Harga Blog Ini (dan Soal Kebebasan)

Barusan saya menemukan website menarik, http://directory.sootle.com/website-worth

Di website ini kita bisa mengkalkulasi berapa nilai jual blog kita (entah siapa yang mau beli..he..he), dihitung berdasar jumlah backlinks ke blog (website) kita.

Blog saya ini dikalkulasi berharga sekitar enam ratus dolar lebih sedikit. Tepatnya:

“Your website at https://pjvermonte.wordpress.com is worth $618.00”

Iseng-iseng saya masukan alamat website CSIS, kantor tempat saya bekerja di Jakarta. Lumayan, dua ribu dolar lebih harganya.

“Your website at http://www.csis.or.id is worth $ 2,379.00″

Blog lain yang dikelola secara bersama oleh beberapa teman saya yang mendalami studi ekonomi, Cafe Salemba, berharga lima ribu dolar lebih:

“Your website http://cafesalemba.blogspot.com is worth $5,187.00″

Majalah The Economist sudah dua kali membuat laporan soal fenomena blogger. Ternyata bagi banyak orang, blog sudah menjadi alternatif sumber penghasilan. Dalam sebuah edisinya, majalah itu pernah menulis mengenai orang-orang yang meninggalkan pekerjaan di perusahaan-perusahaan, keluar, dan menjadi freelance writer dengan membuat blog. Dari blog penghasilan mereka puluhan ribu dolar sebulan. Enak, bisa kerja (menulis) di rumah, di cafe, di restoran, atau menulis sambil liburan .

Memang di blog kita bisa dipasang iklan, jika kita menginginkannya. Salah satu cara adalah mendaftarkan blog kita ke Adsense milik Google. Saya lihat blog milik beberapa teman saya sudah juga terpasang iklan. Kita bisa memilih iklan jenis apa yang ingin dipasang di blog kita oleh Adsense Google. Bisa khusus iklan buku, misalnya. Lalu kita akan dibayar apabila ada pengunjung blog kita yang meng-klik banner iklan itu. Nggak banyak, cuma sekian sen dolar per klik. Tapi, kalau traffic ke blog kita meningkat, tentu kemungkinan banner iklan di blog kita di klik orang juga makin meningkat. Blog milik orang-orang yang ditulis majalah The Economist tadi dikunjungi ribuan orang per minggu, atau bahkan per hari. Tentunya banyak yang meng-klik banner iklan di blog mereka, makanya mereka bisa mendapat puluhan ribu dolar sebulan.

Di WordPress, tempat blog saya ini di-store, ada beberapa fasilitas yang bisa berguna untuk meningkatkan traffic pengunjung. Misalnya, ada data statistik berapa kali sebuah tulisan kita dibaca orang. Dengan demikian kita bisa tahu tulisan mana saja di blog kita yang paling sering dibaca orang. Selain itu, WordPress juga menyediakan data yang disebut search engine term. Dari situ kita bisa tahu bagaimana orang bisa sampai ke blog kita. Keyword apa yang mereka gunakan waktu search di google (atau search engine lain) hingga mereka menemukan tulisan tertentu di blog kita. Saya perhatikan blog saya ini paling banyak di search dengan menggunakan keyword: sistem politik, politik luar negeri, demokrasi, nasionalisme, belajar di Amerika, teori hubungan internasional, dan semacamnya.

Dengan fasilitas di WordPress ini kita bisa menulis sesuai ‘demand’ pembaca, kalau mau. Saya yakin blogger yang ditulis majalah The Economist itu juga memantau demand dari pengunjung ke blog-nya, dan akhirnya mereka menulis dengan menyesuaikan minat pembacanya.

Tapi, saya menulis semau-mau saya saja, nggak demand-oriented. WordPress juga tidak mengizinkan pemasangan iklan di blog ini. Kalau nekad, langsung di suspend dan blog kita di-delete. Ya wajar nggak boleh, namanya juga blog gratisan. Lagian, saya menulis di blog untuk senang-senang, bukan untuk cari uang. (Mungkin kapan-kapan nanti…he..he).

Memang teknologi semakin mengasyikkan. Transaksi ekonomi melalui internet semakin meluas. E-bay dan Amazondotcom adalah dua contohnya. Transaksi online juga merambah segala macam jenis barang, bahkan jasa, yang lain. Buku baru dan bekas, tiket konser, tiket pertandingan olahraga, beli baju, CD, barang elektronik, jaket, pokoknya segala macam. Bahkan menulis hal remeh temeh seperti blog bisa menghasilkan uang juga.

Selain memudahkan konsumen, internet juga memungkinkan semua orang menjadi penjual/produsen. Menjual barang, baru atau bekas, via internet juga bisa menguntungkan. Ada banyak teman saya yang sering mengumpulkan buku-buku yang digeletakkan para profesor di luar ruang kerjanya. Para profesor ini memang sering membereskan ruang kerjanya, lalu meletakkan buku yang tidak dipakai di luar, untuk diambil mahasiswa atau siapapun yang tertarik. Kalau rajin, berkunjunglah ke jurusan/departemen lain, banyak buku di sana yang tergeletak. Buku filsafat, sosiologi, marketing, komputer, macam-macam. Kumpulkan, lalu jual online buku yang tidak tertarik untuk kita simpan sendiri. Lumayan tuh, ada teman yang sering melakukan ini. Kalau lagi panen, untung besar…he..he.

Saya bukan ekonom atau filosof. Tapi, fenomena blog, internet dan jual beli di internet, saya rasa dekat dengan sebuah filosofi, yaitu filosofi libertarian. Jual beli di internet mungkin bisa menjadi prototipe mekanisme pasar yang sempurna (para pengkritik mekanisme pasar dengan telak menunjukan bahwa tidak pernah ada pasar yang sempurna seperti yang diandaikan para ‘market fundamentalist’…he..he). Lewat internet, setiap orang bisa menjadi enterpreneur dan individual seller. Setiap orang bisa menjual apa saja.

Jual beli di internet ini juga bisa menjadi contoh equality dalam hal opportunity. Bukan seperti pandangan banyak orang yang berpikir mengenai equality dalam hal output, misalnya mengimpikan persamaan penghasilan — sesuatu yang jelas tidak mungkin dan melanggar hukum alam, dan hukum Tuhan juga. Kalau semua orang miskin, ya susah semua. Kalau semua orang kaya, lalu dimana fungsi sosial relijius yang namanya ‘kedermawanan’? Jadi bukan equality dalam output yang penting, tapi equality dalam opportunity.

Jual beli di internet memungkinkan individual seller dan corporate seller bertemu dan berkompetisi. Level of entry tidak menjadi masalah. Semua memiliki kesempatan yang sama. Saya yang akan menjual buku (bekas) eceran misalnya, bisa bersaing langsung dengan toko buku raksasa seperti Borders yang juga bisa diakses online. Buku yang saya jual pasti ada yang beli, demikian juga buku yang dijual toko buku Borders. Alias, saya dan toko buku Borders memiliki opportunity yang sama dalam menjual buku. Masing-masing punya ‘marketnya’ sendiri-sendiri. Kalau dipikir-pikir, dari perspektif agama (Islam) ajaran bahwa ‘setiap orang pasti sudah dijamin rejekinya’ ya paling bisa dilihat buktinya di internet ini.

Yang paling fenomenal, jual beli barang/buku bekas di Ebay atau di Amazon memberi pemahaman baru tentang ‘trust’. Di Ebay atau Amazon, yang menjual dan yang membeli tidak saling mengenal karena tidak bertemu muka secara fisik. Tapi mereka saling percaya, alias trust-nya tinggi. Yang menjual harus mendeskripsikan barang yang dijual selengkap mungkin. Kalau buku bekas, harus dicantumkan misalnya apakah cover-nya kusam, atau ada halaman-halaman yang di stabillo atau digaris bawah dan banyak coretan. Kalau pembeli tidak puas karena tidak sesuai deskripsi, barang bisa dikembalikan dan tanpa banyak protes yang jual akan segera mengembalikan uang kita sepenuhnya. Tidak ada istilah ‘barang yang sudah dibeli, tidak dapat dikembalikan” yang pada dasarnya menyiratkan ketidakpercayaan penjual kepada pembeli itu. Sementara banyak studi menunjukkan bahwa trust adalah salah satu prasyarat bagi demokrasi yang sehat.
Di internet juga bisa kita temukan bagaimana pihak swasta bisa menjadi arbitrer, bukan negara yang menjalankan fungsi itu (oh iya, jual beli online juga bebas pajak). Penjual online di Ebay atau Amazon harus patuh pada term of reference, bahwa mereka harus jujur dan bersedia mengembalikan uang tanpa ba-bi-bu jika pembeli tidak puas. Jika mereka tidak patuh dan ada komplain dari pembeli, nama mereka di banned dan selanjutnya tidak bisa lagi menjual di situ. Selain itu, pembeli juga secara rutin bisa me-rating para penjual ini. Penjual yang tidak jujur, rating-nya akan buruk dan tidak akan ada yang mau membeli dari yang bersangkutan.

Nah, sepertinya makin lama saya makin liberal…:-). Institusi negara sepertinya lebih banyak menimbulkan masalah (misalnya rent-seeking activities dari para birokrat korup itu; belum lagi negara yang gemar melarang warganya melakukan ini itu, misalnya negara Orde Baru menentukan apa yang boleh dan tidak boleh kita baca, banyak buku yang dilarang beredar). Lebih baik individu berjuang sendiri memaksimalkan segala potensi dan kemampuannya, tidak perlu menunggu negara. Dan saya pikir teknologi di masa depan akan menjadi venue dimana individu dapat seluas mungkin mengembangkan potensi dirinya untuk menjadi individu berdaulat, lepas dari negara yang mengekang horison kebebasannya.

11 Tanggapan to “Harga Blog Ini (dan Soal Kebebasan)”

  1. m Says:

    well, to call the Internet as a libertarian market is very utopian. yes, everybody can sell, but who will be bought? yes, everybody can write/speak, but who to be heard? some research on blogging and online transaction shows that 10-90 formula still works even in cyberspace. less than 10% of top bloggers get the most readership. less than 10% of biggest portal in the world make most money. occasionally there’s an exception to the rule, but that’s only less than 1% chance.

    more people to jump to the pool, but the same same old crowd got fish.

    cyberspace does make practicalities easier. it doesn’t, however, change the mechanism of all kinds in physical world, only speed them up, amplifies them.

  2. philips vermonte Says:

    Wah, profesor Mer kasih comment….:-)
    So, we are all utopians, the left, the right and the netters?
    Again, I see it from the ‘opportunity’ side (that everybody can sell, write and speak), not from the ‘output’. I do not think in terms of who wins the most readership, or who gets the largest chunk of money though.

  3. arul Says:

    COba ah…tes juga harga blog saya,
    yah memang sih, blog sudah menjadi bernilai, namun perkiraan saya ke depan hanya sebuah life style yang akan mungkin segera ditinggalkan.
    buktinya beberapa blogger ternyata sudah mulai menghentikan postingannya, tapi itu baru gejala…
    saya tidak berharap kedepan blog menjadi demikian, tapi benar2 blog menjadi sarana untuk kebebasan dan ilmu pengetahuan yang lain… selain bangku sekolah
    :)

  4. arul Says:

    eh ternyata blog saya $ 3,104.00… wah….wah bisa kaya nih :)

  5. philips vermonte Says:

    @ arul, wah blog-nya bisa laku dijual tuh…:-)

  6. Teguh Yudo Says:

    Amiin..buat perubahannya yang semakin liberal…he.h.e.h.e.he:D

  7. omanwae Says:

    Halo, Philips, wah seneng juga nih bisa kontak lagi, sukses yah. Aku link deh blognya, biar harga blogku jadi mahal, he he…, sekarang masih murah, maklum “jualan” barang kuno yang jarang peminatnya, he he….Oman (http://naskahkuno.blogspot.com).

  8. philips vermonte Says:

    Bos Oman, justru naskah-naskah kuno yang ente pelajari itu harganya tak ternilai…he..he. Aku link juga blognya disini…

  9. Delianur Says:

    Wah..nanti kalo saya belajar di luar negeri saya gak perlu cuci piring buat cari tambahan. cukup buat blog tentang studi saya (cita-citanya komunikasi politik). Masukin semua makalah yang menarik, dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan di link dengan semua institusi serta tokoh-tokoh dunia. Bagaimana tuh?kira-kira bisa kaya gak yah?hehehe…

  10. anggara Says:

    harga blog saya berapa yaa

  11. the23wind Says:

    ” Nah, sepertinya saya makin lama makin liberal”, wah, ati ati pak…warning duluan dah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: