Kartun dan Politik

Semester musim semi baru selesai minggu lalu. Lewat sudah minggu-minggu ujian dan deadline tugas akhir. Sekarang siap-siap libur musim panas, tiga bulan.

Kalau libur, hati senang bisa baca buku ‘semau gue’. Bisa baca di luar bahan kuliah yang sering bikin pusing karena nggak ngerti…hua..ha..ha.

Kebetulan hari ini kiriman jurnal Political Science & Politics edisi terbaru sudah datang ke rumah. Topiknya menarik sekali, khusus membahas tentang kartun-kartun politik. Kartun memang medium politik yang cukup siginifikan. Hebat sekali para editor jurnal ini memutuskan menurunkan tulisan-tulisan para political scientist soal kartun politik.

Di negara yang mapan demokrasinya, kartun politik adalah hal biasa. Walaupun bisa menjadi ‘korban’ buah tangan para kartunis, tokoh-tokoh politik yang menjadi obyek kartun pada akhirnya menerima kartun sebagai bagian kebebasan berekspresi. Tidak ada pasal-pasal hatzaai artikelen seperti hukum kita yang peninggalan Belanda itu dimana kita diharamkan mengolok-mengolok tokoh atau presiden atau semacamnya. Pasal-pasal penghinaan terhadap penguasa itu hingga sekarang masih ditakuti di tanah air, bisa bikin masuk penjara.

Dalam jurnal edisi ini ada dua tulisan menarik. Satu berjudul “Web Cartoon in a Closed Society: Animal Farm as an Allegory of Post Communist Belarus” tulisan yang dibuat Olena Nikolayenko. Satu lagi tentang kartun Indonesia di masa Orde Baru. Judulnya “Risky Business: Three Political Cartooning Lessons from Indonesia during Suharto’s Authoritarian Rule” tulisan Richard Ostrom.

Membaca tulisan Ostrom, jadi teringat masa mahasiswa dulu. Di awal tahun 1990-an, beredar sembunyi-sembunyi poster kartun berjudul “Tanah Untuk Rakyat”. Posternya besar, saya tempel satu di kamar kost saya dulu. Entah dimana poster itu sekarang. Gambarnya Suharto dan karikatur aparat militer yang mengusir penduduk dari tanah-tanah mereka. Saya tidak ingat lagi siapa pembuat poster itu, tapi seingat saya dia harus bersembunyi karena gara-gara membuat poster itu dia dicari aparat keamanan rezim yang mengharamkan kritik sekecil apapun.

Poster itu jelas terinspirasi dari kasus-kasus tanah beberapa tahun sebelumnya yang diadvokasi para aktifis mahasiswa angkatan 1980-an. Misalnya kasus tanah di Cimacan dan Badega. Penduduk terusir dari tanahnya, untuk dibangun vila, lapangan golf dan bahkan juga untuk tanah pertanian Suharto di Tapos. Saat Suharto jatuh dari kekuasaannya, para petani membalaskan perlakuannya dulu, mengambil alih dan menanami kembali tanah-tanah yang sebelumnya hilang dari penguasaan mereka.

Begitulah, mungkin penggambar poster itu sekarang sudah bisa bebas menghasilkan karya-karya kartunnya. Tidak semestinya kartun membuat penguasa meradang. Kartun adalah ekspresi artistik. Saya rasa kartun juga menjadi simbol masyarakat yang menghargai kebebasan berpikir.

Tapi, yang lebih membuat saya iri adalah ‘kebebasan’ memilih topik dari para political scientist di negara maju ini. Topik yang bisa mereka tulis bermacam-macam, bahkan soal kartun bisa dijadikan kajian akademik yang diapresiasi jurnal terkemuka. Tulisan-tulisan di edisi terbaru jurnal Political Science and Politics ini membuka mata saya betapa topik penulisan terbentang luas. Saya, dan mungkin juga banyak sarjana Indonesia lain, tidak sebebas para sarjana Barat ini. Saya masih terkungkung pada topik-topik yang sifatnya grand narative, soal demokrasi, pemilu, militer, konflik etnik atau topik lain yang ‘besar’.

Apalagi saat akan bikin thesis atau disertasi, kebanyakan sarjana kita berpikir ingin menghasilkan karya ‘besar’. Wajar juga, karena kadang-kadang masyarakat kita menagih: ‘masak bikin thesis/disertasi topiknya cuma begitu aja?’…he..he.

Di masyarakat Barat, pertanyaan-pertanyaan begini sudah tidak muncul. Soal pertanyaan-pertanyaan, memang ada banyak pertanyaan di tengah masyarakat kita yang kadang-kadang mencerminkan situasi riil kemasyarakatan kita.

Saat pulang ke Jakarta musim panas tahun lalu, saya terlibat obrolan menarik dengan beberapa teman di kedai Utan Kayu. Bersama beberapa teman lama, saya sempat kongkow di Utan Kayu. Setahun tidak bertemu dengan teman-teman itu, saya ditagih cerita macam-macam. Ya saya cuma cerita bahwa saya menikmati masa-masa belajar dari fountain of knowledge dengan belajar di Amerika sini.

Tiba-tiba, seorang teman lalu bilang dengan nada reflektif begini: “Semoga kita bisa segera maju. Walaupun gua pesimis juga. Coba bayangkan, di WC-WC umum kita masih ada peringatan besar-besar: harap tidak lupa menyiram”. Kata kawan ini, tulisan itu, bagi dia, adalah penghinaan. Karena asumsi pembuat peringatan itu adalah banyak orang tidak menyiram selepas menggunakan WC umum (“Emang gua nggak beradab apa?, sampe nyiram WC aja pake dikasih peringatan”, begitu kata dia). Kata kawan ini lagi, soal elementer macam siram menyiram begini, tentunya sudah tidak muncul di negara yang lebih maju. Mungkin teman ini habis ada masalah dengan penjaga WC umum…he..he.

Kembali ke soal karya ilmiah, setiap topik, pasti ada ‘value’ nya. Minggu lalu saya bertemu seorang profesor ahli Indonesia yang kebetulan berkunjung ke kampus. Saat ngobrol dengan graduate students dia bilang: ‘the best dissertation is done dissertation’. Disertasi terbaik adalah disertasi yang sudah selesai ditulis. Alias, semua disertasi baik adanya, kalau ditulis dengan baik dan sudah selesai. Apapun topiknya.

3 Tanggapan to “Kartun dan Politik”

  1. Arya Says:

    “The best dissertation is (a) done dissertation”. Buat saya, ini artinya: “udah gak usah dipikirin kelamaan deh disertasinya — yang penting selesai dan dapat PhD-nya.

    Salah satu nasihat terbaik yang pernah saya dengar tentang disertasi doktoral adalah: “A (PhD) dissertation is a stack of paper with two signatures on it”. Ya, seperti itulah “the best dissertation”…

  2. philips vermonte Says:

    Arya..he..he. Kemana aja lu? Blog nya kok udah lama nggak diupdate gitu?

  3. joezua Says:

    baca artikerlnya bikin saya tertawa.. bener juga.
    salam kenal…
    jujuk suwandono
    http://kartununited.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: