Urusan Bengkel dan Biola

Hampir setahun lalu saya menulis dua buah posting di blog ini. Satu berjudul “Jadi Montir” (klik di sini jika ingin membaca lagi). Itu adalah cerita soal pelajaran mendadak saya jadi montir mobil yang rusak, karena mahalnya ongkos ke bengkel dan suku cadang mobil di sini.

Satu tulisan lain berjudul “Banjo Dr. Leong, Biola dan Berenang” (klik di sini jika berminat baca lagi). Isinya tentang dua hal yang ingin saya pelajari sejak lama: berenang dan main biola. Selama musim panas tahun lalu, saya berusaha keras belajar berenang. Hasilnya, saya sekarang sudah bisa berenang. Kuat berenang bolak-balik beberapa kali di kolam renang yang besar. Tinggal satu yang belum bisa, yaitu main biola.

Nah, dua hal ini, montir dan biola, datang lagi menjelang musim panas tahun ini. Saya punya teman baik, namanya Jerry. Dia pintar soal urusan memperbaiki mobil. Dia orang Kanada, keturunan Hongaria. Ayahnya adalah imigran generasi pertama di keluarganya, meninggalkan Hongaria dan memutuskan menetap di Kanada. Ayahnya punya bisnis bengkel yang maju di Kanada. Sejak masih SMA, Jerry sudah membantu bisnis keluarga itu sebagai mekanik. Sepertinya keluarga imigran ini cukup berhasil. Jerry baru selesai program S-2 di kampus saya. Sementara, kakaknya adalah profesor antropologi yang spesialisasinya adalah Indonesia bagian Timur.

Beberapa minggu lalu Jerry bilang bahwa mungkin shockbreaker mobil saya perlu diganti. Kalau dibawa ke bengkel, bisa berbiaya lebih dari 1000 dolar. Alamak, mahasiswa miskin begini, bisa tambah miskin.

Jerry bilang tidak usah ke bengkel, bisa dicari di recking yard saja. Dia akan bantu pasang. Tapi karena waktu itu masih musim dingin, kami menundanya. Baru dua hari lalu kami ke recking yard. It was fun. Tempat itu namanya Pick ‘n Pull. Jadi lokasinya adalah lapangan luas, di dalamnya berjajar ratusan mobil (bekas tentu saja) beragam merek. Kita bayar entrance fee dua dolar per orang, setelah itu bisa mencari sendiri suku cadang yang kita butuhkan dari mobil bekas yang beratus-ratus banyaknya itu. Kita harus membawa alat perbengkelan sendiri. Lalu, jadi ‘kanibal’. Mengambil suku cadang dari mobil bekas dengan segala cara. Mobilnya mau dibikin penyok juga nggak ada yang marah. Waktu mencopot schockbreaker dari mobil yang kami incar, kami harus mencopot sebuah ban yang entah mengapa susah sekali. Jadi, saya, Jerry dan Cyril seorang teman lain yang ikut, menendang-nendang ban itu sambil teriak-teriak sepuasnya…ha..ha. Besok-besok kalau sedang stress mau ujian, pergi ke recking yard mungkin menjadi hiburan yang lumayan.

Waktu masuk, kami menjumpai dua orang Amerika sedang berusaha mencopot kondensor AC dari sebuah mobil. Jerry menawarkan bantuan, karena dia membawa alat lengkap. Sekejap saja kondensor itu bisa dia lepaskan. Dua orang itu ngotot akan membayar Jerry, sementara Jerry menolak. Karena dipaksa terus, akhirnya Jerry bilang: “Ok, just by me a drink”. Dua orang itu senang, mereka kebetulan berkulit hitam, logat bicaranya seperti para penyanyi rap itu. Dengan nada bercanda mereka bilang: “OK, I will give you 20 bucks. And also 20 bucks for your two friends who have been waiting and shutting their mouth up”. Cyril yang kebetulan juga berkulit hitam nyeletuk: “wow, this is the first time somebody pays me for shutting my mouth up”…ha..ha..ha. Lumayan, karena membantu mencopot kondensor yang sebentar saja, Jerry dapat 40 dolar. Kami pesan pizza dan pernak-perniknya sesampai di rumah Jerry.

Kami dapat shockbreaker yang harganya 20 dolar saja. Cyril berencana juga mengganti shockbreakernya. Dia tadinya sudah bawa ke bengkel, tapi bengkelnya men-charge 1800 dolar. Jadi batal. Setelah mobil saya, Jerry akan membantu mengerjakan mobil Cyril. Seru juga pengalaman hari itu, walaupun harus nyetir sejam lebih ke lokasi recking yard itu, yang terletak dekat Chicago. Dua jam lebih menyetir mobil ke sana bolak-balik. Tambah lagi terjebak rush hour orang pulang kerja di Chicago.

Soal biola, ini seru juga. Saya baru tahu, school of music di kampus saya menawarkan pelajaran biola untuk pemula selama musim panas. Saya sedang negosiasi dengan Fulbright, yang mendanai sekolah saya, dan juga dengan International Student Office di kampus saya yang mengurus tuition waiver. Saya bilang ingin belajar biola di school of music selama musim panas ini. Mereka belum kasih jawaban, saya disuruh menunggu hingga hari Senin pekan depan. Mereka bilang sulit juga, karena biola tidak berhubungan dengan ilmu politik yang sedang saya pelajari. Kalau saya ambil summer course dari departemen ekonomi, sosiologi, sejarah, psikologi dan semacamnya, mereka akan langsung menyetujui. Kemarin waktu bicara via telepon dengan mereka, saya bilang: “nanti di akhir musim panas, kalau perlu saya bikin makalah dengan judul The Politics of Violin”…he..he. Yah, semoga diperbolehkan. Kalau negosiasi berhasil, maka cita-cita terakhir, bisa main biola, akan tercapai. Kalau tidak, harus cari cara lain dan menyempatkan waktu belajar biola sendiri.

2 Tanggapan to “Urusan Bengkel dan Biola”

  1. missdayeuh Says:

    i think a more feasible idea is to write an article about the Politic of Learning Violin :)– how you justify the importance of violin and violin lesson in your life and politicize the reasoning of your violin learning in order to get to learn violin :p

  2. philips vermonte Says:

    Mer, it is true then a professor has a very complicated way of thinking…he..he.. Lu udah jadi belajar biola belom? Kalo udah, biola nya kirim ke sini, kasih ke gue aja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: