightning and Kill ‘Em All are available on the market. Metallica’s thrash metal masterpiece Master of Puppets will only come out on vinyl on June 10. Next in line will be reissues of early releases from Green Day and the Red Hot Chili Peppers.

On May 20, San Francisco-based record label 4 Men with Beards released Velvet Underground debut album Velvet Underground & Nico for the American market. In the past, 4 Men with Beards has bought the rights to classic records like Aretha Franklin’s Lady Soul, Dusty Springfield’s Dusty in Memphis and Buzzcock’s Singles Going Steady and has started pressing them for the American market.

There is no time like the present to become a vinyl junkie.

http://www.thejakartapost.com/news/2008/05/25/the-silent-return-vinyl-records.html