Teknologi dan Pembelajaran Politik

Seminggu terakhir, traffic ke blog saya meningkat. Terutama ada dua tulisan yang di klik mereka yang mampir ke blog ini. Yang pertama judulnya Politik Aliran, dan satu lagi adalah Kajian Budaya Politik. Saya periksa data yang disediakan wordpress, dua tulisan ini sudah diklik-dilihat (belum tentu dibaca) ribuan kali sejak pertama kali tulisan itu saya upload.

Kemarin saya chating dengan kawan saya Yus di Jakarta. Saya iseng menanyakan pendapat dia, mengapa dua tulisan itu mengalami peningkatan traffic beberapa minggu terakhir. Ada dua kemungkinan sebabnya.

Kemungkinan pertama, ada peningkatan minat pembaca di Indonesia atas kajian mengenai konsep budaya politik, politik aliran, political cleavages dan semacamnya. Walaupun tulisan saya tidak menjanjikan apa-apa (karena tulisan pendek blog, sama sekali bukan makalah ilmiah), tapi kalau kemungkinan pertama ini benar maka frekuensi search di internet dengan entry kata kunci ‘budaya politik’ mungkin mengindikasikan sesuatu yang berhubungan dengan minat atas kajian budaya politik. Sepertinya tidak cuma di Indonesia, dalam dua jurnal ilmu politik terkemuka di Amerika edisi terakhir yang keluar dua minggu lalu (jurnal American Political Science Review dan American Journal of Political Science) ada juga tulisan panjang mengenai political cleavages yang saya minati sejak lama.

Kemungkinan kedua, ya memang minggu-minggu ini para dosen di Indonesia sedang menugaskan mahasiswanya belajar budaya politik. Maka tidak heran, mahasiswa sekedar mencari dengan search engine di internet untuk mendapatkan quick reading atas konsep itu. Maka banyak yang tidak sengaja terdampar di blog saya ini.

Apapun, saya dan Yus kemudian mendiskusikan betapa menyenangkan menjadi mahasiswa di Indonesia saat ini. Ada internet dan warnet yang bertebaran dimana-mana. Mencari data, atau bacaan tambahan kuliah jauh lebih mudah. Sepuluh tahun lalu, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional yang kuliah di Bandung seperti saya, harus ke Jakarta untuk sekedar menemukan bahan-bahan bacaan dari jurnal atau buku-buku di perpustakaan CSIS. Ongkos perjalanannya mahal, tambah lagi biaya fotokopi yang bisa menguras kantong. Untuk mencari bacaan, sebagai mahasiswa jurusan HI di Bandung I had to move my ass 200 kilometres away. Sekarang, tinggal ke warnet terdekat, google. Sekarang, informasi jauh lebih mudah diperoleh di bandingkan 10 atau 15 tahun lalu. Semua berkat teknologi. Warnet pun relatif murah. Saya sering sampaikan pada mahasiswa saya, kalau mereka berhenti merokok dua hari saja, harga satu pak rokok bisa dipakai untuk akses internet satu jam di warnet.

Omong-omong soal teknologi, pasti banyak yang menonton acara debat kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat di CNN. Kalau belum menonton, acara itu masih di re-run oleh CNN. Acara itu sendiri diselenggarakan bersama CNN dan Youtube.

Kandidat presiden berdiri di panggung, menghadapi pertanyaan bukan dari audiens di studio tapi dari warga negara Amerika dari berbagai tempat yang meng-upload video rekaman pertanyaannya melalui Youtube. Video Youtube itu kemudian ditayangkan di layar besar di studio CNN tempat debat berlangsung.

Debat model begini sungguh sehat, entertaining, dan memaksa para kandidat berpikir keras menjawab pertanyaan tidak terduga-duga dari masyarakat. Entah kapan kita bisa memilik debat kandidat (entah presiden, gubernur, bupati dan lainnya) yang mencerahkan seperti ini. Yang terpenting, dengan debat presiden yang memanfaatkan teknologi seperti ini, penonton segera bisa tahu mana calon yang hanya bisa beretorika dan mana yang betul-betul memiliki konsep untuk policy yang akan dia jalankan kalau terpilih menjadi presiden. Kemungkinan memilih presiden kucing dalam karung sedikit berkurang. Minimal, presidennya nggak mungkin pendiam seperti yang pernah kita punya…he..he.

Dari sisi warga negara, dengan acara debat yang memanfaatkan Youtube, pertanyaan konkrit dari warga negara sedikit banyak memperlihatkan preferensi dan isu-isu yang dianggap penting oleh para pemilih. Mulai dari pajak, perang Irak, hubungan luar negeri, kebijakan asuransi kesehatan, gun control, kebijakan pendidikan, komitmen calon presiden akan konservasi lingkungan, riset bidang kesehatan dan lain-lain. Isu Irak memang penting, tapi bagi pemilih di Amerika sepertinya isu-isu yang langsung mempengaruhi kesejahteraannya dianggap jauh lebih penting. Ibaratnya bagi pemilih di Amerika: jangan sampai kuman diseberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak nampak. Dalam debat di CNN-Youtube ini para kandidat harus bekerja keras mempersiapkan diri dan menjawab pertanyaan dari berbagai penjuru negara bagian Amerika Serikat ini, bahkan kadang hingga detail.

Durasi acara cukup panjang, dan pertanyaannya amat beragam. Ada beberapa pertanyaan simpel yang menurut saya menarik sekali.

Ada pertanyaan dari audiens di Youtube yang disampaikan begini: “Apakah Anda menyekolahkan anak di sekolah swasta atau sekolah negeri, baik SD/SMP/SMA?”

Sepertinya para kandidat panas dingin menjawab pertanyaan ini…he..he. Karena sebagian besar kandidat telah bicara mengenai kesejahteraan guru dan janji memperbaiki kualitas pendidikan di Amerika pada umumnya. Tentunya yang mereka bicarakan itu adalah pembiayaan sekolah negeri (public school). Mereka harus hati-hati menjawab, karena image Partai Demokrat adalah ‘partai kelas pekerja” alias partainya orang biasa, bukan orang kaya. Jika mereka menjawab bahwa anak-anaknya disekolahkan di sekolah swasta yang sudah pasti mahal, tentu pemilih akan ragu seberapa besar para kandidat ini akan berkomitmen memperbaiki kualitas sekolah-sekolah negeri karena tidak ‘menyelami’ keterbatasan sekolah negeri karena anak-anak mereka sendiri tidak pernah bersekolah di situ.

Hillary Clinton menjawab bahwa anaknya, Chelsea, disekolahkan di sekolah negeri, dari TK hingga kelas 7. Mulai kelas 8 masuk private school di Washington katanya untuk menghindari kejaran pers, karena waktu itu Bill Clinton sudah jadi presiden. Barack Obama menyekolahkan anaknya semua di SD swasta, alasannya adalah karena sekolah itu paling dekat rumahnya di Chicago. Clinton dan Obama pandai sekali nge-les dari pertanyaan ini…he..he.

Soal konservasi energi, seorang penanya di Youtube memaksa para kandidat menyampaikan konsep penghematan energi kalau mereka terpilih jadi presiden. Semua kandidat bersemangat sekali memaparkan konsep konservasi energi yang mereka siapkan.

Anderson Cooper, moderator acara ini, mengajukan pertanyaan menggelitik ketika para kandidat selesai menjawab pertanyaan soal konservasi energi di Youtube itu. Pertanyaan Anderson: “siapa diantara Anda sekalian yang terbang ke sini untuk hadir di studio CNN dengan pesawat jet pribadi/sewaan?”

Hampir semua, malu-malu sambil nyengir angkat tangan. Tentunya segelintir orang yang terbang dengan jet pribadi/sewaan bukanlah bentuk penghematan energi. Adegan itu membuat audiens di studio tertawa gemuruh dan saya yang menonton di depan TV di rumah tertawa keras-keras…he..he. Mereka were caught red-handed, tertangkap basah, di depan audiens di studio dan jutaan penonton di rumah. Hanya satu kandidat yang tidak naik jet, Senator Mike Gravel. Dia datang dengan bus umum (atau kereta api, saya lupa-lupa ingat). Well-done, Mike! (at least mungkin dia sudah antisipasi ada pertanyaan semacam itu…he..he).

Dalam menghadapi pertanyaan mengenai hubungan luar negeri, harus diakui Hillary Clinton yang paling baik. Ya maklum, pengalaman jadi first lady di masa pemerintahan Bill Clinton dua periode itu.

Menjawab sebuah pertanyaan: “Apakah kalau terpilih menjadi Presiden, Anda akan berdialog langsung dengan pemimpin Iran, Syria, Kuba dan Korea Utara?”, Barack Obama menjawab tegas: “Ya, dulu Kennedy bicara langsung dengan Castro, Ronald Reagan juga bicara langsung dengan pemimpin Uni Soviet walaupun Reagan terus-menerus bilang bahwa Uni Soviet sebagai evil empire.”. Kandidat lain memberi jawaban senada. Dan semua mendapat applaus meriah dari audiens di studio.

Hillary Clinton yang paham betul dunia diplomasi, memberi jawaban lebih cerdas menurut saya. Dia bilang: “Dalam diplomasi, signal adalah penting. Sebagai presiden, saya tidak akan memulai komunikasi bila saya tidak yakin ada signal dari seberang sana bahwa kita bisa mencapai common ground. Saya akan utus banyak special envoys sebelum saya sebagai Presiden bicara langsung dengan pemimpin di negara-negara itu”. Untuk jawaban ini Hillary Clinton mendapat applaus jauh lebih meriah.

Pertanyaan langsung dari netters di Youtube juga sering membuat para kandidat tidak berkutik. Kadang penanya di Youtube mengajukan pertanyaan spesifik pada kandidat tertentu, menanyakan track record mereka dalam policy bidang tertentu. Seorang kandidat, Senator Joe Biden, dibuat tak berkutik ketika seorang penanya di Youtube mengecamnya karena sekarang Biden gencar mengecam sebuah kebijakan mengenai welfare (ada program kesejahteraan namanya No Child Left Behind), padahal dulu sekali dia yang paling awal mendukung program itu di Kongres. Joe Biden dengan gugup mengaku bahwa dulu ia salah.

Tetapi, menurut saya Joe Biden memberi jawaban paling realistis soal penarikan pasukan Amerika dari Irak (tentunya dari perspektif Amerika). Kandidat yang lain menyatakan akan segera menarik seluruh pasukan begitu terpilih jadi Presiden. Joe Bidden menyatakan ada 3000 warga sipil Amerika di Irak (wartawan, LSM, pekerja rekonstruksi, dokter, perawat, atau mereka yang bekerja di berbagai lembaga internasional di Irak). Paling tidak untuk melindungi 3000 orang itu, diperlukan 5 ribu hingga 10 ribu tentara yang stationed di sana.

Pertanyaan paling akhir dari video Youtube itu justru paling menarik. Pertanyaannya simpel tapi mencairkan debat yang panas. Begini: “Hal-hal baik apa yang Anda sukai dari kandidat yang lain, dan hal-hal buruk apa yang Anda benci dari mereka”.

Namanya politisi, tentu mereka tidak terjebak dengan pertanyaan ini. Mengatakan hal buruk mengenai kandidat lain akan mengundang ketidaksukaan audiens. Audiens tentu lebih menyukai kandidat yang terlihat sportif. John Edwards bilang dia menganggap kandidat lain sebagai kolega, dan terutama dia menghormati keluarga Clinton (Bill dan Hillary) yang sudah memperlihatkan great service untuk Amerika.

Hillary bilang dia mengagumi Barack Obama dan keluarganya yang hangat. Barack Obama bilang dia menghormati semua kandidat, dan terutama mengapresiasi kandidat Bill Richardson yang juga adalah gubernur negara bagian New Mexico. Menurut Obama, gubernur adalah pekerjaan yang menuntut dedikasi dan a lot of public works. Maka kalau dia terpilih jadi Presiden, Obama berjanji akan melakukan public works sebanyak yang dia mampu. Kandidat lain Senator Denis Kuchinich juga memuji kandidat lain.

Jawaban kandidat Bill Richardson paling menyegarkan. Dia bilang: “Malam ini kita sudah menyaksikan betapa hebatnya para kandidat rekan-rekan saya ini. Karena itu, saya tidak ragu lagi bahwa mereka adalah orang-orang yang tepat untuk menjadi……Wakil Presiden saya!”….hua..ha..ha.

Tanggal 17 September nanti, CNN-Youtube akan menyelenggarakan acara debat serupa untuk kandidat Presiden dari Partai Republik. Pasti ramai juga.

10 Tanggapan to “Teknologi dan Pembelajaran Politik”

  1. aribowo Says:

    ternyata sekarang minat masyarakat akan politik jadi meningkat, apa jangan2 karena lagi rame pilkada dimana mana

  2. gaffar Says:

    Hai Philips, apakabar? Bagaimana seluruh keluarga? Ketemu juga di dunia maya kita ya… tulisannya mantap2… saya senang membaca website ini. Saya link di website saya ya…

  3. philips vermonte Says:

    Wah Bung Gaffar, long time no see. We are all well taken care of here. Semoga keluarga Bung juga baik-baik di sana. Gimana studi, sudah selesai? Thanks sudah mampir, saya link juga web punya ente ya…

    @Aribowo, thanks. Mungkin juga karena pilkada…:-)

  4. gaffar Says:

    Hi, yours is already linked in mine. Apakabar Salman? Sdh gede banget dia ya? Sy msh di Perth dan struggling menulis disertasi… Wish u all the best. BTW, kelihatan gak sekurus dulu neh… kayaknya cocok sama udara di situ, hehehe….

  5. philips vermonte Says:

    Wah, bung Gaffar, good luck with the dissertation. It seems that your’re almost done, while I am still in the middle of nowhere. Long time to go…:-). Ya Salman udah gede (I gather from your web, Perdana juga sudah besar) The last time you saw him, he was still 2.5 y.o. He’s now a big boy. Memang sudah tidak terlalu kurus, tapi jangan-jangan kolesterol semua…:-)

  6. Delianur Says:

    tulisan tentang pilpres di Amerika nya bagus.. Jangan lupa kasih juga “laporan” untuk acara 17 September nya hehehe..

    oya.. saya tertarik dengan studi komunikasi politik. Tulisan diatas setidaknya menyinggung hal itu, bisa recomend saya tempat studi master komunikasi politik di amerika?

    Thanks before

  7. gaffar Says:

    I recalled that day in Yogya, last time I saw Salman. Dia masih gagap berbahasa Indonesia, dan cerita ttg mosquito di Jakarta yang kata dia “dis big” (sambil nunjukin pake tangan, maksudnya “this big”). Hehehe….

  8. Budi T Says:

    Tulisan loe rada gak nyambung sama judulnya Lip…, tp lumayan-lah lu udah mulai merambah topik yg rada2 diluar jalur lu… Jangan2 ter-inspirasi Roy Suryo yg nemu Indonesia Raya di Youtube. :P
    Jd inget obrolan kt wkt ktemu di blok-m trus lu nebeng motor gw, ttg tarif telpon di Indonesia yg lebih mahal, kyknya Roy Suryo yg bisa jawab tuh.

    Dulu gw jg nyari jurnal IEEE ttg teknologi telco di perpustakaan BPPT Jkt, udah rada canggih pake CD tanggal terbitnya up-to-date…abis gitu nge-print bayar per lembar-nya berapa gt.

    Internet udah ada di 2 PC di pojokan, jarang yg make jd gw bisa seharian browsing….tp masih gaptek tau-nya yahoo doang…bacaannya klo gak salah BBS/milis ‘apa kabar’ isinya ttg kritik sm pemerintah orba dan lain2 yg dulu masih tabu dan off the record…

  9. philips vermonte Says:

    @ Gaffar, ya I remember when Salman said that…seems like yesterday…

    @Bebek, soal Roy Suryo gue jadi penonton aja deh…he..he. Kemana aja lu bung, lama nian tak ada kabar?

    @Delianur, wah saya tidak punya rekomendasi tempat untuk studi komunikasi politik. Mungkin baiknya bung search di website universitas-universitas yang banyak itu.

  10. MUHAMMAD NASIR Says:

    kalau kita runtut sejarah perkembangan politik bangsa Indonesia sejak runtuhnya kekuasaan Soekarno di tahun 60 an memang kita bagaikan orang buta yang baru melihat. banyaknya fenomena yang selama ini menjadi guncingan orang dalam lingkup yang tertutup dalam lingkup ketakutan, kini terbuka lebar dan bahkan melebihi negara demokratis yang telah libih dulu menggunakan sistem ini.
    pasca reformasi yang digelontorkan oleh rekan mahasiswa dan tokoh-tokoh yang reformis membuahkan hasil nyata dalam kehidupan politik bangsa Indonesia. kebebasan berserikat dan berkumpul dalam membahas sebuah ide untuk kemajuan bangsa menjadi santapan yang manis bagaikan gadis dara jelita.
    namun yang sangat disayangkan adalah perubahan politik yang begitu maju tidak dibarengi dengan perubahan para politikus dan elit-elit yang mempunyai nama dalam pentas nasional. dimana kemauan dan keuletan dalam membangun bangsa dari kemiskinan, pembodohan dan kedaulatan masih rendah.

    kita lihat perkembangan yang dilakukan negara-negara yang baru merdeka dilingkungan asia saja bangsa kita tertinggal, contohnya malaysia yang komitmen membangun generasi dengan meninggalkan kepentingan pribadi dan kelompoknya tetapi nama bangsa di mata dunia.

    sebagai anak bangsa saya prihatin dengan politikus dan elit bangsa yang sangat jauh komitmennya dalam membangun ketertinggalan dalam kesejahteraan, pendidikan dan pemerintahan yang bersih dari korupsi dan ketidak adilan. namun saya tetap optimis pada generasi yang masih mempunyai semangat muda untuk membangkitkan bangsa dari ketertinggalan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: