Soeharto dan Soe Hok Gie

Barusan baca detikcom, ada berita Soeharto yang hari ini genap berusia 86 tahun. Panjang umur dia, mungkin immortal. Memang betul kata orang-orang tua: jodoh, maut dan rezeki ada di tangan Tuhan.

Kebetulan saya baru pinjam buku dari perpustakaan kampus. Saya memutuskan untuk membaca ulang buku lama, mengisi libur musim panas yang panjang. Salah satu yang baru saya pinjam adalah buku Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, yang pada dasarnya adalah buku harian yang ditulisnya semasa hidup. Berbeda dari Soeharto, Soe Hok Gie mati muda di puncak Gunung Semeru, 16 Desember 1969.

Buku ini pertama kali saya baca bertahun-tahun lalu, semasa baru memasuki dunia kampus sebagai mahasiswa tahun pertama di Bandung yang sedang meluap semangatnya di awal tahun 90-an. Ketika itu, saya begitu tergugah membaca Soe Hok Gie. Saya yang baru lepas SMA terkesima membaca permenungan dan pergulatan pemikiran Soe Hok Gie . Sebagian catatan harian itu bahkan ditulis sejak dia masih SMP, dan juga ketika dia SMA di Jakarta.

Seperti banyak orang lain, saya kagum membaca catatan hariannya semasa SMA. Ia akrab dengan banyak karya sastra yang sama sekali belum pernah saya baca, juga begitu akrab dengan tulisan beragam pemikir, dan lebih lagi Soe Hok Gie paham betul sejarah bangsanya sendiri. Semua diperolehnya dari bacaannya yang luas. Semasa SMA, saya lebih banyak hura-hura. Membaca sedikit sekali.

Saya pikir, akan menyenangkan kalau saya membaca lagi Catatan Seorang Demonstran, setelah sepuluh tahun lebih berlalu sejak pertama kali membacanya. Sekalian saya pinjam juga buku Soe Hok Gie yang lain dari perpustakaan kampus, Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. Buku ini sebetulnya adalah skripsi S-1 yang dibuat Soe Hok Gie di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tentang pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun. Membaca bukunya yang ini, kemarin saya menyesali diri juga. Diingat-ingat lagi, skripsi S-1 saya buat seadanya. Soe Hok Gie membuat skripsi dengan serius sekali (jangan salah paham, tentu saya tidak bermaksud membandingkan diri sendiri dengan Soe Hok Gie yang sangat cerdas itu…he..he). Dia mewawancarai tokoh-tokoh yang berkaitan dengan keseluruhan konteks peristiwa 1948 itu, termasuk Bung Hatta. Padahal, kalau dipikir-pikir, saya membuat skripsi pertengahan 1990-an dimana mestinya akses pada informasi jauh lebih mudah. Ternyata, belajar dari Soe Hok Gie, persoalannya bukanlah pada kemudahan-kemudahan. Akan tetapi, bergantung pada determinasi dan komitmen pada ilmu pengetahuan.

Kembali ke Catatan Seorang Demonstran, saya sempat nonton film Gie yang dibuat sineas muda Riri Riza, di bioskop di Jakarta. Karena sudah membaca bukunya, maka waktu itu saya bela-belain nonton di bioskop. Walau ada kekurangan, menurut saya film itu bagus. Semoga makin banyak buku-buku bagus dibuatkan filmya. Saya sering diskusi santai bersama beberapa rekan sekantor CSIS saat makan siang, berdebat siapa kira-kira aktor dan aktris yang paling pantas memerankan tokoh-tokoh dalam novel tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer. Saya bilang, yang paling pas memainkan tokoh Minke adalah Alex Komang. Sementara Nyai Ontosoroh adalah Christine Hakim. Mungkin Karina Suwandi cocok menjadi Annelies. Tapi, mungkin sekarang sudah nggak pas lagi, Alex Komang dan Christine Hakim semakin menua, sementara novel tetralogi (Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Rumah Kaca dan Jejak Langkah) entah kapan akan di film-kan.

Entah apakah mahasiswa sekarang akan tergugah juga setelah menonton film Gie. Tak perlu membaca bukunya, sudah bisa melihat visualisasinya. Bukankah begitu zaman kita kini, televisi lebih menyihir daripada buku? (Ada penelitian dari Robert Putnam yang membuktikan bahwa televisi adalah faktor penting penyebab menurunnya kualitas demokrasi. Untuk kasus Indonesia, studi terkini Ben Olken kurang lebih menyimpulkan hal yang sama).

Atau mungkin juga film Gie itu justru membangkitkan minat untuk mencari dan membaca bukunya. Bisa jadi.

Kegilaan membaca, dan menulis, Soe Hok Gie semakin menjadi ketika dia kuliah di UI. Bacaannya luas. Kalau saya ingat-ingat, ketika saya seumur dia, bacaan saya serba sedikit, baik kuantitas maupun kualitas. Padahal, lagi-lagi, saya hidup di zaman yang lebih ‘enak’.

Membaca lagi Catatan Seorang Demonstran, saya menemukan riwayat beberapa nama yang sempat dia tuliskan dalam catatan hariannya itu. Dalam sebuah coretan yang dibuatnya semasa SMA, Soe Hok Gie menyebut nama Jusuf Wanandi (Liem Bian Kie), salah satu pendiri CSIS tempat saya bekerja sekarang, yang ternyata adalah salah seorang gurunya di SMA Kanisius Jakarta di akhir tahun 1950-an. Pak Jusuf tentu masih muda sekali ketika itu, saya malah baru tahu dia pernah jadi guru SMA.
Juga tersebut nama Suripto, tokoh PKS itu. Soe Hok Gie menyebutnya sebagai Ripto, kawan karib dari Bandung, tokoh Dewan Mahasiswa Unpad di tahun 1960-an. Soe Hok Gie dan Suripto tentu saling mengenal, karena mereka dulu sama-sama terlibat dalam Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis) yang anti komunis/anti PKI.

Ada juga nama Kusnaka, salah satu teman diskusi Soe Hok Gie juga. Yang dia maksud tentunya adalah Kusnaka Adimihardja, sekarang profesor Antropologi di Unpad, yang semasa saya kuliah adalah dekan Fisip. Profesor Kusnaka dekat dengan mahasiswa. Saya ingat, ketika mengelola majalah kampus, kami tidak punya uang untuk mencetak walaupun sudah jadi draft. Setengah putus asa, saya dan beberapa teman akhirnya mengetuk pintu rumah profesor Kusnaka malam-malam. Ngobrol ngalor ngidul, malu mau ‘nodong’. Malah kita akhirnya ditembak duluan: “Ngaku aja, lagi butuh duit buat apa?”…he..he. Ketika saya ceritakan, profesor Kusnaka bilang: “Cetak sana, tagihannya kasih ke saya”.

Profesor Kusnaka adalah aktifis semasa mahasiswa, di tahun-tahun genting pertengahan 1960-an itu. Soe Hok Gie menceritakan sebuah episode diskusinya bersama Kusnaka dan Wimar (pasti yang dimaksudnya adalah Wimar Witoelar, yang kuliah di ITB). Saya memang pernah dapat cerita, Kusnaka adalah aktifis Harian KAMI, koran terbitan mahasiswa Bandung di masa itu.

Membaca lagi buku Catatan Seorang Demonstran, makin terang buat saya bahwa network intelektual terlalu penting untuk diabaikan. Atau bahasa terkininya adalah komunitas epistemik, dimana orang-orang dengan minat dan passion yang sama saling berhubungan dengan hangat, bertukar pikiran tentang segala hal.

Saat membaca ulang Catatan Seorang Demonstran, saya tersadar ada beberapa bagian yang masih saya iyakan, seperti saya iyakan dulu ketika pertama kali membacanya. Ada juga bagian yang tidak lagi saya iyakan. Ada juga bagian yang dulu tidak saya pahami, ternyata sekarang lebih mudah dipahami. Ya mungkin karena umur saya juga bertambah, jadi pikiran juga berubah.

11 Tanggapan to “Soeharto dan Soe Hok Gie”

  1. sacredavalon Says:

    Judul dan isi kurang relevan mas, saya kira bakal banyak membahas soeharto dan gie, ternyata soeharto pengantar saja, seperti judul web sampeyan sih , just my 2 cent, hehehe. Kalau ini diulas jaman masih hangatnya diputer film gie, mungkin momennya tepat banget (sama kayak nasionalisme ala coklat, mungkin ditaruh buat agustus nanti enak mas). Moga2 nanti saya bisa nulis opini2 saya caramu mas, hehe.

  2. philips vermonte Says:

    # sacredavalon, thanks. Iya betul juga, nggak nyambung judul dan tulisannya…:-) Tadinya ada banyak bagian soal Soeharto, lalu saya edit. Tapi inilah enaknya blog, bebas kasih judul sendiri..he..he. Juga bebas menulis tanpa perlu menunggu timing yang pas untuk menulis topik tertentu. Salam kenal….

  3. Bhatara Ibnu Reza Says:

    Weh. gue setuju soal televisi itu namun patut diakui this stupid box is also important sources for our knowledge. Aku punya pengalaman soal buku dan film Gie. Tempo hari gue bicara soal Gie di perkuliahan dan ternyata pada masasiwaku tercinta 100% udah nonton dan 100% tidak baca bukunya. Mungkin mereka akan kecewa kalau melihat GIe dalam fotonya di bukut itu berbeda dengan bayang mereka akan Nicholas Saputra. Yang unik sang pemeran Gie ini ketika dalam salah satu talkshownya di TV setuju bila tentara ikut serta dalam politik sesaat ditanya soal peran tentara. Wah wah gue gak bisa ngebayangin kalau Gie hidup hehehehe…ok bung apakah balik ke tanah air kali tahun ini?

  4. yoan Says:

    hehehee.salam kenal mas Philips
    ugh jo juga hampir ketipu juga tulisannya :p

    setuju banget,….emang disinilah enaknya punya blog,,,,bisa bikin cerita apa aja dengan judul yang apa saja juga ya mas ;), yang penting kita senang n orang ga keganggu…
    Btw, sebenarnya jo secara ga sengaja masuk ke blognya mas Philip karena lagi nyari info tentang AE….kira2 boleh tukar pengalaman nggak ya mas…. jo butuh masukan…

    dari tadi nyariin alamat email kyanya ga nemu :D

    ok thank u God bless

  5. philips vermonte Says:

    @ Bhatara, wah kemana aja lu bos? Semoga temen-temen Imparsial dan yang lainnya maju terus agar kasus Cak Munir jadi terang…Tahun ini nggak pulang gw, kecuali kalo elo beliin tiket. Entah kapan selesai, jalan masih panjang. I have not seen the light at the other end of the tunnel…Doain aja bung…
    @ yoan, salam kenal, thanks sudah mampir. jadi AE seru sekali. Pengalaman saya nggak lama juga, cuma dua tahun kurang. Yang jelas, sebaiknya mengembangkan kemampuan komunikasi interpersonal karena AE berhubungan dengan bermacam-macam jenis orang….

  6. EwinK Says:

    Jadi ingat penugasan yang bung berikan di tahun 1994 untuk membaca buku ini. Awalnya sangat berat untuk memahaminya lho. Ternyata butuh 5 tahun untuk saya memahami keseluruhan isinya, itupun based on interpretation. Tetapi memang bacaan yang sangat berkesan mendalam.

  7. tobias Says:

    Wah bung! Tulisan yang inspiring. Film boleh lewat, tapi ajakan untuk membaca literatur yang baik dan introduksi akan buku dibelakang film itu yang penting. Sayang sekali kalau buku atau tokoh yang penting buat Indonesia sekarang ini hanya di associate dengan film, atau hanya dikenal kalau diangkat ke layar lebar. Justru tulisan ini highly relevant walaupun filmnya sudah lama lewat. Kalau perlu filmnya ndak ada pun ndak apa. Film toh hanya glamorisasi. Walaupun media electronic banyak berguna, tapi buat saya lebih sering jadi pembodohan. Contohnya ya saya sendiri ini. Kebanyakan nonton entertainment aja, buku yang total habis dibaca, dicerna dan diingat masih bisa dihitung dengan jari.

  8. luthfi Says:

    “isinya bagus mas,tapi mana penjelasan tentang soeharto yg brengsek itu?kok cuma membahas kehidupan sang revolusioner soe hok gie.judulnya kan soeharto dan soe hok gie,harusnya isinya membahas tentang hubungan antara soeharto dan gie.oh ya.. dari pd cuma mengagumi gie, mending mas cari gie2 yg baru lewat blog mas ini,untuk menyelesaikan tugas soe hok gie yg belum tuntas,ok.”

  9. tiger Says:

    Ada yang punya buku “catatan seorang demonstran” ? Saya waktu kuliah di Undiknas Bali dan masih aktiv di mapala sekitar tahun 1994, sempat dapat beli buku itu di sebuah toko buku di Denpasar. Tapi sayangnya buku saya hilang sewaktu dipinjam seorang teman saya, padahal saya sudah wanti wanti jangan sampai hilang, celakanya saya baru selesai membaca cuma 1/3 isi buku itu. Saya sangat ingin menyelesaikan membaca buku itu, apa ada rekan disini yg bisa membantu saya, memperoleh buku itu ? Saya ingin meminjamnya atau kalau mau menjualnya saya bersedia membayarnya.
    Saya pikir Gie merupakan 1 figur yg bisa dijadikan contoh oleh generasi muda sekarang. Terima Kasih

  10. teguhtimur Says:

    mas tiger, buku soe hok gie, “catatan harian demonstran”, sekarang semakin banyak kok, setelah dia dibajak pop culture . covernya bukan lagi gambar gie dan cover berwarna merah. tapi gambar wajah seorang aktor muda, yang memerankan gie di film “gie”.

    bung pjv, kemana aja?

  11. why_reject_me Says:

    saya adalah seorang pemuda berusia hampir 24 tahun dan memgang status sebagai seorang yg tidak mempunyai pendidikan formal….
    selama ini saya mendapatkan segala macam ilmu pengetahuan melalui berbagai media yg saya kenal,salah satu nya adalah televisi…,yang mana sekarang terlalu banyak didominasi oleh berbagai program pembodohan massal…dan saya sangat setuju dengan pendapat diatas…yang mana dizaman yang “serba enak” seperti sekarang justru minat maupun semangat anak-anak muda seumur saya semakin pudar untuk “TERGODA ATAUPUN BERTANYA TENTANG SESUATU KEBENARAN ATAUPUN MERASA TERTANTANG OLEH KEADAAN YG DIRASA TIDAK LAH BENAR…”
    masih adakah lagi diluar sana saudara2 muda kita yg sepemikiran dan prihatin atas apa yg terjadi pada bangsa tercinta kita ini???

    “NASIONALISME TIDAK SEPERTI BUNGA YANG BERKEMBANG PADA WAKTUNYA DAN KEMUDIAN MENUNGGU UNTUK LAYU KEMBALI…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: