Deja Vu

Pekerjaan saya di perpustakaan kampus sebulan terakhir membawa saya berkenalan dengan sebuah software bernama dejavu (sebetulnya semacam image editor/eksporter, file ekstension .djvu). Saya memperbaiki kualitas image-image yang di scan dari manuskrip-manuskrip lama Asia Tenggara seperti saya tulis sebelumnya. Beberapa minggu terakhir saya mengerjakan manuskrip lama Burma yang dibuat awal tahun 1800-an.

Manuskrip ini ditulis di atas beragam medium (pelepah kayu, plat tembaga, kain, kertas dan lain-lain), kami scan dan buat file tiff dan jpg-nya. Tugas saya mengolah sedikit lagi image-image itu dengan photoshop, menyesuaikan size-nya, lalu mengekspornya ke file djvu tadi, dan akhirnya meng-entry nya ke dalam data base untuk selanjutnya diupload di internet. Kira-kira begitu.

Software dejavu ini anehnya memang membawa saya pada perasaan dejavu, perasaan ‘sudah pernah mengalami’. Dulu, selepas lulus studi S-1, saya sempat bekerja di perusahaan advertising di Jakarta. Posisinya namanya account executive (AE), serupa tapi tak sama dengan bidang ‘marketing’. Posisi ini yang paling ruwet. AE harus menjaga hubungan baik dengan klien, menerima briefing dari klien tentang produknya, di kantor menyiapkan proposal dan mengkomunikasikan gagasan yang diperoleh dari briefing dari klien kepada bagian kreatif (design, copy writer, media department yang mengurus relasi ke media elektronik dan cetak) melalui rapat-rapat brainstorming, akhirnya mempresentasikan proposal lengkap pada klien.

Kalau menang tender, masih harus bolak-balik. Namanya klien, banyak maunya…he..he. Minta ubah ini-itu, yang berarti saya harus merayu lagi orang-orang di bagian kreatif yang berisi ‘seniman’ semua. Orang bagian kreatif umumnya moody, kalau lagi kreatif output nya bagus. Kalau lagi mandek, mau dipaksa dengan cara apapun nggak bakal berhasil. So, AE dalam posisi ditekan klien, juga ditekan orang bagian kreatif. Sialnya, AE nggak boleh marah. Kalau marah, berantakan semua. So, lumayan juga. Dua tahun dealing with those kind of things, melatih kemampuan hubungan dan komunikasi interpersonal.

Saya sering nongkrongin desainer grafis bekerja di bagian kreatif, melihat mereka menggunakan software desain semacam Corel Draw, Photoshop atau yang lainnya. Saat mulai belajar photoshop bulan lalu, saya langsung teringat masa-masa kerja di advertising dulu. Apalagi kemudian dikenalkan pada software dejavu. Dinamakan dejavu, mungkin karena kualitas gambar yang dihasilkan jauh lebih baik dari tiff atau jpg/jpeg. Makanya seperti ‘dejavu’, seperti teringat kalau melihat gambar aslinya.

Sudah beberapa hari ini saya ingat-ingat lagi masa kerja di advertising itu, gara-gara photoshop dan software dejavu. Buat saya, itu masa-masa yang seru juga, jadi teringat masa krismon, dimana banyak sekali perusahaan advertising kolaps. Ajaibnya, masa krismon itu justru merupakan masa paling kreatif saya di advertising. Di tengah krismon, hampir semua kantor lesu. Tapi saya dan tim saya malah berhasil dapat project yang nilainya besar sekali. Kemudian, saya keluar dari pekerjaan itu secara baik-baik, tepat saat project besar itu selesai, karena saya mendapat beasiswa melanjutkan studi S-2 ke luar negeri. Saya menikmati kerja dunia advertising. Beberapa minggu belakangan ini, jadi ingat lagi masa-masa itu. Dejavu.

Ada dejavu lain beberapa hari belakangan ini. Dua hari lalu anak saya yang kelas tiga SD senang sekali. Dia menunjukan hasil pelajaran ilmu sosial di sekolahnya. Ada semacam ulangan peta buta. Siswa dikasih peta Amerika kosong, lalu disuruh menunjukan negara-negara bagian di Midwest area, harusnya cuma sekitar 5-6 negara bagian termasuk negara bagian Illinois tempat kami tinggal sekarang. Rupanya, anak saya went extra mile. Dia malah menunjukan lengkap seluruh 51 negara bagian Amerika – bukan cuma Midwest Area seperti yang diminta guru-nya, dan benar semua. He got A+, juga dikasih point tambahan 25 (saya nggak tau juga, point tambahan 25 ini apa maksudnya…he..he.). Anak saya senang sekali, usaha dia untuk going extra mile diganjar penghargaan oleh gurunya. Saya jadi ingat, umur-umur segitu saya juga suka sekali pelajaran peta buta. Jadi, melihat anak saya gembira sekali kemarin itu, seperti melihat saya waktu SD dulu yang juga senang sekali dengan pelajaran peta buta.

Masih ada dejavu lain. Tiba-tiba seorang teman lama muncul di Friendster tiga atau empat hari lalu. Dia adalah teman sekelompok dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dulu, sekitar tahun 1995. Dulu, mahasiswa semester akhir wajib ikut KKN, dikirim ke desa-desa dan harus tinggal di sana dua bulan lamanya (kabarnya sekarang program KKN sudah ditiadakan, diganti dengan program magang di kantoran). Satu tim terdiri dari sepuluh orang, dari beragam fakultas. Tim saya kompak sekali, campuran mahasiswa Fisip, Fikom, Hukum, Ekonomi, MIPA, Psikologi dan Sastra.

Teman lama ini membuat saya teringat masa KKN. It was a good time. Kami dikirim ke sebuah desa tertinggal. Di sana, kami (yang laki-laki, yang perempuan ditempatkan terpisah) saat itu ditempatkan di sebuah rumah milik pasangan suami istri yang sudah agak berumur, namanya Pak Iing dan Mak Iing yang hidup amat bersahaja. Kami sudah dianggap seperti anak sendiri. Saya ingat di hari terakhir program KKN dan kami berpamitan pulang, banyak orang desa itu yang menangis terharu. Padahal, saya merasa sepertinya sangat sedikit yang kami sumbangkan untuk desa itu.

Selepas KKN, saya masih sering datang ke desa itu. Pernah juga rombongan pemuda desa itu muncul di tempat kos saya dekat kampus. Sayang, sejak lulus dan bekerja di Jakarta tidak pernah lagi saya sempat ke sana. Lantas seperti hilang dalam memori, hingga teman masa KKN itu muncul di Friendster.

Saya jadi teringat, sebetulnya waktu KKN itu saya merasa gundah. Saat ‘diceburkan’ ke desa-desa, dihadapkan pada kenyataan ketertinggalan dan kemiskinan yang sesungguhnya, saya merasa lemah tidak bisa berbuat apa-apa. Merasa menjadi mahasiswa ‘salon’. Waktu itulah saya menjadi menghargai mereka yang memilih bekerja di bidang community development, di berbagai lembaga swadaya masyarakat. Saya ingat betul, di tempat KKN itu lah muncul niat menulis skripsi dengan topik mengenai LSM. Hingga sekarang, saya selalu kagum pada mereka yang bekerja di bidang community development, di LSM-LSM, yang sepi publikasi tapi melakukan pekerjaan konkrit dan amat sangat sukar. Butuh determinasi dan komitment tinggi.

Saya pernah juga punya niat ingin bekerja di bidang community development. Ada sahabat-sahabat masa kuliah saya yang tekun dan sabar bekerja bersama petani, buruh, dan yang lainnya. Ada seorang teman wanita saya yang bekerja di pantai utara Jawa Barat, program pemberdayaan wanita. Padahal saya tahu persis, dengan kualitas seperti dia, dengan mudah dia bisa mendapat pekerjaan di Jakarta dengan gaji besar. Tapi dia memilih bekerja di pedesaan pantura sana, empowering the community. Ada teman wanita lain, tepatnya teman istri saya, memilih tinggal bersama suku Kubu di pedalaman Sumatera sana. Dia bekerja pelan-pelan, hingga akhirnya diterima suku itu, dan akhirnya mulai mengajar baca tulis.

Saya lupa sama sekali niat untuk bekerja di bidang community development itu, hingga teman lama tadi muncul di Friendster. Ingat lagi niat itu, dan tiba-tiba setelah bertahun-tahun ini, saya merasa belum melakukan apa-apa. Rasanya persis sama seperti ketika tinggal di desa tempat KKN itu, merasa sebagai mahasiswa ‘salon’ tidak berguna.

9 Tanggapan to “Deja Vu”

  1. Roby Says:

    Kalo saya ngeliatnya justru LSM itu sekarang begitu ramai publikasi dan duitnya lebih banyak daripada dosen. Waktu tahun lalu saya jalan2 ke UI, ada komentar bahwa sekarang semakin sulit menarik mahasiswa bagus untuk jadi dosen. Sekarang mahasiswa bagus dengan idealisme tinggi lebih memilih ke LSM-LSM karena uangnya lebih banyak (begitu banyak donor yang mau memberi dana utk LSM) dan sarat publikasi (apalagi jika bekerja di daerah bencana).

    Malah orang yang mengabdikan dirinya di desa miskin, lebih mungkin dia menjadi orang terkenal karena liputan seperti itu memang santapan media; asalkan ada media yang mengetahuinya.

    Tentu di setiap profesi ada yang sangat bekerja keras dan berdedikasi dan sangat perlu di dukung dan dihargai. Saya bukan mau mengkritik mahasiswa LSM. Poin saya adalah cap mahasiswa salon juga bisa berlaku bagi mereka yang bekerja di LSM.

    Sekian pembelaan dari seorang mahasiswa salon :D yang selama mahasiswa tidak pernah memikirkan (apalagi berkunjung) ke desa miskin/tertinggal karena terlalu sibuk memikirkan bagaimana sebuah bintang menjadi lubang hitam dengan harapan bisa mengetahui ‘pikiran tuhan’. Jangankan utk desa miskin, apa yang saya kerjakan juga tidak relevan untuk kota kaya; setelah lulus saya pernah coba melamar kerja dan tidak diterima dimana2 karena latar belakang pendidikan yang terlalu ‘aneh’ dan ‘tidak relevan’; akhirnya terus sekolah sampe sekarang :D

  2. philips vermonte Says:

    he..he..Roby…betul juga. Memang betul tendensi itu. Seperti institusi lain, LSM juga menghadapi tiga problem akut: representasi, transparansi, dan akuntabilitas. LSM ‘salon’ yang bung sebut mungkin yang dikenal dengan BINGO alias Big NGO (walaupun memang banyak juga LSM kecil yang bermasalah). Tapi saya merasa masih lebih banyak LSM ‘serius’ daripada LSM ‘salon’…

    Yang saya ceritakan dalam posting ini sebetulnya lebih banyak mengenai teman-teman yang aktif di LSM di masa Suharto dulu, dimana mereka lebih banyak dianggap sebagai musuh daripada sebagai partner pemerintah. Karena itu, di tahun-tahun itu saya mengagumi mereka yang memutuskan aktif di dunia LSM, jauh dari publikasi (self-censorship media dan censor penguasa berjalan efektif), rawan intimidasi, dan hal lain yang membutuhkan komitmen dan keberanian tersendiri.

    Bukan berarti LSM setelah Orde Baru buruk. Saya tetap kagum pada mereka yang berkecimpung di dunia ini. Esensinya sama (community development atau advokasi), tetapi environment dan challenge nya sekarang berbeda bentuk…

    Mahasiswa seperti saya (kita?), ya tugasnya sekarang belajar…cuma itu yang bisa dilakukan. We will find out way to contribute…:-)

  3. hikmat Says:

    Masa tugas mahasiswa cuma belajar? hehehe…. tapi philips betul, masih banyak LSM yang baik seperti juga banyak mahasiswa yang dicap “salon” itu ternyata kadang memberi kotribusi penting juga untuk perubahan sosial.

    ngomong-ngomong tampilan blog yang baru ini jauh lebih bagus dari sebelumnya. OK deh selamat berkarya (jangan cuma belajar mlulu).

  4. oka Says:

    nice posting

  5. philips vermonte Says:

    bos hikmat, tampilannya template dari wordpress kok..he..he. Oxa, apa kabar lu?

  6. sadad Says:

    Philip bagi saya adalah juga djvu. Hampir 4 thn yang lalu di via renata Cipanas saya menjalani sebuah episode kehidupan selama 6 hari menjadi peserta seminar millenium. Saya tidak terlalu dekat dengan Philip, tapi –mungkin– saling tahu, karena kebetulan dia bukan instruktur saya.

    Waktu itu Agustus 2003. Saya hampir tidak bisa menjadi peserta, karena beberapa teman melarang saya ikut. Bukan karena apa, waktu kami –sesama pengurus PKB– lagi sibuk persiapan Pemilu.

    Tapi CSIS adalah “godaan” tersendiri, saya berangkat diam2, bersama istri dan anak saya –Ycal– yg waktu itu baru 6 bulan. Di seminar itulah saya menemukan Philip, Nico, Indra, dan mas Kris. Dan diantara mereka mas Kris lah yang paling susah saya lupakan.

    Pada suatu sessi pendalaman, di hadapan kelompok saya dan mas Kris, Nico “beraksi” memaparkan suatu kajian teoritik tentang partai lokal di Eropa juga, suatu presentasi yang memikat –maklum dia sedang on-fire menunggu keluarnya visa utk segera berangkat studi ke England [?]. Di akhir presentasi, mas Kris dengan enteng berujar: “Inilah CSIS, yang muda2 harus lebih pintar dari yg tua2, tapi kalau yang tua ngomong, maka yang muda2 harus diam dan pura2 tidak tahu.” Gerr!

    Frasa inilah yang sering saya ulang2 kalo bertemu atau didatangi para junior, di rumah, kampus, kantor Dewan, atau di kantor Partai saya.

    Saya pernah bertemu dengan mas Kris sekali, waktu beliau secara tak-terduga datang ke Munas Alim Ulama & Mukernas PKB di Surabaya pada pertengahan 2004. Untungnya mas Kris tidak bertanya kenapa saya berada pada barisan kiai yang kontra Gus Dur.

    Dengan Indra malah dua kali bertemu, dalam seminar di Bidakara dan di Redtop Pecenongan. Dengan Philip saya belum pernah bertemu lagi, tapi membaca blog-nya saya seperti sudah sering bertemu. Karena blog ini tidak cuma mengingatkan pada Philip seorang, tapi juga pada orang2 dan seutas kenangan 6 hari di Cipanas. Ini juga dejavu…

    anwar sadad

  7. Rizkiananda Says:

    Kisah yang bagus pak. kembali menghangatkan semangat saya untuk stay dan mengembangkan jatinangor (wabil khusus kampus kita tercinta). Saya sendiri sepakat dengan pendapat saudara roby tentang LSM saat ini. Ironis memang. dijaman yang relatif lebih bebas dibanding jaman Soeharto dulu, harusnya LSM atau community development bisa lebih profesional, idealis dan kreatif. jadi lucu, tiga hal itu lebih bisa dilihat pada masa yang lebih represif. Saya sendiri sempat ditawari gabung dengan beberapa LSM. tapi saya bingung dan ragu mengingat hal-hal diatas. Daripada ragu mending ditinggalkan. bukan begitu? hehehehe.
    Btw pak, program KKN masih ada. saya sendiri waktu KKN ditempatkan di Desa Cipadung. deket Cibiru. Hal-hal yang dicritakan diatas masih saya rasakan. Lumayan ada kenangan dikit yang mungkin tak dimiliki oleh orang banyak.
    salam
    rizki

  8. philips vermonte Says:

    Thanks sudah mampir di sini. Rizki, ternyata masih ada ya KKN? Saya nggak tau mau bilang itu bagus atau kurang bagus…:-) Mungkin tiap orang pendapatnya berbeda soal ini.

    bung sadad, wah selamat bertemu lagi, walaupun cuma di blog…:-) Saya mendengar, kabarnya ente sekarang anggota Dewan di Jawa Timur. Kalau betul, berarti menambah barisan politisi muda yang fresh. Maju terus bung…

  9. afin Says:

    KKN, jaman itu saya merasa beruntung dengan status saya sebagai mahasiswa. ada banyak hal yang membuat saya terpana, meski tinggal didaerah saya masih kaget saat melihat ada banyak desa lain yang tertinggal banget soal pendidikan. Saya baru tahu hari itu meski terlihat modern rata-rata anak-anaknya menikah selepas SD…bahkan pada umur belasan tahu sudah janda 2 kali
    Salam kenal, nice story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: