PSSI Dikuliti

Baru baca sebuah kolom bagus di Kompas. PSSI (dan ketuanya Nurdin Halid yang pesakitan) dikuliti habis-habisan. Setuju 100 persen. Ini saya copy-paste kolom itu.

pjv

———–

POLITIKA
PSBN atau Pesakitan
Sabtu, 26 April 2008 | 01:59 WIB

Oleh Budiarto Shambazy

Coba sesekali pahami politik internal PSSI, pasti lebih sukar ketimbang belajar ilmu politik. Belajar tipologi pengurus PSSI lebih sulit daripada belajar paleontologi— ilmu tentang fosil Dinosaurus.

Pembaca dibombardir lagi oleh ingar-bingar munaslub sesuai tuntutan FIFA. Jika tidak, PSSI kena sanksi pembekuan dan timnas tak bisa berlaga di ajang internasional.

FIFA minta munaslub karena Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dibui dan harus digantikan. Namun, akronim PSSI telanjur berubah jadi ”Pengurus Suka Sekali Intrik” karena gemar berdalih menghindari tanggung jawab.

Politicking telah lama jadi hobi di PSSI karena jumlah pengurusnya saja 120-an orang. Federasi di Malaysia atau Inggris dipimpin tak lebih dari 20 orang.

Jumlah 120-an itu lebih besar daripada jumlah pemain timnas yang 20-an orang. Dan, dari 120-an itu yang ngerti sepak bola hanya segelintir.

Jumlah 120-an tak sedikit. Namun, itu memperlihatkan PSSI kaya-raya karena saling berbagi ”rezeki berjemaah” di kala hidup rakyat susah.

Rezeki itulah yang mati-matian dipertahankan PSSI. Ya, maklumlah, namanya juga rezeki.

Akal sehat enggak mampu lagi mencerna aneka dalih PSSI. Ibaratnya skor pertandingan PSSI vs FIFA masih 0-0 selama 2 x 45 menit, ditambah perpanjangan waktu dan adu penalti, dan replay.

Terpaksalah diadakan undian untuk memutuskan hasil akhir pertandingan. Namun, hasilnya tetap 0-0.

Apa pasal? Ternyata wasitnya orang PSSI yang mengundi bukan dengan koin dengan dua sisi berbeda—ia pakai kancing seragam dengan dua sisi yang sama.

Perilaku menyimpang PSSI bukan hal baru. Beberapa tahun terakhir terjadi kegagalan pembinaan, kompetisi asal-asalan, pemerkosaan aturan, dan prestasi minim timnas.

Kini, PSSI menyekolahkan tim remaja ke Uruguay. Proyek sia-sia sekolah ke luar negeri sudah dilakukan bolak-balik ke mana-mana, tetapi kok enggak kapok, sih?

Uruguay negeri mungil yang lokasinya sulit ditemukan di peta dunia. Ke sana saja makan waktu lebih dari 24 jam dengan pesawat dan saya yakin tak seorang pengurus pun yang sebelum ini pernah urusan sepak bola ke sana.

Jika tim remaja latihan ke Belanda, misalnya, itu lumayan karena masih terasa Indonesia- nya. Itu pun tahun lalu pemain Papua memecahkan kaca jendela hotel di Belanda karena stres mau pulang.

Kalau soal kompetisi asal- asalan Anda sudah paham. ”Setiap gol di liga pasti ada rupiahnya,” kata eksekutif sebuah perusahaan sponsor liga sambil geleng kepala.

Pemerkosaan terhadap aturan? Apa yang bisa diharapkan jika ada pengurus yang menipu penggemar dengan menjual kaus resmi timnas tanpa celana?

Pembinaan yang gagal, kompetisi asal-asalan, dan pemerkosaan terhadap aturan menghasilkan timnas yang selalu ”menang”. Ya, tetapi di belakang kata ”menang” harap tambahi kata ”is”.

Timnas yang suka ”menang” plus ”is” takkan kedatangan tamu. Di awal 1970-an timnas bersegitiga melawan Ajax serta Manchester United dan publik Senayan rutin dihibur Pele, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, sampai Mario Kempes.

Tahun 1980-an, timnas lolos ke babak akhir penyisihan Piala Dunia sebelum menyerah di tangan Korsel. Di Asian Games 1986 timnas melaju sampai ke semifinal.

Timnas takkan berprestasi selama PSSI masih berlaga melawan FIFA. Pasalnya, PSSI masih menyimpan 1.001 akal bulus untuk menghadapi FIFA.

Perilaku PSSI ibarat ujung tombak timnas yang ”berputar- putar di depan gawang lawan, tetapi selalu gagal mencetak gol”. Dalam perumpamaan bahasa Inggris, PSSI ”going in circles, don’t really know where I have come from and where I will go”.

Perilaku mereka cermin kondisi sosial saat ini. Mereka ingin berkuasa dan menjadi manusia setengah dewa dengan merangkap profesi pejabat, pengusaha, politisi, sekaligus tokoh masyarakat.

Mereka gigih dan terpesona kepada Al Capone yang memimpin dari balik jeruji. Tokoh idola mereka adalah Tan Malaka yang mengarang buku Dari Penjara ke Penjara.

Mereka sejak kecil bercita-cita ingin jadi dalang yang ahli memainkan wayang-wayangnya. Mereka petualang sejati yang ahli mengatur skor, wasit, pemain, pelatih, dan klub—kecuali dirinya sendiri.

Pemerintah dan DPR saja bungkam seribu menghadapi mereka, apalagi Anda dan saya. Lalu bagaimana jalan keluarnya?

Menurut saya mudah, yakni biarkan mereka tetap merajalela. Mereka kayak anak-anak yang ketagihan main sepak bola dan enggak mau pulang meski magrib sudah tiba dan esok harus sekolah.

Biarkanlah mereka menguasai PSSI. Jika Anda setuju, mari kita dirikan organisasi sepak bola nasional tandingan yang menyelenggarakan pembinaan dan kompetisi sendiri.

Enggak apa-apa ada dua pengurus sepak bola. Saya saja masih suka bingung siapa sih yang jadi presiden, SBY atau JK, dan makin bingung PKB versi mana yang sebenarnya sah.

Tetapi, untuk menghindari ”PSSI kembar”, kita bujuk mereka untuk mengubah nama. Sungguh sayang nama harum PSSI sebagai alat perjuangan dicederai oleh ulah mereka.

Saya sarankan mereka pakai nama ”PSBN” (Persatuan Sepak Bola Nasional).

Atau kalau tidak, saya sarankan pakailah akronim ”Pesakitan”. Artinya ”Persatuan Sepak Bola Sakit-sakitan”.

Oh ya, Anda tahu, kan, makna kata pesakitan?

Satu Tanggapan to “PSSI Dikuliti”

  1. coenhp Says:

    Bos,

    sama kayak ente, ane juga setuju ama Budi tapi, tidak 100 persen. Soalnya, tulisan lucu ini jadi terganggu karena dengan ngaconya bilang, bahwa pengurus PSSI itu adalah pengagum Tan Malaka (walau ini kutipan tersirat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: