Archive for September, 2006

Memori Aktifisme Mahasiswa

September 30, 2006

Barusan saya menerima sebuah kiriman dari Jakarta, dari pak Daoed Joesoef. Pak Daoed, sebagian besar orang tahu, adalah mantan Menteri P dan K (sekarang sebutannya Mendiknas) yang sering dianggap kontroversial itu. Pak Daoed ikut serta mendirikan dan aktif juga di CSIS.

Ketika saya pulang sebentar ke Jakarta bulan Juli lalu, saya bertemu pak Daoed. Kebetulan ada perayaan ulang tahun ke 80 pak Daoed di CSIS. Setelah kembali ke Dekalb, saya diberitahu bahwa pak Daoed akan kirim sesuatu untuk saya. Saya kira yang akan dikirim adalah biografi pak Daoed, yang ketika acara ulang tahun itu masih dalam proses pencetakan.

Ternyata, yang dikirim pak Daoed bukanlah biografi. Tapi copy dari dua buah buku tulisannya yang diterbitkan tahun 1991. Isinya  mengenai bagaimana Islam memberi tempat yang tinggi bagi akal dan ilmu pengetahuan. Buku pertama judulnya “Bacalah”, buku kedua judulnya “Isra’ dan Mi’raj serta pesan-pesan Ilahiah”. Dua buah buku ini adalah kumpulan karangan (pidato, ceramah dan artikel di koran) pak Daoed. Selain itu, Pak Daoed juga menyertakan  dua lembar kertas berisi lukisan kaligrafi hasil coretan tangan Pak Daoed berjudul “Iqra’, Bacalah!” Mungkin tidak banyak orang tahu bahwa Pak Daoed adalah seorang pelukis, malah memulai karirnya  sebagai pelukis di Jogja di masa perjuangan kemerdekaan.

Saya akan segera mengirim surat ucapan terimakasih kepada pak Daoed di Jakarta, sekaligus ingin bertanya juga mengapa pak Daoed terpikir mengirim dua buku dengan topik ini. Mungkin tahu dosa saya makin tak terhitung, sementara amal makin tipis, pak Daoed mau mengingatkan agar saya tidak semakin error…he..he.  Hal semacam ini yang saya sukai di CSIS, kultur kekeluargaan yang tinggi. Saling mengirim buku, cendera mata atau hadiah-hadiah kecil adalah kebiasaan di CSIS.

Ketika menjadi menteri P dan K (1978-1983), kebijakan pak Daoed banyak dinilai kontroversial. Dua hal yang diingat orang banyak adalah pelarangan libur sekolah saat Ramadan, dan kebijakan NKK-BKK di kampus perguruan tinggi.

Kalau dipikir-pikir sekarang, memang Ramadan tidak perlu libur. Di masa Gus Dur, selama bulan Ramadan sekolah diliburkan. Tapi sepertinya lebih banyak anak sekolah yang menghabiskan waktu di mall-mall hingga sore. Mungkin mereka tawaf di mall, kalau belum tujuh putaran mengelilingi mall, anak-anak sekolah itu belum mau pulang….he..he.

Soal NKK-BKK, saya hanya mengalami penghujung  dari masa NKK-BKK, karena baru mulai kuliah awal tahun 1990-an di Bandung.  Selama NKK-BKK diberlakukan, praktis organisasi mahasiswa intra kampus (senat mahasiswa) mati. Memang NKK-BKK dimaksudkan agar mahasiswa jauh dari politik praktis.

Setelah saya masuk CSIS tahun 2001 dan kenal dengan pak Daoed, saya pernah bertanya langsung bagaimana dia bisa sampai pada kesimpulan perlunya NKK-BKK. Ketika saya bertanya itu (sekitar tahun 2002 atau 2003), tepat ketika majalah Tempo mengeluarkan edisi khusus mengenai Bung Hatta.  Kami peneliti CSIS yang muda-muda sedang ngobrol-ngobrol santai membahas edisi khusus itu. Kebetulan pak Daoed ikut dalam obrolan itu. Menjawab pertanyaan tadi, pak Daoed bilang bahwa dia ingin mengarahkan mahasiswa Indonesia menjadi pemikir-pemikir yang tajam, seperti Bung Hatta. Jadi  konsentrasilah belajar, bukan berpolitik di dalam kampus, begitu kira-kira jawabannya. Saya memahami uraian pak Daoed itu. Walaupun mungkin ada satu hal yang pak Daoed lupa, Bung Hatta semasa mahasiswa nya adalah aktifis politik di Belanda, sekolahnya pun bahkan tertunda kelulusannya.

Tahun 1990, Menteri P dan K Fuad Hassan, mengeluarkan SK 0457 yang merupakan semacam “pencabutan’ terhadap aturan NKK-BKK. Senat Mahasiswa  boleh didirikan kembali (artinya lengkap dengan organ eksekutif dan legislatifnya). Tetapi tetap tidak bisa kembali seperti sebelum masa 1978, ketika Dewan Mahasiswa berkedudukan sejajar dengan Rektor. Menyikapi SK ini, kampus-kampus terbelah: ada yang menerima dan segera membentuk Senat Mahasiswa lengkap dengan organnya; ada yang menolak mentah-mentah; ada yang pikir-pikir dan kemudian menerimanya.

Yang menerima dan segera membentuk adalah UGM. Juga UI. ITB menolak mentah-mentah. Universitas Padjadjaran tempat saya kuliah, mendiskusikannya panjang. Karena di Unpad, senat mahasiswa tingkat universitas tetap berjalan, yaitu ketua-ketua senat mahasiswa tingkat fakultas berkumpul di tingkat universitas membentuk entitas yang bernama Presidium, yang menjadi lembaga super (di fakultas menjadi lembaga eksekutif, di tingkat universitas menjadi semacam ‘legislatif’).

Akhirnya (kalau tidak salah ingat tahun 1992), Unpad menyelenggarakan pemilu langsung mahasiswa (artinya menerima SK 0457 itu) untuk memilih ketua Pengurus Harian  (PH alias lembaga eksekutif, sekarang namanya BEM). Seru juga ketika itu. Teman saya dari Fisip  memenangkan pemilu raya pertama  itu. Kami lalu sangat antusias dan bergairah untuk memulai dinamika baru kemahasiswaan: mengelola lembaga eksekutif tingkat universitas dengan dana kegiatan kemahasiswaan yang cukup. Rapat kerja segera diselenggarakan, kepengurusan dan program setahun segera tersusun dan siap dijalankan. Kuseryansyah yang baru terpilih itu, menawari saya ikut dalam kepengurusannya. Tapi saat itu saya lebih tertarik ingin belajar menulis dan  membangun majalah mahasiswa Fisip yang baru kami dirikan .  Lagian, saya anak kemarin sore , baru duduk di semester dua atau tiga waktu itu.

Kuseryansyah  menyarankan saya pergi ke UGM, belajar cara mengelola pers mahasiswa dan sekalian mencari tahu pengelolaan Senat Mahasiswa yang sudah lebih dulu berjalan baik di sana. Saya lantas pergi ke Jogja, berkenalan dengan teman-teman pengelola majalah mahasiswa UGM yang namanya Balairung dan koran mahasiswa Bulaksumur (UGM memang  jauh lebih maju dari kampus lain di Indonesia dalam hal pers mahasiswa saat itu).

Saya juga berkenalan dengan ketua Senat Mahasiswa UGM waktu itu,  Anies Baswedan dan kepengurusannya. Lalu diskusi panjang lebar soal dinamika kemahasiswaan di UGM.

Bertahun-tahun kemudian saya malah berteman lebih dalam dengan Anies Baswedan di Dekalb sini,  sama-sama belajar di NIU. Sekarang mas Anies sudah selesai studi doktoralnya, dan sudah pulang ke Jakarta.

Kembali ke Unpad, sialnya, ketua PH Senat Unpad yang terpilih langsung itu tiba-tiba di demo sekelompok mahasiswa.  Tuduhannya galak juga, PH dianggap merupakan kelompok ‘kiri’ dan mereka menuntut pengunduran diri (atau menuntut pemilu ulang, saya tidak terlalu ingat lagi). Yah, kalau baca-baca buku kiri, kami memang hobi waktu itu. Tapi kan bukan cuma buku-buku kiri yang kita baca…namanya juga mahasiswa sospol.

Presidium (ketua-ketua senat Fakultas – lembaga eksekutif – yang menganggap diri sebagai legislatif di tingkat universitas itu) sepertinya berpikiran sama dengan para pendemo. Presidium memang tidak membatalkan hasil pemilu, tapi mereka mengubah AD/ART. Kewenangan ketua PH yang baru dipilih langsung oleh mahasiswa Unpad itu dipangkas sana-sini, menjadi kerdil.

Berhari-hari kami (saya ikut, karena logika Presidium sama sekali tidak masuk akal saya waktu itu) berdebat dengan Presidium, siang dan malam, menolak hal itu. Akhirnya, yang terjadi adalah deadlock. Macet. Frustasi  melanda pengurus PH, tapi tidak melanda Presidium, karena sepertinya memang deadlock itu yang minimal ingin dicapai oleh Presidium.

Itu exposure pertama saya pada politik riil, miniatur politik nasional kita. Konsisten dengan literatur soal proses transisi demokrasi yang banyak saya baca sekarang. Salah satu sebab kegagalan konsolidasi demokrasi di negara-negara yang sedang melaksanakan transisi menuju demokrasi  adalah bahwa hasil dari pemilu yang demokratis tidak dihormati, dimana kelompok yang tidak puas tidak sabar menunggu pemilu berikutnya. Dalam konteks situasi kami ketika itu, malah Presidium boleh dibilang menegasi pemilu yang mereka persiapkan dan laksanakan sendiri.

Sekarang kalau kumpul-kumpul lagi dengan mantan pengurus PH itu , kami sering tertawa bersama mengingat peristiwa-peristiwa dulu itu. Buat saya betul-betul itu masa pembelajaran yang sangat berarti. Selain itu, setelah perdebatan panjang dan melelahkan itu, saya malah bersahabat baik dengan para pendemo dan juga beberapa anggota Presidium itu, hingga sekarang.  Tapi, pak Daoed betul juga. Kalau kebanyakan intrik, mahasiswa nggak akan sempat belajar.

Iklan

Demonstrasi di CSIS

September 29, 2006

Saya barusan baca berita ini di detikcom. Kantor saya di demo..he..he. I don’t know what’s really going on (paling anak-anak CSIS malah foto-foto sama para pendemo…he..he). Sudah lama juga tidak ada yang men-demo di kantor saya, terakhir tahun 1998. “Sebutan” buat CSIS banyak sekali: organ Orde Baru, agen neo-liberal, alat minoritas keturunan Tionghoa, macam-macam lah. Demo ini menambah daftar baru: penyeleweng sejarah Bung Sukarno…

Yah, masih mending daripada kantor Menko Kesra Abu Rizal Bakrie yang ditumpahi 700 kilogram lumpur Lapindo oleh demonstran dari Greenpeace kemarin…he..he
pjv

———

Pendemo Minta CSIS Dibubarkan
Ramdhan Muhaimin – detikcom
Jakarta – Gedung Central for Strategic and International Studies (CSIS) didatangi pendemo. Mereka meminta CSIS untuk dibubarkan. Para pendemo yang berasal dari Barisan Oposisi Rakyat (BOR) itu menuding lembaga pengkajian yang dulu pernah sangat berperan menyumbang banyak konsep Orde Baru ini turut serta dalam penyelewengan sejarah Bung Karno.

“Kami menuntut agar CSIS tidak lagi menerbitkan tulisan atau menggelar seminar yang menyelewengkan sejarah tentang Bung Karno. Kalau tidak lebih baik dibubarkan saja,” kata Ketua Umum BOR, Ana Nurhasanah, di kantor CSIS Jl Tanah Abang III, Jakarta, Jumat (29/9/2006).

Para aktivis BOR melakukan aksi damai di luar ruangan Auditorium CSIS. Ini dikarenakan pada saat yang bersamaan sedang digelar seminar dengan tema ‘Re-examining 30 September 1965 as an Historical Event’.

Dalam orasinya, mereka juga menuntut pemerintah untuk meluruskan sejarah tentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka juga meminta orang-orang yang menulis buku ‘Soekarno File’ ditangkap. “Kita juga meminta supaya seluruh anggota dan anak-anak PKI dalam beraktivitas tidak dibatasi,” imbuh Ana.

Dalam aksi tersebut mereka juga membawa spanduk-spanduk yang bertuliskan ‘Stop penyimpangan sejarah bangsa’, ‘CSIS jangan membedah buku terlarang’.

Aksi damai ini tidak mendapatkan pengawalan ketat polisi. Hingga pukul 17.10 WIB para demonstran masih berkumpul di Gedung CSIS.(ahm/nrl)

Mengkaji Lagi Paradigma Realisme

September 27, 2006

Hari ini harusnya saya ada dua kuliah. Tapi kedua profesornya sedang ada konferensi di Washington D.C. Kuliah akan diganti hari lain. Lumayan lah, jadi bisa nulis-nulis sedikit di sini . Tidak perlu menunggu akhir pekan seperti biasanya.

Ini ada residu dari kuliah International Relations Theory minggu lalu, saya masih penasaran. Setiap pengkaji HI pasti tahu paradigma realisme. Asumsi utama paham ini, sebagaimana dihafal luar kepala oleh setiap mahasiswa HI, adalah kecenderungannya yang state-centric, melihat bahwa state adalah aktor prinsipal dalam hubungan internasional.

Belakangan datang Kenneth Waltz dengan pemikiran neo-realisme-nya: bahwa sistem internasional lah yang menentukan perilaku negara. Karena sistem internasional bersifat anarkis (dalam pengertian tidak ada sesuatu yang lebih sovereign di atas negara-negara berdaulat secara individual), maka negara menjadi ‘egois’. Semua negara akan berusaha memaksimalkan power dan karena itulah perang menjadi wajah hubungan antar negara dari waktu ke waktu. Sehingga, boleh dibilang, studi HI mengerahkan energi nya lebih banyak untuk memahami perang dan bagaimana mencegahnya.

Membaca bahan kuliah dan menghadiri kelas minggu lalu, saya punya kesempatan me-refresh dan menambah pemahaman soal realisme ini.

Akar pemikiran realisme dengan mudah bisa dilacak. Dua nama yang selalu muncul adalah filsuf Yunani Thucydides dan filsuf Inggris Thomas Hobbes. Thucydides terkenal dengan bukunya mengenai perang besar jaman Yunani Kuno yang judulnya The Peloponnesian War. Thomas Hobbes dikenal dengan konsepnya Leviathan, yaitu entitas sovereign yang mengatasi indvidu-individu.

Minggu lalu saya membaca lagi Morgenthau (Politics Among Nations), E.H. Carr (The Twenty Years Crisis), Waltz (Men, State and War), Hobbes, Thucydides dan banyak yang lainnya. Walaupun dominan, paradigma realisme selalu dihujani kritik. Bacaan kuliah minggu lalu pun beberapa diantaranya berisi kritik keras terhadap realisme.

Tiga yang saya sukai dari bacaan minggu lalu adalah tulisan Michael Doyle (dia salah satu pembela Democratic Peace Theory: bahwa negara demokrasi tidak pernah saling berperang dengan negara demokrasi lain) yang judulnya “Thucydidean Realism”, dimuat di Review of International Studies.

Satu lagi adalah tulisan Lauire Bagby di jurnal International Organization, judulnya “The Use and Abuse of Thucydides in International Relations”. Minggu lalu kami juga wajib membaca beberapa bagian dari tulisan asli Thucydides (The Peloponnesian War sendiri adalah kajian epic berjilid-jilid). Saya suka juga tulisan Michael William yang berjudul “Hobbes and International Relations: a Reconsideration”, juga di jurnal International Organization.

Membaca kritik-kritik ini menyegarkan sekali. Jika Thucydides dan Hobbes dibaca ulang, kesimpulannya bisa berbeda dari realisme. Coba tengok sebuah episode terkenal tulisan Thucydides dalam Peloponnesian War itu. Episode ini terkenal dengan sebutan The Melian Dialogue, dimana Athena yang jauh lebih berkuasa mengirim utusan ke Melos, ‘negara’ yang jauh lebih kecil, untuk memintanya tunduk secara sukarela pada Athena atau diancam akan mengalami penghancuran.

Orang-orang Melos bertanya bagaimana Athena bisa merasa memiliki hak untuk menguasai negerinya. Ini jawaban orang Athena yang lebih kuat dari mereka itu: “since you know as well as we do that right, as the world goes, is only in question between equals in power, while the strong do what they can and the weak suffer what they must”.

Sejarah menyebutkan bahwa Melos menolak tunduk sukarela, akhirnya dihancurkan dan toh harus tunduk pula pada Athena yang perkasa.

Paragraf dari utusan Athena itulah yang menjadi basis pemikiran realisme: bahwa tiap negara selalu bertujuan memaksimalkan power dan pengaruhnya atas negara lain. Kodrati.

Padahal, ada paragraf lain yang menarik dari The Melian Dialogue ini. Misalnya pernyataan the Melians kepada utusan Athena: “so that you would not consent to our being neutral, friends instead of enemies, but allies of neither side”.

Ungkapan ini senada dengan pemikiran idealis atau bahkan constructivist. Pernyataan orang Melos ini merupakan pandangan alternatif dari pemikiran realisme ala Athena yang menekankan “security against” yang berujung konflik, dan bukan “security with” yang mengandaikan kerjasama. Konsep security with yang non-realist ini telah dielaborasi juga oleh pemikir-pemikir HI seperti Martin Wight, Hedley Bull dengan konsepsi international society-nya; Alexander Wendt dengan social theory of international politics-nya; ataupun Karl Deutsch dengan konsepsi security community-nya.

Tapi, realisme berpusat pada paragraf awal dari The Melian Dialogue tadi. Bahwa yang kuat akan berkuasa, yang lemah akan menderita. Paragraf itu menjadi dominan mungkin karena menghitung outcome dari Melian Dialogue, yaitu Melos dihancurkan oleh Athena dengan kejam.

Padahal, The Peloponnesian War tidak hanya berisi episode The Melian Dialogue. Memang betul bahwa Athena menghancurkan Melos, tapi kemudian Athena yang menjadi greedy, hancur dan dikalahkan di Sisilia (Sicilian Expedition). Artinya, keputusan Athena menghancurkan Melos bisa ditafsirkan bukanlah merupakan keputusan rasional yang baik (yang merupakan satu penekanan juga dari paham realisme). Karena ia kemudian mendorong Athena menjadi semakin ekspansif dan akhirnya hancur di Sisilia. Sayang, Thucydides sudah terlanjur menjadi ‘trademark’ pemikiran realisme. Padahal, banyak paragraf dari The Peloponnesian War yang seiring sejalan dengan pemikiran konstruktivisme ataupun pemikiran non-realisme lain.

Demikian pula halnya dengan Thomas Hobbes. Hobbes dalam Leviathan memikirkan perlunya kedaulatan negara untuk mengatasi individu manusia ‘yang menjadi serigala’ bagi individu manusia lain. Para pemikir realisme dalam studi HI kemudian menarik analogi dari Hobbes mengenai perilaku individual untuk menjelaskan perilaku negara ‘yang cenderung menjadi serigala’ bagi negara lain. Yang akan membatasi perilaku negara bukanlah kehadiran Leviathan dalam sistem internasional (seperti dimaksud Hobbes dalam hubungan antar individu manusia). Yang membatasi adalah kapabilitas negara itu dibandingkan dengan negara lain. Konsekuensinya adalah tiap negara akan berusaha meningkatkan power-nya, agar tidak ‘dimangsa’ negara lain.

Padahal, Hobbes punya pandangan bahwa: “rational sovereigns cannot act toward each other as individual might because as a corporate body the sovereign must consider the relationship between its external relations and relations with its own citizens. The sovereign, recognizing the foundation of its authority, must be careful not to lose the trust of its citizens”.

Pandangan Hobbes ini seketika mengingatkan saya pada pemikiran republikanisme Immanuel Kant, yang meletakan landasan bagi Democratic Peace Theory: “bahwa negara demokratis tidak akan dengan mudahnya berperang melawan negara demokratis lain, karena mereka harus berkonsultasi dengan warga negaranya sebelum memutuskan pergi berperang.” Immanuel Kant banyak dihubungkan dengan pemikiran idealisme, bukanlah dengan realisme.

Jadi, Thucydides atau Hobbes pemikir realisme atau bukan? Sepertinya perlu dipikirkan ulang dalam-dalam. Kuliah toh masih panjang, masih banyak yang belum dibaca dan dibahas, termasuk teori-teori kontemporer.

Tiga Agama Satu Tuhan

September 23, 2006

Ramadhan datang lagi. Koran kampus Northern Star yang diterbitkan mahasiswa kampus saya NIU hari Jumat kemarin menampilkan dua berita yang oleh redaktur koran mahasiswa itu ditempatkan persis bersebelahan. Yang satu judulnya “Jewish, Muslim students prepare for holidays”. Berita satu lagi judulnya “ Islam’s Ramadan begins next week”.

Berita pertama mengabarkan bahwa mahasiswa Muslim dan Yahudi sedang bersiap-siap memasuki hari-hari sucinya. Ya, tahun ini Ramadan dimulai hampir tepat bersamaan dengan perayaan Rosh Hashanah, perayaan tahun baru Yudaisme, agama Yahudi. Tradisi Rosh Hashanah sepertinya sama dengan Idul Fitri. Yang disebut Rosh Hashanah dimulai setelah matahari terbenam hari Jumat, hingga malam hari Minggu. Selama tiga hari itu, mereka berkumpul bersama keluarga, sehingga ada juga tradisi mudik seperti kita saat Lebaran setelah puasa Ramadan di Indonesia.

Setelah tiga hari Rosh Hashanah, selama sepuluh hari berikutnya adalah hari-hari saling memaafkan, dimana mereka berusaha minta maaf secara langsung kepada orang-orang yang pernah mereka rugikan atau yang pernah dilukai perasaannya. Setelah selesai sepuluh hari itu, tanggal 1 Oktober adalah hari raya lain lagi, namanya Yom Kippur. Hari itu adalah hari urusan ‘vertikal’, minta ampun pada Tuhan, setelah minta maaf ‘horizontal’ pada sesama manusia dilakukan selama sepuluh hari sebelumnya. Hal ini sepertinya tidak berbeda dengan ajaran Islam: Tuhan tidak memaafkan kesalahan kita terhadap orang lain, kecuali setelah kita meminta dan mendapat maaf secara langsung dari orang yang bersangkutan.

Berita yang kedua, isi seluruhnya tentang Ramadan. Northern Star mewawancarai wakil-wakil dari Muslim Student Association-nya NIU. Tentang puasa Ramadan, apa hakikatnya, dan bagaimana puasa Ramadan dijalankan, serta tentang Idul Fitri. Sekalian dimuat pengumuman aktifitas Ramadan yang akan dilakukan MSA di kampus kami, namanya fast-a-thon, yang di dalamnya akan ada pengumpulan dana, dan mungkin juga buka puasa bersama yang turut mengundang mahasiswa dan para profesor yang non-Muslim untuk hadir. Tradisi semacam ini banyak dilakukan di kampus-kampus lain di Amerika. Ada teman di Stanford Uni tahun lalu menceritakan bagaimana banyak anggota komunitas kampusnya yang non-Muslim yang hadir dalam acara buka puasa bersama yang diadakan beberapa kali selama Ramadan tahun itu. Malah ikut puasa juga.

Saya baca penulis dua berita ini adalah reporter Northern Star dari desk yang mereka namakan diversity beat. Rupanya, Northern Star punya desk khusus untuk masalah-masalah diversity. Salah satu hasilnya, ya berita bersebelahan mengenai hari-hari suci dua agama itu, yang di berbagai tempat lain di dunia terlibat konflik tiada henti turun temurun.

Rupanya koran mahasiswa kampus saya ini memiliki komitmen untuk menjadi public space, tempat keberagaman dirayakan. Membaca dua berita itu menyejukan, mengalahkan potensi emosional dari dua tulisan lain, yang juga dimuat oleh Northern Star hari itu juga. Yang pertama tentang berkumpulnya 1000 orang ulama dan intelektual Muslim di Pakistan menuntut agar Paus Benedict XVI dicopot dari ke-Paus-annya setelah ceramah kontroversialnya di Jerman beberapa waktu lalu. (hmm….sepertinya menuntut komunitas agama lain untuk mengganti pemimpinnya terlalu berlebihan…)

Berita satu lagi sebetulnya adalah surat pembaca, tetapi cukup panjang. Penulisnya memprotes koran Northern Star yang sebelumnya mengkritisi juga Paus Benedict XVI atas pernyataan kontroversial di Jerman itu. Penulis surat pembaca itu menganjurkan redaktur Northern Star untuk membaca lengkap ceramah Paus Benedict XVI, yang katanya berisi juga kritik keras Paus terhadap Barat, dan artinya otokritik terhadap Kristen/Katolik.

Well, saya lebih tertarik pada co-existence, hidup damai berdampingan. Seperti dua berita bersebelahan di Northern Star tentang Rosh Hashanah – Yom Kippur dan Ramadan – Idul Fitri itu.

Omong-omong soal co-existence, di Chicago ada sebuah jalan di daerah Devon, dimana toko-toko daging halal berada. Uniknya, jalan di Devon itu tidak hanya menjadi tempat adevon.jpg

toko-toko penjual daging halal milik dan untuk komunitas Muslim. Ada banyak juga toko-toko daging ‘halal’ milik dan untuk komunitas Yahudi, alias kosher (orang Yahudi tidak sembarangan makan daging). Selain toko daging, juga ada banyak restoran shabiha (daging halal) milik Muslim, dan banyak restoran daging kosher yang dimiliki dan dikunjungi orang Yahudi. Lebih meriah lagi, ada juga toko-toko India (Hindu?), mulai dari toko kain, restoran dan barang-barang kelontong ala India. Toko-toko dan restoran dari komunitas agama dan etnik berbeda ini terletak berdampingan sepanjang jalan di Devon.

Sekali waktu di Devon, saya berjalan melewati sebuah restoran yang hanya menyediakan daging dari kosher milik orang Yahudi. Di etalasenya dipasang sebuah poster besar. Saya berhenti di depan etalase untuk membaca poster itu. Lewat poster itu si pemilik restoran mengecam Israel atas segala tindak tanduknya terhadap Palestina. Ada banyak juga memang orang Yahudi yang tidak suka dengan Israel.

Yahudi memang tidaklah identik dengan Israel. Israel adalah entitas ideologi yang lahir dari gerakan politik Zionisme, sementara Yahudi adalah atribut etnik-relijius. Kita toh tidak bisa memilih apakah akan terlahir sebagai orang Yahudi atau orang Jawa, misalnya. Tapi tentu kita bisa memilih untuk tidak setuju dengan pilihan politik tertentu seperti Israel itu. Karena, sekali lagi, Israel adalah konsep mengenai sebuah entitas ideologi politik. Malah ada gerakan Yahudi Amerika, namanya Not In Our Name. LSM Yahudi Amerika ini sangat tidak setuju pemerintah Israel yang sepertinya selalu mengatasnamakan agama Yahudi. Soal ini, mereka yang mendalami studi social movement tahu bahwa Amerika memiliki banyak case menarik untuk bahan studi karena kultur partisipasi politik yang tinggi melahirkan beragam jenis kelompok kepentingan (interest group).

Kembali ke Devon, di sana dengan mudah ditemui pemandangan unik. Ulama bersorban dan berjanggut panjang lalu lalang, berpapasan adem ayem dengan rabi-rabi Yahudi dengan topi tinggi dan jas hitamnya, juga dengan janggut panjang (waktu masih gandrung dengan bacaan-bacaan kiri selagi kuliah di Bandung dulu, teman-teman sering bercanda bahwa Karl Marx juga patut dianggap sebagai nabi karena Marx juga berjanggut panjang…he..he). Islam, Kristen, Yahudi sejatinya adalah agama Ibrahim yang monoteis. Saya jadi ingat sebuah buku terbitan Mizan yang membahas ini. Judulnya adalah “Tiga Agama Satu Tuhan”.

Music and food: What else do we need?

September 17, 2006

I just added two blogrolls here. One is a blog about the Rockstar Supernova show, a summer-long reality show on CBS searching for new rockstars that has just finished. Among the juries in the show are Tommy Lee of Motley Crue and Jason Newstead the former bassist of Metallica. Those who missed the show can watch videos of selected performances of the contestants that are made available in the blog. I put it under ‘miscellaneous’ category.

Another link is on the culinary experience of Ari Margiono, a friend of mine, in Jakarta. He just started a new blog. It’s gonna be an inspiring blog i believe. I like the idea of writing down our experience (and thinking) in finding new (and old too) interesting eating places everywhere. Ono is right in telling me that there are always long philosophical and historical stories behind every food we eat everyday.

In fact, if time and budget allow, I would like to visit Burma one day. Burmese food must be great. We know that Burma is surrounded by countries with great foods (and great civilizations): China, India and Thailand. I suspect, Burmese food is sort of a mixture of the great taste of Chinese, Indian and Thai foods. Yummy…