Perburuan ke Kota Sebelah

Karena satu keperluan, saya harus ke Geneva. Ini nama sebuah kota kecil bersebelahan dengan kota tempat saya belajar. Entah kenapa dinamakan sama dengan Geneva yang di Eropa sana. Mungkin dulu didirikan oleh para imigran dari kota di Eropa itu. Saya pernah lihat papan informasi di kota ini, menyebutkan bahwa kota Geneva yang ini didirikan tahun 1835. Kota ini cantik.

Saya ingat pernah lihat papan reklame sebuah toko vinyl di dekat stasiun kereta api di Geneva. Jadi iseng-iseng saya niat mau mampir ke toko itu setelah urusan selesai. Saya ajak Taufiq, rekan ‘senasib seperburuan’.

Toko itu bernama Kiss the Sky, pasti diambil dari sebuah judul lagu milik Jimmy Hendrix. Urusan saya cepat selesai, jadi kami langsung meluncur ke situ. Ternyata tokonya belum buka. Jadilah menunggu di depan toko sebentar, ada seorang lain juga sudah menunggu toko itu dibuka. Waktu dibuka, alamaaak…asoy betul. Jualan piringan hitamnya banyak sekali, hampir kami mata gelap. Untung masih bisa menahan diri, karena dompet sedang tipis di akhir bulan…he..he.

Begitu lihat section piringan hitam bekas di toko itu, kami senang hati. Ada banyak sekali album piringan hitam bekas yang ada dalam list 500 album terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone yang tersedia di toko itu. Dan harganya murah. Walaupun kelihatannya sistem pemberian harga di toko ini agak aneh, tidak sama dengan harga-harga di toko lain atau di toko online yang sempat saya lihat sebelumnya. Saya lihat ada beberapa album yang di tempat lain masih berharga diatas 10 dolar, di sini di jual dibawah 5 dolar. Atau sebaliknya, di sini di atas 10 dolar, sementara di tempat lain harganya di bawah itu. Si pemilik toko ini kayaknya memberi harga semau-maunya saja.

Jadi ingat belanja komputer jaman dulu ke Glodok. Harus keluar masuk semua toko di situ, supaya tahu perbandingan harga. Ujung-ujungnya beli motherboard di satu toko, soundcard di toko lain, memory RAM di toko lain lagi, dan hard drive serta CD-writer di toko yang lain lagi. Dengan begitu baru bisa meng-upgrade komputer jangkrik dengan budget pas-pasan.

Album nomor satu di majalah RS, Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band milik the Beatles ada di situ. Juga album the Beatles lain, Rubber Soul, yang juga masuk list (nomor 5). Beberapa album lain dalam list majalah RS yang sempat saya lihat ada di toko itu antara lain: Exile on the Main Street (Rolling Stones), A Night at the Opera (Queen), Slow Hand (Eric Clapton), Toys at the Attic (Aerosmith), Rocks (Aerosmith), Born in the USA (Bruce Springsteen), Nevermind the Bollocks (Sex Pistol), In the Court of the Crimson King (King Crimson), Joshua Tree (U2), Music from Big Pink (the Band), Beggars Banquet (the Rolling Stone), Sandinista (the Clash), Greenriver (Credence Clearwater Revival), Marquee Moon (Television), album-album Fleetwood Mac, dan masih banyak lagi. Pusying melihatnya…he..he.

Selain itu piringan hitam baru dari grup musik kontemporer juga ada. Saya lihat ada beberapa album kelompok musik rock alternative the Flaming Lips, sampai album piringan hitam grup hip hop Black Eyed Peas dan Tuppac. Album kontemporer ini masih mahal harganya.Band-band kontemporer memang mulai rajin lagi me-rilis album dalam format piringan hitam. Metallica bulan ini baru saja me-rilis ulang album Ride the Lightning dan Kill’em All dalam format piringan hitam. Beberapa minggu lagi, versi piringan hitam album legendaris mereka, Master of Puppets, juga akan di rilis ulang (Master of Puppets ada juga di dalam list album musik terbaik majalah RS itu).

Akhirnya, saya membeli dua album piringan hitam bekas, Joshua Tree-nya U2 dan Beggar Banquet-nya Rolling Stones. Tadinya sudah pegang satu lagi, The Night at the Opera (Queen). Tapi untung bisa menahan diri. Kapan-kapan saja kembali ke situ. Joshua Tree masuk kategori wajib beli, sementara Rolling Stones disukai istri saya. Ya biar dia suka juga piringan hitam, siapa tahu jadi mau nyumbang dalam perburuan berikutnya…he..he.

Taufiq lebih serius, dia beli 5 atau 6 album kalau nggak salah. Buat Taufiq, musik adalah hobi yang sekaligus menjadi pekerjaan. Dia wartawan desk politik di koran Jakarta Post. Selain desk politik, dia punya kolom musik tetap yang dia tulis rutin di korannya itu edisi hari minggu. Saya rasa dia beruntung karena tidak banyak orang yang punya dream job, yaitu memiliki pekerjaan yang memang disukainya karena hobi.

Omong-omong soal dream job, pemilik sekaligus penjaga toko Kiss the Sky ini menarik sekali. Waktu saya bayar, dia nyeletuk: “good choice, Beggars Banquet is always my favorite album”. Saya bilang bahwa kami sedang berburu album piringan hitam yang ada di list majalah RS. Dia kelihatan senang sekali. Kebetulan ada co-owner toko itu, jadilah kami ngobrol-ngobrol. Dia bilang ke rekannya: “wow, very interesting idea, sepertinya kita harus bikin rak khusus di toko kita untuk album-album yang ada di list majalah RS.” Boleh juga, asal harganya jangan dinaikin…he..he.

Jadilah kita ngobrol-ngobrol dengan mereka. Pemilik toko ini kelihatan menikmati sekali pekerjaan jual beli tokonya. Belakangan saya periksa website mereka (http://www.kissthesky.net/), agaknya membuka toko vinyl sendiri ini adalah dream job mereka. Mereka sebelumnya punya pekerjaan bagus (di website mereka menyebutnya junkyard job at corporate America), tapi sejak masa kuliah mereka sudah bercita-cita membuka toko musik sendiri. Akhirnya, tahun 1996 mereka memutuskan keluar dari pekerjaan kantoran masing-masing, dan membuka toko ini. Waktu ‘muda’, mereka menggilai sebuah grup band terkenal juga, namanya the Kinks. Dia bilang dulu dia menonton konser the Kinks sebanyak 65 kali di berbagai kota. Ada-ada saja…

Ketika kami pamit pulang, mereka bilang: ‘mengelola toko ini rasanya selalu tambah nikmat saat bertemu music fans like you.’ Dan tak disangka-sangka Taufiq dapat ‘bonus’. Pas kita pamitan, mereka sedang siap-siap sedang membuka kiriman stock baru. Ternyata ada piringan hitam album The Byrds. Dia bilang, “hey, you might want this. This is also on that list”. Taufiq ragu-ragu, mengira-ngira harganya. Tapi, pemilik toko itu sambil tertawa langsung bilang: 3 dolar deh, tentu saja langsung disambar oleh Taufiq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: