Memoar Daoed Joesoef

Saya pernah menulis sedikit soal Daoed Joesoef sebelumnya di blog ini (silahkan klik di sini). Kira-kira dua minggu lalu, Indra Piliang, rekan sesama peneliti di CSIS, berbaik hati mengirim buku memoar Daoed Joesoef yang tebal sekali (hampir 1000 halaman) dari Jakarta ke sini, melalui seorang teman yang datang berkunjung. Memoar itu belum selesai saya baca, tentu saja. Tapi majalah Tempo membuat resensi atas memoar menarik itu dalam edisinya minggu lalu. Pak Daoed dikenal kontroversial, karena itu memoar nya menjadi menarik dan penting untuk dibaca. Resensi majalah Tempo itu saya copy-paste di bawah ini.

——–

Edisi. 49/XXXV/29 Januari – 04 Februari 2007

Buku

Kenangan Seorang Anak Emak

Daoed Joesoef selalu membuat catatan terhadap peristiwa yang ia alami. Kini kumpulan catatan itu menjadi sebuah buku.

Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran
Penulis: Daoed Joesoef
Penerbit: Kompas (November 2006)
Tebal: viii+924 halaman

+ Saya minta mesin ketik.
– Sudah ada yang mengetik, Pak.

+ Saya perlu untuk membuat pidato saya.
– Sudah ada yang membuat, Pak.

+ Bagaimana sih, masa saya harus
membaca pidato buatan orang.

Daoed Joesoef pintar menulis dan punya banyak pengalaman menarik. Percakapan di atas terjadi suatu hari, tahun 1978, saat ia pertama kali meninggalkan dunia akademis, masuk ke dunia birokrasi. Jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ya menteri yang menulis naskah pidatonya sendiri.

Tiga dekade lebih, di rumahnya di kawasan Bangka, Jakarta, ia mengemukakan salah satu kesannya terhadap dunia yang satu itu. ”Saya senang memakai baju safari, ya karena banyak kantong untuk menaruh catatan itu,” kata Daoed, dua pekan lalu.

Daoed, yang menghabiskan banyak waktunya untuk merekam dan mencatat kejadian di sekelilingnya itu, kini tidak muda lagi. Usianya 80 tahun. Dan bulan ini, catatan-catatannya diterbitkan dalam sebuah buku yang tebalnya hampir seribu halaman, Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran. Buku yang ia kerjakan dalam dua tahun setelah pensiun dari CSIS (Center for Strategic and International Studies)— Daoed menjadi Ketua Dewan Direktur, 1972-1998. Ia mengaku ada lima map catatan yang sekarang tak ditemukan, hilang saat ia membangun rumahnya.

Dia dan Aku berisi catatan-catatan tentang apa saja. Tentang hal-hal penting yang hendak ia sampaikan dalam kunjungan kerja, tentang pelbagai konsep pembangunan ekonomi yang juga menjadi minatnya, tentang kenangannya bertemu dengan Bung Hatta yang ia sebut ”pahlawanku”, hingga tentang kenangannya pada Emak yang telah mendorongnya untuk menulis.

Emak, begitu Daoed memanggil ibunya, adalah orang pertama yang berjasa menumbuhkan minatnya pada dunia menulis. Di kampung halamannya di Medan, Sumatera Utara, Emak menekankan bahwa menulis sesuai dengan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Semangat untuk menulis juga ia dapatkan dari pamannya, Sulaiman. Sang paman, yang sempat diasingkan Belanda ke Digul, Papua, itu menyuruh Daoed belajar mengetik sepuluh jari sehingga ia bisa menulis lebih cepat dan rapi. Pada 1936, ia pun telah mengantongi sertifikat setelah mengikuti kursus mengetik sepuluh jari di Medan.

Dia dan Aku juga bercerita tentang Nek Darinah, janda asal Brebes yang merantau ke Aceh. Dari sang nenek, ia mendapat pelajaran sejarah. ”Sejarah itu lebih banyak ditentukan oleh sebagian besar orang kecil dan sedikit ditentukan oleh orang besar.” Ia mencontohkan soal sistem tanam paksa dan kerja rodi yang diberlakukan penjajah Belanda selama masa Gubernur Jenderal Van den Bosch. Karena keringat orang-orang kecil itulah, ekspor gula dari Jawa mendominasi pasar dunia dan Belanda kecipratan manisnya.

Yang paling menarik dari buku ini adalah bab ”Pak Harto dan Aku”. Daoed sangat kagum, ia menggambarkan bosnya ”bukan politikus yang biasa lempar batu sembunyi tangan”. Untuk itu, ia mengutip Bung Hatta ketika makan siang bersama Akbar Djoehana, kemenakan Sutan Syahrir, di sebuah restoran kecil di pinggiran Kota Paris, 1965. Setelah Nasution berkali-kali menolak, demikian Hatta, akhirnya Soeharto yang maju. Ia menerima permintaan MPRS, menjadi presiden.

”Di saat semua orang merunduk, menyingkir, tutup telinga terhadap panggilan tanggung jawab, Pak Harto tetap berdiri teguh,” tulis Daoed. Dari situlah, ia tak kuasa menolak pinangan Soeharto untuk menjadi menteri.

Daoed mempertahankan kebijakannya selagi menjabat menteri. Termasuk saat ia menghapus libur sebulan penuh selama Ramadan—keputusan yang membuat ia didemo Majelis Ulama Indonesia, sosok yang dilukiskannya ”para mualim yang memonopoli tafsir”.

Daoed menyadari proses ini semua akan berujung kepada Tuhan. Bab terakhir bukunya , ”Tuhan dan Aku”, mencoba mengurai hubungan manusia dengan Tuhan yang bersifat pribadi. Pada hati nuranilah, ada suara Tuhan. ”Karena itu, saya berani membantah nalar saya, tapi tidak berani membantah nurani saya,” kata Daoed.

Buku ini kaya dengan deskripsi detail, tapi kurang memerinci hubungan personal antara penulis dan narasumber. Kebosanan kadang hinggap lantaran penulis lebih berkutat pada konsep pemikirannya.

Setelah Emak (2003) dan Borobudur (2004), buku ini semakin memantapkan Daoed sebagai penulis. Ia pun bertekad terus menulis hingga akhir hayat. Kakek dua orang cucu ini selalu ingat perkataan dosennya di Universitas Indonesia, Profesor Djokosutono: ”Ilmu pengetahuan adalah cara berpikir sistematis melalui menulis.”

Faisal Assegaf

7 Tanggapan to “Memoar Daoed Joesoef”

  1. Nant'S Says:

    nama penulis resensi itu ring my bell tuh!
    btw, bukunya brp-an yah di Gramed?
    masak harus keluar emergency budget lagi neh!
    anyway, thx Lip for the info

  2. passya Says:

    ditunggu resensi dari Anda Mr. Ph.D :D

  3. aroengbinang Says:

    jadi ngorek kenangan lama ketika jaman nkk/bkk th 78-79, kala nama dj identik dengan penjinakan para akitivis mahasiswa dan menjadi salah satu nama yg paling banyak dihujat. tak ada manusia yg sempurna. kagum dan benci sama saja, menjadi tirai penghalang pembelajaran yg jujur dan utuh.

  4. philips vermonte Says:

    trims sudah pada mampir. @ nant’s: faisal assegaf kawan kita kan? @ passya: nggak bakal sempat bikin resensi, bacaan kuliah aja udah buanyaak; @aroeng binang: salam kenal…

  5. nant's Says:

    Iya! Seseorang unik yang ngetop seantero jatinangor, dari pemilik warung munggaran sampe tukang ojek. Dulu lebih ngetop dengan panggilan faisal indihe, karena terkenal dengan “magazine diplomacy”. Berbincang dengan dosen melalui perantara majalah stardust yang berisi berita artis2 boliwood. Ketika wartawan adalah profesi yang menuntut mobilitas tinggi, dia punya itu.

  6. oleh-oleh pesta buku 2008 « The works of Wiryanto Dewobroto Says:

    […] Memoar Daoed Joesoef […]

  7. Faisal Assegaf Says:

    Salam Mas Philiph

    Silakan kunjungi blog saya di http://www.hamaslovers.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: