Piringan Hitam

Saya punya teman, Taufiq namanya. Dia wartawan Jakarta Post, sekarang sama-sama studi di NIU sini. Dia baru mulai studi musim panas tahun yang lalu. Dari dia saya sekarang lebih mengenal musik-musik alternatif, yang dulu terdengar aneh di telinga saya. Ada the Shins, the Strokes, Pavement, the Flaming Lips, the Clash, Television, Wilco, macam-macam. Saya lumayan suka musik. Walaupun suka musik, saya bukan termasuk music-monger. Musik alternatif ini mungkin terdengar ajaib karena bukan kategori ‘top 40’ (alias jarang diputar stasiun radio) maka telinga saya tidak familiar. Umumnya musik mereka ini simple, minimalis. Tapi banyak layer-nya. Ibaratnya, musik the Police yang ditambah sedikit keramaiannya atau Nirvana yang dikurangi sedikit dosisnya.

Banyak diantara band-band ini semula adalah band indie yang tidak atraktif bagi perusahaan rekaman besar. Ada juga di antara band indie ini yang sengaja tidak mau berafiliasi dengan perusahaan rekaman besar karena beragam alasan, bisa ideologi atau idealisme sebagai musisi yang tidak ingin didikte oleh perusahaan rekaman besar. Yang begini biasanya lebih memilih merekam, memproduksi dan mengedarkan sendiri karya ciptanya.

Tidak hanya band indie, band kontemporer banyak yang lebih suka berdiri sendiri. Di Indonesia, ada banyak band semacam ini yang musiknya crisp. Salah satunya bernama Cozy Street Corner. Kabarnya mereka ini mahasiswa jurusan Psikologi UI, manggung dari kampus ke kampus, dan dari kafe ke kafe. Musiknya renyah, akustik dan ada unsur folk seperti Sunda atau daerah lain. CD mereka beredar terbatas. Mungkin sekarang sudah meluas, saya tidak begitu tahu karena saya hanya men-download beberapa lagu mereka dari Multiply. Saya baru ‘kenal’ Cozy Street Corner sekitar tiga bulan lalu, padahal kabarnya Cozy Street Corner ini sudah eksis cukup lama juga. Saya baru kenal band ini ketika membaca tulisan di blog di Multiply milik Andreas “Item”, teman kuliah di Bandung dulu.
Radiohead, salah satu band tersohor, beberapa bulan lalu membuat heboh dunia musik. Mereka meluncurkan sendiri album terbarunya lewat internet. Semua orang dari seluruh dunia boleh mendownload dan membayar dengan harga sesuka mereka sendiri. Ada yang tidak bayar, ada juga yang membayar 1 atau 2 dolar atau lebih. Internet kelihatannya akan menjadi masa depan industri musik. Perusahaan rekaman konvensional pasti kalang kabut atas apa yang dilakukan oleh Radiohead ini.

Tempo hari ada berita unik. Selama ini yang dianggap sebagai sebuah keputusan terbodoh nomor satu dalam industri musik adalah ketika sebuah perusahaan rekaman di Inggris menolak demo tape yang ditawarkan the Beatles di awal tahun 1960-an. Ternyata, the Beatles yang ditolaknya menjadi legenda yang hingga kini tidak habis ditelan zaman. Sekarang, yang dianggap sebagai keputusan paling bodoh yang pernah dibuat oleh perusahaan rekaman bukan lagi soal the Beatles itu. Akan tetapi, keputusan ketika asosiasi perusahaan rekaman besar rama-ramai menyeret Napster, sebuah perusahaan music sharing berbasis internet, ke pengadilan di akhir tahun 1990-an. Napster memang akhirnya dipaksa tutup, akan tetapi industri musik berbasis internet yang dipeloporinya itu tidak tertahankan.

Keputusan asosiasi perusahaan rekaman itu sekarang dianggap keputusan terbodoh, karena seharusnya saat itu mereka memiliki opsi untuk menginkorporasikan perusahaan semacam Napster ke dalam produksi dan distribusi industri rekaman, daripada memusuhi mereka. Sekarang, banyak perusahaan rekaman besar terancam gulung tikar karena pembelian dan distribusi musik lewat internet justru semakin menjadi pilihan. iTunes store milik Apple adalah contoh suksesnya. Bahkan Amazondotcom pun baru-baru ini meluncurkan divisi penjualan mp3 download. Kalau diperhatikan, music section di toko buku Borders atau Barnes & Noble misalnya, juga semakin sedikit space-nya. Sebabnya sederhana: pembeli CD semakin sedikit, sementara pembeli mp3 atau format digital lain semakin berlipat-lipat jumlahnya yang diikuti melesatnya penjualan beragam jenis mp3 player.

Ngomong-ngomong soal internet dan masa depan, teman saya Taufiq juga membawa saya ke masa lalu. Dia punya pemutar piringan hitam di kamarnya yang dia beli beberapa bulan lalu. Ternyata, asik juga mendengar album musik di piringan hitam. Pelat piringan hitam (yang bekas tentu saja) harganya jauh lebih murah daripada harga CD, 2 atau 3 dolar sudah dapat. Saya beberapa kali menemani dia berburu piringan hitam bekas di kota tempat kami belajar ini, lalu mencobanya di kamar apartemennya.

Memang akhir-akhir ini, minat terhadap pemutar piringan hitam (alias turntable) sedang meningkat. Sebabnya, semakin banyak orang yang merasa jenuh dengan CD atau musik digital yang justru dianggap terlalu bersih suaranya. Manipulasi digital, menurut mereka ini, menghilangkan elemen manusia dalam berkesenian. Dalam piringan hitam, suara lebih bagus (tepatnya ‘kasar’) dan terkadang kesalahan para musisi dalam proses rekaman bisa terdengar. Tetapi justru itu dinilai lebih natural. Di samping itu, lagu-lagu jadul mungkin lebih banyak tersedia dalam format piringan hitam daripada CD. Jadi, ‘market’ untuk penjualan piringan hitam ini tetap ada. Selain itu, band kontemporer pun umumnya tetap rutin mengeluarkan album dalam bentuk piringan hitam, selain dalam format CD.

Harga turntable yang bagus bisa mencapai 200-an dolar. Beberapa hari lalu, tiba-tiba ada diskon sebuah turntable bagus, harganya cuma 30-an dolar. Murah meriah. Saya beli, pucuk dicinta ulam tiba. Yah lumayan, buat hiburan. Berarti siap-siap punya hobi baru: berburu pelat piringan hitam di toko barang bekas…he..he.

Padahal, ayah saya dulu punya pemutar piringan hitam yang besar, lengkap dengan speaker dan radio. Saya masih ingat samar-samar waktu kecil dulu sering mendengar dia memutar pelat musik klasik. Juga ada musik pop seperti Simon & Garfunkel. Entah dimana pemutar dan pelat-pelat piringan hitam itu sekarang.

Jangan-jangan saya mengulangi kesalahan banyak orang yang mencampakkan begitu saja barang-barang lama. Mungkin juga saya ini representasi banyak orang muda yang tidak terlalu peduli masa lalu, hanya peduli masa ini. Padahal barang-barang lama bisa menjadi obyek menarik. Bukan cuma untuk dinikmati seperti pemutar piringan hitam itu, tapi bisa juga untuk bahan edukasi karena barang lama bisa meningkatkan rasa ingin tahu pada sebuah episode sejarah.

Sekali waktu di tahun 2004, saya datang ke seminar yang diselenggarakan sebuah think tank namanya Institut de Relations Internationales Et Strategiques di Paris. Di akhir seminar, saya dan dua teman lain diundang makan malam oleh seorang teman anggota panitia penyelenggara yang kebetulan pernah tinggal di Asia Tenggara. Suaminya yang masak dan menyiapkan segala sesuatunya.

Ada sebuah lukisan tua tergantung di dinding apartemen mereka, katanya lukisan warisan keluarga. Lukisan itu mengenai sebuah episode pertempuran di laut antara armada Perancis dan Inggris di masa lalu. Suami rekan saya ini kemudian dengan penuh semangat menceritakan kisah sejarah sepenggal episode yang direkam oleh lukisan itu. Sampai-sampai dia mengambil sebuah buku sejarah yang menceritakan hal yang sama. Mereka berdua ini senang melakukan riset sederhana untuk mengetahui latar belakang barang-barang yang mereka warisi/miliki. Kelihatannya mereka berdua ini memang tipikal orang Perancis yang gemar akan sejarah. Kalau ingat mereka berdua, ya terasa bahwa saya termasuk orang yang lebih banyak peduli pada masa kini.

6 Tanggapan to “Piringan Hitam”

  1. Nova Riyanti Yusuf Says:

    welcome to the paradise of alternative music… try seattle grunge…a true classic for my ears (at least)!

  2. philips vermonte Says:

    nova, tumben mampir…:-) I’ll try that seattle thing. by the way, congrats on your new book!

  3. Nova Riyanti Yusuf Says:

    gak tau aja kaleee dat i peek-a-boo

  4. Winbert Hutahaean Says:

    Hi Philips,

    If you are in Indonesia please visit my site http://www.piringanhitam.tokobagus.com/ and hundreds of vinyls are for sale. Of course the price wouldn’t be like in overseas.

    I am a vinyl collector on various genres from Rock, Jazz, blues, Pop, Country, Disco with their sub-genres from various release years. Due to the nature of the collector who is always trying to get the best condition (cover and vinyl), I always bought multiple LPs for the same titles. I end up with duplication in my collection and therefore, I have to sell them to give more space for my new collection. I am not a full time dealer.

    cheers,

    winbert

  5. joanne Says:

    berminat ama piringan hitam klasik? banyak koleksi…hubungi +62858867261160

  6. Jaya Says:

    Salam kenal
    Ada gakya lagu-lagu melayu (bukan dangdutya) trs lagu anak-anak.
    Jaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: