Taman Jepang dan Duran Duran

Akhir pekan ini adalah libur panjang. Hari Senin adalah Memorial Day, semacam hari Pahlawan, yang ditetapkan sebagai hari libur nasional di Amerika. Karena itu, anak-anak dan istri saya libur sekolah dan kerja. Jadi kami memutuskan jalan-jalan lagi, kali ini ke kota Rockford. Rockford adalah kota terbesar kedua di negara bagian Illinois, setelah Chicago.

Rockford terletak tidak jauh dari tempat kami tinggal, kurang dari satu jam nyetir. Kami sering ke kota ini. Ada Asian grocery di situ, yang sekarang jadi alternatif utama buat kami setelah toko Thailand di Chicago tutup, seperti pernah saya tulis sebelumnya.

Nyetir mobil hari-hari ini selalu membuat kami berhitung. Kita tahu semua, harga bensin sedang gila-gilaan, bukan cuma di Indonesia. Kemarin, di sini harganya sudah $4 per galon. 1 galon kira-kira sama dengan 3 liter lebih sedikit. Di Indonesia, harga bensin premium baru naik menjadi 6500 rupiah per liter, berarti kira-kira sekitar 20 ribu rupiah per gallon (alias sekitar $2 dollar/per gallon). Dibanding dengan harga pasaran (harga bensin di Amerika kurang lebih sama dengan harga di pasar internasional karena tidak ada subsidi), berarti harga bensin di Indonesia masih lebih murah $2 dolar tiap liternya. Padahal bensin itu diimpor dengan harga pasar internasional (karena sejak tahun 2004 Indonesia bukan lagi eksportir minyak). Artinya pemerintah Indonesia mensubsidi selisih $2 dolar setiap galon bensin yang dibeli warganya. Jumlah ini sangat luar biasa besarnya, dan sudah pasti jauh melebihi kemampuan keuangan sebuah negara, dengan penduduk lebih dari 200 juta orang seperti Indonesia.

Di Amerika pernah ada masa dimana ‘negara’ lah yang mengatur harga bensin, bukan pasar. Hasilnya justru muncul antrean panjang di pompa-pompa bensin dan harga justru melonjak. Masyarakat justru protes keras, meminta ‘negara’ berhenti mengatur harga bensin, biarkan pasar yang mengatur. Hasilnya, antrian menghilang dan harga menjadi normal.

Kali ini, harga minyak dunia memang menggila. Sama seperti bantuan tunai langsung di Indonesia, pemerintah Bush juga memberi BLT kepada warga Amerika, setiap keluarga mendapat bantuan minimal 300 dolar, bergantung pada jumlah anak per keluarga. Tetapi ini hanya diberikan sekali. Bush menyebutnya sebagai stimulus package.

Begitulah, kami memutuskan jalan-jalan. Kalau tempo hari kami pergi ke “Holland” di Michigan, kali ini kami ke sebuah tempat di Rockford yang namannya adalah Anderson Japanese Garden. Ada sebuah taman luas ala taman-taman di Jepang. Tamannya cantik sekali, seperti taman Jepang ala film Oshin..he..he. Ya biasalah, foto-foto lagi. Memang musim semi adalah waktu yang baik untuk foto-foto. Sialnya, bunga teratai di kolam-kolam di taman ini belum mekar.

Kalau ingin berhening-hening dan refleksi diri, taman Jepang ini tempat yang pas sekali. Mungkin itu justru tujuan utama banyak orang berkunjung ke Japanese garden ini.

Dari situ, kami pergi ke Asian grocery. Stok Indomie di rumah sudah habis, juga kecap dan sambal botol. Terakhir kali kami ke toko ini, mereka tidak menjual kecap Indonesia. Yang punya toko bilang, bawa saja botol kosong kecapnya, nanti dia cari dan mungkin akan dia mulai jual. Jadi kemarin istri saya membawa satu botol kecap kosong. Semoga waktu belanja berikutnya, mereka sudah berjualan kecap.

Saat ke Asian grocery ini, kami memotong sebuah jalan bernama South Alpine Road. Saya ingat seseorang pernah memberi kartu nama pada saya sebulan lalu. Saat itu saya sedang berada di sebuah toko piringan hitam bekas. Orang itu tiba-tiba memberi kartu namanya. Rupanya dia punya booth tempat dia berjualan piringan hitam bekas di flea market (pasar loak) di Rockford. Flea market ini letaknya di South Alpine Road itu.

Jadilah kami belok ke flea market itu. Besar sekali. Begitu masuk ke dalam, suasanya persis seperti pasar loak Taman Puring di Kebayoran Jakarta. Istri dan anak-anak jalan sendiri, sementara saya berkeliaran sendiri mencari booth penjual piringan hitam itu. Saya tidak beruntung, booth milik orang itu sedang tutup.

Akhirnya saya kembali ke parkiran, dan ternyata istri saya sudah di situ. Tangannya menjinjing sebuah kantong plastik. Rupa-rupanya, dia mendapat tiga piringan hitam bekas Duran Duran. Ini band yang populer sekali waktu saya SMP dulu, seangkatan dengan band seperti Spandau Ballet.

Lady Diana dulu sering secara terbuka mengakui bahwa dia adalah fans berat Duran Duran..he..he. Andy Warhol, seorang musisi yang dihormati dari grup musik Velvet Underground yang sangat berpengaruh dalam perkembangan musik sejak akhir 1960-an hingga 1980-an, juga adalah salah satu penggemar Duran Duran.

Yang didapat istri saya adalah tiga album terbaik Duran Duran. Ada album debut mereka pertama yang berjudul Duran Duran, dengan lagu seperti Girls on Film dan juga Planet Earth. Lalu ada album Rio, dengan lagu hits seperti Rio, Hungry Like the Wolf, Save a Prayer, My On Way, dan juga New Religion. Tapi lagu berjudul the Chauffeur adalah yang paling saya sukai dari album ini. Album ketiga yang dibeli istri saya itu adalah Seven and the Ragged Tiger. Ada lagu The Reflex dan New Moon on Monday di dalamnya. Saya tanya berapa harga yang dia bayar untuk ketiga vinyl ini, ternyata cukup 5 dolar sudah bisa dibungkus semuanya. Sweet…he..he.

Saya kira mampir ke flea market ini adalah kunjungan gagal. Ternyata dapat tiga album piringan hitam Duran-Duran, dengan harga murah. Lalu mengembalikan memori masa SMP pula..he..he.

2 Tanggapan to “Taman Jepang dan Duran Duran”

  1. bule Says:

    Ya ampun, ‘Lips… Chauffeur sama Girls on Film… bisa dimengerti lah, kenapa elo seneng lagu2 ini… anak SMP… btw, ini ngomongin lagunya atau video klipnya… ?? :P

  2. philips vermonte Says:

    Bule, dua-duanya lah. Elu kan dulu paling suka juga nontonin video klipnya jaman kita SMP?..he..he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: