Jalan-jalan Sukses

Tadi saya pergi ke downtown Chicago, bersama dua teman, Sunny dan Taufiq. Anak saya yang masih pre-K kebetulan libur sekolahnya, jadi saya bawa serta. Yang satu lagi tetap masuk sekolah, sementara istri saya hari ini bekerja. Jadilah Sunny, Taufiq dan saya seperti dalam film Three Men and a Little Baby.

Kebetulan kami bertiga memang tidak ada kuliah hari ini. Tujuan utama mengantar Sunny mengurus perpanjangan paspor di konsulat Indonesia di Chicago. Selebihnya jalan-jalan.

Selepas dari konsulat, kami makan siang di sebuah restoran Malaysia di daerah pecinan Chicago. Penang nama restoran itu. Menunya sungguh mengundang selera. Saya pesan nasi goreng ikan asin dan jus strawberry. Restoran Penang populer sekali. Sebentar saja kami duduk di situ, ramai sekali orang datang. Sejak beberapa hari lalu Sunny memang sudah wanti-wanti bahwa kita harus makan siang di situ. Pilihannya tidak meleset.

Seusai makan siang, kami pergi ke toko buku bekas Powell yang besar. Sudah lama sekali sejak terakhir kami berkunjung ke situ. Sepertinya ‘kurator’ toko buku itu ganti. Sehingga, cara mereka mengklasifikasi buku juga berubah. Kami agak heran tidak menemukan satupun buku bagus di political science section. Ternyata, ‘kurator’ Powell mengklasifikasi buku lebih detail.

Saya ingat dulu dapat buku klasik karangan Ronald Rogowski berjudul Commerce and Coalition: How Trade Affects Domestic Political Alignments di seksi ilmu politik di toko buku ini. Tadi Sunny dapat buku itu di bagian ilmu ekonomi. Di bagian itu, teman saya ini juga mendapat buku karangan Joseph Grieco yang judulnya Cooperation Among Nations:Europe, America, and non-Tarrifs Barrier to Trade. Rogowski dan Grieco adalah dua nama yang dikenal luas dalam disiplin ilmu politik (khususnya sub-disiplin comparative politics dan disiplin ilmu hubungan internasional). Kami agak heran juga buku itu sekarang diletakkan di seksi ilmu ekonomi (memang kajiannya adalah ekonomi politik, tapi ini diskusi lain lagi..he..he). Taufiq juga mendapat dua buku.

Karena tidak menemukan buku bekas yang menarik di bagian ilmu politik, saya pindah ke bagian Asia Tenggara. Sial, tidak ada buku bagus juga di situ. Beruntung akhirnya saya menemukan satu buku layak beli, juga di bagian ekonomi. Buku itu karangan Jeffrey Winters yang judulnya Power in Motion: Capital Mobility and the Indonesian State. Lumayan, buku edisi hardcover dengan harga cukup 5 dolar. Yah, namanya juga buku bekas.

Rute jalan-jalan kami yang ketiga adalah sebuah toko yang menjual piringan hitam bekas dan baru. Dave’s Record namanya, terletak di North Clark Street yang ramai. Pergi ke toko ini adalah keinginan saya dan Taufiq. Seperti saya tulis tempo hari, beberapa waktu lalu saya membeli sebuah pemutar piringan hitam (turntable) yang harganya murah meriah. Jadi sekarang pelan-pelan saya mulai mengkoleksi pelat piringan hitam.

Minggu lalu saya mendapat piringan hitam bekas di sebuah toko vinyl di dekat kampus saya. Hari itu saya menemukan dua album piringan hitam grup musik rock Genesis di toko itu. Yang pertama album berjudul Selling England by the Pound yang dirilis pada tahun 1973, saat penyanyinya masih Peter Gabriel. Satu lagi album Genesis lain bertajuk Invisible Touch yang dirilis tahun 1986.

Satu pelat piringan hitam lain yang saya beli hari itu adalah album dari Shakatak, grup light jazz, yang berjudul Invitations. Album Shakatak ini saya beli karena di dalamnya ada lagu berjudul Lonely Afternoon, lagu yang sering saya putar semasa kuliah S-1 di Bandung dulu, di tempat kost sore-sore sambil ngupi dan makan ruti. Sampul pelat-nya sih memang sudah agak kusam, tetapi ketika diputar suaranya masih jernih seperti baru. Sepertinya uang satu dolar yang saya keluarkan untuk membelinya langsung terbayar begitu mendengar lagu itu (di jalan Surabaya di Jakarta, pelat piringan hitam bekas kabarnya dijual dengan harga 70 ribuan alias sekitar 8 dolar-an; bahkan terkadang harganya lebih dari seratus ribuan rupiah. Album piringan hitam grup legendaris seperti Koes Plus malah mungkin bisa lebih mahal lagi)

Tadi di Dave’s Records, saya dapat album piringan hitam grup the Strokes yang judulnya Is This It. Selain itu, saya juga dapat album Bob Marley yang berjudul Legend. Dua album ini ada di list 500 album musik terbaik sepanjang masa yang ditulis oleh majalah musik Rolling Stone beberapa waktu lalu. Album Legend dari grup Bob Marley and the Wailers beberapa bulan lalu juga kembali diminati setelah digunakan sebagai theme song dalam film I’m Legend yang dibintangi Will Smith itu. Di film itu, lagu Three Little Birds dari album Legend ini terdengar cukup lama.

Toko Dave’s Records menarik sekali. Ada ribuan pelat piringan hitam baru dan bekas yang diperjualbelikan di toko itu. Kelihatannya saya bakal rutin ke situ, membangun koleksi piringan hitam. Tempo hari, ayah saya kirim kabar dari Jakarta. Saya baru memberi tahu dia bahwa saya baru beli pemutar piringan hitam. Dia bilang bahwa koleksi piringan hitam miliknya masih rapi tersimpan di perpustakaannya. Lumayan, berarti ada tambahan koleksi dari tahun 70-an. Saya kira sudah hilang atau dijual di pasar loak. Sayang sekali dulu saya tidak terlalu peduli dengan pelat-pelat piringan hitam itu. Semoga ketika saya pulang seusai studi nanti (entah kapan bisa selesai..he..he), pelat-pelat piringan hitam milik ayah saya itu belum rusak.

Terakhir, kami pergi ke toko bahan makanan Asia yang dimiliki oleh seorang Thailand, Edi namanya. Taufiq ingin membeli tempe dan Sunny dapat titipan membeli ikan teri. Sementara, istri saya minta dibelikan kecap dan sambal botol. Kami terkejut karena di depan toko si Edi ada pengumuman besar: retirement sale. Rupanya Edi mau pensiun, katanya sudah capek berdagang tiga puluh tahun lamanya. Mungkin dia mau istirahat menikmati hari tua. Saya rasa banyak pelanggannya yang sedih karena tokonya tutup. Saya dengar seorang Amerika yang lagi belanja di situ bilang ke Edi: ‘I’m gonna miss this place, Edi’. Dalam hati saya bersetuju.

Obral di situ tampaknya sudah berlangsung beberapa hari. Bahan-bahan yang kami cari sudah tidak ada. Tempe, ikan teri, sambal botol dan kecap sudah ludes. Syukur saya masih bisa dapat indomie, santan beberapa kaleng, dan beberapa bumbu. Sepertinya kami harus buru-buru mencari toko lain yang menyediakan bahan-bahan makanan Indonesia selengkap toko si Edi.

Bagaimanapun, kami pulang dengan hati senang. Makan nasi goreng enak, dapat buku, dan piringan hitam, semua dengan budget mahasiswa. Kurang apa lagi?…he..he.

12 Tanggapan to “Jalan-jalan Sukses”

  1. bleu Says:

    ‘Lips, dulu tiap ke Chicago, kita juga pasti makan di Penang… hehehe… Ternyata pas pindah ke North Carolina, di Chapel-Hill juga ada, tapi dibikin model cafe yang agak upscale gitu, jadinya mahal. Tapi kok makannya nasi goreng ikan asin…? ;)

    Apa kabar pak? Kalo loe mampir ke sini, gue bawa ke tempat makan yang 5x lebih enak dari Penang deh… atau ke Penangnya beneran…

  2. philips vermonte Says:

    Bule, nasi goreng paling gampang dimakan bareng anak gue. Lagian, uenakk…he..he..

    Beneran nih, kapan2 kalo ke KL, makan ama elu…:-) Kabar gw baik, brutal winter udah lewat, udara mulai hangat di sini…

  3. finallywoken Says:

    Hi sorry, gak berhubungan dengan topik, but I wonder if it’s ok to list your blog in Indonesian Expatriates Forum? IEF (harapannya sih) adalah wadah bagi semua warga Indonesia yang sedang tinggal di luar negeri atau pernah punya pengalaman tinggal di sana. Cheers!

  4. philips vermonte Says:

    Mbak Finallywoken

    Feel free to add this blog onto your list…thanks sudah mampir ke sini…

  5. merlyna Says:

    hey, wah asik…jalan2 nih….. pasti gara2 udah compre… :p
    enaknya jadi mahasiswa adalah punya justifikasi untuk hidup frugal!!! :)

  6. yus ariyanto Says:

    bung, kok si daniel disuruh menghadap belakang? (lihat foto kedua)…he…he..

  7. philips vermonte Says:

    @merlyna: jadi nggak enak nih ketahuan mahasiswa demen jalan2…he..he
    @yus: dia mau pamer unyeng2 nya…:-)

  8. merlyna Says:

    justru aneh kalau jadi mahasiswa tapi ngga demen jalan2….. ada yg salah itu :p

  9. locong Says:

    Wah dapet Selling England by The Pound jadi inget ama lagu Dancing With The Moonlit Knight, suka yang progressive ya mas? Suka Pink Floyd juga dong..salam kenal

  10. philips vermonte Says:

    Bung Locong (?), sama prog rock biasa aja. Tapi dua yang disebut itu saya suka. Selling England punya Genesis lama mantap sekali. Pink Floyd juga dahsyat, termasuk Pink Floyd lama waktu Syd Berret masih ada, jaman psychedelic dulu…:-)

  11. Locong Says:

    Jaman Syd Berret saya kurang suka lagunya kaya lagu anak-anak..hehe
    sukanya pas Roger Waters megang kendali psychedelicnya bagi saya dapet banget, apalagi dengerin Waiting for The Worms sama Comfortably Numb di album The Wall mantap abis..:)

  12. abdi nst Says:

    Baca tulisan Mas, saya jadi ngiri. Saya juga sekarang lagi seneng2nya ngoleksi PH/LP, padahal blum punya playernya, tapi asyik aja, lebih klasik. Kemarin di jalan surabaya saya nemu PH Wham yg berjdl The Final, terdiri dari 2 PH (limited edition sie), harganya saya beli 100rb, PH berikutnya New Kids on the Block, album Hangin Tough harganya 50rb. Ngeliat Mas bisa beli PH seharga 1 dollar, jd ngiri, murah bgt. kayaknya perlu ada komunitas pencinta piringan hitam ya. Wah, kalo boleh, saya bisa pesan PH dong ke Mas, mumpung msh di Chicago, he he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: