Mengkaji Lagi Paradigma Realisme

Hari ini harusnya saya ada dua kuliah. Tapi kedua profesornya sedang ada konferensi di Washington D.C. Kuliah akan diganti hari lain. Lumayan lah, jadi bisa nulis-nulis sedikit di sini . Tidak perlu menunggu akhir pekan seperti biasanya.

Ini ada residu dari kuliah International Relations Theory minggu lalu, saya masih penasaran. Setiap pengkaji HI pasti tahu paradigma realisme. Asumsi utama paham ini, sebagaimana dihafal luar kepala oleh setiap mahasiswa HI, adalah kecenderungannya yang state-centric, melihat bahwa state adalah aktor prinsipal dalam hubungan internasional.

Belakangan datang Kenneth Waltz dengan pemikiran neo-realisme-nya: bahwa sistem internasional lah yang menentukan perilaku negara. Karena sistem internasional bersifat anarkis (dalam pengertian tidak ada sesuatu yang lebih sovereign di atas negara-negara berdaulat secara individual), maka negara menjadi ‘egois’. Semua negara akan berusaha memaksimalkan power dan karena itulah perang menjadi wajah hubungan antar negara dari waktu ke waktu. Sehingga, boleh dibilang, studi HI mengerahkan energi nya lebih banyak untuk memahami perang dan bagaimana mencegahnya.

Membaca bahan kuliah dan menghadiri kelas minggu lalu, saya punya kesempatan me-refresh dan menambah pemahaman soal realisme ini.

Akar pemikiran realisme dengan mudah bisa dilacak. Dua nama yang selalu muncul adalah filsuf Yunani Thucydides dan filsuf Inggris Thomas Hobbes. Thucydides terkenal dengan bukunya mengenai perang besar jaman Yunani Kuno yang judulnya The Peloponnesian War. Thomas Hobbes dikenal dengan konsepnya Leviathan, yaitu entitas sovereign yang mengatasi indvidu-individu.

Minggu lalu saya membaca lagi Morgenthau (Politics Among Nations), E.H. Carr (The Twenty Years Crisis), Waltz (Men, State and War), Hobbes, Thucydides dan banyak yang lainnya. Walaupun dominan, paradigma realisme selalu dihujani kritik. Bacaan kuliah minggu lalu pun beberapa diantaranya berisi kritik keras terhadap realisme.

Tiga yang saya sukai dari bacaan minggu lalu adalah tulisan Michael Doyle (dia salah satu pembela Democratic Peace Theory: bahwa negara demokrasi tidak pernah saling berperang dengan negara demokrasi lain) yang judulnya “Thucydidean Realism”, dimuat di Review of International Studies.

Satu lagi adalah tulisan Lauire Bagby di jurnal International Organization, judulnya “The Use and Abuse of Thucydides in International Relations”. Minggu lalu kami juga wajib membaca beberapa bagian dari tulisan asli Thucydides (The Peloponnesian War sendiri adalah kajian epic berjilid-jilid). Saya suka juga tulisan Michael William yang berjudul “Hobbes and International Relations: a Reconsideration”, juga di jurnal International Organization.

Membaca kritik-kritik ini menyegarkan sekali. Jika Thucydides dan Hobbes dibaca ulang, kesimpulannya bisa berbeda dari realisme. Coba tengok sebuah episode terkenal tulisan Thucydides dalam Peloponnesian War itu. Episode ini terkenal dengan sebutan The Melian Dialogue, dimana Athena yang jauh lebih berkuasa mengirim utusan ke Melos, ‘negara’ yang jauh lebih kecil, untuk memintanya tunduk secara sukarela pada Athena atau diancam akan mengalami penghancuran.

Orang-orang Melos bertanya bagaimana Athena bisa merasa memiliki hak untuk menguasai negerinya. Ini jawaban orang Athena yang lebih kuat dari mereka itu: “since you know as well as we do that right, as the world goes, is only in question between equals in power, while the strong do what they can and the weak suffer what they must”.

Sejarah menyebutkan bahwa Melos menolak tunduk sukarela, akhirnya dihancurkan dan toh harus tunduk pula pada Athena yang perkasa.

Paragraf dari utusan Athena itulah yang menjadi basis pemikiran realisme: bahwa tiap negara selalu bertujuan memaksimalkan power dan pengaruhnya atas negara lain. Kodrati.

Padahal, ada paragraf lain yang menarik dari The Melian Dialogue ini. Misalnya pernyataan the Melians kepada utusan Athena: “so that you would not consent to our being neutral, friends instead of enemies, but allies of neither side”.

Ungkapan ini senada dengan pemikiran idealis atau bahkan constructivist. Pernyataan orang Melos ini merupakan pandangan alternatif dari pemikiran realisme ala Athena yang menekankan “security against” yang berujung konflik, dan bukan “security with” yang mengandaikan kerjasama. Konsep security with yang non-realist ini telah dielaborasi juga oleh pemikir-pemikir HI seperti Martin Wight, Hedley Bull dengan konsepsi international society-nya; Alexander Wendt dengan social theory of international politics-nya; ataupun Karl Deutsch dengan konsepsi security community-nya.

Tapi, realisme berpusat pada paragraf awal dari The Melian Dialogue tadi. Bahwa yang kuat akan berkuasa, yang lemah akan menderita. Paragraf itu menjadi dominan mungkin karena menghitung outcome dari Melian Dialogue, yaitu Melos dihancurkan oleh Athena dengan kejam.

Padahal, The Peloponnesian War tidak hanya berisi episode The Melian Dialogue. Memang betul bahwa Athena menghancurkan Melos, tapi kemudian Athena yang menjadi greedy, hancur dan dikalahkan di Sisilia (Sicilian Expedition). Artinya, keputusan Athena menghancurkan Melos bisa ditafsirkan bukanlah merupakan keputusan rasional yang baik (yang merupakan satu penekanan juga dari paham realisme). Karena ia kemudian mendorong Athena menjadi semakin ekspansif dan akhirnya hancur di Sisilia. Sayang, Thucydides sudah terlanjur menjadi ‘trademark’ pemikiran realisme. Padahal, banyak paragraf dari The Peloponnesian War yang seiring sejalan dengan pemikiran konstruktivisme ataupun pemikiran non-realisme lain.

Demikian pula halnya dengan Thomas Hobbes. Hobbes dalam Leviathan memikirkan perlunya kedaulatan negara untuk mengatasi individu manusia ‘yang menjadi serigala’ bagi individu manusia lain. Para pemikir realisme dalam studi HI kemudian menarik analogi dari Hobbes mengenai perilaku individual untuk menjelaskan perilaku negara ‘yang cenderung menjadi serigala’ bagi negara lain. Yang akan membatasi perilaku negara bukanlah kehadiran Leviathan dalam sistem internasional (seperti dimaksud Hobbes dalam hubungan antar individu manusia). Yang membatasi adalah kapabilitas negara itu dibandingkan dengan negara lain. Konsekuensinya adalah tiap negara akan berusaha meningkatkan power-nya, agar tidak ‘dimangsa’ negara lain.

Padahal, Hobbes punya pandangan bahwa: “rational sovereigns cannot act toward each other as individual might because as a corporate body the sovereign must consider the relationship between its external relations and relations with its own citizens. The sovereign, recognizing the foundation of its authority, must be careful not to lose the trust of its citizens”.

Pandangan Hobbes ini seketika mengingatkan saya pada pemikiran republikanisme Immanuel Kant, yang meletakan landasan bagi Democratic Peace Theory: “bahwa negara demokratis tidak akan dengan mudahnya berperang melawan negara demokratis lain, karena mereka harus berkonsultasi dengan warga negaranya sebelum memutuskan pergi berperang.” Immanuel Kant banyak dihubungkan dengan pemikiran idealisme, bukanlah dengan realisme.

Jadi, Thucydides atau Hobbes pemikir realisme atau bukan? Sepertinya perlu dipikirkan ulang dalam-dalam. Kuliah toh masih panjang, masih banyak yang belum dibaca dan dibahas, termasuk teori-teori kontemporer.

29 Tanggapan to “Mengkaji Lagi Paradigma Realisme”

  1. dina Says:

    terusin ntar tulisan loe ya… lumayan… bisa belajar lagi tanpa harus baca tuh buku-buku begituan…
    terakhir belajar realisme dan sebangsanya th 1999 waktu jd asisten Pak Susiswo di HI UMJ; after that… kagak ada yang nyantol lagi di pala… so… bener yah abis kuliah minggu depan loe tulis lagi…jgn nge-blog soal lagu2 rock mulu…

  2. ono Says:

    hehehe.. hurrraaaaay! finally! :)

  3. Bhatara Ibnu Reza Says:

    Hehehehe, saya jadi ingat dialog kita beberapa waktu lalu perihal “perasaan saya” terhadap realisme vis a vis English School. Martin Wight, Hedley Bull, Rosalyn Higgins, C.W. Manning adalah pemikir-pemikir English School yang dahsyat…sayangnya pemikiran mereka tidak mendapat tempat di tanah George Bush. Tetapi untuk saya, pemikirian mereka masih OK sebagai pisau analisis….teruskan lagi bung tulisannya ya…(masih menunggu komentar Bung Philips yang dahsyat)

  4. Yudo Says:

    mantab bos tulisan lo…bener-bener menarik :)

  5. Thamrin Says:

    Gedung kampusnya kereeeeeen…..

  6. amalina Says:

    salam sejahtera. terima kasih sy ungkapkan kerana tulisan anda membantu saya memahami makna International Relation dalam globalisasi berkait realisme. ingin jua sy tahu mengenai kaitan globalisasi dengan pluralisme dan strukturalisme. terima kasih atas jasa baik anda Dr. Philip. moga terus dapat pangkat Dr tersebut.

  7. maya Says:

    salam kenal..tulisannya sangat membantu, setidaknya saya tidak harus membaca buku teori-teori HI berulang-ulang kali untuk paham tentang teori atau paradigma-paradigma HI…lumayan bisa jadi kuliah tambahan n gratis buat saya (maklum masih “hijau” di HI)..makasih..ehm…ada bahasan lain tentang grand theoriesx HI?????

  8. mulyawan Says:

    salam sejahtera untuk kita semua…
    oh ya saya mahasiswa universitas malikussaleh lhoukseumawe minta dilampirkan toeri realisme dalam hubungan internasional….
    terima kasih

  9. philips vermonte Says:

    mulyawan yang baik, terimakasih sudah mampir.

    Coba tengok website berikut:
    http://www.allannoble.net/articles_by_international_relations_theorists.htm

    di website itu bisa ditemukan tulisan-tulisan pakar-pakar mengenai teori hubungan internasional yang bisa di download gratis.

    Semoga bermanfaat

    salam
    pjv

  10. Herawati Moersid Says:

    Saya Hera, mahasiswa pascasarjana HI, Univeristas Parahyangan Bandung, kebetulan latar belakang saya sebelumnya Adm.publik, jadi masih blank2 nih soal teori HI, jadi tolong banyak diulas dong ttg realisme dan yang lainnya, krn sangat membantu saya yang masih awam :). THanks a lot

  11. Andrie Sandi Says:

    Huhhhhh….
    I’m a new comer
    sebagai orang awam yang pengen tau banyak (moga2 bukan pengelana tanpa arah), membaca artikel bung vermont ( atau philips, manggil apa nih?, vermont aja deh) membuat kepala sedikit demi sedikit panas dan cair.
    thanks bung, semoga pemuda2 bangsa kita menjadi analis dan praktisi politik internasional handal yg mampu mengangkat posisi tawar negara ini, secara politik dan determinasi peran internasional.
    thx.

  12. fajri Says:

    asumsi-asumsi realis, liberalis memang menawarkan sesuatu yg menarik di dalam melihat dunia ini..tp jgn sampai kita tjebak dalam kemenarikan yg diperlihatkan o/pandangan2 tsebut..satu hal yg perlu ditekankan ke pandangan2 tsebut..realis, liberalis, dan pandangan2 yg memakai asumsi2positivis tlh menihilkan arti dari manusia itu sendiri, krn mereka melihat nilai2 yg ada dalam manusia sebagai sesuatu yg given dan exogenous..paradigma tsebut hanya dipakai u/mpertahankan status quo yg ada dgn trus-menerus membangun konstruksi sosial dalam ilmu HI..para pelajar HI selalu disodorkan pemahaman bahwa sejarah dunia terbentuk dan terpusat secara linear mulai dari Yunani, romawi kuno, westphalian, enlightment,dll..pertanyaanny skrg,,kmana narasi-narasi yg laen sperti sjarah cina, suku maori, atau bahkan sjarah Ind di dlm ilmu HI??ketika kt trus menerus memahami narasi-narasi besar seperti itu, maka sebenarnya kita (masih) dijajah!dalam bentuk ruang wacana yg tbentuk!skrg, apa kita mau trus menerus mendalami asumsi2 realis, liberalis??pemikiran post,sperti critical theory, konstruktivis, post-col,dan teori2 post-positivistlah yg harusnya dikembangkan di Ind!!ada english school, American school,,maka kita pun sebenarnya bisa melahirkan ind.school of thought asalkan ilmuwan2nya besepakat untk membentuk discourse2 yg ind oriented!bukannya mengembangkan pemikiran2 realis dan liberalis!!!

  13. sari Says:

    apakah bisa disampaikan lebih detail kritik2 thd realisme? dan menurut anda sendiri (komentar) lebih cenderung mendukung paham realisme atau justru termasuk pengkritik. tks.

  14. philips vermonte Says:

    mbak sari, pertanyaannya susah. Bisa panjang jawabnnya…kalau detail kritik-kritik terhadap realisme itu, sebaiknya dibaca langsung sendiri, ruang blog ini tidak cukup. Nama-nama ahli-ahli hubungan internasional yang saya tulis itu, bisa diakses kok tulisannya. Kalau Anda ada di Jakarta, bisa mampir ke perpustakaan CSIS. Bisa di search tulisan orang-orang itu di jurnal/buku yang ada di perpustakaan itu.

    Atau dalam komen saya sebelumnya, saya pernah cantumkan sebuah link yang isinya tulisan-tulisan mengenai teori HI itu yang bisa di download gratis…coba scroll ke salah satu komentar di atas..

    salam
    pjv

  15. Af Zamroni Says:

    Salam kenal, saya roni, politisi dan peminat kajian sosial politik, kebetulan dengan mengakses informasi ini yang disajikan dengan lugas, sehingga orang awam seperti saya bisa lebih cepat untuk memahami HI. Memang bila kita lihat realitas yang ada, negara memang harus kuat agar “tidak dimangsa” oleh kekuatan lain. Hal ini dapat kita lihat pada permasalahan territorial conflict seperti di negera-negara Amerika Latin, di mana suatu negara ada kecenderungan untuk menganeksasi wilayah baik secara paksa maupun diplomatis. Akan tetapi ada kecenderungan bahwa negara sebagai aktor dominan baik dari sisi internal maupun eksternal seakan menemukan relevansinya dengan paradigma realisme, meski kekuatan-kekuatan alternatif untuk membatasi peran negara itu sudah ada. Pertanyaannya yang perlua diajukan ialah bagaimana dengan negara-negara yang lemah (the weak state)/ the third world, apa yang harus dilakukan untuk bisa menahan dominasi kekuatan negara yang kuat?. matur nuwon

  16. Agung Y W, SIP Says:

    Wah, saya sangat interest dengan diskusi ini, kapan2 saya akan menambah sebuah artikel yang pernah saya buat. Memang ilmu tidak akan mendekati kebenaran tanpa adanya sebuah dialketika, itulah yang namanya hidup dan akan selalu mengalami perubahan. Diskusi ilmiah tersebut sangat saya cari dan saya tunggu2 untuk menambah ilmu saya dan implementasi dari refleksi pemikiran yang nyaris mandul karena material

  17. Agung Y W, SIP Says:

    Saya ingin berdiskusi dengan saudara Roni. Saya Agung, seorang sarjana HI. Saya kira mencoba menjawab pertanyaan anda tentang bagaimana seharusnya negara dunia 3 dalam menahan dominasi negara-negara kuat. Dalam ilmu hubungan internasional terdapat teori dependensi (tergantungnya satu negara kepada negara lain) dan interdependensi (satu negara dengan negara yang lain saling bergantung/timbal balik). Nah, negara dunia ketiga sekarang ini cenderung menggantungkan berbagai sektor, khususnya dalam bidang ekonomi terhadap negara-negara yang kuat. Hal inipun tidak terlepas dari sistem politik yang memang cenderung realis namun terbingkai dalam gagasan idealis. Contoh Amerika Latin yang anda ajukan adalah contoh dari mulai bangkitnnya negara dunia ketiga mencoba melawan arogansi penguasa hiperpower AS. Amerika Latin berani menentang segala kebijakan AS karena mereka dapat mengakomodasi national interest mereka sendiri..Kita harapkan saat ini diIndonesia adalah pemimpin yangberani seperti Morales dan hugo Chaves bahkan berani membasmi koruptor layaknya presiden Cina. AS tidak akn tinggal diam ketika suatu negara dapat hidup sendiri tanpa ketergantungannya terhadap negara adikuasa tersebut. gimana pak Roni? Maturthenkyu

  18. papabonbon Says:

    oom, ada anak bandung yg nanya ttg HI nih.

    http://denokrahayu.multiply.com/journal/item/95?mark_read=denokrahayu:journal:95

  19. philips vermonte Says:

    Papabonbon, wah sebaiknya mahasiswa itu bertanya ke dosennya…he..he. Saya nggak bisa masuk multiply, nggak punya account (dulu sekali punya, tapi sudah lupa passwordnya….).

    Kalau mahasiswa Bandung yang bertanya itu kenalan bung papabonbon, mungkin bisa disarankan untuk memeriksa juga posting lain disini:

    https://pjvermonte.wordpress.com/2006/05/29/edisi-khusus-media-indonesia/

    Thanks.

  20. aniez Says:

    saya mahasisiwa HI univ muhammadiyah malang semester baru2 ja,ya alhamdulillah tentang nyang kayak gitu dah tahu nah sekarang tolong tentang teori2 nyang disebut diatas dijelaskan lebih lanjut lagi biar nyang laen bisa lebih tahu secara detail,gituuu…!thank’s ya….

  21. Xenophon, The Melian Dialogue dan Komitmen (1) « Ruang Kata & Ide Says:

    […] tiba-tiba teringat bahwa Philips, kawan di CSIS, sempat mengutip kisah Peloponnesian War di blognya disini-karena Xenophon lahir persis pada zaman Peloponnesian War. Salah satu kisah dalam the Peloponnesian […]

  22. Guntur Says:

    alo, saya Guntur Mhs UPN Yogya. kebetulan bingung t\nyari tentang teori nih,,… bisa bantuin untuk memberikan artikel teori national interest dong!! trims ya atas bantuannya…
    sukses ya bro…

  23. sambaldadakan Says:

    Fiuhhh…By far, ini adalah tulisan yang terberat yg pernah saya baca. Selain mata saya memang tidak tahan di depan layar monitor komputer, tulisan anda kalau dianalogikan berat barbel mungkin sekitar 100 Kg. Tulisan2 anda menyerang saya secara bertubi-tubi! Ampun tulisan! Hehehe…
    anyway, tulisan anda sangat berbobot dan menarik sekali. Meskipun saya tidak terlalu tertarik dengan teori-teori HI, membaca tulisan anda jadi kepingin baca paradigma-paradigma realis secara komprehensif lagi.
    saya punya beberapa pertanyaan buat anda tentang tulisannya Michael Doyle dimana doi berargumen bahwa negara demokrasi tidak pernah saling berperang dengan negara demokrasi lain. Bukankah John Mearsheimer dengan filosofi offensive realismenya justru pernah berargumen sebaliknya? Apakah itu artinya bahwa perdebatan inter-paradigm justru sering terjadi di dalam kubu realis itu sendiri? Apakah pernah ada suatu “aklamasi” teori HI dalam sebuah paradim?atau teori HI sebenarnya tidak pernah dibuat dalam format mutlak untuk menghindari suatu “tirani teori?
    Terima kasih banyak atas jawabannya dan sekali2 mampirlah ke blog saya yang tidak ada apa2nya dibandingkan tulisan2 anda. yah sekedar untuk iseng2 aja ;)

  24. Asrudin Says:

    Jadi, Thucydides atau Hobbes pemikir realisme atau bukan? Bung Philips mengatakan, sayangnya Thucydides dan Hobbes sudah terlanjur dicap oleh kebanyakan ilmuan HI sebagai pemikir realis karena beberapa pandangan dari teks The Peloponnesian War dan Leviathan menunjukkan juga sikapnya yang idealistik. Harus dingat semua kaum realis sebetulnya idealis (dalam arti tetap menginginkan dunia yang aman, stabil dan damai), akan tetapi karena realitas politik internasional terus saja bersifat anarkis disebabkan tidak adanya otoritas internasional (idealis) yang dapat mengatur hubungan antar negara, makanya mereka terus memandang dunia ini secara pesimis: Buktinya perang sejak jaman Kautilya, Thucydides, Machiavelli, Hobbes, kemudian berlanjut di era Carr, Morgenthau, Waltz, Mearsheimer, Walt, Erics Labs, Van Evera, Robert Gilpin terus saja terjadi. Perang adalah sesuatu yang abadi (bertolak belakang dengan impian Kant, Babst, Russet, J. Lee Ray, Maoz, Rummels, Oneal tentang Perpetual Peace atau democratic peace). Selama konflik, perang masih ada, realisme akan terus mendominasi disiplin HI. Satu-satunya cara untuk mengamankan negara dan terciptanya perdamaian adalah dengan memaksimalkan power setiap negara. jika semua negara melakukan hal itu, mungkin keseimbangan kekuatan akan tercipta, disitulah stabilitas keamanan dunia terjadi. Bagaimana Bung Philips…

  25. Ina Mahesti Says:

    saya mahasiswi pasca jurusan kajian wilayah eropa UI, sedang bikin review tentang realisme, so tulisan anda sangat membantu buat pembanding dari buku2 berbahasa asing yang susah dicerna. thx

  26. phuuuTh Says:

    keren2….saya tertolong….cZ lagi bikiN tugaS UAS nie…hWakakaak….

    tHx….^^

  27. meta prima Says:

    sip sip…

  28. Arif Prio Wicaksono Says:

    Salam kenal. Saya Arif Mahasiswa yang sedang berusaha lulus. Mohon kalau berkenan Saya meminjam atau mengcopy Buku John J. Mearsheimer, The Tragedy of Great Power Politics (New York: W. Norton & Company, 2001) yang Anda punya. Di Indonesia susah mendapatkannya. Terima Kasih.

  29. REALISME dalam HUBUNGAN INTERNASIONAL by: Arief Rakhman « Gedubraxxx's Blog Says:

    […] Peter Permonte https://pjvermonte.wordpress.com/2006/09/27/membaca-lagi-paradigma-realisme/ […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: