Kisah Ikan dan Aa’ Gym

Saya dapat pekerjaan baru di perpustakaan kampus tempat saya sedang melanjutkan studi ini. Supervisor tempat saya bekerja tiba-tiba bilang bahwa saya perlu segera belajar menggunakan software video editing. Project digitalisasi perpustakaan tempat saya bekerja akan kedatangan materi baru, berupa DVD, yang harus kami upload ke internet. Seperti pernah saya tulis sebelumnya, saya memang bekerja dalam project digitalisasi koleksi Asia Tenggara di perpustakaan kampus tempat saya belajar.

Sebelumnya saya men-scan buku-buku tua dari Asia Tenggara, termasuk manuskrip-manuskrip kuno. Untuk mengerjakan itu, saya harus belajar menggunakan beberapa software basic untuk mengedit material berupa gambar dan foto, seperti Photoshop, Dejavu dan beberapa lainnya. Lumayan, walaupun masih amatiran, sedikit banyak saya sudah mulai terampil menggunakannya.

Sekarang, saya harus belajar menggunakan software video/movie editing. Senang juga, belajar sesuatu yang baru lagi, ngoprek-ngoprek paling tidak dua software video editing dan video formatting: Pinnacle dan DVDx. Software-nya nggak rumit, maklum kebutuhan kami juga bukan level yang canggih kok.

Saya pernah bekerja di dunia advertising selama dua tahun lamanya, waktu masih fresh graduate dari pendidikan S-1. Sebagai account executive (AE) alias semacam marketing officer, saya harus berhubungan dengan klien dan juga terutama bekerja sama dengan departemen kreatif. Departemen kreatif isinya adalah desainer grafis dan copy-writer, seniman semua. Mereka menyenangkan, maklum tim kreatif biasanya isinya orang ‘gila’ semua. Waktu kerja di advertising inilah saya berkenalan dengan software semacam Photoshop, Corel Draw dan lainnya (cuma liat aja, waktu tim kreatif bekerja di depan komputer…he..he).

Seorang account executive terjepit diantara klien, sebagai yang empunya duit, dan bagian kreatif ini. Kalau klien complaint dengan hasil karya tim kreatif saya, saya harus menyampaikan dengan segala cara pada mereka untuk memperbaiknya, untuk menyesuaikan dengan visi produk dan keinginan klien. Kadang tim kreatif saya bilang: “elu ngeyakinin klien aja nggak bisa. Payah lu…”…he..he.

Memang klien tuntutannya tinggi juga. Seorang teman saya dulu bekerja di Unilever, salah satu produsen terbesar beragam fast-moving consumer goods di Indonesia. Dia waktu itu memegang beberapa brand sekaligus. Suatu hari dia menelpon saya di kantor advertising tempat kerja saya. Dia bilang: “Bung, gua habis komplain nih sama AE ad-agency ‘anu’, yang nanganin brand gua. Masak bikin design kagak beres-beres”. Saya bilang ke dia:”dasar raja tega lu”…he..he. Begitulah, seorang brand manager tentu berada di bawah tekanan juga.

Teman saya yang brand manager itu sekarang sudah keluar dari Unilever, bikin perusahaan sendiri bersama temannya, mantan teman sekerjanya di Unilever. Perusahaan mereka menarik sekali, mengolah produk-produk hasil laut. Waktu mereka mulai perusahaan itu, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) baru berjalan, kan baru dibentuk jaman Gus Dur jadi presiden. Aneh memang, negara kita yang meng-klaim sebagai negara maritim dan mendoktrin anak-anak dengan lagu ‘nenek moyangku seorang pelaut’, baru punya departemen yang mengurusi laut setelah merdeka lebih dari 55 tahun.

Jadi, teman saya ini melihat ada banyak peluang bisnis yang berhubungan dengan laut dan perikanan, mengingat luas wilayah laut Indonesia adalah salah satu yang terluas di dunia. Perusahaan teman saya memproduksi produk-produk ikan, semacam sarden dan tuna sandwich. Produknya enak, terakhir sudah tersedia di Carrefour (lah kok jadi promosi…he..he). Mereka mulai usaha dari skala kecil, hingga punya pabrik dengan karyawan kurang lebih seratus orang. Waktu baru berdiri, mereka berdua yang langsung membeli ikan dari nelayan yang baru pulang melaut subuh-subuh, lalu dibawa ke tempat pengolahan dan produksi akhir. Berani juga mereka mulai usaha baru, saya mungkin nggak berani…he..he.Terakhir saya dapat kabar, perusahaan mereka kolaps. Begitulah resiko menjadi pengusaha. No pain, no gain.

Sekitar tahun 2004/2005 saya pernah beberapa kali diundang ke kantor mereka, yang isinya anak-anak muda semua. Ketika diundang itu, saya sudah tidak lagi bekerja di dunia advertising, sudah menjadi peneliti/dosen. Seru bertemu dengan mereka ini. Mereka anak-anak muda penuh semangat, profit-oriented tapi pada saat yang sama idealis. Teman saya ini memang dulu satu kampus dengan saya di Bandung, dia aktifis di Fakultas Hukum.

Mereka mengundang karena ingin saya menyumbang saran bagaimana caranya mengembangkan kesejahteraan salah satu bagian paling penting dari rantai produksi perusahaan mereka, yaitu para nelayan. Mungkin perlu bikin paguyuban atau koperasi nelayan. Kehidupan nelayan kita memang memprihatinkan, ironi bagi sebuah negara yang lautnya lebih luas dari daratannya.

Jadi yang ada di benak teman-teman saya ini kira-kira seperti Indofood/Bogasari yang memikirkan kesejahteraan pengelola warung-warung Indomie di pinggir jalan. Hal ini sedikit banyak berhubungan juga dengan apa yang dikenal sebagai corporate social responsibility. Mencari profit adalah tujuan sah dari setiap pengusaha, tapi baiknya memperhatikan juga kesejahteraan masyarakat sekitar, termasuk partner/supplier, dan juga konsumen.

Kembali ke urusan advertising jadul, kalau lagi bikin iklan untuk TV, saya harus ikutan shooting lalu suka ikut nongkrong di production house saat proses editing. Jadi sering lihat juga bagaimana para video/film editor bekerja.

Akhir pekan kemarin, DVD yang harus saya edit itu sudah datang. Ternyata, DVD yang datang adalah DVD rekaman-rekaman ceramah Aa’ Gym, da’i kondang itu. Ada tiga puluh DVD, yang masing-masing berisi 3 episode ceramah yang sudah ditayangkan di TV swasta seperti RCTI. Ada kurang lebih 90 episode yang harus saya tonton dan edit.

Baru kali ini saya harus nonton Aa Gym berjam-jam, non-stop. Supervisor saya sambil bercanda bilang: “enak kan, kamu nonton DVD di bayar?”. Nah…

6 Tanggapan to “Kisah Ikan dan Aa’ Gym”

  1. wisnu Says:

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Bisa minta tolong alamat untuk melhat / download DVD AA Gym tersebut ?

    Terima kasih banayak

    Wassalmu’alaikum wr. wb
    Wisnu

  2. Zulkarnayn Says:

    Assalamu’ alaikum

    Saya ingin sekali memiliki salinan 30 DVD ceramah Aa Gym tersebut. Bersediakah Anda membuat salinan/copynya dan mengirimkan melalui pos ke alamat saya di Switzerland? Bila iya, harap sebutkan nilai biaya proses penyalinan itu dan data no rekening bank a.n. Anda lalu kita sepakati dan saya akan transfer biaya tsb.

    Wassalam
    Zulkarnayn

  3. philips vermonte Says:

    Bung Zulkarnayn, video-video itu sekarang sudah bisa diakses online for free di

    http://sea.lib.niu.edu/video-indo.html

  4. wisnu Says:

    Assalamu’alaikum wr. wb.

    Bung philips, halamannya tidak bisa di buka ? ada cara/link lain ?

    Wassalamu’alaikum wr. wb
    Wisnu

  5. Taufik Says:

    Assalamualaikum.
    Saya juga tidak bisa download, tolong dipecah jadi beberapa file ya, kalo terlalu besar.
    Kabari saya ya kalau sudah bisa. Makasih.
    Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan Pak Philip’s dengan pahala yang terbaik. Amin

  6. Antonio Says:

    Gak bisa di lihat link nya… I miss aa gym on teve… I hope can see him on this ramadhan… Semoga Allah mengabulkanku..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: