Nasionalisme ala Cokelat

Kurang lebih setahun lalu, saya pernah tulis soal Layar Tancep di kota Betawi (silahkan klik di sini bila ingin baca lagi). Di situ saya cerita juga soal pemutaran film gratis dengan layar lebar di taman kota tempat saya tinggal untuk belajar sekarang, persis tradisi layar tancep Betawi. Taman kota menjadi public space, tempat rekreasi warga dan keluarganya. Rekreasi di tempat terbuka, tidak terkurung di dalam mall-mall.

Karena sudah musim panas lagi, di taman kota kami program Friday Night Movie mulai berjalan lagi. Tadi malam adalah hari pertama untuk musim panas tahun ini. Taman dipenuhi orang yang akan menonton film Night at the Museum, film anak-anak. Sebetulnya, orang banyak sudah nonton film itu di bioskop. Tapi, acara semalam tetap didatangi warga dan keluarganya. Mungkin yang dicari adalah acara nonton bersama, dan menjadi medium interaksi antar warga. Efeknya penting, menimbulkan rasa bahwa kita adalah part of the community. Merayakan kebersamaan.

Ada satu ritual yang selalu dilakukan dalam event publik semacam ini. Dalam acara semacam ini, lagu kebangsaan Amerika tidak pernah lupa diperdengarkan. Seperti sering kita saksikan di tivi kalau ada acara siaran langsung olahraga Amerika, semisal final bola basket Amerika NBA atau juga acara tinju, selalu ada nyanyian lagu kebangsaan ini dengan beragam style dan tidak monoton.

Lagu kebangsaan yang dinyanyikan dengan beragam cara justru memperlihatkan kreatifitas dan apresiasi. Rasa nasionalisme tidak berkurang, walaupun simbol-simbol nasional seperti lagu kebangsaan ‘diolah’ lagi oleh para pekerja seni. Makanya, sepertinya orang Amerika tidak pernah bereaksi marah bila melihat benderanya dibakar dimana-mana..he..he. Bendera toh cuma simbol, benda mati.

Tadi malam lagu kebangsaan Amerika juga diperdengarkan. Tanpa disuruh, semua orang yang hadir di taman bangkit berdiri dari matras tempat mereka tidur-tiduran di rumput atau dari kursi yang mereka bawa masing-masing dari rumah. Begitu usai, semua bertepuk tangan panjang.

Saya sudah lama juga memikirkan makhluk bernama ‘nasionalisme’ ini. Bagaimana kita harus memandangnya, bagaimana kita harus mengapresiasi-nya? Saya tidak pernah cocok dengan beragam retorika soal nasionalisme di negeri kita sendiri. Pengkritik penguasa selalu dituding tidak nasionalis. Mereka yang berpemikiran liberal (baik dalam pemikiran ekonomi atau politik) selalu dianggap ke-barat-baratan. Saya rasa, kita terlalu kaku memandang nasionalisme.

Dalam perdebatan yang lebih ideologis, kelompok kiri dan kelompok yang menganggap diri sebagai nasionalis menuding mereka yang liberal sebagai agen imperialisme. Kadang, kelompok kiri bahkan berpijak pada argumen ‘menyelamatkan aset negeri’. Padahal, salah satu kegagalan atau tepatnya sesuatu yang tidak terlalu diantisipasi oleh Karl Marx adalah tumbuhnya nasionalisme yang menghalangi terbentuknya internasionalisme yang menjadi prasyarat bangkitnya kelompok buruh. Di situlah titik dimana Mao Zedong berpisah dari Stalin, misalnya. Atau di negeri sendiri, berpisahnya Tan Malaka (yang pernah menjadi petinggi organisasi komunis internasional-Comintern) yang amat nasionalis, dari Semaun dan PKI yang mengusung internasionalisme. Belakangan, mereka yang setia pada ide-ide Tan Malaka, seperti almarhum Adam Malik mantan Menlu dan Wapres kita, mendirikan partai sendiri yaitu Partai Murba (Musyarawah Rakyat Banyak), yang jauh berbeda dari PKI.

Lebih jauh, kalau liberalisme adalah ide asing, lalu ideologi kiri apa tidak kurang asingnya buat kita. Karl Marx kan bukan kelahiran Purworejo ?…he..he. Bahkan agama-agama Indonesia semua datang dari luar. Islam, Kristen, Hindu, Budha, semua asing karena datang dari luar. Kalau mau yang orisinil dari bumi Nusantara, ya animisme atau dinamisme itu. Menyembah batu, pohon, mandi kembang tujuh rupa, atau menyembah arwah nenek moyang.

Itu sebabnya saya tidak pernah percaya bila nasionalisme dihadap-hadapkan pada sesuatu yang dianggap ‘datang dari luar’. Inilah, saya rasa, yang membuat retorika soal nasionalisme kita lebih banyak menjadi jargon kosong. Sepertinya membangkitkan semangat, padahal ia terbangun diatas pasir yang mudah tersapu air.

Bung Hatta, bahkan pernah mengkritik pedas retorika nasionalisme Sukarno, bahkan sejak mereka berdua masih mahasiswa sebelum kita merdeka. Sekitar tahun 1930-an, Bung Hatta pernah menulis dan mengomentari Sukarno yang pandai berpidato dan sedang naik daun di kalangan pemuda di Hindia Belanda. Kata Bung Hatta: ‘persatuan’ bukanlah ‘persate-an’, dimana segala sesuatu dipaksa masuk dalam satu tusuk sate.

Kita tahu, kritik itu tidak membuat Bung Hatta menjadi tokoh yang anti-nasionalisme. Justru ia menjadi pemuncak nasionalisme Indonesia, bersama founding fathers yang lain. Juga tidak menyebabkan berkurangnya rasa cintanya pada negeri sendiri, meski ia menulis dari negeri Belanda, tempatnya bersekolah.

Definisi nasionalisme yang kaku dan dimonopoli negara, tidak akan pernah menjadi inspirasi warganya. Celakanya, begitulah tabiat pemimpin populis atau negara otoritarian yang gemar memonopoli tafsir, dari Sukarno hingga Suharto.

Negeri yang bebas justru mendorong kreatifitas dan mungkin akan mengukur nasionalisme dalam perspektif pencapaian (achievement). Kebebasan akan mendorong individu warga negara mencapai dan memberi yang terbaik buat negaranya. Seperti improvisasi lagu kebangsaan yang dinyanyikan dengan beragam cara sesuai tafsiran penyanyinya yang tetap terdengar indah dan menggugah.

Ngomong-ngomong soal nasionalisme, saya barusan dapat album Cokelat, grup musik Indonesia itu. Waktu pulang ke Jakarta tahun lalu, saya memang sempat mendengar sebuah wawancara dengan grup musik ini di radio Prambors pagi-pagi. Cokelat hadir di studio Prambors di acara pagi yang dipandu Arie Dagink dan Desta yang super lucu itu. Mereka diwawancara sehubungan dengan rencana mengeluarkan album berisi lagu-lagu nasional dengan aransemen baru. Malah mereka sempat didaulat menyanyikan sebuah lagu dari album itu, kalau tidak salah lagu ‘Syukur’. Waktu album itu akhirnya keluar, saya sudah kembali ke sini.

Hampir setahun berlalu, baru tadi saya dapat album yang berisi improvisasi lagu-lagu nasional ini, yang diberi sentuhan musik ala Cokelat. Suara Kikan sang vokalis, yang mirip dengan suara vokalis Cranberries, sungguh pas menyanyikan lagu-lagu nasional dengan gaya nge-rock. Lagu-lagu nasional semacam Satu Nusa, Satu Bangsa; Syukur; Halo-Halo Bandung; Tanah Air; dan beberapa lainnya, terdengar ciamik dan menggugah di tangan grup band yang satu ini.

Album berisi lagu-lagu nasional dengan aransemen tidak biasa ini hanya mungkin keluar karena negeri kita sudah bebas. Semua orang bebas berekspresi, seperti grup musik Cokelat. Fenomena sama juga kita lihat dengan kehadiran sineas-sineas muda pembuat film nasional yang bagus-bagus. Hanya negeri yang bebas yang akan melahirkan kreatifitas. Di negeri yang bebas, nasionalisme tidak dilihat dengan wajah muram atau sangar.

9 Tanggapan to “Nasionalisme ala Cokelat”

  1. Ma!!! Says:

    Iya,, nasionalisme dengan cara yang lebih kreatif bakal lebih menyenangkan,,

    ma kangen denger lagu Indonesia Raya lho,,

    eh,, salam kenal,,

    blognya bagus,, :D

  2. philips vermonte Says:

    Risma..thanks. Salam kenal juga..

  3. Thamrin Says:

    Nasionalisme kadang menjadi cadangan saat tidak bisa mendapatkan jawaban apa-apa. Semuanya akan beratas nama nasionalisme.
    Eh…bagaimana kalau Indonesia Raya dinyanyikan dalam versi jazz atau blues yach? :)

  4. arul Says:

    sebenarnya bukan nasionalisme (kalo bilang nasionalisme ntar di bilang berpolitik) tapi kebanggaan atas Indonesia yang harus kita tingkatkan karena itulah menjadikan negara kita akan maju. gimana gak maju kita aja blum bangga….
    Salut sama bangsa Jepang, kebanggaan bangsanya membawa mereka menjadi negara maju
    Tetapi bagi Amerika Serikat Kebanggaannya terlalu sehingga yang ada sombong, semoga bangsa kita tidak kayak AS deh….

  5. erdiand Says:

    haha… setuj, Kang
    kok kita sepertinya alergi ya sama yang namanya pemikiran-pemikiran alternatif.

    btw, saya HI 95. sekarang tinggal satu unit sama Yudo (CSIS) di Sydney Uni.
    blog ini saya tambahin di link saya, ya Kang?

    Makasih.

  6. philips vermonte Says:

    thanks semuanya

    # bung thamrin, boleh juga dicoba tuh. Mungkin yang lebih seru, Indonesia Raya versi dangdut…he..he

    # arul, mengenai Jepang ya setuju. Soal Amerika, mungkin perlu dibedakan sedikit antara pemerintah Amerika (Bush) dan rakyat Amerika yang tidak setuju dengan pemerintahnya…

    # erdiand, thanks kalau mau nge-link…ati-ati sama si Yudo…he…he..

  7. Tim Marx-Dostoevsky Says:

    Uji pengetahuan Anda tentang Marx dengan menjawab pertanyaan yang tercantum di http://meontology.blogdrive.com, sekaligus dapatkan hadiah menarik bagi jawaban terbaik…..

  8. reni Says:

    emang coklat buat beda dg grup band yg lain yg hanya bisa ngomong sol cinta2 aja…hebat deeeh coklat, sangat kreatif dan rasa nasionalisnya tinggi!!!!!

  9. ardian Says:

    NASIONALISME…. klo menurut saya nasionalisme seh bagus, tapi spertinya nasionalisme sekarang dah pada luntur pada masyarakat indonesia, knapa…?????karna masyarakat dan petinggi bangsa dah jalan sendiri-sendiri….karena itu masyarakat tidak merasa bangsa ini memerlukan dia lagi..beriring dgn itu rasa nasioanalisme kian menghilang dengan berjalan waktu…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: