Kembali Ke Bumi Manusia

Sekedar mengenang Pramoedya Ananta Toer, penulis amat hebat itu.

Sebelumnya saya pernah tulis soal Pram di blog ini. Silahkan klik di sini

salam

pjv

——–

Dari Majalah Tempo, 44/XXXV/25-31 Desember 2006

Kembali ke Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
6 Februari 1925–30 April 2006

”Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Pramoedya Ananta Toer melakukan perlawanan hampir sepanjang hidupnya. Sejak masa kanak-kanak di Blora ikut angkat senjata di era kolonial hingga ketika kemerdekaannya dirampas oleh penguasa Orde Baru. Ia melakukannya persis seperti yang dihayati tokoh Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia. ”Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” ujar Nyai Ontosoroh kepada Minke.

Cara terhormat yang ia yakini itu adalah dengan menulis, menulis, dan menulis. Tentu saja ia pernah menyingkirkan pena dan menggantinya de–ngan bedil. Itulah ketika lelaki kelahiran Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, ini bertugas sebagai perwira perhubungan di Divisi Siliwangi pada Perang Kemerdekaan. Episode ini kelak menjadi sumber inspirasinya bagi novel Krandji-Bekasi Jatuh (1947).

Selama hayatnya Pram menulis 50-an buku yang diterjemahkan ke le–bih dari 41 bahasa. Di lembaran kitab-kitab itu ia mempertahankan keyakin–annya, memperjuangkan pikirannya, meski akhirnya menanggung seluruh risiko karenanya. Pram dibuang ke pengasingan selama 14 tahun (10 tahun di antaranya di Pulau Buru), juga diteror lawan-lawan politiknya. Ia tergulung prahara politik 1965.

Namun, pengasingan tak pernah melumpuhkan Pram. Karya-karyanya deras mengalir, melintasi waktu. Ia lalu menjadi ikon sastra, ikon politik, sekaligus ikon perlawanan (komunitas punk mendaulatnya sebagai datuk). Maka muncullah istilah Pramis yang dilekatkan pada para pemujanya.

Hari itu, 30 April 2006, Pram sampai kepada titik. Anak sulung sembilan bersaudara dari pasangan Mastoer-Oemi Saedah ini mengakhiri perlawanannya. Gula darah, penyakit jantung, dan, belakangan, penyakit ginjal telah menggempur tubuhnya.

Pram pergi meninggalkan beragam tafsir atas sosoknya. Ia dikecam sekaligus dipuja. Ia pernah dikurung, tapi karyanya terbang bebas. Ia memetik banyak penghargaan internasional, tapi miskin penghargaan di negeri sen–diri. Ia pembenci yang santun. Ia menghardik, tapi juga menyapa.

Pram disemayamkan di pemakaman Karet, Jakarta. Dalam Rumah Kaca, ia pernah berucap: Semua akan bertemu dalam alam mati, tidak peduli raja tidak peduli budak. Betapa sederhananya mati.

3 Tanggapan to “Kembali Ke Bumi Manusia”

  1. lepuspa Says:

    Tidak banyak buku beliau yang sy baca (dan tidak semua selesai dibaca). Tapi sy kagum dengan beliau (dan perjuangannya itu loh). Beliau sudah berhasil menempatkan dirinya pada ‘fungsi’nya yang jelas di dunia ini, yang tentunya banyak sekali memberikan manfaat bagi kita semua.

    Selamat liburan ya…

  2. budi Says:

    Mas Philips kapan ke Indonesia? Kalo pulang kunjungi kami di Unpad ya..

  3. philips vermonte Says:

    Budi, beberapa bulan lalu waktu libur summer saya pulang sebentar, sempat ke kampus juga. Ada acara diskusi malah, mungkin kita nggak jumpa. Memang waktu itu mendadak sih acara di kampusnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: