Ensiklopedi Bencana

Barusan baca detik.com, ada berita pesawat Garuda terbakar dan terbelah di Bandara Jogjakarta beberapa menit lalu. Baru kemarin terjadi gempa besar di Padang, juga sebelumnya banjir besar di Jakarta yang mengulang banjir serupa di kota yang sama tahun 2002. Juga belum lama ada dua kapal padat penumpang tenggelam di laut (Lavina dan KM Senopati). Pesawat Adam Air jatuh belum lagi ditemukan. Kereta api anjlok. Lumpur di Sidoarjo sudah menjadi bencana sosial juga, ribuan keluarga korban lumpur mengambil alih jalan tol. Minggu lalu, tanah longsor menimbun banyak jiwa di Nusatenggara.

Mundur kebelakang, ada tsunami di Aceh dan Sumatera Utara. Lalu gempa besar di Nias dan Jogjakarta. Juga letusan Merapi. Ada bencana sosial juga: minggu lalu rusuh di Sulawesi karena ada ibukota sebuah kabupaten akan dipindahkan. Menambah daftar kelam konflik di bagian lain pulau Sulawesi, di Poso. Dua hari lalu, ada bom meledak lagi di Ambon, seketika mengingatkan konflik berdarah yang memilukan antar agama beberapa tahun lalu.

Saya sudah beberapa kali bikin posting soal bencana di blog ini. Lama-lama rasanya frustasi juga. Bencana-bencana itu sebagian natural disaster, sebagian lainnya man-made disaster yang kemungkinan besar bisa dicegah. Bahkan kita bisa bersiap-siap menghadapi natural disaster, minimal mengurangi kerusakan yang timbul. Bikin bangunan yang ‘tahan’ gempa, membangun early warning system, membangun sistem response cepat, edukasi masyarakat, dan yang terpenting memanfaatkan pengetahuan dan teknologi. Kita sudah paham bahwa negara kita menempati ring of fire, cincin bencana. Jadi kita harus hidup dengan kenyataan ini dan mengenalinya.

Syaratnya satu: kita makin perlu berorientasi pada public policy. Kebijakan publik yang informed dan transparan. Birokrat yang accountable. Memaksimalkan setiap sen uang belanja negara untuk kebijakan berorientasi publik, bukan kebijakan birokrasi yang berorientasi pada dirinya sendiri. Satu lagi, yang sudah diulang-ulang, kita harus mampu meminimalkan korupsi. Barusan chatting dengan Ape, teman sekantor yang ekonom liberal di CSIS di Jakarta, soal bencana-bencana transportasi akhir-akhir ini. Dia bilang: tesis kapitalisme dan sosialisme-etatisme jungkir balik di Indonesia. Pesawat swasta Adam Air jatuh di laut, pesawat BUMN Garuda terbakar di Jogja. Operasi swasta dan pemerintah sama gagalnya.

Kita perlu memenuhi syarat itu hanya karena satu alasan: mungkin besok diri kita atau anggota keluarga kita yang menjadi korban bencana, entah natural atau man-made disaster. Kedengaran egois? Mungkin iya. Tapi saya memang makin menerima bahwa sebagian besar tindakan manusia adalah berbasis self-interest. Karena itu, sebetulnya adalah kepentingan pribadi masing-masing kita untuk bertindak dengan segala cara ‘memaksa’ terbentuknya kebijakan berorientasi publik dan transparan.

Kalau kita tidak mampu memenuhi syarat tadi, terpaksa kita terima dengan pahit apa yang ditulis koran New York Times waktu banjir besar melanda ibukota Jakarta beberapa waktu lalu. Indonesia, tulis New York Times hari itu, adalah ‘the encyclopedia of disaster’.

4 Tanggapan to “Ensiklopedi Bencana”

  1. bleu Says:

    Selain lack of accountability culture, ‘kita’ juga lack long-term vision. Most decisions consider only short-term gains. Pokoknya sekarang beres, we’ll tackle the issues along the way…

  2. Vai Says:

    mas, ajarin soal teori neo-realisme donk.. apa aja yg diketahui ttg neo-realisme.. terus kira2 amerika latin menggunakan teori ini dalam hubungannya dengan amerika serikat.. ditunggu tanggapannya.. thx =)

  3. Vai Says:

    oiya maaf maw nanya lagi, kira2 dalam hubungan AL dan AS itu yg lebih cocok pake teori neo-realisme, dependensia atau non-tradisional security.. tolong jelasin teori2 tersebut kl ga keberatan,, maaf merepotkan =’) btw saya mahasiswa HI 2004

  4. philips vermonte Says:

    Bule, ya betul. Short term gain dan long-term vision memang menjadi jantung persoalan setiap kebijakan publik.

    Vai, saran saya coba diperiksa perpustakaan CSIS di Jakarta (atau mestinya di kampus juga ada), ada buku-buku teori HI yang menjelaskan panjang soal teori-teori yang dimaksud. Kalau jawab di sini tentu susah…:-) Atau gambaran singkat tentang teori-teori itu bisa dilihat di posting yang judulnya “Mengkaji Kembali Paradigma Realisme”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: