Belajar dari Burma

Ini masih seputar pekerjaan saya di perpustakaan kampus. Hari ini saya mengerjakan sebuah buku mengenai Burma yang diterbitkan di London tahun 1900. Bukunya dikarang oleh dua orang Barat, berkisah mengenai seputar kehidupan masyarakat Burma di akhir tahun 1800-an. Banyak sekali foto di dalamnya. Hitam putih.

Sambil meng-entry foto-foto dari buku itu ke database, saya melihat-lihat dan membaca sedikit. Buku dan foto-fotonya masih bagus terlihat. Tergambar lengkap kehidupan masyarakat Burma seratus tahun lebih yang lalu itu. Saya baru sadar, ternyata saya menggemari sejarah. Sejak kecil saya suka hal-hal berbau sejarah. Menyenangkan sekali bisa mengetahui kehidupan masa lalu. Kalau melihat foto atau gambar, atau membaca sejarah masa lalu, sering tersentak juga. Seberapapun mengagumkannya sebuah bangsa atau seorang tokoh, we all will eventually die. Lantas, orang di masa depan menengok ke belakang, menarik pelajaran dari masa kita hidup.

Anyway, saya belum pernah ke Burma. Mungkin makanan di sana enak, Burma berbatas dengan India dan Cina, dua negeri yang masakannya terkenal ke seluruh penjuru dunia. Jadi ada kemungkinan cukup besar makanan Burma merupakan gabungan cita rasa makanan India dan Cina…:-)

Melihat foto-foto tadi, ada satu section yang menarik perhatian saya. Yaitu foto-foto di monastery, pesantrennya agama Budha. Ada banyak foto “santri-santri” agama Budha, mempelajari kitab-kitab yang tertulis di atas kayu. Duduk melingkar, dengan pusatnya seorang biksu.

Saya lantas berpikir-pikir, mungkin salah satu temuan manusia yang luar biasa adalah institusi pendidikan alias sekolah. Bagaimana pengetahuan diajarkan dan ditransfer dari masa ke masa dan manusia terus menerus berusaha menyempurnakan metoda pengajaran pengetahuan.

Melihat foto-foto itu, kelihatan peran autoritatif seorang biksu. Mungkin sama dengan kyai di pesantren. Saya sempat berpikir, di situlah letak perbedaannya dengan sistem pendidikan Barat. Tapi pikiran itu saya sanggah sendiri. Peran profesor di kelas, ya mirip-mirip juga dengan otoritas kyai atau biksu. Dalam bidang filsafat, malah hampir mirip dengan para sufi yang berguru pada ulama-ulama tertentu. Di bidang filsafat, sering terdengar seorang profesor menyebut profesor lain sebagai muridnya si anu atau si itu. Sama dengan para sufi itu, yang sering di refer sebagai muridnya Guru A atau B.

Mungkin perbedaannya adalah kelas-kelas di Barat menghandle multiple readings dalam sekali pertemuan, dengan multiple perspektif. Tapi nggak tau juga, soalnya belum pernah belajar di pesantren atau di monastery…:-)

Ketika melihat foto-foto tadi, saya jadi ingat dua buku. Pertama, Imagined Community-nya Ben Anderson. Ben Anderson menjelaskan asal usul nasionalisme, yang menurut dia antara lain berkembang setelah institusi agama mengalami kemerosotan. Terutama ‘bahasa’ agama. Dia merujuk pada agama Kristen/Katolik dulu, ketika bahasa Latin hanya dikuasai oleh tokoh agama. Ketika mesin cetak ditemukan, kitab suci dicetak dalam jumlah eksemplar berlipat-lipat, dengan akibat kitab suci bisa diakses orang banyak dan karenanya penafsiran agama tidak lagi menjadi monopoli tokoh agama. Saya rasa semua agama mengalami hal itu. Ben Anderson kurang lebih menyebutnya sebagai efek dari print capitalism.

Dari foto-foto tadi, saya melihat bagaimana para ‘santri’ Budha mempelajari kitab yang ditulis diatas pelepah kayu. Pastinya jumlah kitab itu terbatas, tidak mungkin bisa diakses banyak orang, seperti yang terjadi ketika mesin cetak semakin meluas penggunaannya.

Di sisi lain, melihat foto-foto ‘santri’ Budha mengelilingi biksu belajar, saya juga ingat sebuah buku yang ditulis Michael Laffan, judulnya Ummah Below the Wind. Laffan mengkritik Ben Anderson yang menafikan peran agama dalam tumbuh berkembangnya nasionalisme. Studi Michael Laffan adalah mengenai peran agama (Islam) dalam tumbuh berkembangnya nasionalisme di Indonesia. Dia menunjukan bahwa Islam sangat menonjol perannya dalam awal perkembangan nasionalisme Indonesia. Terutama, kata Laffan, dari Muslim Nusantara yang pergi haji (di akhir 1800-an). Setelah haji, mereka tidak langsung pulang, tetapi menyebar untuk berguru pada intelektual-intelektual besar Muslim di berbagai negeri di Timur Tengah dan Afrika. Lantas terbentuklah network intelektual Muslim Indonesia modern, yang pulang dengan pemikiran baru yang progresif.

Ben Anderson meyakini bahwa salah satu asal muasal nasionalisme adalah rotasi birokrasi kolonial, terutama di Amerika Latin. Di masa kolonial Amerika Latin, terbentuk kelompok masyarakat bernama mestizo alias campuran. Bisa dari kawin campur antara mereka yang berdarah kolonial (Portugis atau Spanyol) dengan penduduk lokal. Juga terbentuk generasi kedua kolonial, yang orang tuanya lahir di Spanyol atau Portugal tetapi dirinya dilahirkan di bumi Amerika Latin. Birokrat-birokrat mestizo atau dari generasi kedua bangsa penjajah ini hanya dirotasi di negara kolonial saja. Tidak pernah (tidak berhak) dikirim ke Lisabon di Portugal atau Madrid di Spanyol. Karena ‘karir’ yang dihambat ini muncul benih-benih nasionalisme di Amerika Latin. Birokrat-birokrat mestizo ataupun yang keturunan generasi kedua ini, karena pekerjaannya, mengalami ‘bureaucratic pilgrimage’, terbentuk network sesama birokrat (hampir sinonim dengan ‘kelas menengah’) yang pelan-pelan berkembang menjadi semangat perlawanan anti kolonialisme yang berpusat di jantung kota-kota Eropa.

Michael Laffan pada dasarnya juga mempercayai bahwa perpindahan orang (pilgrimage) juga menjadi basis terbentuknya nasionalisme Indonesia. Bedanya, dia mempercayai bahwa dalam konteks Indonesia, yang terjadi adalah intellectual dan religious pilgrimage.

Yang jelas, saya makin menyadari pentingnya institusi pendidikan bagi progres sebuah entitas masyarakat. Dari dua buku tadi dan juga setelah melihat foto-foto tahun 1900-an itu, saya melihat bahwa belajar dan mencari ilmu pengetahuan adalah dua hal yang menjadi dorongan alamiah setiap manusia.

Satu Tanggapan to “Belajar dari Burma”

  1. bleu Says:

    I often think there are people who, naturally, are progressive, and there are those who, naturally, will support status quo. Mungkin ini lebih banyak saya observe di professional (or political) environment. Tapi mungkin juga applies to this context, education.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: