Archive for Agustus, 2006

Minutes of Life

Agustus 27, 2006

Since August 23rd, the day when my dear friend Dicky passed away , I have been trying very hard to think why I felt so moved by his sudden departure.

As time goes by, I find the reason for my deep grief. Dicky always took time to greet me, here in my weblog or through emails. He dropped me a line or two, posted comments on my blog or sent emails. Such a ‘little thing’ I realize now is important in every relationship. Dicky showed me the true meaning of ‘care’. Email, SMS, a buzz on Yahoo messenger, comments on weblog, are meaningful in nurturing friendship.

Life goes on. Yesterday my family and I went to Geneva, a city nearby Dekalb where we live. My wife went to a shoe store looking for pairs of winter shoes for the kids and her (summer is nearing its end, fall is just a few weeks away and soon we will have that cold winter again ). Meanwhile, I indulged myself in a movie and CD store, one block away from that shoe store.

America is a heaven for book lovers (and students for sure). Here, we can buy cheap used books online or at used book stores. There is a famous store in Chicago that only sells used books. It’s called Powell Book Store, and it is so huge.

I guess, the same is true for movie and CD lovers (well, I am not talking about pirated DVDs or CDs for which Indonesia earns its notoriety). Here, I may find (original) used DVDs or CDs as cheap as four dollars, sometime less. Although used, these DVDs/ CDs are still in a very good shape. The pages of used books, in my experience of buying them online, are usually still crispy, just like new.

In that store in Geneva, I bought a CD of R.E.M, the used one. Why would I spend 25 dollars or more, while I could have it for only five or six dollars? Perhaps the cover and box of a CD consume a substantial part of its production cost. Well, who needs the cover or the box these days? Insert the CD into your laptop, burn or store it in iTunes, and forget the cover and the box.

It’s The Best of R.E.M.: In Time (1998-2003). It’s quite an old CD though. I looked for it because when I was in Jakarta two weeks ago, I watched the R.E.M. live show on TV. If I remember it correctly, it was on Star TV, right after one of the Rockstar Supernova shows. Both were great shows, I enjoyed them.

In the CD I just bought, I found all songs played by R.E.M. in that particular live show: including Losing My Religion, Electrolyte, and Everybody Hurts. The band provided the story about the creative process of each song: how they wrote it, how long did it take to produce it etc. I was amazed to find out how easy it was for them to create Losing My Religion, the greatest song of R.E.M. (he…he…in this particular case, I am glad that I have the cover of the CD).

This is what Peter Buck of R.E.M. wrote about Losing My Religion : “the music was written in five minutes; the first time the band played it, it fell into place perfectly. Michael had lyrics within the hour, and while playing the song for the third or fourth time, I found myself incredibly moved to hear the vocals in conjunction with the music…if only all songwriting was this easy!” (For a student like myself: if only all paper writing is that easy….he…he).

Perhaps, when they created that song, they were in an atmosphere about which Malcolm Gladwell was talking in his book “Blink: The Power of Thinking Without Thinking”. It’s all already in the air (or in their heads), the band lassoed it, thanks to the good chemistry among the members of the band. As a comparison, another R.E.M.’s good song, Electrolyte, took one year to be finished. Started to write the song in 1995, the band was only able to finalize it in 1996.

Five minutes changed everything for R.E.M., from a band in the minor league into one of the greatest on the world stage. Only five minutes. Strangely enough, when I read the story of that song, my memory came back to my dear friend, Dicky. He seemed to treasure every minute of his life. He passed away after Subuh prayer, and on that very day he was also fasting (he had his ‘sahur’, performed Subuh prayer, then went back to sleep and he’s gone).

Paulo Coelho, in The Alchemist that I read about two years ago, says that there is no such thing as ‘coincidence’ in our universe. Everything is well connected and well designed.

We had lunch at an oriental restaurant today. In oriental restaurants, the cashier will give costumers fortune cookies when they are ready to check out.

I did not eat the fortune cookies we got from the restaurant until a while ago, just before I decided to write this post. As usual, I found a piece of paper slipped in the fortune cookies with a message written on it. I rarely read what the paper in fortune cookies says, but this time I did. It says: “His existence contributes positively to mankind.” On the flip side of the paper, there is a Chinese word “li-wu”, which means ‘gift’. It’s not a coincidence that I got the fortune cookies with such a message, or was it?

Once again, my mind came back to him. Dicky was a gift in that his sudden but beautiful departure has taught those who know him one thing: always treasure every single minute of our life, in every way we can. Dicky did it, although frankly I am not sure I can.

Iklan

Selamat Jalan Buat Dichiya (alumni HI Paramadina 2001)

Agustus 23, 2006

Saya pernah mengajar Dicky di beberapa kelas di jurusan HI Universitas Paramadina. Akhir-akhir ini, saya cukup dekat dengan dia. Mendengar kabar berpulangnya Dicky subuh tadi, sungguh mengejutkan. Saya ingin share kenangan saya tentang dia, yang penuh semangat dan cita-cita. Only the good die young.

Dekalb, Illinois 23 Agustus 2006
pjv
————————-

I

Tadi jam 9 malam waktu sini (berarti jam 9 pagi di Jakarta) saya menyalakan komputer, lalu online. Agak aneh juga perasaan saya tadi, karena melihat Dicky tumben tidak online. Biasanya, pagi-pagi di Jakarta dia sudah online. In the past few months, we have been engaging in serious discussions. About his life, his study at UI and his future plans. Saya merasa lemas seketika saat mendapat message dari Peni Hanggarini, dosen HI Paramadina, yang juga akan segera menjadi kolega dan teman Dicky sebagai sesama pengajar. Sesudah Dicky lulus, kami menjadi kawan sangat karib. Lewat email dan Yahoo Messenger. Selain menyapa saya dengan “Mas”, Dicky juga memanggil saya dengan panggilan “Bung”, which is fine). Kami juga menjadi dekat, karena Dicky sering mampir ke blog saya atau saya yang mampir ke blog dia (http://dichiya.wordpress.com).

Kemarin malam kami masih chatting, kalau tidak salah, sejak jam 10 malam sampai jam 2 pagi waktu sini. Ada banyak hal yang kami bincangkan. Yang jelas, perbincangan kami topiknya selalu sama sejak beberapa bulan terakhir: niat Dicky untuk menjadi dosen, sekolah lagi, dan menikah.

[Semalam saya yang duluan menyapa dia (soalnya Dicky selalu bilang: “Mas, sapa-sapa kite kalo online yak!”). Saya bilang: “Bung, sori, kemarin saya menghilang tiba-tiba di tengah chatting.” Dicky bilang: “Kenapa Mas, ada lambang Batman menari-menari di depan apartemen, lalu Mas harus pergi memberantas kejahatan?..he..he”. Saya bilang: “bisa aja ente. Nggak enak sama istri, baru pulang dari Jakarta tiga minggu malah chatting terus”. Dicky lalu tertawa geli, pasti keras sekali…he..he]

Well, Dicky cerita sedang mau coba mendaftar beasiswa Chevening ke Inggris. I encouraged him to apply. Saya bilang kalau dia perlu surat rekomendasi, saya akan menuliskannya (saya sudah pernah minta maaf karena salah komunikasi, saya tidak sempat menulis surat rekomendasi untuk dia waktu dia akan melamar beasiswa Ausaid tempo hari).

Yang membuat saya bahagia bukan kepalang waktu chatting semalam adalah saat Dicky mengirimkan via email rancangan silabus (SAP) mata kuliah Politik Internasional yang akan dia pegang mulai tanggal 7 September mendatang di Paramadina. Dia cerita penuh semangat soal silabus itu, dan cerita betapa senang hatinya akan mulai mengajar di almamater sebagai dosen luar biasa. Dan dia minta saya memberi input untuk SAP itu, saya berjanji akan mengirimkannya hari ini.

[Saya selalu terharu kalau bertemu orang yang berminat dan berusaha keras menjadi guru atau dosen. I don’t know why. Maka waktu dulu Dicky bilang ingin sekali menjadi dosen, saya forward langsung sebuah email dari kawan saya di Universitas Islam Negeri (UIN) Ciputat yang mengabarkan pembukaan lowongan dosen HI, karena UIN akan segera membuka jurusan HI. Dicky melamar dan sudah interview di sana, setahu saya hasilnya positif. Waktu itu saya sempat kontak teman lama di UIN yang mengurus rekrutmen itu, saya bilang: “I highly recommend him to take up the position”. Temen saya di UIN kemudian bilang “He is really good”.]

Semalam Dicky cerita bahwa dia akan mengundurkan diri dari penerbit Erlangga, tempatnya bekerja sebagai editor buku saat ini, tanggal 15 September (dulu dia pernah bilang akan berusaha tidak mengundurkan diri, karena bermaksud menabung karena ada niat untuk menikah). Dia bilang mau konsentrasi menyelesaikan thesis S-2 nya di UI, dan konsentrasi mengajar di Paramadina, walaupun masih berstatus dosen luar biasa. Saya sempat tanya tadi malam: “Loh kenapa mengundurkan diri? Memang tidak diizinkan mengajar oleh kantor?”. Dia menjawab bahwa itu saran dari Erlangga, agar memilih salah satu saja. Agar fokus. Erlangga pun legowo kalau mengajar adalah pilihan Dicky.

Dia memilih mengajar, walaupun kami sering berdiskusi mengenai minimnya economic reward dari pekerjaan-pekerjaan intelektual di Indonesia, entah sebagai dosen, peneliti atau editor buku (sungguh negeri yang aneh!). Tapi, melihat semangatnya, saya berusaha menyemangatinya dengan bilang bahwa rezeki toh ada dimana-mana, we will always be well taken care of. Dan dia setuju [dia pernah bilang pada saya bahwa dia ingin menjadi dosen karena sebuah ucapan yang pernah saya lontarkan ke dia, sewaktu dia masih mahasiswa di Paramadina. Yang saya sampaikan waktu itu adalah sebuah ucapan Imam Ali Bin Abi Thalib k.w. bahwa membaca satu bab dari sebuah kitab penuh ilmu pengetahuan bisa sama nilainya dengan ribuan rakaat shalat sunah].

II

So, ketika sudah offline tadi malam ( semalam seperti biasa dia juga tidak lupa bilang: “Mas, besok kalo online sapa-sapa kita yak” — Tadi saya online, kamu sudah nggak ada Bung…), saya membaca silabusnya. Saya bersenang hati bahwa Dicky serius sekali mempersiapkan silabus itu. It is so well prepared and well-written. Membacanya, saya yakin Dicky akan menjadi pengajar yang baik dan akan menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswanya di kampus.

Karena tidak bisa juga tertidur, saya membongkar-bongkar jurnal dan buku yang ada di rak saya, berpikir keras input apa yang bisa saya berikan pada Dicky yang sedang bersemangat mengajar. Saya ingin memberi input yang baik, agar dia semakin bersemangat dan mencintai pekerjaannya sebagai dosen nanti.

Kebetulan saya berlangganan jurnal Foreign Policy, dan edisi terbarunya baru datang kemarin siang. Belum saya buka, masih terbungkus plastik. Segera saya buka, dan seketika itu pula saya tahu input apa yang bisa saya berikan pada Dicky.

III

Dicky, ini beberapa inputnya, saya tulis disini (belum sempat terkirim, kabar duka kepergian ente mendahului saya). Saya berjanji akan memberi input, dan janji adalah hutang. Ini dia:

1. Coba pergi ke perpustakaan kantor saya CSIS, mereka berlangganan jurnal Foreign Policy. Periksa edisi paling baru (Agustus/September 2006). Topik utamanya After Five Years (11 September 2001 – 11 September 2006). Has the world really changed? Maksud saya, yang bisa dipertajam dari silabus yang ente bikin adalah sisi periodisasi. Saya suka approach yang kamu ambil untuk menjelaskan dinamika politik internasional (bung menggunakan ragam instrumen: senjata, diplomasi dan organisasi internasional). Akan lebih baik lagi bila ente bisa mendiskusikannya dengan mahasiswa dalam konteks events dan periode penting dalam politik internasional (Perang Dunia I, II, Cold War, Post Cold War, Post September 11). Tulisan-tulisan di Jurnal FP yang baru itu banyak yang bisa diambil. Mereka berargumen bahwa politik internasional tidak berubah sejak September 11. Argumen-argumenya silahkan dibaca sendiri di jurnal itu..he..he.
2. Saya lihat ada item khusus soal Al Jazeera (media dan propaganda?) di SAP ente. Coba periksa juga jurnal Foreign Policy sebelum edisi ini, dalam rubrik Think Again ada bahasan soal Al Jazeera, mana yang myth dan mana yang real (saya pernah tulis di blog saya juga kan soal Foreign Policy edisi ini?).
3. You did your homework. Daftar bacaan yang kamu survey dan akan kamu wajibkan untuk mahasiswa sangat baik dan sangat relevan. Sedikit masalahnya, coba kita ingat-ingat pengalaman kuliah di Paramadina, mahasiswanya mau membaca buku kah?..he..he. Maksud saya, nanti ente harus melihat dinamika kelas, kalau ternyata beban bacaan terlalu banyak, maka ente harus kreatif mencari cara agar mereka mau membaca atau minimal points yang ingin ente sampaikan lewat bacaan itu bisa sampai dengan cara yang lain. Misalnya, kliping, diskusi pendek di awal perkuliahan 10-20 menit mengenai topik-topik headline di surat kabar atau majalah? Ada banyak cara. Saya suka kelas kamu angkatan 2001 dulu, aktif dikelas (walaupun tetap terasa banyak yang nggak baca buku juga…he..he). Semoga ente bisa membuat kelas yang dinamis nanti.
4. Good luck Bung. Kalau ada apa-apa yang bisa saya bantu, email aja.

IV

Dicky, dipanggil Pulang selagi tidur seusai shalat Subuh tadi pagi seperti ente, indah nian. Selamat jalan, selamat beristirahat. Kami akan baik-baik saja di sini, melanjutkan semangat Bung dalam belajar dan mengajar. Sampai bertemu lagi.

Otobiografi Ahmad Syafii Maarif

Agustus 21, 2006

Indra J Piliang (IJP), kolega saya di CSIS, berbaik hati menitipkan sebuah buku lewat seorang teman yang kebetulan pulang ke Jakarta. Buku itu adalah otobiografi Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum Muhammadiyah itu. Judulnya “Otobiografi Ahmad Syafii Maarif: Titik-titik Kisar Perjalananku”. Ketika teman saya itu pulang ke Dekalb, saya justru berangkat ke Jakarta, sehingga baru ketika saya juga pulang ke Dekalb beberapa hari lalu buku itu saya lihat.

Ketika otobiografi itu diluncurkan dua bulan lalu, saya memang minta bantuan IJP untuk mencarikan satu eksemplar. Saya ingin membacanya, apalagi setelah membaca tulisan kawan baik saya Sukidi, kader Muhamadiyah yang sedang studi di Harvard University, yang dimuat di harian Kompas di hari peluncuran buku itu di Jakarta. Terlebih ketika Sukidi memforward sms beberapa orang yang telah membaca otobiografi itu, bagaimana orang-orang itu terharu membaca perjalanan hidup Buya Syafii.

Buya Syafii saya kenal hanya dari jauh, tidak pernah saya kenal secara pribadi. Saya kenal Buya dari tulisan-tulisannya, atau dari berita-berita di koran. Dari amatan jauh itu tampak oleh saya bahwa Buya adalah penjunjung tinggi paham pluralisme dan sadar betul atas keberagaman di Indonesia. Dari tulisan-tulisannya yang pernah saya baca pun tampak kedalaman pengetahuan dan pemahaman Buya akan beragam masalah. Mungkin karena itu Buya mudah diterima beragam golongan. Ia tidak menjadi tokoh agama yang ditakuti, tapi di hormati, tidak hanya oleh kalangan Muhammadiyah, tapi juga bahkan oleh kelompok agama lain.

Di dalam copy buku yang dititipkan IJP, terselip sebuah makalah pendek Buya. Dari footnote nya saya tahu bahwa makalah itu dipresentasikan tanggal 20 Mei 2006 lalu di depan Perhimpunan INTI, sebuah perhimpunan masyarakat Tionghoa di Jakarta.

Semula saya kira makalah itu adalah bagian dari otobiografi Buya. Ketika saya bertemu dengan teman yang membawa buku itu dari Jakarta ke Dekalb (dia seorang keturunan Tionghoa, dari keluarga Kristen yang taat), saya baru tahu bahwa makalah itu sengaja diselipkan oleh ayahnya untuk saya. “Bokap gue pengagum Ahmad Syafii Maarif, dia suka datang ke seminar-seminarnya. My father thought you might be interested in that short paper”, begitu kata teman saya itu. Saya mengucapkan terimakasih, dan bergembira juga karena sebuah silaturahmi terjalin dengan ayah teman saya itu. Penghubungnya adalah buku otobiografi Buya Syafii itu. Ini juga menunjukan bahwa ‘pembaca’ Buya datang dari lintas agama berbeda.

Sesampai di Dekalb, saya harus memilih buku mana yang ingin saya baca duluan. Ketika di Jakarta, saya mewawancarai beberapa orang untuk keperluan sebuah paper yang sedang saya tulis. Salah satu yang saya wawancarai adalah Wiranto, mantan Pangab TNI itu. Wiranto memberi saya beberapa buku yang dia tulis, yang sepertinya semuanya ditulis untuk meng-counter tuduhan pelanggaran HAM berat yang dialamatkan kepadanya…he..he.

Selain itu, ada tiga majalah Economist yang datang selama tiga minggu kepergian saya. Juga ada jurnal Political Science & Politics edisi terbaru. Lalu masih ada kewajiban menyelesaikan paper…pusing juga….

Akhirnya saya putuskan untuk membaca otobiografi itu. Tidak menyesal saya membaca buku itu duluan. Saya belajar tentang keteguhan hati dari Buya Syafii. Betapapun kesulitan ekonomi menghadang dalam perjalanannya menjadi intelektual besar, dia istiqamah. Anak pertamanya, kebetulan bernama Salman (sama dengan nama anak saya he.he) meninggal ketika masih berusia 20 bulan di Jogja ketika Buya masih kuliah di sana. Kata Buya dengan sedih, mungkin karena kurang gizi, karena saat itu keluarga kecil mereka hidup teramat susah.

Buya kemudian mendapat beasiswa Fulbright, lalu belajar di Northern Illinois University, tempat saya sedang belajar sekarang. Studi di NIU tidak berhasil diselesaikannya. Buya mengundurkan diri, karena mendapat kabar anak keduanya sakit keras di tanah air. Buya pulang, sempat menunggui anaknya di rumah sakit. Takdir menentukan lain, anak kedua ini pun setelah beberapa lama akhirnya meninggal dunia. Buya harus membawa pulang jenazah anaknya dengan becak ke rumah.

Tuhan Maha Baik. Buya kembali mendapat beasiswa Fulbright, bisa melanjutkan studi lagi. Master di Ohio University, lalu PhD di University of Chicago dimana Buya berguru pada cendekiawan besar muslim Fazlur Rahman, yang juga merupakan guru dari almarhum Cak Nur. Keluarga kecilnya (Buya dikaruniai seorang anak lagi) pun ikut ke Chicago.

Dari orang-orang yang mengenalnya dari dekat, saya mendapat cerita bahwa Buya selalu hidup sederhana dan bersahaja. Bahkan rumah kecilnya di Jogja baru lunas cicilannya beberapa tahun lalu.

Satu hal yang saya sukai dari otobiografi ini adalah kejujuran Buya menuliskannya. Tidak ada kesan melebih-lebihkan, sebagaimana umum di jumpai dalam otobiografi lain. Saya membaca dan memperlakukan otobiografi ini sebagai confession dari seorang intelektual, yang berjasa besar menyemai bibit-bibit intelektual muda Muhammadiyah yang saat ini tersebar menuntut ilmu di berbagai negara. Mungkin dalam konteks ini, Buya Syafii sama seperti Gus Dur yang melempangkan jalan bagi lahirnya intelektual-intelektual muda dari kalangan NU ketika organisasi itu dipimpinnya.

HUT RI dan Layar Tancep

Agustus 19, 2006

Tempo hari saya pernah post di blog ini soal hiburan layar tancep dan ruang publik. Barusan saya akses Detik.com yang memberitakan pagelaran layar tancep di Jakarta dalam rangka HUT RI. Ini dia yang saya maksudkan, penyelenggaraan hiburan murah meriah untuk warga kota. Semoga berlanjut…Beritanya saya kutip dibawah ini:

Nonton 61 Layar Tancep di GBK Yuk!
Kris Fathoni W – detikcom
Jakarta – Malam mingguan mau nonton film tapi tongpes? Jangan khawatir! Nonton saja layar tancep sepuas-puasnya di area parkir timur atau seputar Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta. Ada 61 film yang akan diputar dan… gratis!

Busyet! Kok bisa sampai 61 film? Rupanya jumlah ini terkait dengan usia kemerdekaan Indonesia yang sudah mencapai 61 tahun.

Berminat ikutan nonton? Film akan diputar mulai pukul 19.00 WIB, hari ini, Sabtu (19/8/2006) hingga pukul 03.00 WIB dinihari, Minggu 20 Agustus 2006. Jadi, buruan mandi, dandan, dan segera berangkat.

Berhubung acara “Festival 61 Layar Tancap” ini terkait erat dengan agustusan, film-film yang akan diputar pun bertema seputar itu. Eits… jangan keburu kecewa. Beberapa film hiburan juga akan diputar.

61 Film Indonesia dari berbagai periode itu antara lain RA Kartini, Si Pitung, Surabaya 45, Doea Tanda Mata, Cas-Cis-Cus, Pacar Ketinggalan Kereta, Bibir Mer, Sangkuriang.

Kemudian ada juga film-film karya anak bangsa yang berprestasi memperoleh penghargaan, baik dalam lingkup nasional maupun internasional, seperti November 1828.

Selain itu terdapat beberapa kategori/tema film yang akan diputar, yaitu film anak-anak dan remaja, film drama, komedi, film laga, horor, film sejarah nasional dan film perjuangan bangsa.

Film tertua yang akan diputar adalah sebuah film berjudul Tiga Dara karya sutradara Usmar Ismail produksi Perfini tahun 1956, dan film terbaru adalah Anne van Jogja karya sutradara Bobby Sandy, produksi Jatayu Cakrawala Film & Video, Panitia Tetap Film Kompetitif BudPar, tahun 2004.

Cukup variatif kan! Acara ini diselenggarakan Panitia Nasional HUT Proklamasi Kemerdekaan ke-61 Republik Indonesia yang didukung oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), Persatuan Film Keliling Indonesia (Perfiki), dan Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi).

Belum pernah nonton layar tancep? Well… Jelas beda dengan nonton di bioskop. Jadi, nggak ada ruginya merasakan sarana hiburan merakyat yang pernah mencapai masa keemasannya pada era 70-an ini.

“Acara ini juga sebagai upaya mencerdaskan bangsa dan menumbuhkan kecintaan dan apresiasi masyarakat terhadap film Indonesia,” kata Ketua III Bidang Seni dan Budaya Panitia Nasional HUT ke-61 Proklamasi Kemerdekaan RI Sapta Nirwandar, yang juga Sekretaris Jenderal Depbudpar.

So… Tunggu apalagi? Ini bisa jadi alternatif hiburan berkualitas yang tidak hanya unik, tapi juga baru pertama kali terjadi. 61 Film diputar nonstop booo… Yuk nonton layar tancep! (sss)

Tentang Persahabatan

Agustus 17, 2006

Saya barusan pulang dari Jakarta. Jet lag. Ini sudah jam 4 subuh, tadi tidur jam 10 tapi jam 1 terbangun. Lalu tidak bisa tidur lagi. Mending tulis-tulis, banyak yang ingin saya tulis. iTunes di komputer sudah saya nyalakan, barusan habis putar CD Samsons (titipan dari keponakan di Jakarta untuk anak saya sebetulnya, tapi karena malam ini dia menginap di rumah temannya, saya putar saja CD-nya. Soalnya penasaran, karena keponakan saya di Jakarta itu ribut ngomongin Samsons – “ Ntar aku titip CD Samsons ya buat Salman, keren, pasti Salman suka”, gitu katanya). Level 42 Classic Collection (yang saya beli murah di Aquarius Jalan Mahakam di Jakarta) dan A Little Night Music: Mozart for Lovers juga sudah habis terputar, Sekarang, giliran the Best of Cranberries (yang juga saya beli di Aquarius Mahakam). Lumayan, menulis ini sambil mendengar suara khas vokalis Cranberries itu.

Well, saya pulang ke Jakarta selama hampir tiga minggu karena dapat undangan konferensi di National University of Singapore (NUS). Karena visa kebetulan habis, mau tidak mau saya memang harus ke Jakarta untuk proses visa baru seusai tiga hari konferensi di Singapura.

NUS mengadakan the First ASEAN Graduate Student Conference, yang disiapkan oleh ARI (Asia Research Institute)-nya NUS. ARI mengumpulkan mahasiswa pascasarjana dari macam-macam negara yang sedang studi Asia Tenggara. Ada ‘dewa-dewa’ studi Asia Tenggara di ARI saat ini. Misalnya Profesor Anthony Reid, dan juga Profesor Wang Gungwu. I think the best part of the conference was a keynote speech made by Profesor Shamsul AB dari Malaysia. Ceramahnya tentang the production of knowledge on Southeast Asia. Ceramah Profesor Shamsul sangat menggugah untuk peneliti muda seperti saya. Setelah mendengar ceramah Profesor Shamsul, saya makin yakin akan jalan akademik yang sedang saya jalani sekarang.

Profesor Shamsul orang yang sangat antusias, semangat, penuh humor dan yang jelas mencintai bidang kajiannya, antropologi. Beruntung saya ke Singapura. Bertemu young scholars dari macam-macam tempat, yang sedang studi Asia Tenggara.

Di Jakarta, a lot of surprising things happened. I learned a lot. Baru terasa betapa ‘jauhnya’ jarak geografis dan psikologis saya yang ‘nyantri’ di Dekalb. Baru setahun, sudah terasa agak berjaraknya saya dari realitas di Jakarta. Menyedihkan juga.

Membaca koran-koran online sama sekali tidak sama dengan mengalami sendiri. Begitu sampai di Jakarta, taruh koper di rumah, langsung meluncur ke CSIS. Isi bensin dekat rumah, setahun lalu 50.000 rupiah cukup untuk bensin dari rumah ke kantor pulang pergi selama dua hari. Maka saya isi sejumlah itu, tapi saya bingung karena meteran penunjuk tangki bensin di mobil tidak naik. Saya pikir, pompa bensin tidak jujur. Lalu saya sadar bahwa harga bensin sudah naik dua kali lipat dari tahun lalu, makanya meteran tidak naik, karena yang masuk memang sedikit..ha..ha..ha.

Lalu saya bertemu teman-teman di kantor dan juga teman-teman di tempat lain. Baru terasa hangatnya pertemanan. Mungkin karena saya jauh, bertemu kembali dengan teman-teman pasti menyenangkan. Kebetulan, di pesawat menuju Jakarta saya menonton banyak film. Salah satunya film kartun lama Toy Story 1. Persahabatan antar mainan milik Andy: Woody si koboi dan Buzz Lightyear si space ranger..he..he. Saya sudah nonton film itu beberapa kali, tapi selalu tersentuh. Apalagi theme songnya: “You’ve got a friend in me“. Memang hanya dari anak-anak (dan film anak-anak?) kita bisa bercermin banyak hal mengenai genuine friendship.

Di kantor, tentu saja saya bertemu senior-senior, selain teman-teman sesama peneliti muda. Hari pertama, saya makan siang di lantai lima tempat kami selalu makan bersama. Ada pak Hadi Soesastro dan Harry Tjan Silalahi. Pak Harry, sudah 70 tahun lebih usianya, agak surprise melihat saya. Dia menarik kursi dan menyuruh saya duduk bersama dia dan pak Hadi. Saya tanya dengan sopan apa kabar kesehatannya, dan saya bilang pak Harry kelihatan segar sekali. Pak Harry, banyak orang tahu, is a great motivator. Dengan suara kerasnya, sambil terkekeh dia bilang: ‘pokoknya saya nggak mau jatuh sakit sebelum you selesai sekolah, makanya you cepat-cepat selesaikan sekolah, jangan lama-lama!” Tentunya dia sedang menggoda saya, tapi saya merasa kalau pak Harry sedang memotivasi saya juga. Pak Hadi hanya senyum-senyum.

Saya juga sempat ngobrol panjang dengan senior lain, pak Luhulima, di ruangannya. Pak Luhulima juga sudah 70 tahun lebih usianya, sudah pensiun dari CSIS tapi masih sering ke kantor. In his own way, dia juga selalu memotivasi saya. Kalau ada tulisan saya dimuat di satu media, pak Luhu (begitu dia sering dipanggil, walaupun saya lebih sering panggil dia Opa) akan menyempatkan kirim email berisi tulisan dia mengenai topik yang hampir mirip dengan tulisan saya. Saya tahu maksudnya adalah dia mau bilang bahwa dia tidak setuju dengan isi tulisan saya, makanya dia kirim tulisan dia yang berbeda opininya 180 derajat…he..he. What a way to express his disagreement! Saya cukup akrab dengan pak Luhu, dulu dia sering mampir ke kamar kerja saya di CSIS, atau saya yang mampir ke kamar kerjanya, untuk sekedar ngobrol-ngobrol.

So, kita bisa belajar dari anak-anak dan juga dari orang-orang yang lebih tua, about friendship. Ketika masih di Jakarta kemarin, saya mendapat sms panjang dari istri saya yang tidak ikut ke Jakarta, tinggal di Dekalb bersama anak-anak. Katanya, Salman anak saya yang baru kelas tiga SD itu sedang bersedih hati. Seorang teman karibnya, namanya Doohan, pulang ke Korea Selatan for good . Ayah Doohan telah selesai studi PhD-nya, maka tiba waktunya untuk mereka sekeluarga pulang ke Seoul. Doohan sekeluarga tinggal di apartemen sebelah tempat kami tinggal.

asalman.jpg Tadi ketika sampai rumah setelah penerbangan panjang dari Jakarta, saya mendapat cerita lengkap soal Salman dan Doohan itu. Rupanya, beberapa hari sebelum hari kepulangannya, Doohan selalu menginap di rumah kami. Di hari keberangkatan Doohan, Salman subuh-subuh sudah bangun, sibuk siap-siap ingin ikut mengantar Doohan ke bandara. Dia mandi, lalu sarapan. Sesudahnya, dia buru-buru menuju rumah Doohan.

Tapi tidak berapa kemudian Salman kembali lagi ke rumah, sambil matanya berkaca-kaca. Salman bilang Doohan sudah berangkat, dan dia sangat sedih karena Doohan tidak berpamitan dengan dia. Rupanya, dari jauh dia lihat Doohan sedang angkat-angkat koper menuju mobil. Salman kira Doohan sudah mau berangkat, lupa sama dia. a2salman.jpg

Tiba-tiba Doohan muncul di rumah kami mencari Salman, membawa foto-foto bersama mereka berdua sebagai kenang-kenangan untuk Salman. Lalu mereka sempat main sebentar berdua. How sweet! Salman ikut mengantar ke bandara O’Hare di Chicago, dan dia menangis saat berpisah dengan Doohan di sana. Salman is learning his lesson about friendship.

Di pesawat yang membawa saya pulang dari Jakarta ke Chicago, saya lagi-lagi menonton film banyak-banyak. Lumayan, mengurangi rasa sedih pisah lagi dengan orang tua, kakak, adik, keponakan, dan teman-teman baik (ada teman pernah bilang ‘I hate goodbye’, dan waktu itu saya tidak terlalu paham rasa dari kalimat itu, but now I understand).

Ada sebuah film anak-anak yang saya tonton di pesawat yang membawa saya pulang ke Chicago, judulnya Akeelah and the Spelling Bee. Tentang kejuaraan spelling, dimana anak-anak harus mengeja kata-kata sulit dalam khazanah bahasa Inggris. Ada quote menarik dari film itu: “Love is a feeling you have when you are not worried about tomorrow and yesterday. You just feel safe.” Ingat-ingat pengalaman Salman dan juga pengalaman saya di Jakarta kemarin, sepertinya saya bisa bilang that having a true friend makes us feel safe.