Akhir Pekan

Tadi pagi akhirnya saya dan Jerry teman saya mengunjungi Tara, supervisor tempat kerja kami berdua di perpustakaan kampus, yang sudah sebulan dalam keadaan kritis tidak sadarkan diri akibat kecelakaan. Seperti saya tulis diposting sebelumnya, life supportnya sudah dicabut. Dia tidak lagi dirawat di rumah sakit di kota sebelah. Dia sudah dibawa lagi ke kota tempat kami tinggal. Sekarang dia dirawat di hospice. Saya baru tahu konsep hospice ini. Ini adalah rumah perawatan yang ditujukan untuk orang-orang yang secara medik dianggap sudah tidak punya harapan dan telah dihentikan pengobatannya.

Begitu masuk ke dalam hospice, suasana amat depressing buat saya. Mungkin karena saya melihat dan melewati kamar-kamar tempat orang yang sedang amat sakit. Padahal hospice dirancang untuk membuat mereka yang sudah dihentikan pengobatannya oleh rumah sakit untuk merasa senyaman mungkin menanti saat kematian.

Anyway, ketika kami sampai di kamar Tara, no one was there. Keluarganya sepertinya sedang pulang ke rumah, yang kebetulan tidak jauh dari sana. So, it was only me and Jerry, and Tara of course. Mata saya dan Jerry langsung basah melihat Tara terbaring. Dia seperti sedang tidur biasa. Kami ‘ngobrol’ dengan Tara.

Walaupun di blog adiknya ditulis bahwa memang ada gerakan-gerakan tubuh Tara sedikit, kata dokter itu adalah gerakan refleks, bukan gerakan yang ditimbulkan atau yang didorong aktifitas otak secara sadar. Tapi sungguh, setiap kami bicara, Tara yang matanya tertutup kelihatan bergerak-gerak bola matanya. Saya merasa dia masih bisa mendengar. Mungkin juga tidak. Dulu waktu artis Sukma Ayu mengalami koma di Jakarta, keluarganya juga bertahan karena merasa ada harapan karena melihat gerakan-gerakan dari tubuhnya. Walaupun saya ingat baca di koran-koran ketika itu, dokter yang merawat Sukma Ayu juga menyatakan bahwa itu gerakan refleks tubuh, bukan brain-driven.

Tara bahkan seperti menggerakan bahunya, seperti hendak bangun. Itu juga mungkin refleks, walaupun dalam hati saya sungguh berharap dia akan bangun dan membuka mata. Walaupun saya dan Jerry berusaha ‘ngobrol’ dengannya, kami pada akhirnya lebih banyak diam, tidak bisa berkata-kata.

Kami lalu pulang. Tetapi di jalan, kami memutuskan kembali ke hospice karena berharap akan bisa bertemu keluarganya. Kami beli mainan untuk anaknya Tara, sekedar menghiburnya yang akan kehilangan mommy-nya.

Ketika kembali ke sana, sudah ada ayah Tara. Ayahnya amat tegar, tapi juga tidak menyembunyikan airmatanya. Dia duduk di sebelah tempat tidur Tara. Memegang tangannya, bicara dengan mata basah dengan air mata.

Ayahnya kelihatan adalah ayah yang bangga sekali pada Tara. Tara pandai memainkan berbagai alat musik, saksofon, piano, harpa, akordeon dan beberapa lainnya. Sebagian diantaranya dia pelajari otodidak. Kalau harpa, Tara pernah cerita pada saya bahwa dia sempat mengambil kelas harpa di school of music, waktu dia kuliah S-1 di jurusan politik (di banyak negara memang sangat dimungkinkan mahasiswa mengambil mata kuliah lintas jurusan) . Tara cerita soal kelas harpa-nya karena saya sedang mendigitalisasi sebuah buku tua tentang Burma dan di dalamnya saya temukan partitur musik tradisional Burma. Saya tanya pada Tara, apa saya perlu scan juga lembar-lembar partitur itu. Waktu melihat partitur itu, Tara amat antusias. Dia bilang, mungkin bisa jadi ide bagus kalau partitur itu dimainkan dengan harpa lalu direkam dan diupload bersama bukunya (seperti pernah saya tulis, saya terlibat dengan project digitalisasi buku-buku kuno Asia Tenggara) agar pengakses juga bisa mendapat gambaran musiknya. Saat itulah dia cerita tentang kelas harpa nya itu. Kami juga sempat mendiskusikan kemungkinan mencari orang-orang di school of music untuk membantu kami memainkan partitur itu, supaya bisa kami rekam. Kebetulan saya kenal seorang profesor musik di kampus yang ahli memainkan alat-alat musik Asia. Belum sempat saya menemui profesor itu, kecelakaan sudah terjadi.

Ayah Tara menunjukan foto-foto Tara sejak kecil, dia masih ingat detail kapan dan di mana setiap foto dibuat. Tak berapa lama kemudian, datang seorang sahabat Tara sejak kecil, namanya C.J. Dia sebetulnya tinggal di Connecticut, tapi sudah datang ke rumah sakit begitu mendengar kabar kecelakaan. Dia juga membawa album foto berisi foto-foto mereka berdua sejak kecil. Dia menceritakan foto-foto itu, dimana diambil dan detailnya, juga dengan airmata berlinang. Minggu lalu bahkan ada seorang teman Tara yang tinggal di Eropa terbang ke sini untuk menengok Tara begitu mendengar dia dalam keadaan kritis.

C.J membacakan pada Tara kartu-kartu ucapan yang datang bersama bunga atau cendera mata lain yang dikirim banyak orang. Betul-betul dia sahabat yang karib. Mereka dulu TK bersama, SD hingga SMA bersama. Bahkan kuliah S-1 di kampus dan menjadi roommate di asrama yang sama. Mereka berpisah ketika menempuh S-2 dan kemudian menikah.

Mendengar cerita-cerita dari ayahnya dan sahabatnya, saya merasa waktu seperti dimampatkan. Kisah hidup Tara bertahun-tahun dirangkum dalam cerita kurang dari sejam. Dia dikenang sebagai orang baik, hangat, cerdas, jujur, ringan tangan dan sayang pada keluarganya. Seperti pernah saya tulis di blog ini, kecelakaan itu terjadi ketika Tara pulang ke rumah untuk makan siang. Saya baru mendengar dari ayahnya mengapa Tara selalu makan siang di rumah. Dia ngotot menyusui sendiri anaknya, sehingga memang setiap makan siang dia pulang ke rumah untuk menyusui.

Tara juga menjadi volunteer di berbagai organisasi. Antara lain dia menjadi volunteer membuatkan website untuk beragam organisasi sosial. Banyak sekali orang yang secara pribadi tidak mengenal Tara, tapi tertolong dengan bantuan keahliannya dalam teknologi internet. Orang-orang ini juga membanjiri Tara dan keluarganya dengan kartu ucapan dan doa untuk kesembuhannya.

Saya jadi berpikir, kalau saya yang mengalami, bagaimana keluarga, teman, orang yang saya kenal dan tidak saya kenal mengingat saya? I have made so many mistakes in my life, mungkin tidak semujur Tara yang bisa dikenang sebagai pemberi manfaat buat banyak orang disekitarnya. Pada akhirnya, keluarga lah yang memberi support. Tara sangat beruntung memiliki keluarga, ayah ibu, adik, suami, dan sahabat yang men-support di masa amat sulit seperti saat ini.

Dari ayahnya, kami mendengar langsung bagaimana situasi medisnya. Injury otaknya sangat ekstensif. Bagian depan, belakang, samping kiri-kanan otaknya rusak berat. Dan otak adalah satu-satunya bagian tubuh manusia yang tidak memiliki kemampuan regenerasi. Kalau cedera, otak tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Kalau kita mengalami patah tulang misalnya, tulang bisa sembuh karena bisa tumbuh lagi. Dokter ketika pertama kali Tara dibawa ke rumah sakit pun harus membuka tengkorak kepalanya untuk memberi ruang karena otaknya membengkak karena memar. Kalau tidak dibuka, kerusakannya akan tambah parah karena tertekan di dalam (saat itu dokter masih berharap kerusakannya tidak seekstensif yang kemudian diketahui). Ditambah lagi, batang leher bagian belakang Tara juga cedera parah, sehingga dia mengalami semacam stroke permanen. Tabrakan itu luar biasa kerasnya, dan mobil penyebab kecelakaan itu terjadi kabur. Son of a b**ch!

Bisa saja life support tetap dipasang, tapi Tara akan tetap berada dalam keadaan vegetatif itu (yaitu seperti yang kami lihat tadi , tetap terbaring tidak sadarkan diri). Tidak memiliki kemampuan pikir apapun. Kalau hanya salah satu bagian otak yang cedera, misalnya hanya bagian depan saja, atau belakang saja, atau samping saja, masih ada harapan survive walaupun menurut dokternya tidak akan pulih sepenuhnya seperti sedia kala. Tapi, yang terjadi pada Tara adalah semua bagian otaknya cedera parah. Karena itulah keluarganya mengikhlaskannya.

Ada cerita lain. Profesor Ramlan Surbakti dari Universitas Airlangga yang juga wakil ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu datang berkunjung ke kampus saya. Dia memberi ceramah kemarin di kampus, dan tadi kami, beberapa mahasiswa Indonesia dan keluarga, berkumpul makan malam di rumah professor saya, Dwight King, yang dulu adalah pembimbing Ramlan Surbakti. Ramlan Surbakti adalah alumni kampus tempat saya sedang studi sekarang ini.

Tentu banyak update soal politik di Indonesia yang saya dapat dari pak Ramlan. Tapi, saya tertarik mendengar kisahnya kuliah dulu. Bagaimana dia dan keluarganya (istri dan anaknya) berjuang menyelesaikan studi doktoralnya di sini dulu. Sebelum keluarga datang, pak Ramlan sharing apartemen dengan Ryaas Rasyid. Belakangan Andi Malarangeng datang bergabung studi di sini dengan mereka. Pak King juga cerita-cerita bagaimana dia mengingat pak Ramlan, Ryaas dan Andi menempuh kuliahnya.

Ada hal lain yang bikin surprise, pak King menunjukan pada saya sebuah CD Iwan Fals miliknya. Pak King rupanya fans Iwan Fals. Waktu tinggal di Indonesia selama beberapa tahun dulu untuk penelitian, dia jadi gandrung Iwan Fals. Di dalam kotak CD itu, dia menyimpan sebuah kliping koran lama tentang Iwan Fals. Jadi tadi saya pinjam CD itu, karena saya jadi ingat jaman masih SMA dan kuliah S-1 dulu, karena gandrung juga pada Iwan Fals seperti kebanyakan anak SMA dan mahasiswa lain masa itu.

Seharian dari pagi hingga malam hari ini, betul-betul saya merasa berada dalam ruang di mana waktu dimampatkan. Sepertinya, semua orang (ayah Tara, C.J – sahabat Tara, pak Ramlan, pak King) menengok kebelakang. Menengok kembali masa yang telah lewat bertahun-tahun. Hidup amat pendek. Jika ada umur cukup dan bisa menengok ke belakang, saya berharap kelak bisa melihat lebih banyak hal baik telah sempat saya lakukan, ketimbang sebaliknya. Jerry teman saya kelihatannya juga amat terpengaruh dengan kunjungan kami menengok Tara ke hospice pagi tadi. Waktu saya turun dari mobil saat diantar Jerry pulang, dia tiba-tiba bilang pada saya:”My friend, you should give a big hug to your wife and sons. We never know how long we can be together with our family. Many things can happen within a blink of our eyes”.

2 Tanggapan to “Akhir Pekan”

  1. [irwan] Says:

    Pada saatnya, yang terakhir kita miliki adalah keluarga dan sahabat. Yang terkadang kita melupakannya, menganggapnya tidak ada, karena mereka terlalu dekat.

    Seperti bola mata, yang selalu tidak terlihat, dan terlupakan, karena sangat dekat. Padahal bola mata adalah yang terakhir menemani sampai menutup hidup kita.

    Seperti halnya lebih memilih mengirim kartu ucapan hari raya kepada seseorang dari pada kepada pasangan kita, karena kita pikir, tidak usah lah, toh nanti akan terkirim ke pintu rumah kita juga.

  2. budi Says:

    saya pernah menjenguk teman yang akhirnya meninggal dunia. Suasananya memang dingin. Mungkin lebih dingin yang dirasa Mas Philips karena pasien sudah hampir bisa dipastikan akan meniggal karena kecelakaan yang dialami. Teman saya pernah main tebak-tebakan. Katanya, “Apa yang dirasa sangat jauh tapi sebenarnya begitu dekat?”. Di antara kami tidak ada yang menjawab. Kemudian dia bilang, “Kematian”. Seketika kami semua diam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: