Riwayat Pemimpi

Baru ketemu tulisan bagus ini dari Kompas Online edisi hari ini (Sabtu, Februari 10, 2007). Sayang tidak ada nama penulisnya, mungkin di edisi cetaknya ada. Tulisan di Kompas ini masih soal banjir, saya setuju seluruh isi tulisannya seperti saya juga beberapa hari lalu posting soal banjir (klik di sini)

salam
pjv

———–

Riwayat Pemimpi
Ia baru sempat istirahat 16 jam setelah terjadinya Tragedi 9/11. Ia penguasa de facto di Amerika Serikat berhubung keberadaan Presiden George W Bush dirahasiakan karena ancaman serangan teroris.

Ia tiba tak lama setelah pesawat kedua menabrak Menara Kembar dan nyaris terjebak di ruang komando yang tertimpa reruntuhan. Ia mengomandoi operasi SAR yang melibatkan ribuan personel, mulai dari petugas pemadam kebakaran, polisi, sampai relawan.

Ia membuat lebih dari 100 keputusan “hidup atau mati” selama krisis 16 jam itu. Ia memimpin operasi pertolongan darurat di rumah sakit, berkoordinasi dengan pusat komando di Washington DC, melayani pertanyaan dari para pemimpin internasional, dan menghibur keluarga yang jadi korban.

Ia tahu semangat warga New York, yang berpenduduk 8,1 juta jiwa itu, ambruk. Ia mesti selalu berada satu langkah di depan warga supaya api semangat itu tak padam.

Untuk itu, setiap hari setelah 9/11 ia tak berhenti mengangkat semangat warga dengan mengunjungi setiap kalangan, mulai dari Wall Street sampai downtown. Ia mengimbau warga Amerika Serikat, “Kunjungilah New York dan berbelanjalah di sini.”

Setiap kali ia berbicara, warga merasa lebih lega. Kalimat-kalimatnya jujur dan menyemangati serta menjadi inspirasi bagi warga New York.

“Besok New York masih tetap berdiri,” katanya hari ini. Esoknya, “Kita akan membangun kembali dan menjadi lebih kuat.” Lusanya, “Saya ingin warga New York jadi teladan bahwa terorisme takkan mampu menghentikan kita.”

Waktu itu ia menumpang di apartemen sahabatnya karena pisah rumah dengan istrinya. Ia masih berjuang keras melawan kanker prostat.

Ia sangat terinspirasi biografi Perdana Menteri Inggris Winston Churchill. Saat memimpin London yang dibombardir pasukan Jerman, Churchill menulis, “Saya tak memiliki apa-apa kecuali darah, tenaga, air mata, dan keringat.”

Ia Rudy Giuliani. Kini ia calon presiden terfavorit dari Partai Republik yang dulu tak segan menuding John Kerry sebagai pemimpin “indecisive coward”.

Tak perlu bertanya kepada dia, “Mampukah Anda memimpin kami?” Kalau pertanyaan yang sama kita layangkan kepada pemimpin kita, ia pasti menjawab, “Saya sudah begadang!”

Saat Jakarta Kamis (8/2) malam diguyur hujan lebat, tak ada pemimpin yang berada satu langkah di depan kita. Tak ada yang menyiapkan rencana untuk Jumat, Sabtu, Minggu, dan hari-hari seterusnya.

Pemimpin sudah puluhan langkah di depan kita bersiap-siap untuk tahun 2009. Gajah di pelupuk mata tidak tampak, yang dipelototi malah semut di seberang samudra.

Pemimpin yang satu langkah di depan kita bereaksi cepat terhadap “clear and present danger”. Kalau perlu berslogan “danger is my business”, seperti kata detektif kartun serial televisi, Hongkong Phooey.

Kita cuma punya “pemimpi” yang menyalahkan siklus banjir lima tahunan, banjir kiriman, atau bulan purnama. Pokoknya semua disalahkan, kecuali dirinya sendiri.

Graham Allison dalam buku Essence of Decision: Explaining the Cuban Missile Crisis (1971) menulis, pemimpin hanya mempunyai pilihan terbatas saat mengambil keputusan di kala krisis. Salah satunya pilihan, doing nothing menjadi favorit pemimpi.

Pemimpi menyalahkan media yang membesar-besarkan berita banjir karena ia melihat di televisi banyak korban yang justru tertawa-tawa. Jangan-jangan malahan ia yang tertawa-tawa menyaksikan banjir Jakarta dan lumpur panas di Sidoarjo.

Sejak dulu pemimpi terbiasa berlindung di balik punggung presiden-presiden negeri ini. Pemimpi lolos dari tanggung jawab atas sederet bencana kecelakaan kapal laut, pesawat terbang, sampai kereta api.

Pemimpi “menjadi tua sebelum matang” karena tak menjalani proses trial and error. Maklum, pemimpi hanya terlatih memimpin Operasi Ketupat Lebaran, Operasi Lilin, atau operasi menyambut Tahun Babi.

Ketika perolehan medali emas kita tertinggal jauh di bawah sejumlah negara ASEAN, pemimpi mengatakan, “Kita belum beruntung.” Waktu ditanyai apa saja keberhasilan pemerintah, pemimpi menjawab, “Pokoknya banyaklah…”.

Pemimpi bisa sangat yakin ketika mengumumkan lokasi pesawat AdamAir yang mengalami kecelakaan 1 Januari. Pemimpi tak mampu memberantas flu burung, malah tak berhenti senyum sambil berceloteh di koran maupun televisi.

India menolak tegas bantuan dari luar negeri ketika dilanda bencana tsunami. Kita bangsa jongos karena kalau bencana terjadi, selalu minta bantuan dari luar negeri.

Ketika gagal membasmi wabah SARS, Chief Executive Hongkong Tung Chee Hwa didemonstrasi sampai mengundurkan diri. “Banjir jangan dipolitisasi!” kata si pemimpi.

Pemimpi di sini sama seperti harga sembako yang tak pernah turun alias naik setiap hari. Pemimpi masih belum sadar juga bahwa Megapolitan hanyalah proyek ilusi.

Kita perlu belajar tentang “politik lokalisasi” seperti yang diajarkan partai hijau di banyak negeri. Kita perlu memberdayakan institusi kewalikotaan sehingga tak melulu tergantung lagi dari Gubernur DKI.

Jangan terpukau lagi dengan bujukan pengembang apartemen atau ITC puluhan lantai, yang sesumbar seolah-olah Jakarta kota modern yang dirancang rapi. Dan pada pilkada antara Juli sampai November 2007 ini janganlah memilih calon gubernur yang terbukti tak memiliki hati nurani.

Banjir pasti akan terjadi lagi. Ini jelas bukan mimpi!

3 Tanggapan to “Riwayat Pemimpi”

  1. Arya Says:

    Yang nulis Budiarto Shambazy.

  2. kuyazr Says:

    Bud..Bud…baru tau ya?…hahahahahahahaha….welcome to my paradise (lagunya Steven & The Coconut Trees)

  3. i_iq Says:

    Seorang teman pernah berbagi cerita tentang bencana dan kaitannya dengan kapitalism. Kalau kondisinya seperti gambaran di atas, saya bayangkan pada “banjir mendatang” (mudah-mudahan ndak ada lagi), pemimpi-pemimpi itu betul-betul mirip dengan bonek-boneka badut mainan yang ndak lucu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: