Para Profesor

Kemarin malam sepulang kuliah, saya dan dua teman pergi berbelanja ke Wal-Mart. Tidak sengaja di sana bertemu dengan seorang professor ilmu politik kampus kami, padahal sudah hampir jam 10 malam. Rupanya dia sedang berbelanja kebutuhan untuk pergi keesokan harinya. Dia akan pergi ke Nikaragua, bicara pada sebuah konferensi. Memang dia dikenal karena keahliannya dalam dua bidang: politik Amerika Latin dan kajian mengenai perbandingan berbagai sistem pemilu.

Saya belum pernah ambil mata kuliah yang dia ajar. Di Spring semester 2007 (mulai akhir Januari) rencananya saya akan ambil mata kuliah Amerika Latin. Sepertinya akan menarik, terutama untuk kajian mengenai demokratisasi yang menjadi ketertarikan saya sejak lama. Amerika Latin banyak menyediakan contoh kasus kegagalan dan keberhasilan demokratisasi di berbagai negara.

Saya juga sangat ingin belajar perbandingan sistem pemilu itu. Beberapa bulan lalu, saya papasan sama profesor ini juga di kampus. Saya bertanya kapan mata kuliah perbandingan sistem pemilu itu akan ada lagi, sudah dua tahun mata kuliah itu tidak dia tawarkan.

Dia semangat sekali waktu ngobrol di lorong sebuah gedung di kampus itu. Katanya: “kalau ada waktu, datang saja ke ruangan saya . Kita ngobrol lagi, ekspektasi kamu dari mata kuliah itu apa, topik-topik apa yang ingin dipelajari” Saya bilang saya akan datang, tapi belum sempat juga, sampai berpapasan lagi di Wal-Mart tadi malam.

Dia masih ingat rupanya. Ngobrol lagi lah. Dia tanya apa saya masih tertarik kuliah sistem pemilu itu. Kalau masih, saya diminta mencari minimal tujuh mahasiswa lain yang mau, barulah mata kuliah itu akan ditawarkan. Dia minta nama-nama mahasiswa yang berminat dan alamat emailnya sekalian, supaya dia bisa mengkontak mereka dan mencari tahu mengenai ketertarikan mereka masing-masing. Kalau bisa dalam minggu-minggu ini saya sudah menemukan tujuh orang itu. Karena bulan Januari biasanya ada rapat departemen politik di kampus untuk memutuskan mata kuliah apa saja yang akan ditawarkan pada Fall semester yang akan dimulai Agustus tahun depan. Kalau jadi, dia mulai bisa mempersiapkan mata kuliah itu dari sekarang. Katanya, “ I have to read too, both new and classical stuff on election system. So I can be well prepared when I teach the course next year”. Kalau memang ada tujuh orang dan kelas itu jadi dia tawarkan, maka dia mulai mendesain kuliahnya agar sesuai dengan minat masing-masing pesertanya. Kalau nggak dapat tujuh orang, wah sayang sekali…he..he. Semoga dapat.

Tapi saya jadi terkesima juga ngobrol dengan profesor ini. Kalau jadi, kuliah itu kan masih Agustus tahun depan. Tapi dia dengan serius akan mempersiapkannya sejak sekarang. Saya jadi malu pada pengalaman diri sendiri, karena saya juga dosen di Jakarta. Dalam mempersiapkan mata kuliah, saya rasanya tidak pernah sampai seserius itu dulu, mempersiapkan lebih dari enam bulan sebelumnya (kalau mahasiswa saya ada yang baca ini, sorry deh…..he..he). Apalagi menyempatkan menanyakan minat masing-masing mahasiswa yang akan ambil kelas itu supaya course-nya bisa di design untuk memenuhi minat individual mahasiswa. Tambah lagi waktu dia bilang dia perlu baca serius juga dari sekarang untuk mempersiapkan mata kuliah yang baru akan dimulai Agustus tahun depan.

Kawan saya Nico yang menjadi research assistant untuk dosen lain di kampus kami menceritakan hal yang sama. Profesor yang dia bantu juga sudah mulai minta dicarikan bahan ini itu untuk sebuah mata kuliah yang akan dia ajar Fall semester mulai Agustus tahun depan juga. Diantaranya Nico diminta mencari silabus mata kuliah yang sama dari berbagai kampus, agar profesor itu bisa menyesuaikan dengan trend di kampus lain untuk mata kuliah sejenis. Nico juga diminta mencarikan artikel-artikel yang akan mulai dia survey dan baca, supaya bisa dia pilih akan dimasukan ke dalam reading list mata kuliah itu nanti atau tidak. Para profesor ini committed sekali dengan dunianya.

Lagi-lagi saya merasa beruntung bisa sekolah ke sini. Banyak pelajaran di dalam atau di luar ruang kuliah yang bisa saya transfer nanti (semoga bisa lulus, entah kapan nanti..he..he). Berpapasan dengan profesor saya di Wal-Mart tadi malam mengingatkan saya pada sebuah artikel yang diforwad teman saya Ulil Abshar ke sebuah milis mengenai universitas di Amerika. Saya bongkar-bongkar inbox email saya, ketemu juga. Untung belum saya delete, padahal sudah berbulan-bulan lalu email itu saya dapat. Di bawah ini saya copy paste artikel itu. Ditulis oleh Ralf Dahrendorf, sosiolog terkemuka yang juga pernah menjadi rektor di London School of Economis and Political Science. Ralf Dahrendorf membandingkan universitas di Eropa (utamanya Inggris) dan Amerika, dan dia berkesimpulan bahwa salah satu kelebihan universitas-universitas di Amerika adalah dedikasi para profesornya terhadap kegiatan belajar mengajar dan hubungan interpersonal antar dosen, dan antara dosen dengan mahasiswa. Sepanjang mengenai kampus di Amerika, saya rasa pendapat Ralf Dahrendorf betul.
—————–

Universities: Renaissance or Decay?
Ralf Dahrendorf

“Europe’s universities, taken as a group, are failingto provide the intellectual and creative energy that is required to improve the continent’s poor economic performance.” This dramatic statement introduces a new pamphlet whose subtitle, “Renaissance or Decay,” I have borrowed for this reflection.

The pamphlet’s two authors, Richard Lambert, a former editor of the Financial Times and future Director General of the Confederation of British Industry, and Nick Butler, the Group Vice President for Strategy and Policy Development at British Petroleum do not
represent vested academic interests. What they say about Europe probably applies to most other parts of the world as well, though not to the United States.

Lambert and Butler identify four main weaknesses of European universities that must be addressed. They call for: greater diversity in place of today’s conformity; incentives for universities to succeed, which implies the need to set their ambitions higher; less bureaucracy and more freedom and accountability; above all, more adequate funding to bring European universities close to the US level of 2.6% of GDP, from less than half on average.

Not everyone will consider the underlying assumption of this analysis compelling. Why is this attention to universities necessary? Because, it is said, we now live in a “knowledge society.” Perhaps. It is also a fact that a university education is the best guarantee for young people to find jobs in a globalized environment in which information is a key to success.

Yet it is by no means certain that education systems in which 50% or more of each generation strive to attain a university degree are best suited to cope with the exigencies of the twenty-first century. Many jobs are, in fact, not “high tech,” but, in the words
of Britain’s Adair Turner, “high touch” – service-sector jobs that do not require a university education. Even more jobs are somewhere between the two. Thus, a flexible system of varied educational institutions may be preferable to a system that leads
one out of two students to an academic degree.

Were we to settle for, say, 25% of each generation on the academic track, universities in Europe, and indeed in many other parts of the world, would still have to overcome their unfortunate tendency to define their purposes against the business world. This tendency has been detrimental both for the business world, which is deprived of the cultural wealth provided by higher education, and for universities, because it removes them from their proper setting in the real world.

There is a strong case for more adequate funding of higher education, including student fees, which are still unpopular in many countries outside the US. But money is not all that is needed. One of the greatest comparative strengths of American universities lies in
the nature of human relations. Teachers take their job seriously. They engage with students rather than eagerly awaiting breaks and holidays to pursue their own projects. They are true university teachers rather than people who invoke the “unity of teaching and research” in order to concentrate on research subjects and hope that teaching will take care of itself.

Moreover, the research atmosphere of American universities is characterized by a great deal of informal cooperation. People meet in laboratories and seminars, but also in common rooms and cafeterias. They are not obsessed with hierarchical status or surrounded by assistants.

Nor are they tied to narrow projects and the project groups formed around them. Despite fierce competition for academic tenure, for space in journals and in other media, and for advancement in general, people talk to each other as colleagues. This is what doctoral and postdoctoral students like when they go to American – and, to a lesser extent, British – universities. This is also what they miss even as they relapse into the bad old habits at home. As in so many other respects, universities not only in Europe, but also in Japan, South Korea, and developing parts of the world, including China and India, need to loosen rigid structures and habits to avoid decay and nurture a renaissance.

Ralf Dahrendorf, author of numerous books and a former European Commissioner from Germany, is a member of the British House of Lords, a former Rector of the London
School of Economics, and a former Warden of St. Antony’s College, Oxford.

Copyright: Project Syndicate/Institute for Human
Sciences, 2006.
http://www.project-syndicate.org

7 Tanggapan to “Para Profesor”

  1. Thamrin Says:

    Mungkin ini manfaat anda kuliah jauh-jauh Bung Philips, mengambil mafaat tersebut, mempelajarinya, dan menerapkannya di Indonesia. Tapi yang lulus dari luar negeri, apalagi Amerika Serikat, kan sudah banyak dan banyak pula yang menjadi dosen ketika kembali ke Indonesia, apa ilmu dan pengalaman positif yang mereka dapat selama “berguru” tersebut diterapkan yach?

  2. maria Says:

    hei, kak philip.. apa kabar? saya maria. sepertinya kita punya (sedikit) kesamaan disiplin ilmu. saya lulus dari FISIP UI th 2001 dari jurusan Ilmu Politik. sempat ambil mata kuliah amerika latin. menarik! sangat menarik malah.. dinamika politik yang terjadi di amerika latin sekilas sepertinya mirip dengan yang terjadi di Indonesia.salah satu ketertarikan saya adalah membaca novel karangan luis sepulveda berjudul ‘the oldman who read love stories’ dan itu merubah pandangan hidup saya tentang amerika latin. sekedar berbagi saja…!

  3. Babe Says:

    Pernah baca juga (lupa artikelnya dimana) kalo AS bagus kalo udah jadi graduate student, kalo undergrad msh bagus eropa/inggris. Yg jelas sih menurut newsweek smp-sma di AS kalah bagus ama beberapa negara eropa, asia dan canada.

  4. osterdal Says:

    Philips, since i have been studying in Europe, i can assure you that there is no such kind environment for serious studying like in US. I know from some friends in US that universities there requires you to read and pushes you to the limit. Tetapi di universitas tempat saya belajar sekarang contohnya, setiap orang jadi termotivasi sendiri untuk membaca dan belajar, karena kondisi where we study is such as a pressure karena banyak dosen terkenal di eropa ada di sini dan tingkat kompetisi tinggi. Ini jarang ditemui di universitas-universitas di Eropa. Well, just my thought.

  5. Erix Hutasoit Says:

    Bung Philips, menarik juga tulisan ini hehehehe..bagus untuk refleksi dosen-dosen kita. Aku masih ingat sewaktu aku menyelesaikan S-1 yang tersisa “kesal dan geraman” sama dosen pembimbing ku. Maklum, selama proses “pembimbingan” praktis dosen ku tidak memotivasi, tapi malah coret sana sini sambil bilang ” Ini belum benar” hehehehe…

    well, soal AS Vs Europe ? kebetulan bung, aku lagi plesiran sejenak di UK. Sepanjang yang aku lihat, study disini memang lebih “nyaman”. Maksudku, kita lebih menikmati. Selain kebebasan memilih program study, fasilitas pendukung pun dengan mudah diakses. Termasuk “berdiskusi” dengan profesor-profesornya, ngak banyak birokrasi heheheh..kalo di Indonesia, ngomong sama profesor keburu “takut” duluan hehehe..Tapi soal kualitas tamatan UK, aku masih ” No Comment ”

    Oh, bung tulisan ini saya pinjam dulu.

    Salam,

  6. philips vermonte Says:

    Bung Erik, salam kenal. Soal kualitas lulusan, pada akhirnya bergantung individu masing-masing. Tulisan Ralf Dahrendorf ini kan tidak menyebut soal kualitas, cuma menggambarkan kampus di Amerika lebih memberi suasan kolegial, sehingga kondusif untuk belajar-mengajar. Karena profesor menganggap post-grad students lebih sebagai kolega daripada sekedar muridnya. Mungkin mirip dengan ide Paolo Freire, tentang guru-yang-murid; murid-yang-guru (mungkin kurang pas, karena Freire bicara soal pendidikan yang membebaskan dalam konteks situasi negeri ‘tertindas’, jadi lebih beraroma ‘kiri’..he..he).

    Soal coret sana-coret sini, lah profesor di mana-mana tugasnya sama juga. Mengkoreksi tulisan mahasiswa, di sini sering sadis juga dalam hal coret sana-coret sini…..he..he.

    anyway, salam kenal. Thanks sudah mampir di sini..

  7. budi Says:

    menurut mas philips, solusi apa yang tepat untuk pendidikan di Indonesia? bagi saya, yang paling sulit adalah melakukan perubahan secara jamaah…banyak orang tersadarkan tapi mereka belum bisa berkoordinasi membangun jaringan yang kian luas sehingga perubahan yang mereka upayakan bisa lebih berarti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: