Obituari Profesor Koesnadi Hardjasoemantri

Saya barusan baca majalah Tempo edisi terkini. Ada tulisan bagus, obituari Profesor Koesnadi Hardjasoemantri, mantan rektor UGM yang ikut menjadi korban terbakarnya pesawat Garuda minggu lalu. Peristiwa itu menyedihkan.

Obituari Profesor Koesnadi ini ditulis Anies Baswedan, seorang teman yang juga belajar ilmu politik di kampus NIU sini. Anies mulai lebih dulu, dan juga telah rampung dan pulang ke Indonesia. Tulisan ini sangat menggugah, membuka mata tentang figur profesor Koesnadi yang amat demokratis dan menjadi sumber inspirasi banyak orang.

Sedikit banyak, tulisan Anies ini menjawab pertanyaan saya sejak dulu. Mengapa, ketika saya kuliah S-1 dulu, akftifisme dan intelektualisme mahasiswa UGM di Jogja demikian majunya dibandingkan kampus-kampus lain? Saya pernah disuruh main ke UGM oleh Kuseryansah, ketua senat mahasiswa Universitas Padjadjaran tempat saya studi, sekedar belajar mengenai organisasi senat mahasiswa UGM dan juga belajar bagaimana mahasiswa UGM mengelola pers mahasiswa.

Setelah perjalanan ke Jogja itu, dimana untuk pertama kalinya saya bertemu juga dengan Anies yang saat itu adalah ketua Senat Mahasiswa UGM, dan juga berbagai kelompok mahasiswa lainnya di UGM, saya jadi sering sekali main ke Jogja. Berangkat malam dari Bandung naik kereta murah, pulang besok malamnya. Seharian muter-muter di kampus UGM, ikut diskusi ini itu. Saya waktu itu penasaran betul ingin menyelami dinamika mahasiswa di kampus UGM.

Saya pernah tulis sedikit soal ini beberapa waktu lalu, silahkan klik di sini

Kampus lain, termasuk kampus Unpad tempat saya belajar, sering harus berkaca keluar untuk mencari inspirasi. Baru beberapa hari lalu seorang sobat saya sejak masa kuliah dulu, Yus – yang sekarang menjadi wartawan, menulis di blog-nya. Saya rutin membaca blog Yus yang penuh dengan tulisan-tulisan memikat. Dulu semasa di Jatinangor, saya ‘mencari’ Yus untuk berkenalan, gara-gara terpikat sebuah kolom yang ditulisnya di majalah Faktum yang diterbitkan mahasiswa Fikom Unpad. Begitu kenalan saya minta dia mengajarkan kami para pemula penerbit majalah Fisip untuk menulis kolom dengan baik.

Akhir pekan lalu dia diundang berceramah ke almamaternya, kampus Fikom di Jatinangor. Membaca tulisan berjudul Jatinangor yang dibuat Yus di blog-nya itu (silahkan klik disini )membuat pertanyaan lama kembali muncul. Tulisan Anies ini menjawabnya.

Aktifisme dan intelektualisme mahasiswa UGM tidak bisa dilepaskan dari sosok Profesor Koesnadi. Dia yang melindungi dan mendorong mahasiswa UGM untuk leluasa mengasah rasa dan karsa. Dia menjadi mata air inspirasi yang tidak pernah kering bagi mahasiswanya. Betul kata Anies, di saat hampir semua Rektor di kampus-kampus lain di Indonesia tunduk pada Orde Baru, Profesor Koesnadi dengan kukuh justru melindungi mahasiswanya. Mata hatinya melihat bahwa mahasiswa amat memerlukan kebebasan. Tidak heran, akhirnya kampus UGM melahirkan anak-anak muda penuh semangat.

Saya bersetuju dengan Anies, semoga pahala mengalir tiada henti kepada Profesor Koesnadi yang dengan penuh kasih menanamkan kecintaan pada pengetahuan dan semangat bagi para mahasiswanya, dan menjadi inspirasi bahkan bagi orang-orang yang tidak pernah mengenalnya langsung.

salam
pjv
——-

Majalah Tempo
03/XXXIIIIII/12 – 18 Maret 2007

Selamat Jalan, Pak Koes…

Anies Baswedan
# Murid almarhum Koesnadi Hardjasoemantri dan Mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada

Pada Rabu, 7 Maret, sekitar pukul 7.45 pagi, datang pesan pendek yang mengentakkan dada: ”Garuda terbakar di Yogya, Pak Koes ada di pesawat itu. Belum jelas kondisinya.” Pesan singkat berseliweran sepanjang hari, dan 15 jam kemudian konfirmasi itu datang: Profesor Dr. Koesnadi Hardjasoemantri SH telah tiada. Sesak mendengarnya. Hari itu salah satu guru bangsa terbang untuk selamanya.

Pak Koes, panggilan kesehariannya, dikenal dekat dengan anak-anak muda. Tak terhitung jumlah anak muda negeri ini yang tercerahkan dan bangkit karena Pak Koes. Kesungguhan, optimisme, keberpihakan pada rakyat kecil, dan kepedulian pada masa depan, hanya sebagian kecil dari karakternya. Pak Koes bukan orator yang pidatonya menggelegar. Dia lebih banyak berbuat sebagai realisasi atas idealisme dan kata-katanya. Itu sebabnya dia mempesona anak-anak muda. Semangat kerjanya luar biasa. Di usia 80 tahun dia masih secara sungguh-sungguh mengajar di belasan universitas, membimbing puluhan calon doktor dan mahasiswa pascasarjana.

Koesnadi Hardjasoemantri adalah figur utuh yang eksistensinya di berbagai arena bukan sekadar basa-basi. Dia aktivis, pendidik, peneliti, perwira pejuang revolusi, pakar hukum, pencinta lingkungan hidup, penari, dan seniman. Di balik berbagai peran itu, Pak Koes adalah tokoh tersembunyi tapi kunci dalam membentuk dan mengarahkan peran anak muda di republik ini.

Ketika pendidikan tinggi baru bisa dirasakan oleh segelintir pemuda, sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Pak Koes memimpin Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) terjun ke seluruh pelosok negeri menjadi guru. Pada 1951 dia mengajar sekolah lanjutan di Kupang. Dia pulang ke Yogya dengan membawa anak-anak potensial dari Kupang untuk meneruskan pendidikannya ke universitas. Pak Koes mengurusi proyek PTM ini selama enam tahun, hingga berhasil mengirim 1.400 mahasiswa mengajar di 161 sekolah menengah atas di seluruh Indonesia.

Pengerahan Tenaga Mahasiswa menopang kebijakan pemerintah masa itu agar ada sekolah lanjutan atas di setiap kabupaten di Indonesia. Efeknya, pada 1960-an terjadi ledakan jumlah mahasiswa. Jika sebelumnya, mahasiswa selalu berasal dari kalangan sosial-ekonomi menengah-atas, pada dekade 1960-an untuk pertama kalinya anak-anak muda dari segala penjuru dan semua kelas sosial-ekonomi bisa menembus dan memasuki bangku universitas. Pak Koes ada di sana, dia ada di balik kemunculan mahasiswa dari segala kelas dan dari segala penjuru. Dia tersembunyi, tapi jejaknya jelas dan pahalanya permanen.

Pada 1986 Pak Koes terpilih menjadi Rektor UGM. Begitu banyak cerita menarik dan penting mengenai kepemimpinannya, mulai dari kebiasaannya bersepeda keliling UGM untuk melihat langsung kondisi kampusnya, sampai pada keterbukaan yang luar biasa. ”Jam berapa pun, selama lampu teras rumah masih menyala, silakan datang dan akan saya layani,” begitu kata Pak Koes seakan menegaskan bahwa jam kerjanya nonstop. Pada era ketika cermin kewibawaan itu adalah kekuasaan yang garang dan berjarak dengan rakyat, Pak Koes memangkas jarak pemimpin dengan ”rakyat”. Dia menjadi contoh nyata bagaimana menjadi seorang pemimpin, sebuah kemewahan luar biasa untuk para mahasiswanya.

Ketika menjabat rektor sampai tahun 1990, Pak Koes memfasilitasi internalisasi dan re-migrasi gerakan mahasiswa ke dalam kampus. Dia tidak membakar mahasiswa dengan retorika. Pak Koes hanya menunjukkan bagaimana mengemas dan mengartikulasikan idealisme secara akademis. Efeknya dahsyat. Gerakan mahasiswa yang semula selalu berada di luar kampus mendadak terfasilitasi di dalam kampus. Pak Koes mengantar mahasiswanya mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pada saat mayoritas pimpinan universitas di seantero negeri ini jadi kepanjangan tangan Orde Baru dan represor mahasiswa, Rektor UGM ini justru bersahabat dengan mahasiswa dan idealismenya. Kemasan dan artikulasi akademis itu membuat Pak Koes tak bisa begitu saja ditonjok oleh rezim Orde Baru.

Ketika Menteri Pendidikan Fuad Hassan mengeluarkan konsep Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) pada 1989, UGM adalah salah satu universitas negeri pertama yang memanfaatkannya. Sebagian mahasiswa memang menentang dan menganggapnya sebagai kepanjangan tangan Orde Baru, tapi sebagian mahasiswa lain mengikuti alur yang dikembangkan Pak Koes dan memanfaatkannya. Efeknya, idealisme, semangat moral, dan sifat keoposisian, yang menjadi karakter utama gerakan mahasiswa, lalu muncul di lembaga kemahasiswaan. Bagi para aktivis lembaga kemahasiswaan UGM, pemanfaatan itu sekadar bingkai atas langkah yang dibangun oleh Pak Koes. Dan di kampus UGM ini pula lahir konsep Badan Eksekutif. Strategi pemanfaatan ini kemudian menular ke berbagai kampus yang lain.

Gerakan mahasiswa kembali menemukan ruang di dalam pagar kampus dan kemudian mahasiswa menjadi garda terdepan yang menuntut reformasi politik. Pak Koes tersembunyi tapi dialah yang menyiapkan landasan pacu bagi take-off-nya gerakan mahasiswa pada 1990-an. Dia tak banyak kata dan tak pernah mengklaim, tapi langkahnya jelas dan efeknya permanen.

Pada saat republik harus bertempur, dia jadi tentara pelajar. Ketika republik perlu anak-anak terdidik, dia jadi guru di pelosok negeri. Tatkala republik perlu pemuda peduli rakyat, dia kirimkan ribuan muridnya ke desa-desa terpencil. Sewaktu republik perlu regenerasi, dia institusikan kampus sebagai wahana penggodokannya. Ini hanya sisi Pak Koes dan generasi muda. Masih panjang deretan jasa besarnya di bidang lingkungan hidup, kebudayaan, seni, ataupun pendidikan.

Pak Koes kini telah berpulang. Keluarga, sahabat, kolega, dan beribu-ribu muridnya terpaku kelu mendengar salah satu putra terbaik bangsa mendadak dipanggil-Nya pulang. Hari itu pesawat Garuda panas terpanggang, tapi Universitas Gadjah Mada serta bangsa ini basah oleh linangan air mata. Selamat jalan, Pak Koes, pahala untukmu akan terus mengalir lewat ilmu dan muridmu yang tersebar di seluruh penjuru negeri tercinta ini.

4 Tanggapan to “Obituari Profesor Koesnadi Hardjasoemantri”

  1. Evy Says:

    OOO alumni Unpad juga ya mas, salam alumni klo gitu :), tapi unpad ga segenjreng universitas lain ya… ikatan alumni-nya kenapa ya? KLo alasannya karena di bandung ITB aja kuat banget…what is wrong with Unpad… ? BTW kirain dr namanya org philipine :)

  2. philips vermonte Says:

    Mbak Evy, wah, soal ikatan alumni itu cerita lain lagi…:-) thanks sudah mampir…

  3. Zulfi Says:

    Saya memang belum sempat mengenal Pak Koes (maklum masuk UGM) sejenak sebelum beliu tiada..

    Namun, dari kisah-kisah yg ada beliau memang orang yg hebat… salut !!

    Salam kenal Pak….

  4. dayat Says:

    aku sekali ikut kuliah Alm. Pak Kusnadi. Waktu itu beliau lupa tidak membawa spidol untuk nulis di whiteboard. Ternyata aku bawa spidol di tas, lalu aku maju kedepan untuk memberikan spidolku ke beliau. Beliau adalah Bapakku-Dosenku yg paling kukagumi. Sebuah kenangan di Ruang-E FH UGM 2002..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: