Archive for April 21st, 2007

Tukul Arwana, Empat Mata dan Munir.

April 21, 2007

Sudah dua minggu lebih saya tidak sempat menengok Youtube untuk nonton episode acara Empat Matanya si Tukul Arwana. Saya memang hobi nonton Empat Mata yang disiarkan Trans7 ini, setelah dikabarkan seorang teman bahwa acara itu bisa ditonton via Youtube karena ada seseorang yang rajin meng-upload acara itu. Saya cuma tahu nama yang digunakan orang itu di internet adalah barrock81. Semoga kebaikan mas Barrock diganjar pahala berganda…:-) Nama si barrock ini sudah beberapa kali juga disebut si Tukul. Buat orang Indonesia yang sedang di luar negeri, Tukul dan Youtube betul-betul hiburan menyegarkan.

Acara Empat Mata ini, menurut saya, betul-betul lucu dan menghibur. Obat rindu tanah air juga. Saya memang suka acara lucu gaya-gaya Srimulat begini. Dulu tiap Kamis malam saya bela-belain nonton Srimulat, kalau nggak salah di Indosiar.

Istri saya tidak terlalu suka acara Empat Mata ini, tapi toh di salah satu episode yang saya tunjukan di Youtube, dia juga tertawa geli. Yaitu waktu edisi berjudul ‘Cinta Indonesia’, dengan bintang tamunya antara lain Yati Pesek. Sungguh lucu buangett Yati Pesek itu, apa lagi waktu ngomong: ‘bedebah’ dan “oh my god” dengan intonasi yang nggak ada duanya. Menurut saya, edisi itu adalah salah satu edisi paling lucu. Apalagi ada bintang tamu pesinden bule orang Amerika yang bahasa Jawanya halus sekali, membuat si Tukul mati angin.

Anyway, setelah dua minggu, baru sempat nonton lagi. Biasa, menjelang akhir semester begini tugas kuliah dan ujian-ujian menghadang. Minggu-minggu menjelang ujian akhir dan tenggat waktu untuk paper-paper kuliah begini memang penuh tekanan. Perpustakaan kampus selalu penuh hingga lewat tengah malam oleh mahasiswa yang belajar dan mengerjakan tugas.

Tapi justru karena itu mungkin saya butuh hiburan gaya Tukul buat mengurangi stress. Teman saya Coen Pontoh juga keranjingan, dia suka nonton di Youtube hingga jam 2 malam, istrinya selalu protes…ha.ha.ha.

Nah, dua minggu lalu teman saya yang lain, Ahmad Sahal, dalam sebuah obrolan via telpon dengan saya mengabarkan ada episode yang baru diupload oleh barrock di Youtube, judulnya ‘Back To 80s’. Baru sempat saya tonton barusan.

Ini edisi paling bagus, penuh nostalgia. Memang saya generasi 80-an* (menghabiskan SMP-SMA di tahun 1980-an). Jadi ingat jaman-jaman itu, jaman belum ada tv swasta, hanya ada TVRI. Acara hiburan musik cuma Aneka Ria Safari. Hiburan tv yang lain di hari minggu ada Ria Jenaka, lalu jam 12 minggu siang ada film seri Little House on the Prairie…:-) Mungkin ada bagusnya juga, membuat generasi itu tidak terlalu terpaku di depan tv. Aktif kegiatan luar rumah, macam pecinta alam, pramuka atau olahraga (juga tawuran antar sekolah…:-)

Epsiode berjudul “Back to 80s’ ini menghadirkan bintang tamu Nella Regar, Betharia Sonata, Obbie Mesakh. Karena saluran hiburan musik di tv tahun-tahun 80-an itu cuma Aneka Ria Safari di TVRI, ya saya tentu akrab dengan nama-nama itu….:-) Dalam episode Empat Mata ini, Obbie Mesakh nyanyi lagu “Kisah Kasih di Sekolah”….

Penonton yang memenuhi studio ikut bernyanyi sama Obbie Mesakh kompak betul: “sungguh aneh tapi nyataaa, tak’kan terlupaaa…kisah kasih di sekolaaah…dengan si diaa…tiada masa paling indah, kisah kasih di sekolah”…he..he.

Ini link nya back to 80s bagian 5 (lagunya setelah agak ditengah bincang-bincang).

Saya nggak akan lupa lagu ini. Gara-garanya, waktu saya baru masuk SMA 6 di jalan Mahakam di Jakarta, senior-senior kelas dua dan tiga yang iseng waktu Ospek memerintahkan beberapa siswa yang baru masuk kelas satu, termasuk saya, untuk mencari lirik dan menghapalkan lagu Obbie Mesakh ini. Pulang Ospek hari itu, saya ke toko kaset Aquarius Mahakam beberapa ratus meter dari sekolah cari kaset Obbie Mesakh, mencatat lirik lagu dari sampul kasetnya. Besoknya, saya dan beberapa teman di suruh nyanyi lagu itu, yang nggak hapal kena hukuman. Kata senior-senior saya yang iseng itu, biar bangga dengan SMA 6. Karena di salah satu lagunya Obbie Mesakh shooting di sekolah kami untuk video klipnya. Ada-ada saja senior-senior itu. Jadilah, nonton Empat Mata barusan membuat ingat jaman SMA dulu. Jadi senyam senyum sendiri.

Selain itu, dalam episode ini ada juga Mus Mujiono sebagai bintang tamu. Dia bawain lagu “Tanda-tanda” (inikah, tanda-tandanya, bunga asmara…begitu bunyi sebait liriknya). Eh atau bukan itu judulnya? Yang jelas lagu ini ngetop berat waktu saya SMA.

Ini link ke penampilan Mus Mujiono: back to 80s bagian 3

Tapi waktu lihat Mus Mujiono di acara Empat Mata ini, selain inget masa-masa SMP-SMA, saya juga jadi ingat almarhum Munir, aktifis HAM yang tewas di racun dalam perjalanannya saat akan bersekolah menuju Belanda itu.

Saya pernah tulis kenangan saya dengan Munir dalam posting berjudul “Only the Good Die Young” (klik di sini jika berminat baca lagi). Dalam tulisan itu saya cerita tentang pertemuan saya terakhir dengan almarhum Munir di studio radio Trijaya di kompleks stasiun RCTI tiga minggu sebelum keberpulangannya. Kami berdua diundang untuk bercakap-cakap di radio Trijaya soal RUU mengenai TNI. Ketika acara bincang-bincang selesai, waktu keluar dari studio rekaman, kami berdua berpapasan dengan Mus Mujiono.

Rupanya, cak Munir akrab sekali dengan Mus Mujiono. Kalau nggak salah, waktu saya diperkenalkan Mus Mujiono bilang mereka kawan SMA. Yang jelas, Munir waktu melihat Mus Mujiono kelihatan kaget sekali. “Lho, sampeyan kok kurus banget??”

Mus Mujiono bilang dia sakit, banyak pantangan makanan. Munir langsung bilang, “lah sampeyan artis duitnya banyak, sakit pasti gara-gara kebanyakan makan enak’. Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal. Kelihatan memang mereka kawan karib sejak lama.

Yang jelas, kasus kematian cak Munir belum “terungkap”. Baca majalah Tempo edisi minggu lalu, laporan utamanya kembali soal Munir. Ada perkembangan baru, terbuka sedikit ‘harapan’ untuk mengungkap kasus itu, yang sebetulnya terang benderang. Cuma butuh keberanian polisi dan pastinya SBY. Sayang, kata ‘keberanian’ sepertinya sudah hilang dari kamus mereka.

*update: baru nemu blog lapanpuluhan, cerita-cerita era tahun lapanpuluhan.

Bisa klik Blog Lapanpuluhan di sini (juga bisa dari Friends area).

Iklan

Berita Sedih

April 21, 2007

Nico, teman yang sedang belajar di sini dan sedang penelitian di Jakarta Jumat siang kemarin (Sabtu lewat tengah malam di Jakarta) kirim sms mengabarkan berita duka bahwa suami dari Mbak Nancy rekan kami berdua (tepatnya bos, karena mbak Nancy adalah salah satu direktur CSIS tempat saya bekerja) meninggal dunia setelah sakit beberapa waktu lamanya.

Tidak berapa lama kemudian juga datang kabar dari beberapa teman lain mengabarkan hal yang sama. Bahkan di milis alumni seminar Millenium juga  segera muncul ucapan duka cita. Kabar duka amat cepat tersebar.

Seminar Milenium adalah seminar tahunan yang diselenggarakan CSIS, dimana tiap tahun CSIS mengundang aktifis  muda usia dari tiap propinsi sebanyak dua orang, dari Sabang sampai Merauke. Jadi tiap tahun kurang lebih 66 orang muda dari seluruh Indonesia berkumpul (biasanya di Puncak), seminar dan diskusi selama seminggu dengan topik beragam hal, mulai masalah politik hingga sosial budaya.

Kabar yang datang dari mana-mana ke saya ini memperlihatkan bahwa mbak Nancy dan suaminya dikenal banyak orang, mungkin terutama karena memang mbak Nancy adalah orang yang penuh perhatian. Di kantor, hampir semua peneliti muda CSIS percaya padanya untuk menceritakan masalah-masalah, baik problem pribadi ataupun urusan pekerjaan. Nggak heran kalau di kantor, mbak Nancy dipanggil “Mami” oleh banyak peneliti rekan saya di sana.

Saya baru sempat kirim sms, telepon takut mengganggu karena Mbak Nancy pasti sedang sibuk dan juga membutuhkan privacy dengan keluarga dekatnya.  Almarhum suami mbak Nancy is no longer in pain. Semoga sudah tenang di sana. Yang terpenting, semoga Mbak Nancy dan anak-anaknya bersabar.