Sedikit Cerita dari Konferensi APSA 2007

Akhirnya semester musim gugur sudah dimulai. Ini minggu pertama kuliah, belum ‘panas’.

Kuliah minggu pertama cukup santai, malah beberapa dosen membatalkan kuliah karena tepat minggu ini konferensi tahunan American Political Science Association (APSA) diselenggarakan di Chicago, mulai Kamis hingga hari Minggu kemarin. Kebetulan, karena saya sudah mendaftar untuk ikut konferensi itu seperti tempo hari saya tulis di sini.

Kebetulan juga, seorang teman Ahmad Sahal dan Tati istrinya datang mengunjungi kami dan menginap di sini. Mereka bermaksud mengunjungi Chicago. Lama juga tidak bertemu Sahal, terakhir setahun lalu jumpa di Utan Kayu waktu kami kebetulan sama-sama pulang ke Jakarta. Sahal juga sedang studi doktoral ilmu politik di University of Pennsylvania. Tati adalah pengajar di UIN Ciputat, baru selesai studi Masternya di Columbia University.

Konferensi APSA sangat menarik. Cuma sedikit masalah, atau mungkin masalah besar buat saya, adalah session-session diselenggarakan di dua hotel berbeda: Sheraton dan Hyatt. Walaupun kedua hotel itu berhadap-hadapan, tetap saja peserta tidak leluasa untuk berpindah dari satu session ke session lain. Karena jelas membutuhkan waktu. Karena itu ada banyak session yang semula saya ingin datangi, terpaksa gagal. Tidak apa, beberapa waktu lagi seluruh paper konferensi sudah bisa diakses oleh semua member APSA.

Ada beberapa session yang saya hadiri, beberapa diantaranya tentang partai politik dan juga pemilu. Juga session bertopik studi hubungan internasional. Saya hadir di session International Relations Discipline: Past, Present and Future. Pembicaranya John Mearsheimer, Robert Keohane dan Alexander Wendt. Dari nama-nama panelis ini sudah tampak bahwa panitia bermaksud menghadirkan debat klasik paradigmatik, antara realisme, liberalisme dan konstruktivisme. Kelihatannya John Mearsheimer yang paling solid pendapatnya…he..he (mungkin juga saya makin condong pada realisme maka semakin bisa memahami pandangan John Mearsheimer). Session ini diadakan di ballroom yang dipenuhi hadirin.

Hadirin terkesiap ketika Alexander Wendt yang dikenal sebagai pemikir paling utama konstruktivisme menjawab pertanyaan mengapa dia belakangan tidak agresif mengembangkan pemikiran konstruktivisme. Jawaban dia kira-kira: “I am no longer in the business of constructivism. It has expanded to the extend that I could not comprehend’…Waduh. ..Para konstruktifis diantara hadirin pasti kaget setengah mati mendengar ucapan Alexander Wendt….:-).

Mungkin yang dirasakan oleh para konstruktifis ketika mendengar jawaban itu sama dengan yang saya rasakan diawal tahun 1990-an ketika saya membaca sebuah wawancara dengan Fernando Cardoso yang baru terpilih menjadi presiden Brazil. Seperti banyak teman-teman mahasiswa, ketika itu saya gandrung sekali pada teori-teori dependensia.

Kita tahu bahwa Fernando Cardoso adalah salah satu intelektual utama teori dependensia. Ketika ia terpilih menjadi presiden Brazil, tentu menjadi kabar yang sangat menggairahkan. Tak dinyana, dalam wawancara itu Cardoso bilang: “Teori-teori dependensia lebih banyak salahnya, daripada benarnya”. Perasaan saya waktu itu ibaratnya mendengar (almarhum) Asmuni dalam sebuah iklan sarung yang bilang: Wassalam!…:-)

Session paling menyegarkan adalah sebuah ceramah tunggal dari Frans de Waal, pengarang buku legendaris “Chimpanzee Politics”. Session-nya juga di ballroom yang dipenuhi hadirin. Frans de Waal meneliti perilaku sosial politik simpanse sudah lebih dari 20 tahun lebih lamanya. Ceramahnya lengkap dengan video rekaman para simpanse yang ditelitinya. Memang ternyata politik manusia tidak lebih tua dari politik para simpanse, begitulah kesimpulan saya setelah mendengar ceramah itu.

Saya pernah tulis soal simpanse sedikit di blog ini ketika mengunjungi sebuah kebun binatang di Chicago beberapa waktu lalu, di sini. Maka ketika melihat ada sessi ceramah Frans de Waal di konferensi APSA kali ini, saya memasukannya dalam list must-see.

Frans de Waal memaparkan hasil penelitian terbarunya. Dia mengunjungi lagi komunitas simpanse yang pertama kali dia teliti beberapa tahun lalu. Dia menemukan bahwa ‘raja’ komunitas itu (sebutan ilmiahnya adalah alpha-male), sudah digulingkan oleh simpanse lain yang lebih muda. Namun simpanse yang lebih muda ini tidak terlalu kuat, ada saingannya. Sehingga dia tetap harus berkoalisi dengan raja lama. Raja lama dia jadikan semacam ‘menteri senior’. Menyegarkan sekali, melihat video-video rekaman insiden-insiden yang memperlihatkan jelas pola-pola koalisi dan kompetisi simpanse ini.

Buku Chimpanzee Politics yang lama sudah diupdate dan akan terbit lagi akhir September ini. Kelihatannya wajib dibeli. Memang political scientists di negara maju memiliki kemewahan untuk meneliti soal apa saja. Kajian apa saja bisa berkembang. Ilmuwan politik di negara berkembang seperti Indonesia tidak punya kemewahan serupa. Topik-topik yang bisa diteliti sangat terbatas, dan bergantung pada funding availability. Hampir tidak mungkin ada lembaga pemberi dana di Jakarta yang mau memberi dana seorang ilmuwan politik untuk meneliti perilaku sosial politik orangutan di Indonesia secara serius dan konsisten untuk beberapa tahun lamanya. Pasti yang ditanya duluan adalah apakah topik semacam itu relevan di Indonesia? Padahal kalau melihat-lihat para politisi kita, sepertinya topik ini sangat cucok…:-)

13 Tanggapan to “Sedikit Cerita dari Konferensi APSA 2007”

  1. Gaffar Says:

    Ceritanya menarik bgt… jd pingin bgt datang ke sana juga. BTW, itu switch paradigmanya Wendt yg mmg tak terduga, ataukah cara panitia utk menunjukkan bahwa konstruktifisme sdh decline…;)

  2. papabonbon Says:

    menarik nih yg tentang simpansenya. wah, ada mas abdul gaffar karim segala. jadi pendekar kuliner di jogja yah, sekarang .. :P

  3. budi Says:

    Tentang dana penelitian Mas, jangan-jangan minimnya dana di Indonesia karena penelitinya sudah benar-benar menjiwai voluntarisme?he..

  4. puspini Says:

    wwooow, Mearsheimer, Wendt and Keohane in the same panel….no interesting stories on Keohane?? I do, after all (still) more or less subscribe to his school of thought…

  5. uwiuw Says:

    Perasaan saya waktu itu ibaratnya mendengar (almarhum) Asmuni dalam sebuah iklan sarung yang bilang: Wassalam!…:-)

    ahahahhahaha !

  6. graceC Says:

    Halo…! Salam kenal dan numpang tanya yg sedikit off topic boleh ya? Saya ingin tanya grocery store di Chicago yg jual produk Indonesia itu di mana sih? Ma’af kalau pertanyaan saya agak gak nyambung. Terima kasih sebelumnya.

    Salam, Grace

  7. philips vermonte Says:

    thanks friends..sorry telat reply…:-)
    @ gaffar, ya seru…main-main lah ke sini…:-)

    @ budi, ya mungkin juga. ilmuwan politik dianggap amal, jadi penelitian tanpa dibayar, asal ikhlas…he..he

    @ puspini: are you serious?…:-)

    @ uwiuw..salam kenal..memang asmuni sangat spektakuler…he..he

    @ grace, itu di Thai grocery, di Argale/Broadway…Broadway itu berpotongan dengan Lawrence Ave. Di daerah itu banyak toko Vietnam. Ada dua Thai groceries di situ, yang biasa kami kunjungi yang letaknya persis di lampu merah, pas tusuk sate….selamat belanja!…:-)

  8. Alex Arifianto Says:

    Trims atas update dari APSA Philip, sangat menarik bagi orang2 seperti saya yg belum sempat mengikuti APSA conference karena saya masih mengambil coursework (mungkin next year saya bisa ikut).

    Comment dari Alex Wendt menarik sekali, mungkin merupakan sebuah keluhan beliau karena constructivism sekarang di “bajak” oleh post-modernist, critical/Marxist, dan feminist theories supaya mereka bisa challenge realism and liberalism, sesuatu yang on their own mereka tdk bisa melakukannya.

    Good luck on finishing your coursework and your comp at NIU. Moga2 kita bisa ketemu sometime soon.

  9. grace Says:

    hello phillips..salam kenal:)
    nice post you have here, ttg chimpanzee politicnya interesting sekali.
    btw, udah sebulan ga ada post baru..more post please…:)

  10. Asrudin Says:

    Menarik juga mendengar pernyataan Wendt, padahal dia adalah pentolan utama konstruktivisme dalam ilmu HI. Ada apa sebenarnya bung Philip? jangan-jangan dia juga seperti Mearsheimer (seorang neo-realisme ofensif) , yang menganggap realitas adalah sesuatu yang given.

  11. philips vermonte Says:

    Bung Asrudin, mungkin nggak ada apa-apa. Mungkin Wendt sedang ingin menggoda para konstruktivis untuk tidak lupa melakukan self-criticism. Mungkin juga memang setelah mengkaji sekian lama, ia berubah pendapat. Kan nggak salah orang berubah pendapat?

  12. Asrudin Says:

    Nggak salah, hanya heran saja. Sebetulnya Wendt memiliki penafsiran yang cukup valid tentang konstruki sosial yang terdapat dalam realitas HI (Anarchy Is What States Make of It).

  13. Asrudin Says:

    Btw, saya juga pengagum John J. Mearsheimer. Tapi saya kesulitan mencari bukunya yang berjudul the Tragedy of Great Power Politics. Mungkin Bung Philips bisa membantu saya mendapatkan buku tersebut. Karena saya ingin sekali memilikinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: