Bapak Rumah Tangga

Ini mengenai pengalaman menjadi ‘desperate househusband’ (saingannya desperate housewives, serial tv itu)…he..he

Seminggu terakhir, saya merasakan menjadi bapak full-time. Istri diterima bekerja di sebuah perusahaan, sementara saya sedang libur panjang kuliah, musim panas. Anak-anak juga sedang libur sekolah. Karena masih masa training, istri saya terkadang masuk pagi, kadang siang, bahkan pernah sore.

Karena jadwal kerjanya belum jelas begitu, saya memutuskan berhenti sementara dari pekerjaan di perpustakaan kampus tempat saya belajar. Soalnya harus ada yang mengurus anak-anak. Jadi, sekarang giliran saya yang mengurus anak dan rumah. Juga belanja. Kecuali urusan masak tetap istri, soalnya saya nggak bisa. Kalau sekedar bikin pasta, spaghetti, indomie pake telor, kentang goreng, telur mata sapi, popcorn ya bisa juga.

Nggak ada pembantu, apalagi baby sitter. Mahasiswa seperti saya mana sanggup bayar baby sitter 13 dolar sejam?. Lagipula, di sini juga boleh dibilang tidak ada orang yang pakai pembantu, apalagi baby sitter permanen. Sesibuk apapun, apa-apa ya harus dikerjakan sendiri. Laundry, masak, ngurus anak, bersih-bersih rumah, potong rumput, cuci mobil, dan semacamnya.

Dulu waktu kuliah S-2 di Australia selama dua tahun,  juga begini. Istri kerja, saya kuliah. Anak masuk child care cuma beberapa jam sehari, sisanya di rumah. Jadi kita betul-betul ketat mengatur jadwal mengantar dan menjemputnya ke child care bergantian. Sepulang dari Australia, keterusan. Anak dipegang sendiri, tidak pakai pembantu/baby sitter. Mungkin alasan sebenarnya karena nggak punya uang sih….:-)

Anyway, sekarang dua anak laki-laki ini tough juga. Perasaan, sama ibunya mereka pada nurut. Sama saya, lain lagi ceritanya. Kalau saya suruh/larang sesuatu, pernyataan yang keluar pertama dari mulut mereka: why? why?why? Nah, saya sering kehabisan kata-kata, kadang bikin puyeng juga….:-)

Baru seminggu full time ngurus anak sendiri, terpikir banyak hal. Pertama, mengurus anak dan rumah berat sekali. Waktu berjalan cepat, malah seperti berlari. Rasanya barusan saja membuatkan mereka sarapan, tahu-tahu sudah waktunya persiapan makan siang. Barusan mereka mandi pagi, tahu-tahu sudah waktunya mereka tidur siang sementara kamar mereka porak poranda entah diapakan oleh mereka.

Kedua, saya pikir-pikir, kalau saya yang tidak bekerja dan urus anak sehari-hari di rumah, sementara istri yang bekerja mencari nafkah, anak-anak itu pasti tidak akan terurus. Bisa-bisa kurang gizi, atau pelajaran mereka di sekolah berantakan. Selama ini saya ikut senang dengan prestasi membanggakan anak di sekolah. Padahal, sekarang saya sadar bahwa kontribusi saya dalam mengajar mereka sehari-hari, dan mengontrol progress belajar mereka, tentu jauh lebih kecil dari istri yang lebih rutin mendampingi setiap hari.

Ketiga, ada perasaan menarik waktu berbelanja beberapa hari lalu. List belanjaan sudah dibuat istri, lengkap mulai dari kol, bayam, kentang, bawang, es krim, susu dan sebagainya. Saya tinggal ikutin list saja. Sambil mendorong trolley belanjaan dan dua anak, ternyata orang-orang di sekitar saya di Walmart biasa saja. Tidak ada yang heran atau bertanya: istri ente kemane, brur?…he..he. Banyak juga ayah lain hari itu belanja bersama anak-anaknya.

Suatu hari di semester lalu kami pernah mendapat undangan dari guru kelas anak kami. Hari itu ada mata pelajaran baca puisi, dan dijadwalkan murid di kelasnya masing-masing membaca sebuah puisi yang sudah mereka pelajari. Karena mepet dengan kuliah, saya hanya bisa mengantar istri ke sekolah anak kami itu untuk melihatnya baca puisi di kelasnya. Saat meninggalkan lapangan parkir sekolahnya, saya lihat ada seorang ayah berseragam tentara Amerika, sedang parkir terburu-buru, lalu lari tergopoh-gopoh menuju sekolah. Rupanya tentara itu adalah ayah dari seorang teman sekelas anak kami yang akan menyaksikan anaknya baca puisi. Sebetulnya, setiap anak paling cuma membaca puisi tidak lebih dari lima menit lamanya. Saya membayangkan bagaimana si tentara minta ijin komandannya untuk meninggalkan markasnya sebentar, mau lihat anak baca puisi di sekolah. Kalau dia tidak datang, anaknya pasti kecewa. Sang komandan dan tentara itu, tentulah berbodi Rambo namun berhati Rinto…he..he.

Untuk urusan pemberian perlakuan yang sama bagi setiap anak laki-laki dan perempuan,  negeri seperti Amerika lebih maju dalam banyak hal. Musim panas tahun lalu Salman ikut klub sepakbola anak-anak yang diadakan pemerintah kota tempat kami tinggal. Peserta perempuannya banyak sekali. Saya sering menonton mereka latihan dan bertanding. Jelas sekali anak-anak perempuan itu sama kuat dan sama lincahnya bermain bola dengan anak laki-laki. Mungkin karena anak-anak sejak dini diajarkan persamaan, maka tim sepakbola wanita Amerika Serikat telah menjadi juara dunia kalau tidak salah tiga kali berturut-turut.

Suatu kali saya pernah mendengar ketika kami sedang bermain-main di taman, ada seorang anak laki-laki bule complaint pada orang tuanya karena adiknya yang perempuan mau ikut-ikut dia bersama temannya bermain petak umpet. Dia bilang: This is boys stuff, Dad! Bapaknya, juga ibunya, galak sekali merespon dengan suara keras: “There is no such thing as boy stuff or girl stuff. You have to play together!!”

Anak-anak ini juga tidak tahan lama-lama di rumah. Gameboy atau gamecube sebentar saja sudah habis dimainkan, dan membosankan. Ternyata, cara paling gampang, ya saya ajak mereka ke luar rumah, berenang dan main tenis setiap hari. Kolam renang gratis, juga lapangan tenis. Kebetulan ada seorang mahasiswa Indonesia baru datang untuk belajar di sini, pintar main tenis dan dia mau mengajarkan saya dan anak-anak main tenis. Sekarang, dua-duanya jadi acara rutin kami setiap hari. Siang berenang, sore main tenis. Sehat dan murah meriah.

2 Tanggapan to “Bapak Rumah Tangga”

  1. m Says:

    senangnya membaca kisah ini. seharusnya semua laki2 Indonesia mendapatkan kesempatan menjadi bapak rumah tangga…. biar mereka nyaho!!!!

  2. philips vermonte Says:

    he..he..Mer, jangan galak-galak atuh. How’s summer in Arizona?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: