Ngelamun

Barusan saya lihat sepotong iklan di TV: Life Comes at You Fast! Dua puluh empat jam terakhir rasanya banyak sekali hal-hal yang ‘datang’ bersamaan. Pertama-tama, sejak kemarin malam kami dihajar blizzard di sini. Salju turun disertai angin yang kencang sekali, siang tadi kecepatan angin 40 mil/jam atau sekitar 60km/jam. Karena itu kalau jalan susah, ditambah lagi saljunya pecah kecil-kecil diterpa angin kencang, mata jadi pedih. Saya baru dua tahun di sini, tahun lalu winter-nya tidak separah ini. Dua minggu lalu suhu dingin bukan main, dibawah nol Fahrenheit atau kira-kira minus 20-an celcius. Pernah beberapa hari minus 30 celcius, sekolah anak-anak sampai ditutup. Tidak ada yang mau ambil resiko kena frostbite.

Sekarang lumayan, suhu antara nol dan dua celcius. Karena habis dihajar suhu subzero sejak dua minggu lalu, dapat antara nol dan dua rasanya nikmat bukan main. Tapi sejak kemarin blizzard belum berhenti. Kalau lagi cuaca buruk begini, memang terasa rindu juga sama udara hangat Jakarta. Dan semalam, saya betul-betul rindu sama tanah air. Gara-garanya, saya baru ketemu rekaman beberapa episode acara Empat Mata di Transtv yang di host si Tukul Arwana itu. Saya cari di YouTube, rupanya ada yang rajin upload acara si Tukul. Lucunya bukan main, kayaknya sudah lama nggak nonton acara yang bikin cengengesan. Tempo hari, kawan saya Rizal mengabarkan soal si Tukul (klik di sini) but I had no idea what he was talking about. Nonton beberapa episode yang available di YouTube, baru saya ‘ngeh’. Menonton itu, jadi pingin pulang. Dulu saya hobi nonton Srimulat yang disiarkan tiap Kamis malam di Indosiar. Yah, mungkin ini rasa pelarian aja, ujian midterm sudah menjelang dan tugas-tugas kuliah makin banyak…:-)

Seriously, saya jadi mikir kalau sekolah itu ternyata lama juga. Walaupun tidak terasa sudah mau dua tahun, tapi kayaknya perjalanan masih panjang. Semoga tidak fatigue ditengah jalan nanti. Kemarin saya papasan dengan seorang teman asal Kenya yang sedang belajar di program Ph.D juga. Dia sepertinya sedang jenuh betul. Dia bilang: “I don’t have to write a dissertation that will change how the world operates, I just wanna write something simple and get myself out of here…Man, I have been a student all my life!” Saya nggak tahu dia lagi kesal sama siapa, mungkin sama profesor pembimbingnya…he..he.

Berangkat kerja tadi pagi, sambil nunggu bis di tengah blizzard, saya masih senyum-senyum sendiri mengingat rekaman acara Empat Mata itu yang sukses bikin saya batal belajar tadi malam. Sampai di library kampus tempat saya kerja, tumben nggak terlalu banyak student yang kerja. Mungkin banyak yang memutuskan tidak keluar rumah karena cuaca buruk.

Saya lihat sudah ada supervisor saya, namanya Tara. Dia seorang perempuan Amerika, salah satu manager program digitalisasi buku-buku yang saya ikut bekerja di dalamnya. Di divisi kami, dia paling rajin dan kelihatannya paling ahli segala hal yang berhubungan dengan komputer, multimedia dan internet. Orangnya tegas tapi amat bersahabat. Kami, student employee, segan padanya. Sekitar jam 12 lewat saat mau keluar istirahat makan siang dan Jumatan, saya sempat menyapa dia yang sedang sibuk di depan komputernya. Saya kembali sekitar jam 2, tumben saya lihat dia belum kembali dari istirahat makan siang.

Baru saja saya duduk dan menyalakan komputer, ada telepon ke ruangan kami: Tara mendapat kecelakaan mobil parah saat makan siang itu (entah saat menuju tempat makan siang atau sekembalinya dari makan siang). Dia dilarikan ke rumah sakit, keadaannya mengkhawatirkan. Bahkan dia harus menjalani brain surgery. Betul kata orang, life comes at you fast. Sejam lalu masih sehat, lalu mengalami musibah berat. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di hadapan kita.

Sedih juga mendapat kabar soal Tara ini. Dia dirawat di rumah sakit di kota sebelah (Rockford), mau drive ke situ untuk menengok juga hampir tidak mungkin di tengah blizzard begini. Jalan tol terlalu berbahaya, mungkin juga sekarang ditutup. Semoga dia akan baik-baik saja.

Life goes on. Seusai kerja, saya ada acara diskusi. Ini acara diskusi informal kami-kami mahasiswa pascasarjana di kampus kami yang tertarik soal Asia Tenggara. Kita adakan dua minggu sekali di hari Jumat. Diskusi santai saja, minta salah satu dari kami presentasi untuk pengantar diskusi, atau kadang minta salah satu profesor untuk bicara.

Sebelum diskusi ada kabar gembira. Seorang teman baik saya, mahasiswa Amerika di program Master yang mendalami Thailand, diterima di Emory University untuk meneruskan Ph.D. Emory adalah universitas yang cukup terkemuka juga untuk kajian Asia/Asia Tenggara. Saya ikut senang, karena kawan ini tampaknya sangat ingin kuliah di sana. Dia diinterview minggu lalu, dan hari ini mendapat kabar bahwa dia diterima. Barusan saya dan dua orang teman lain ditraktir dia makan malam, merayakan kabar gembira ini. Selama makan, kami berempat ngobrol-ngobrol soal ‘masa depan’. Beginilah, mahasiswa hobinya belagak mikirin ‘masa depan’…:-)

Tapi perasaan saya aneh juga tadi. Soal Tukul yang bikin saya memikirkan berapa lama saya bisa menyelesaikan sekolah dan pulang ke Indonesia, kecelakaan yang dialami Tara, dan kesenangan yang timbul saat menerima kabar teman saya akan memulai fase belajar yang lain di Emory, terasa campur aduk. Kadang-kadang saya berpikir bahwa saya punya waktu amat panjang, tetapi bisa seketika tersadar bahwa sebetulnya kita punya waktu sangat pendek. Kita bisa tiba-tiba sedih, atau tiba-tiba senang hati. Sepertinya John Lennon benar waktu dia bilang: “Life is what happens to you when you are busy planning other things”

3 Tanggapan to “Ngelamun”

  1. Coen Husain Pontoh Says:

    Bos,

    Gua juga lagi tergil-gile ama Tukul. Itu lho trade mark-nya, “kembali ke laap top.” Atau, “tak sobek-sobek mulutnya lho,” hehehe. Soal-soal lain, yang kurang berkenan, gua lewat deh.

    -C

  2. puspini Says:

    Ouch….really sorry to hear about your supervisor, Phil….

    Sebenernya manusia itu pd umumnya kekuatiran pertama adalah soal dirinya sendiri : gimana nasib ujian gw, gimana nasib kelangsungan hidup gw, gimana nasib hati gw menunggu vonis dr gebetan ….Tp ada saatnya kita terhanyut dgn kekuatiran2 dan perasaan orang lain di sekitar kita….. When those moments come- ouch…..sejuta topan badai rasanya (kalo kata Lupus dkk…)

  3. rizal Says:

    Yes, Tukul is da man :-). Dia berhasil mewakili kegagapan kita (kita? gue, kali…) terhadap teknologi (laptop) dan kehidupan urban –yang memang sebenarnya banyak lucunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: