“Membaca” Organisasi APSA

Beberapa waktu lalu saya pernah tulis mengenai American Political Science Association (silahkan klik di sini). Barusan, salah satu dari tiga jurnal ilmu politik yang diterbitkan APSA tiba di rumah saya. Ya, saya dapat jurnal-jurnal itu karena mendaftar dan bayar iuran anggota APSA. Dalam tulisan terdahulu, saya menulis soal jurnal American Political Science Review edisi paling baru yang memuat sejarah perkembangan ilmu politik di Amerika dan sejarah perkembangan APSA yang berulang tahun ke 100.

Waktu bungkus plastik jurnal yang tiba kemarin saya buka, ternyata di dalamnya ada juga booklet (40 halaman) Laporan Tahunan APSA 2005-2006 sebagai organisasi. Laporannya diberi judul Networking a World of Scholars. Ada kutipan bagus sekali dari kata pengantar Annual Report ini:

“In 1957, Chief Justice Earl Warren wrote eloquently about unfettered scholarship and the value of academic freedom. Academic freedom is partnership. On the one hand, it requires civil freedoms, as the Sweezy case affirmed. On the other, it requires community responsibility. Without ethical practice within the scholarly community, academic freedom could not be sustained…By upholding these standards, and by contributing our learning to the pool of public knowledge, we anchor the privilige to inquire, evaluate and gain new understanding…”

Kebebasan, community responsibility dan kontribusi pada pengetahuan adalah kata kunci perkembangan komunitas epistemik seperti APSA ini. Kebebasan penting untuk perluasan disiplin ilmu politik, komunitas scholars penting untuk academic exchange, dan ilmu tidak berguna bila ia tidak memperkaya ruang-ruang kelas (pengajaran) dan mencerahkan publik.

Membaca laporan tahunan ini, saya semakin bisa meraba komitmen anggota APSA yang tersebar, kurang lebih 15 ribu orang meliputi akademisi (termasuk profesor dan mahasiswa ilmu politik) atau non akademisi. Komitmen lah yang menentukan perkembangan sebuah organisasi. Tentu kita tidak bisa mengabaikan ‘rational approach’ tiap anggota sebuah organisasi: bahwa seseorang memutuskan melibatkan diri pada organisasi karena kalkulasi rasional atas insentif.

Tetapi APSA telah berkembang sedemikian rupa sehingga insentif, voluntarisme dan filantrofisme telah berjalin berkelindan. APSA pada dasarnya adalah organisasi non-profit, hidup dari iuran anggota dan sumbangan. Dalam beberapa halaman akhir dari jurnal yang baru tiba itu ada list penyumbang APSA periode 1996-2006. Dibagi dalam 10 kategori penyumbang: centennial cirlce (penyumbang $25 ribu ke atas), 1903 Circle ($ 15 ribu ke atas), 2003 circle ($ 10 ribu ke atas), Builders Circle ($ 2500 ke atas), Second Century Society ($ 1000 ke atas), Anniversary Society ($ 500 ke atas), Friends ($ 250 ke atas), Associates ($ 100 ke atas) dan Contributors (antara $ 1- $ 99). Penyumbangnya ya para anggota APSA sendiri. Ada banyak nama political scientist yang familiar buat kita di Indonesia.

Di list Centennial (penyumbang dengan nilai $ 25000 ke atas), saya lihat ada nama Arend Lijphart, ilmuwan politik terkemuka. Ada 10 orang dalam List Centennial. Di list 1903 circle, ada nama Richard Fenno (yang terkenal karena kajiannya mengenai lembaga legislatif di Amerika yang menggunakan metode kualitatif sangat berpengaruh, dan keluar dari ‘mainstream’ kajian ilmu politik di Amerika yang cenderung kuantitatif). Di list 1903 circle juga ada nama Robert O. Keohane, nama yang tidak asing bagi penstudi hubungan internasional. Di list ini ada 10 orang juga. Di list Founders Circle, ada nama Samuel Huntington, Lucian Pye, dan Kenneth Waltz. Ada kurang lebih 40 penyumbang di circle ini.

Di Builders Circle, saya temukan nama Robert Jervis, Thomas Mann, Sidney Verba, Harvey Starr. Di circle ini tercantum lebih dari 50 nama. Di kategori Second Century Society ($ 1000 keatas) ada nama Gabriel Almond, Robert Dahl, Seymour Martin Lipset, Adam Przeworski, Sidney Tarrow dan lain-lain. Hampir 100 orang tercantum dalam list kategori ini.

Dalam kategori Anniversary Society ($ 500 ke atas), juga ada sekitar 100 nama, diantaranya: Bruce Bueno de Mesquita, Joseph Nye, Theda Skocpol, juga Ashutosh Varshney (pakar studi konflik yang juga menyelesaikan penelitian mengenai konflik di Indonesia bersama teman-teman peneliti UNSFIR di Jakarta dan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta). Dalam kategori Friends ($ 250 ke atas) tercantum nama David Laitin, Amitai Etzioni, dan lain-lain. Ada lebih dari 100 nama di sini.

Dalam list Associates ($ 100), ada nama Kenneth Arrow (pengkaji rational choice theory pasti familiar dengan Arrow’s Theorem), Nancy Bermeo (pakar studi transisi demokrasi), Michael Doyle, Judith Goldstein, Joseph LaPalombara, Harvey Mansfield, Irfan Noorodin, James Rosenau dan banyak lagi. Ada sekitar hampir 400 orang dalam kategori ini. Yang terakhir, kategori Contributors ($ 1 – $ 99) memuat lebih dari 600 nama, diantaranya Francis Fukuyama dan Stanley Hoffman.

Selain tercantum nama lengkap, banyak juga yang tidak mau disebut, hanya menulis ‘anonymous’ alias Hamba Allah…he..he. Di list Centennial yang menyumbang besar sekali itu, ada satu ‘anonymous’.

Dengan menulis ini saya ingin menunjukkan kalau organisasi sebesar APSA memperlihatkan bahwa bagian terpenting dalam pengembangan organisasi non-profit adalah menemukan cara untuk memperbesar komitmen anggota. Persoalannya, komitmen anggota meningkat kalau organisasi menunjukkan manfaat bagi anggota. Timbal balik. Di luar dua hal ini, hal paling penting adalah bahwa tiap anggota merasa bahwa networking adalah elemen penting dalam pengembangan profesionalisme masing-masing. Voluntarisme dan filantropisme menjadi backbone. Dengan tradisi semacam ini, sumbangan besar atau kecil diakomodasi dan ikut menumbuhkembangkan organisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: