Jual Beli Yang Menyenangkan

Ada beberapa kejadian menarik, yang membuat saya memikirkan beberapa hal soal etika jual beli. Tadi istri saya menelpon dari toko buku Borders. Rupanya dia sedang mampir ke sana. Dia tanya apa saya mau dibelikan novel. Ya, jelas mau. Libur begini, membaca novel amat menyenangkan. Saya bilang: “beliin yang tebal. Yang tipis sebentar saja juga habis dibaca. Lagian rugi, harga novel, baik yang tipis ataupun tebal, biasanya sama”…he..he.

Dia membelikan saya novel karangan Brad Meltzer (terbit September 2006), berjudul The Book of Fate. Semacam Da Vinci Code karangan Dan Brown itu. Novel ini berkisah soal desain kota Washington D.C dan hubungannya dengan kode rahasia yang konon dibuat oleh salah satu presiden terkenal Amerika Thomas Jefferson dan gerakan Freemason (yah, paling tidak itu yang tertulis di cover bukunya, saya baru mau baca isinya…he..he).

Yang menarik adalah cerita waktu dia membayar buku itu. Yang istri saya ambil dari rak sebetulnya adalah edisi paperback (alias soft-cover). Biasanya, buku/novel edisi paperback lebih murah harganya daripada edisi hard-cover. Harga novel edisi paperback yang akan dibeli itu 9 dolar. Tapi, ketika dia membawa ke counter, sang kasir meminta dia menunggu dan malah pergi ke gudang. Dari gudang, dia mengambilkan edisi hard-cover novel yang sama, yang entah mengapa harganya malah lebih murah. Edisi hard-cover itu hanya 5 dolar. Lumayan, kami berhemat 4 dolar. Baik sekali kasir itu, bela-belain ambil ke gudang edisi hard-covernya yang lebih murah dan pastinya lebih bagus.

Kemarin sore, saya mengalami hal yang sama ketika mengantarkan seorang teman Malaysia ke sebuah dealer untuk membeli mobil. Teman ini diterima bekerja magang selama musim panas di kantor pusat raksasa fast food McDonald yang terletak di Oakbrook, dekat Chicago. Di situ terletak Hamburger University, tempat McDonald melatih calon-calon manager pilihan gerai-gerai-nya dari seluruh penjuru dunia. Mulai minggu depan, teman ini akan mulai bekerja di sana.

Karena itu, teman saya ini butuh driver’s licence alias surat izin mengemudi (SIM) dan juga mobil. Dia minta saya mengajarnya menyetir mobil. Saya takut dan stress juga, baru kali ini harus mengajarkan orang menyetir mobil. Akhirnya, minggu lalu dia sudah lulus ujian SIM. Lantas dia minta bantuan lagi untuk menemani berkeliling membeli mobil. Mobil bekas, bukan baru. Sekalian bantu-bantu tawar menawar.

Kami pergi ke sebuah dealer (namanya Brian Bemis Autoworld), ada dua mobil yang ditawarkan kepada teman saya ini. Satu adalah sedan automatic Chrysler tahun 1997. Harganya 2995 dolar.

Mobil satu lagi adalah sebuah sedan automatic Ford Countour tahun 1996 juga dengan harga 2995 dolar, yang tertempel detail di kaca mobil. Kepada salesman itu memang teman Malaysia saya ini bilang bahwa budget dia adalah tiga ribu dolar, maka dua mobil itu yang ditunjukan kepada kami.

Kami akhirnya memutuskan akan kembali hari Sabtu (kami datang pertama kali hari Jumat sore), karena masih ingin melihat yang lain. Sekalian saya sarankan juga teman itu untuk memeriksa online di internet, membandingkan harga di dealer lain.

Rupanya ketika dia cek online, dia mampir ke website Brian Bemis. Dia lihat, sedan Chrysler tadi tertera dengan harga yang sama. Sementara sedan Ford itu tertera dengan harga lain, yaitu hanya 1995 dolar. Ketika kami kembali ke sana Sabtu kemarin, saya tanya kepada salesman yang sama soal perbedaan harga itu. Dia heran, dan langsung men-cek sendiri website-nya. Dia lihat harga yang tertera online adalah memang 1995 dolar, bukan 2995 dolar seperti tertera di kaca mobil.

Dia konsultasi dengan pemilik dealer. Akhirnya, mereka memutuskan bahwa mereka menawarkan mobil itu seharga 1995 dolar sesuai harga online. Mereka minta maaf atas kebingungan yang terjadi karena perbedaan itu (padahal teman saya nggak bingung…he..he). Walaupun seharusnya harganya adalah seperti yang tertera di administrasi kantor mereka dan juga di kaca mobil, yaitu 2995 dolar. Dengan pajak dan biaya plat nomor serta administrasi, harganya adalah 2400 dolar. Pemilik dealer menambah lagi potongan harga, dengan menurunkan harga total menjadi 2200 dolar.

Jadilah Ford itu berpindah tangan ke teman saya, hatinya senang. Sebelum pulang, sang salesman memberi kartu nama banyak sekali. Dia bilang ke saya, “kalau ada teman mu mau beli mobil, kasih kartu nama saya ini. Kalau dia jadi beli mobil lewat saya, kamu saya kasih 50 dolar. I’m very serious”. Bisa aja tuh salesman. Rayuan mautnya nggak mempan. Belum tau dia saya orang Minang, punya jiwa dagang juga…he..he..he.

Seorang teman Indonesia yang ikut menemani juga bercerita bahwa dia punya pengalaman hampir sama di dealer lain beberapa tahun lalu. Waktu dia akan membeli mobilnya, si pemilik dealer bertanya apakah dia membutuhkan mobil itu secepat mungkin dan harus membeli hari itu juga. Kata si pemilik dealer, mobil yang hendak dia beli itu akan berubah harganya minggu depannya. Karena dealer itu akan menggelar promosi. Harganya minggu depan akan lebih murah 500 dolar. Dia disarankan membeli minggu depannya. Tentu saja teman saya ini menunda pembelian mobil itu hingga minggu depannya.

Waktu studi S-2 di kota Adelaide Australia dulu saya pernah mengalami hal serupa. Sekali waktu saat libur, saya bersama istri dan anak ingin berjalan-jalan menengok teman dan saudara di kota Melbourne.

Karena budget terbatas, kami memutuskan akan berjalan-jalan naik kereta api saja, yang lebih murah daripada pesawat. Itu juga tabungan hasil saya bekerja sebagai pencuci piring di restoran India tiap Sabtu-Minggu. Di Australia harga buku mahal (di Amerika sini harga buku murah sekali), juga biaya child care untuk anak. Makanya, waktu itu saya bekerja untuk menambah beasiswa, supaya bisa membeli buku lebih banyak dan juga untuk menyekolahkan anak biar gaul sama bocah-bocah bule…he..he.

Istri saya waktu itu juga bekerja di perusahaan katering. Dia bekerja membuat kue-kue, roti, dan pastry. Mencari tabungan, karena begitu selesai studi di Australia saya akan menjadi pengangguran yang tidak bisa diduga akan berlangsung hingga berapa lama.

Saat memesan tiket di stasiun kereta Adelaide (waktu itu harga tiket pergi-pulang sekitar 60 dolar per orang), kasir di counter pemesanan tiket bilang bahwa kalau saya mau mengundurkan tanggal keberangkatan beberapa hari, saya akan menghemat banyak sekali. Katanya, beberapa hari lagi akan ada promosi, tiket kereta api pergi-pulang di seluruh Australia akan dijual seharga 15 dolar saja. Kalau tidak salah peringatan Hari Kereta Api atau semacamnya. Untung sang kasir peduli mengabarkan promosi itu. Ya kami tunda saja tanggal keberangkatannya, malah sekalian jalan-jalannya bisa diperpanjang sampai ke kota Sydney. Karena dengan budget yang sama, kami bisa dapat tiket kereta Adelaide-Melbourne-Sydney-Adelaide.

Memang senang bila kita melakukan bisnis dengan pihak yang berorientasi pada kepuasan pelanggan dan tidak mengejar untung semata. Di pihak penjual, keuntungan juga tidak akan berkurang. Malah bertambah, karena orang semakin percaya dan menjadi pelanggan yang loyal. Lantas mengabarkan kebaikan itu kepada lebih banyak orang. Atau mungkin malah membantu mengiklankan, seperti saya menulis di blog ini….

2 Tanggapan to “Jual Beli Yang Menyenangkan”

  1. Kang Asep Says:

    Wah, menyenang sekali. Kapan jual beli model begitu bisa diterapkan di negeri kita ya? Di negeri2 kapitalis itu, keuntungan dilihat sebagai “realitas nanti”, bukan “realitas hari ini”

  2. jimmy Says:

    hahaha…..
    kadal mau di kadalin…bener gak pa???
    memang bener pa, kalau “good services” yah seperti itu…namun hal itu gak akan kita temukan di negri kita tercinta…hehehe…malah semakin tertinggal saja!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: