Archive for September, 2007

Sedikit Cerita dari Konferensi APSA 2007

September 3, 2007

Akhirnya semester musim gugur sudah dimulai. Ini minggu pertama kuliah, belum ‘panas’.

Kuliah minggu pertama cukup santai, malah beberapa dosen membatalkan kuliah karena tepat minggu ini konferensi tahunan American Political Science Association (APSA) diselenggarakan di Chicago, mulai Kamis hingga hari Minggu kemarin. Kebetulan, karena saya sudah mendaftar untuk ikut konferensi itu seperti tempo hari saya tulis di sini.

Kebetulan juga, seorang teman Ahmad Sahal dan Tati istrinya datang mengunjungi kami dan menginap di sini. Mereka bermaksud mengunjungi Chicago. Lama juga tidak bertemu Sahal, terakhir setahun lalu jumpa di Utan Kayu waktu kami kebetulan sama-sama pulang ke Jakarta. Sahal juga sedang studi doktoral ilmu politik di University of Pennsylvania. Tati adalah pengajar di UIN Ciputat, baru selesai studi Masternya di Columbia University.

Konferensi APSA sangat menarik. Cuma sedikit masalah, atau mungkin masalah besar buat saya, adalah session-session diselenggarakan di dua hotel berbeda: Sheraton dan Hyatt. Walaupun kedua hotel itu berhadap-hadapan, tetap saja peserta tidak leluasa untuk berpindah dari satu session ke session lain. Karena jelas membutuhkan waktu. Karena itu ada banyak session yang semula saya ingin datangi, terpaksa gagal. Tidak apa, beberapa waktu lagi seluruh paper konferensi sudah bisa diakses oleh semua member APSA.

Ada beberapa session yang saya hadiri, beberapa diantaranya tentang partai politik dan juga pemilu. Juga session bertopik studi hubungan internasional. Saya hadir di session International Relations Discipline: Past, Present and Future. Pembicaranya John Mearsheimer, Robert Keohane dan Alexander Wendt. Dari nama-nama panelis ini sudah tampak bahwa panitia bermaksud menghadirkan debat klasik paradigmatik, antara realisme, liberalisme dan konstruktivisme. Kelihatannya John Mearsheimer yang paling solid pendapatnya…he..he (mungkin juga saya makin condong pada realisme maka semakin bisa memahami pandangan John Mearsheimer). Session ini diadakan di ballroom yang dipenuhi hadirin.

Hadirin terkesiap ketika Alexander Wendt yang dikenal sebagai pemikir paling utama konstruktivisme menjawab pertanyaan mengapa dia belakangan tidak agresif mengembangkan pemikiran konstruktivisme. Jawaban dia kira-kira: “I am no longer in the business of constructivism. It has expanded to the extend that I could not comprehend’…Waduh. ..Para konstruktifis diantara hadirin pasti kaget setengah mati mendengar ucapan Alexander Wendt….:-).

Mungkin yang dirasakan oleh para konstruktifis ketika mendengar jawaban itu sama dengan yang saya rasakan diawal tahun 1990-an ketika saya membaca sebuah wawancara dengan Fernando Cardoso yang baru terpilih menjadi presiden Brazil. Seperti banyak teman-teman mahasiswa, ketika itu saya gandrung sekali pada teori-teori dependensia.

Kita tahu bahwa Fernando Cardoso adalah salah satu intelektual utama teori dependensia. Ketika ia terpilih menjadi presiden Brazil, tentu menjadi kabar yang sangat menggairahkan. Tak dinyana, dalam wawancara itu Cardoso bilang: “Teori-teori dependensia lebih banyak salahnya, daripada benarnya”. Perasaan saya waktu itu ibaratnya mendengar (almarhum) Asmuni dalam sebuah iklan sarung yang bilang: Wassalam!…:-)

Session paling menyegarkan adalah sebuah ceramah tunggal dari Frans de Waal, pengarang buku legendaris “Chimpanzee Politics”. Session-nya juga di ballroom yang dipenuhi hadirin. Frans de Waal meneliti perilaku sosial politik simpanse sudah lebih dari 20 tahun lebih lamanya. Ceramahnya lengkap dengan video rekaman para simpanse yang ditelitinya. Memang ternyata politik manusia tidak lebih tua dari politik para simpanse, begitulah kesimpulan saya setelah mendengar ceramah itu.

Saya pernah tulis soal simpanse sedikit di blog ini ketika mengunjungi sebuah kebun binatang di Chicago beberapa waktu lalu, di sini. Maka ketika melihat ada sessi ceramah Frans de Waal di konferensi APSA kali ini, saya memasukannya dalam list must-see.

Frans de Waal memaparkan hasil penelitian terbarunya. Dia mengunjungi lagi komunitas simpanse yang pertama kali dia teliti beberapa tahun lalu. Dia menemukan bahwa ‘raja’ komunitas itu (sebutan ilmiahnya adalah alpha-male), sudah digulingkan oleh simpanse lain yang lebih muda. Namun simpanse yang lebih muda ini tidak terlalu kuat, ada saingannya. Sehingga dia tetap harus berkoalisi dengan raja lama. Raja lama dia jadikan semacam ‘menteri senior’. Menyegarkan sekali, melihat video-video rekaman insiden-insiden yang memperlihatkan jelas pola-pola koalisi dan kompetisi simpanse ini.

Buku Chimpanzee Politics yang lama sudah diupdate dan akan terbit lagi akhir September ini. Kelihatannya wajib dibeli. Memang political scientists di negara maju memiliki kemewahan untuk meneliti soal apa saja. Kajian apa saja bisa berkembang. Ilmuwan politik di negara berkembang seperti Indonesia tidak punya kemewahan serupa. Topik-topik yang bisa diteliti sangat terbatas, dan bergantung pada funding availability. Hampir tidak mungkin ada lembaga pemberi dana di Jakarta yang mau memberi dana seorang ilmuwan politik untuk meneliti perilaku sosial politik orangutan di Indonesia secara serius dan konsisten untuk beberapa tahun lamanya. Pasti yang ditanya duluan adalah apakah topik semacam itu relevan di Indonesia? Padahal kalau melihat-lihat para politisi kita, sepertinya topik ini sangat cucok…:-)

Iklan