Intelektual dan Akademisi

Kemarin saya mendapat kabar gembira. Seorang teman, Ulil Abshar Abdala, yang saat ini sedang menyelesaikan studi Masternya di Boston University, diterima untuk melanjutkan studi doktoral di Harvard University mulai Fall semester (Agustus) yang akan datang. Betul-betul kabar gembira.

Tadi pagi saya menelpon Ulil yang aktif dalam Jaringan Islam Liberal ini. Kalau weekend begini memang hampir semua provider telepon seluler meng-gratis-kan calls atau incoming call. Jadi telepon dari tempat saya ke tempat Ulil gratis…:-). Saya mau mengucapkan selamat ke dia.
Jelas dia sedang bergembira sekali mendapat admission di PhD program Harvard. Satu hal yang saya sukai dari kawan satu ini, dia rendah hati. Berkali-kali dalam percakapan di telepon pagi tadi, Ulil mengungkapkan rasa tidak percayanya mendapat beasiswa doktoral dari Harvard. Saya paham sekali bahwa admission PhD program di Harvard amat sangat kompetitif. Ngobrol-lah kami ngalor ngidul, ujung-ujungnya ya topiknya itu-itu juga: kalau kami selesai studi nanti, what next?

Kami yang sedang studi jauh begini, ya kerjanya memang curhat-curhatan kalau weekend. Bukan cuma dengan Ulil, tapi ya dengan banyak teman lain yang sama-sama sedang studi. Ada hal menarik tadi. Ulil melontarkan kegundahannya mengenai perjalanan banyak mahasiswa Indonesia yang setelah kembali dari studi doktoralnya hanya sedikit yang kemudian terlibat dalam dunia akademik belajar mengajar dan penelitian. Tentu saja bukan hal yang buruk jika seseorang yang seusai studi doktoral lantas terjun di dunia non-akademis. Kontribusinya sama-sama positif.

Yang menjadi concern kami, dunia akademik kita kurang berkembang. Dunia intelektual kita memang berkembang, tapi tidak demikian halnya dengan dunia akademik. Lantas, apa bedanya intelektual dan akademisi?

Sepertinya, dalam definisi Ulil, seorang intelektual lebih menyerupai seseorang yang generalis. Sementara seorang akademisi semestinya lebih fokus. Dalam dunia akademis, seseorang semestinya dikenal karena bidang kajian nya yang spesifik. Dalam bidang kajian studi agama seperti Ulil, semestinya seorang akademisi dikenal sebagai ahli, misalnya, pemikiran Ibnu Khaldun atau yang lainnya. Mengoprek, mengkaji, memikirkan karya-karya Ibnu Khaldun. Spesifik.

Dalam ilmu politik, mungkin seorang akademisi dikenal sebagai spesialis sistem pemilu, atau partai politik, atau topik lain. Kajiannya lebih mendalam dan spesifik. Saya pernah bertemu seorang akademisi Belanda yang kajiannya amat spesifik: Madura. Sudah 20 tahun dia mengkaji soal Madura (mungkin termasuk mengkaji khasiat ramuan Madura…he.he). Di lain tempat, saya pernah bertemu akademisi Australia yang spesialisasinya soal dukun, termasuk dukun santet, di Jawa Timur.

Kajian spesifik bisa menyumbang pada teori-teori yang selanjutnya berguna bagi perkembangan dunia akademik. Di Indonesia saat ini intelektualisme telah bersemi, namun dunia akademisi berbasis kampus belum. Tempo hari saya pernah terlibat percakapan juga dengan seorang kawan lain yang sama-sama sedang studi, Roby Muhammad. Kami bersetuju bahwa perkembangan teori-teori ilmu sosial (dan politik) di tanah air tidak menggembirakan. Kalau dalam ilmu alam ada bidang studi ilmu-ilmu dasar seperti MIPA, maka kita sangat perlu mengembangkan teori-teori dasar ilmu sosial alias kajian MIPA-nya ilmu sosial.

Obrolan di telepon pagi tadi berujung pada mimpi. Kata Ulil, baiknya nanti kita bikin universitas sendiri, ikut berkontribusi pada dunia akademik yang spesifik. Yah, mumpung mimpi juga gratis, seperti biaya telepon gratis di akhir pekan…:-)

Sehabis ngobrol dengan Ulil, saya mendapat telpon dari Ahmad Sahal yang sedang studi ilmu politik juga di Philadelphia. Rupanya, dia sedang makan di sebuah rumah makan milik orang Indonesia, katanya bernama Warung Surabaya. Di telepon, saya sempat mendengar Sahal memesan makanan: “Bu, saya minta tempe, nasi pecel dan es teler”. Wah, ini menerbitkan mimpi lain lagi….Jadi ingat segala rupa jajanan di tanah air. Waktu sempat pulang ke Jakarta summer tahun lalu, salah satu hal yang saya lakukan di hari pertama di Jakarta adalah makan tongseng di depan kantor saya CSIS di Tanah Abang III. Malamnya, beli martabak keju dekat rumah. Glek!

6 Tanggapan to “Intelektual dan Akademisi”

  1. yus ariyanto Says:

    kang philips,

    anda sendiri sudah punya bayangan bakal menjadi spesialis di isu apa? asal bukan martabak keju spesial aja…he..he..

  2. missdayeuh Says:

    kalau sudah berhasil bikin universitas sendiri…. aku jadi dosen tamu dong? haha… atau aku balik deh, langsung jadi full professor di situ bisa ngga? Hahaha….

  3. philips vermonte Says:

    Yus, soal spesialisasi, nanti kita bicarakan ‘secara adat’ (pake gaya SBY ‘menyelesaikan’ keributan Yusril Ihza dan KPK) lewat email…he..he

    Merlyna, wah malahan banyak orang ‘mimpi’ pingin ngajar/jadi profesor seperti elu di Amerika sini…bolehlah jadi full profesor, tapi ingat: gajinya standar Indonesia…he..he

  4. mrtajib Says:

    Kadang, spesalisasi itu tergantung “bagaimana bisa hidup darinya”…. ini Indonesia, yang “beginilah keadaannya”. Salam

  5. philips vermonte Says:

    bung Tajib, ya sampeyan benar. Begitulah keadaannya. Tapi semoga keadaan tidak menghalangi niat banyak ‘calon’ akademisi menjadi spesialis bidang apa saja nanti …

  6. sekjen Says:

    Di sini ada cerita
    Tentang cinta
    Tentang air mata
    Tentang tetesan darah

    Disini ada cerita
    Tentang kesetiaan
    Juga pengkhianatan

    Disini ada cerita
    Tentang mimpi yang indah
    Tentang negeri penuh bunga
    Cinta dan gelak tawa

    Disini ada cerita
    Tentang sebuah negeri tanpa senjata
    Tanpa tentara
    Tanpa penjara
    Tanpa darah dan air mata

    Disini ada cerita tentang kami yang tersisa
    Yang bertahan walau terluka
    Yang tak lari walau sendiri
    Yang terus melawan ditengah ketakutan!

    Kami ada disini
    http://www.pena-98.com
    http://www.adiannapitupulu.blogspot.com

    (Give your comment to change our future)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: