Dilema Etis Perang

Tadi siang saya mengalami suasana tidak mengenakkan. Bermula dari kelas pelajaran bahasa Indonesia yang saya asuh di kampus. Sebelum kelas dimulai, seorang peserta (menyebut ‘murid’ sepertinya kurang pas), yang juga teman baik saya di departemen ilmu politik tempat saya belajar, menyampaikan sesuatu yang membuat kami semua tertegun. Dia, seorang wanita Amerika, bilang bahwa dia tiba-tiba mendapat panggilan dari militer Amerika dan diminta bersiap untuk dikirim ke Irak. Bulan September dia sudah harus pergi training di sebuah negara bagian, lalu bulan November dia sudah akan dikirim ke combat zone. Mungkin ada rotasi dan tour of duty.

Kami yang berada di kelas itu tercenung mendengarnya. Dia pun kelihatan gundah, walaupun kelihatan berusaha keras untuk berlaku biasa saja. Dia bilang, yang paling dia pikirkan adalah nasib anak perempuannya yang masih kecil.

Saya seperti dihadapkan pada dilema etis yang membuat saya tidak tahu harus berkata apa. Seperti yang lainnya di ruang itu, untuk beberapa lamanya saya hanya diam.

Saya tidak pernah setuju akan perang Irak itu. Akan tetapi, teman saya ini sedang dihadapkan pada “panggilan tanah air” nya (benar atau salah menjadi tidak terlalu relevan karena ini soal tanah air dia, bukan tanah air saya). Sementara, dia tahu persis bahwa dia harus meninggalkan anaknya.

Jika saya sampaikan ketidaksetujuan saya pada perang Irak tadi, mungkin itu akan menambah kegalauan hatinya. Mungkin dia akan merasa tidak berdaya karena tidak ingin meninggalkan anak dan keluarganya, namun panggilan tugas mengharuskannya. Tetapi, kalau saya membesarkan hatinya dengan mengatakan hal-hal baik tentang perang Irak (kalau ada), sama artinya dengan saya menyetujui perang itu.

Teman saya ini adalah seorang language specialist. Dia memang mendapat beasiswa dari Angkatan Udara Amerika untuk kuliah di departemen ilmu politik di kampus saya. Di Amerika adalah hal yang biasa mendapat beasiswa dari militer. Itu adalah bagian dari rekrutment militer yang ingin merekrut ahli-ahli sipil misalnya language specialist itu, engineer, scientist dan lain-lain. Tidak melulu merekrut otot, tapi juga otak.

Teman saya ini memang menguasai banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Semasa SMA, dia pernah ikut program pertukaran pelajar ke Indonesia dan tinggal di kota Solo selama satu tahun. Saya pernah lihat foto-foto dia bersama teman2 satu kelasnya di sebuah SMA Solo. Tingkah lakunya sudah persis kelihatan seperti pelajar Indonesia.

Akhirnya, saya hanya bilang: mungkin kamu dipanggil karena penguasaan bahasa. Mungkin mereka membutuhkan orang-orang yang memahami bahasa lokal. Artinya, dengan demikian dia akan berada lebih banyak di dalam barak militer Amerika di Irak. Bukan di combat zone yang jauh lebih berbahaya. Jadi mestinya semua akan baik-baik saja. Dia hanya bilang: doakan saja.

Agak ironis bahan pelajaran yang saya siapkan untuk kelas tadi siang. Saya meminta mereka membaca dan mendiskusikan buku catatan harian Soe Hok Gie (Catatan Harian Seorang Demonstran), yaitu bagian ketika Soe Hok Gie ikut dalam sebuah program pertukaran mahasiswa ke Amerika Serikat sekitar tahun 1968. Ketika itu Soe Hok Gie mengunjungi banyak kampus dan bertemu dengan banyak tokoh yang belakangan di kenal sebagai akademisi terkenal mengenai Asia Tenggara. Soe Hok Gie antara lain bertemu John Legge, menginap di rumah Bennedict Anderson, berdiskusi dengan George McTurnan Kahin yang dianggap sebagai pelopor studi Asia Tenggara. Minggu lalu, kelas kami juga menonton film Gie bersama-sama. Saya pikir akan menarik apabila orang Amerika membaca apa pandangan orang yang bukan orang Amerika (Soe Hok Gie) tentang negaranya. Mahasiswa-mahasiswa Amerika di kelas bahasa Indonesia ini tampaknya senang menonton film Gie dan membaca beberapa bagian dari catatan harian Soe Hok Gie itu.

Ironisnya, tahun 1968 adalah tahun-tahun protes massal di Amerika terutama dari kaum muda (mahasiswa) yang menolak perang Vietnam. Jadi ada beberapa bagian dari buku catatan harian Soe Hok Gie yang kami baca tadi siang berisi catatan Soe Hok Gie tentang perang Vietnam.

Soe Hok Gie juga menyinggung tentang Peace Corp, sebuah program yang dibuat oleh Presiden Kennedy. Program Peace corp memungkinkan Kennedy mengirim anak-anak muda Amerika ke seluruh dunia untuk menjadi “duta” Amerika dan mendorong perdamaian. Banyak diantara alumni Peace Corp ini yang belakangan menjadi akademisi-akademisi yang mempelopori tumbuh berkembangnya studi Asia Tenggara di kampus-kampus Amerika.

Begitulah. Tanpa terasa tadi kami membicarakan perdamaian, sementara seorang teman sedang gundah karena akan dikirim untuk pergi berperang. Semoga teman saya itu akan baik-baik saja.

8 Tanggapan to “Dilema Etis Perang”

  1. locong Says:

    Dilema juga ya bung menghadapi situasi seperti itu. Tapi bagaimana lagi karena dia adalah prajurit sudah seharusnya bertugas demi negaranya nyontek kitab Mahabarata dulu.. :)

    Tapi saya mah tetap ngikut Lennon dengan Give Peace A Chance..

  2. dina Says:

    Tugas language specialist di battlefield itu apa ya? Apakah disana masih ada komunikasi ‘for understanding’? ato tadi bilang gtu cuma untuk menenangkan temannya? hehe

    Apa panggilan perang di Irak masih dianggap panggilan ‘tanah air’, denger2 mayoritas pada pengen prajurit ditarik dari sana atau merasa ‘wajib’-nya lebih karena beasiswa?

    btw, salam kenal pak, saya fulbrighter ’08, starting this fall semester.

  3. philips vermonte Says:

    @dina….namanya juga beasiswa militer, ya tentu ada ikatan dinas. Tidak ada option menolak penugasan tentunya, terlepas dari dia setuju atau tidak setuju. Memang jumlah yang menolak perang Irak besar, tapi pemerintahan Bush sekarang ini masih menjalankan kebijakan perang. Sementara kita tahu, militer jelas adalah alat negara (jadi bisa kita sebut “panggilan negara”), bila pemimpinnya memerintahkan berperang, ya militer nya akan berperang….btw, salam kenal juga. Akan belajar dimana Fall nanti?

  4. dina Says:

    Saya belum memutuskan, antara Northeastern Univ. di Boston, MA sama Iowa State Univ. di Ames, IA. Saya ambil Computer Science-Human Computer Interaction. Secara academic saya lebih sreg di ISU, tapi Boston sepertinya lebih menantang. hehe.saya bingung. Ini saya MS, tapi ada rencana lanjut PhD di US juga, someday. Saya pengen sekali ke MIT, apa ada pengaruhnya klo prof. saat S2 banyak yang dari MIT (karena di Norteastern bgtu)? Ada masukan pak?

  5. philips vermonte Says:

    Mungkin bisa berpengaruh, mungkin nggak. Bisa berpengaruh kalau mereka mau menulis rekomendasi yang bagus dan kuat untuk kita waktu memasukin aplikasi Ph.D ke sana. Yang paling berpengaruh ya performance kita saat studi S2.

  6. teguhtimur Says:

    wah, menarik juga mengajarkan buku harian soe hok gie itu di ruang kelas. tidak terpikirkan sebelumnya… sekalian bikin majalah polar gak? hehe

  7. philips vermonte Says:

    @teguh..catatan harian itu sudah terbukti menghasilkan banyak kader…he..he..he

  8. Ade Says:

    saya jadi inget film Lions for Lambs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: