Record Store Day

Ada yang terlupa ditulis, masih soal piringan hitam. Maklum, newbie. Jadi agak norak, nulis-nulis tentang piringan hitam terus. Biarlah..he..he.

Tanggal 19 April kemarin adalah Record Store Day, hari toko-toko musik independen/vintage. Toko-toko musik kecil di seluruh Amerika merayakannya. Memang mereka sekarang menghadapi persaingan yang mengancam dari jaringan penjualan toko-toko raksasa seperti Walmart, Barnes & Noble, atau Border.

Jadi pada tanggal itu di berbagai tempat di Amerika, toko-toko ini mengadakan macam-macam acara. Uniknya, mereka juga didukung banyak perusahaan rekaman besar dan juga pemusik terkenal. Mereka datang, manggung, atau sekedar hangout di toko-toko ini. Ada banyak nama yang ikut acara di toko-toko vintage di banyak tempat. Misalnya John Mayer, Eddie Vedder dari Pearl Jam, Ozzy Osborne, Bruce Springsteen, Metallica, Foo Fighters dan lain-lain.

Ada satu hal menarik yang saya perhatikan. Komunitas independen, semacam penyuka vintage store ini, ada beragam jenisnya dan banyak jumlahnya. Mereka berkomunikasi, berorganisasi, berkelompok dan menelurkan berbagai inisiatif segar, jauh dari intervensi negara karena pada dasarnya mereka tidak bergantung pada negara. Ada banyak sekali kelompok, dari yang kecil hingga besar. Mungkin ini adalah bentuk modern dari civic association seperti yang dilihat Tocqueville seratus tahun lalu waktu dia mengunjungi Amerika untuk studi mengenai demokrasi. Toqqueville menyimpulkan bahwa semaraknya civic association yang sifatnya bottom-up adalah basis demokrasi Amerika. Oleh filsuf Perancis ini, pengamatannya kemudian dituangkan ke dalam buku yang menjadi klasik.

Kembali ke soal toko-toko vintage independen ini, ketimbang merasa bitter dan frustasi terhadap gempuran komersialisasi perusahaan-perusahaan raksasa, toko-toko ini memilih untuk berusaha kreatif dan mendefinisikan sendiri strateginya untuk bertahan. Ide revolusi nggak laku..he..he. Mungkin karena pada dasarnya masyarakat Amerika adalah enterpreneur, jadi ya tetap memilih ‘bertempur’ lewat moda-moda kapitalisme juga.

Jadi teringat sebuah acara ‘reuni’ aktifis gerakan mahasiswa 98 di Ragunan tahun 2003 – entah kenapa saya diajak hadir acara ‘reunian’ itu, padahal tahun 98 saya sudah lulus S1. Dalam acara itu ada seorang mantan aktifis mahasiswa berpidato berapi-api mengajak revolusi. Audiens-nya dingin-dingin saja, malah ada salah seorang dengan logat Jawa yang kental nyeletuk keras-keras: “boleh mas, revolusi, tapi asal hari Sabtu ya..itu juga kalo ndak hujan lho ya…”. Mendengar celetukan genuine begini, hadirin meledak tertawa. Mahasiswa berapi-api tadi ikut tertawa, mungkin frustasi.

Anyway, dalam rangka Record Store Day, beberapa perusahaan rekaman besar juga berpartisipasi. Ini juga bagian dari strategi mereka melawan perusahaan distribusi raksasa seperti Walmart itu. Diantaranya, Sony BMG Music Entertainment bersama-sama dengan Columbia, Epic, Legacy Recordings, Aware dan INO Records Perusahaan-perusahaan rekaman ini merilis sebuah album kompilasi musikus yang berada di bawah label mereka dalam bentuk piringan hitam. Vinyl ini disebarkan ke toko-toko independen, untuk diberikan secara gratis kepada pelanggan yang berbelanja ke sana. Di inner sleeve-nya ada foto-foto events di berbagai toko indie. Juga ada text: “this is a gift to you, the music lover who supports your local indie record shop, a place where freedom of expression thrives, and the magic of musical discovery lives on”. Nice.

Nah, beberapa hari lalu saya kebagian piringan hitam gratis ini di Revrecord store yang pernah saya tulis tempo hari. Lumayan. Beberapa lagu dari berbagai grup musik lama dan baru dikumpulkan dalam satu album piringan hitam ini.

cover vinyl Cover vinyl-nya seperti di samping ini, hanya logo dari record store day tahun ini.

Ini dia list lagu-lagu dalam vinyl gratis ini:

Side One

1. Girls in their summer clothes – Bruce Springsteen (2007).

2. Waiting on the world to change – John Mayer (2006).

3. Feathers – Coheed and Cambria (2007).

4. Addicted – P.O.D (2008)

5. Dream Catch Me – Newton Faulkner (2007).

6. Dirty City – Steve Winwood featuring Eric Clapton (2008).

Side Two

1. Perfect Day – Lou Reed (1972)

2. It’s Tricky – Run D.M.C (1986)

3. Bombtrack – Rage Against the Machine (1992)

4. Kimberly – Patti Smith (1975)

5. Black – Pearl Jam (1991)

6. Eternal Life – Jeff Buckley (1994).

4 Tanggapan to “Record Store Day”

  1. atakeo Says:

    Saya terdampar di pojokan ini dan mengagumi pernik-pernik indah tulisanmu. Salam kenal.

  2. andikaputraditama Says:

    Nice blog..koleksi vinyl record? Udah nonton ‘high fidelity’? filmnya bukan tentang vinyl record sih, but the main character is a record store owner..quite entertaining, you should watch it..

    Salam kenal!

  3. philips vermonte Says:

    @ atakeo, trims sudah mampir.
    @ andika, I borrowed the movie high fidelity from a friend, sialnya disc nya mungkin defect tidak bisa diputar. Jadi hingga sekarang belum jadi nonton. I will watch it eventually..:-)

  4. locong Says:

    alo bang..saya dah dengerin fleetwood mac ternyata vokalisnya stevie nicks toh jadi inget film School of Rock…wah kayanya asyik nih perburuannya gut luck deh semoga dapat semua tuh top listnya RS…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: