Politik Simpanse

Kemarin kami sekeluarga pergi belanja rutin ke Asian grocery di Chicago. Beli bumbu Indonesia, mulai dari bumbu pecel, sambal ABC, kecap, kerupuk udang, hingga Indomie. Betul kata seorang teman dulu, Indomie telah berjasa menghasilkan ribuan sarjana, master dan doktor. Pergi kuliah jauh-jauh begini, yang dicari ya tetap Indomie. Memang nggak ada duanya. Sampai sekarang, kalau harus begadang belajar atau bikin tugas kuliah, Indomie lah yang mengganjal perut yang kelaparan menunggu pagi datang.

Pulang dari Asian grocery, pas rush hour. Jam orang pulang kerja di Chicago, jalanan macet. Sama seperti jalan Sudirman di Jakarta pukul 5 sore hari. Kami putuskan belok ke kebun binatang, menunggu macet reda. Karena sedang musim panas, matahari terbenam agak terlambat sehingga hari masih terang benderang.

Sudah lama juga sejak terakhir kali kami mengunjungi Lincoln Park Zoo yang terletak di tengah kota Chicago ini. Jika pernah nonton film kartun Madagascar nan lucu yang ber-setting kebun binatang New York itu, begitulah juga rupa Lincoln Park Zoo yang berlatar belakang gedung menjulang.

Kami baru sadar, dalam kunjungan sebelumnya kebetulan selalu awal musim dingin atau awal musim semi, jadi udara masih dingin sehingga kurang leluasa dan kurang nyaman. Baru kali ini kami datang saat musim panas, ternyata lebih menarik.

Waktu di hall tempat kera, gorila dan simpanse, mata saya tertumbuk pada bagan yang terpampang tepat di sebelah kandang simpanse besar. Tidak ada yang berdiri membaca papan bagan itu, sehingga dari jauh saya bisa melihat judul tulisan yang tertera: Ape Politics, Politik Kera. Baru kali ini saya melihat ada bagan itu, entah baru dibikin atau dalam kunjungan sebelumnya saya luput memperhatikannya. Jadilah saya menghampiri dan membacanya hingga tuntas.

Saya ingat pernah membaca entah dimana, ‘politik’ simpanse tidak berbeda jauh dengan manusia. Juga pernah baca novel Congo, karya Michael Crichton yang berkisah tentang penelitian terhadap simpanse. Selain itu, nonton film Planet of the Apes juga seru. Sekarang bahkan beberapa political scientist mendalami cabang baru yang disebut biopolitik. Mereka mencoba mencari penjelasan nature dari politik dari aspek biologis. Termasuk juga mencari kemiripan perilaku sosial kita dengan makhluk lain.

Tapi bagan di Lincoln Park Zoo betul-betul menarik perhatian saya. Karena, isinya khusus tentang aspek ‘sosial politik’ kehidupan simpanse.

Ini sedikit hasil bacaan saya dari bagan itu kemarin..he..he:

Pertama, simpanse biasa hidup berkelompok, kadang bisa seratus simpanse dalam satu kelompok. Kedua, kelompok ini mengenal batas teritorial, yang mereka jaga begitu rupa agar kelompok lain tidak melanggar ‘kedaulatan’ teritorial mereka. Biasanya, dari tiap kelompok simpanse, ada beberapa simpanse yang khusus ditugaskan untuk berpatroli demi menjaga batas teritorial ini. Simpanse tersinggung kalau wilayah kedaulatan teritorialnya dilanggar, bisa perang berdarah-darah. Persis sejarah nasionalisme dunia yang berkembang biak sejak perjanjian Westphalia tahun 1648 yang sukses menegaskan batas-batas teritorial menjadi salah satu prinsip kedaulatan negara.

Ketiga, simpanse mengenal ‘kasta’. Ada simpanse yang kuat dan berpengaruh, dan ada yang menjadi kelompok tertindas. Yang kuat punya privilege ke akses sumber makanan dan tempat tinggal terbaik, yang lemah ya menderita. Keempat, simpanse betina punya peran penting dalam setiap kelompok. Bahkan simpanse betina biasanya yang menjadi arbitrer kalau ada konflik antar simpanse dalam kelompoknya.

Terakhir, simpanse punya mekanisme rekonsiliasi setelah konflik. Setiap habis konflik, mereka berdamai dengan saling menepuk-nepuk bahu.

Nah, persis kan dengan kita????

Jadi kalau lihat politik manusia yang ruwet, ya memang begitulah kita ini. Kata Darwin, memang kita serupa dengan kera (dengan catatan missing link-nya bisa ditemukan). Kalau pusing menjelaskan akrobat politik di Senayan, mungkin ada baiknya pergi ke Ragunan nontonin kera. Mungkin bisa dapat ilham untuk menjelaskan dari situ…he..he.

11 Tanggapan to “Politik Simpanse”

  1. Arya Says:

    “Kata Darwin, memang kita serupa dengan kera (dengan catatan missing link-nya bisa ditemukan).”

    Mengapa dengan catatan? ;-)

  2. philips vermonte Says:

    Arya, elu pasti familiar dengan istilah ‘escape clause’ kan?…he..he

  3. pico Says:

    hey hey philips… :)

  4. philips vermonte Says:

    @ pico, ini Pico Unpar kah? Apa kabar bos?

  5. tirta Says:

    sedikit meluruskan, simpanse bukan kera pada umumnya. simpanse, gorila, bonobo dan orang utan adalah golongan kera besar (apes) — yang salah satu cirinya adalah tidak berekor. menurut literatur psikologi komparatif modern, kera besar (terutama simpanse) memiliki kemampuan-kemampuan mental yang secara kualitatif sama dengan manusia, seperti kemampuan berhitung, memanipulasi simbol, proto-bahasa, sosialisasi, membuat dan menggunakan alat, dan lain sebagainya. beberapa psikolog bahkan berargumen bahwa missing link yang dimaksud, sekali lagi secara kualitatif, tidak ada.

  6. philips vermonte Says:

    @ tirta, thanks untuk penjelasan teknis golongan kera besar ini. Thanks sudah mampir. Memang ramai juga diskusi soal simpanse dan politik ini.

  7. mangkuprit Says:

    Salam kenal Bang PJV,
    Wah menarik juga. Jika Simpanse saja (banyak binatang lain juga begitu) punya teritori dan kedaulatan yang jelas, maka kita di Indonesia bisa jadi malu. Lha DCA ama Singapura adalah bukti nyata bahwa teritori dan kedaulatan Indonesia secara terang-terangan di acak-acak. Moso perjanjian ekstradisi harus dengan imbalan DCA. Trus kapling tempat latihan militer negara lain bukan kita yang tentukan. Mereka pun tidak bersedia diatur di wilayah kita. Lha kalo kaya gini, harusnya kita belajar pada simpanse atau binatang lain yang menjaga kehormatan dan kedaulatan mereka.

  8. tirta Says:

    sebetulnya telah ada beberapa riset bernafas ekonomi (politik?) dengan golongan kera non-simpanse di laboratorium. berikut beberapa artikel populernya:

    http://www.som.yale.edu/faculty/keith.chen/articles.htm

    tentu semua ini sangat jauh dari kompleksitas politik manusia, namun sangat menarik mencermati bagaimana kera juga memiliki proto-pengertian tentang konsep uang dan keadilan, misalnya, walaupun sederhana.

  9. philips vermonte Says:

    @ mangkuprit, salam kenal juga. Trims sudah mampir. Soal DCA, memang bisa dilihat dari dua perspektif dari studi klasik HI: absolute gain dan relative gain. Mungkinkah ada tujuan lain dari Indonesia lewat perjanjian itu, misalnya melancarkan perjanjian ekstradisi untuk mengejar para koruptor dan kekayaannya? Atau menambah akses kepada teknologi militer terkini yang dimiliki Singapura dan tidak kita miliki?

    Kalau dilihat dari perspektif ‘simpanse’, he..he.., bagaimana kalau dilihat dari sudut sebaliknya: kok kita marah-marah seperti simpanse aja?..he..he

    @tirta, thanks. Link nya menarik sekali. Apakah Anda mendalami studi biopolitik ini?

  10. mangkuprit Says:

    Wah Bang Philips aya-aya wae,
    Kalau ada tamu yang seenaknya di rumah Bang Pihilips, ga tau sopan-santun, dan ga mau diatur, trus Bang Philips biarin aja. Coz kalau marah2 ntar Abang takut disamain ama simpanse?wah..ck..ck…he..he

  11. philips vermonte Says:

    @ Mangkuprit, ambo urang awak, Bukittinggi juga…:-)
    Kalau judulnya agreement, ya bukan tamu lagi lah namanya. Perjanjian dengan Singapura itu kan memiliki dua komponen. Yang pertama adalah DCA dan kedua adalah Implementation Agreement (IA)-nya. Proses negosiasi antara pemerintah Indonesia dan Singapura untuk DCA sudah tuntas, kurang lebih mengenai bingkai kerjasama keamanan. Proses negosiasi IA yang merinci DCA belum selesai, terutama untuk wilayah latihan tertentu. Keduanya nantinya perlu ratifikasi DPR.
    Dalam negosiasi bilateral (juga multilateral) perbedaan interpretasi terhadap pasal-pasal adalah hal biasa, dan itu yang sedang terjadi sekarang. Dan perjanjian itu bukan cuma memberi akses pada Singapura ke wilayah Indonesia, ia juga memberi hal yang sama pada Indonesia untuk mengakses wilayah dan perlengkapan Singapura. Alias ada akses timbal balik (mutual access). Lah kok Singapura nggak ribut bahwa Indonesia akan mengacak-acak wilayahnya? Oh iya, jujur saja saya belum pernah membaca keseluruhan pasal-pasal perjanjian itu (biasanya dokumennya masih bersifat rahasia hingga nanti proses ratifikasi oleh DPR berjalan, tapi kalau Anda sudah punya boleh juga bila dikirim ke saya). Mungkin kalau sudah membacanya lengkap, saya baru bisa mendiskusikannya secara lebih komprehensif. Sekarang yang saya baca sebatas ‘ribut-ribut’ di media massa, bocoran sana sini.
    Coba tengok website Departemen Pertahanannya Singapura (www.mindef.gov.sg), disitu antara lain tertulis penafsiran Singapura soal DCA ini: “…to enhance the professionalism and inter-operability of the TNI and SAF through greater mutual access to each other’s training areas and facilities.” Dari sini, paling tidak, terlihat ada prinsip akses timbal balik kok. Mereka bisa latihan di wilayah Indonesia, dan sebaliknya Indonesia bisa memanfaatkan wilayah dan fasilitas Singapura.
    Ada banyak hal lain yang bisa ditafsirkan mengenai kepentingan Indonesia mengenai DCA dan IA ini. Pertama, membuktikan komitmen dan leadership Indonesia di ASEAN, karena pada tahun 2003 (ketika Indonesia sedang dalam giliran menjadi chairman ASEAN) Indonesia mengusulkan proposal pembentukan ASEAN Security Community (ASC). Kerjasama keamanan bilateral semacam ini akan menjadi fondasi konkrit tercapainya cita-cita ASC. Ini political benefit jangka panjang. Kedua, jangka pendek, ya konsensi untuk perjanjian ekstradisi itu. Kita tahu koruptor kakap menjadikan Singapura sebagai safe heaven. Jika konsensi ini berjalan, ruang gerak koruptor paling tidak menyempit. Ketiga, soal pengamanan laut di Selat Malaka. Bukan rahasia lagi, TNI AL memilik keterbatasan perlengkapan untuk memantau wilayah laut kita. Insiden bajak laut (bajak laut modern, bukan yang pake bendera gambar tengkorak itu..he..he) di Selat Malaka adalah yang tertinggi di dunia, ada banyak negara yang berkepentingan untuk menjadikan Selat Malaka wilayah yang aman, bebas dari bajak laut. Misalnya Jepang dan Cina yang supply minyaknya harus melewati Selat Malaka. Dan, Singapura (walaupun kecil secara geografis) memiliki peralatan tempur jauh lebih modern dari Indonesia dan juga dari keseluruhan negara Asia Tenggara lain. Dengan diformalisasinya latihan tempur rutin bersama di perairan Selat Malaka, surveillance di wilayah itu meningkat sehingga keamanan akan lebih baik terjamin. Oh iya, memang betul wilayah laut kita luas, tapi bukan semuanya milik Indonesia. Indonesia terikat UNCLOS 1982 mengenai hukum laut internasional (yang menggagas Indonesia sendiri, dan terutama didukung Norwegia), bahwa ada yang namanya Sea Lines of Communication (SLOC) dimana negara yang memiliki laut harus menjamin keamanan bagi safe/innocent passage dari kapal-kapal laut asing. Jalur SLOC ini adalah milik bersama dunia internasional. Artinya, di tengah laut Indonesia yang luas, ada milik dunia internasional dan Indonesia sebagai pemilik laut terdekat berkewajiban menjaga keamanannya (ini konsensi juga, waktu Indonesia bernegosiasi bertahun-tahun di PBB untuk menggolkan konsep negara kepulauan yang kita sodorkan). Nah, Indonesia kurang mampu (fakta obyektif, kapal laut TNI cuma beberapa buah, dan banyak yang iddle karena rusak) menjaga keamanan lautnya (dan SLOC) sendirian. DCA dan IA berpotensi membantu Indonesia menjalankan kewajibannya itu. Semoga hujatan buruknya keamanan laut di Selat Malaka nantinya bisa berkurang…he..he. Sudah ada wacana beberapa negara untuk membuat terusan/kanal di Tanah Genting Kra (Thailand) untuk memotong jalur pelayaran laut internasional agar lebih pendek dan tidak perlu memutar ke Selat Malaka yang jauh dan tidak aman (dari Laut Andaman langsung tembus ke Laut Cina Selatan (coba periksa peta). Kalau jadi, dalam jangka panjang, bisa dipastikan yang rugi adalah Indonesia (juga Singapura dan Malaysia).
    Nah, yang membedakan kita dari simpanse: simpanse nggak ada negosiasi, langsung ‘ribut’…he..he. Sementara kita bernegosiasi, lalu merumuskan yang namanya absolute gain dan relative gain itu. Begitulah maksud saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: